Serial Ingo Karya Helen Dunmore

instagram @kikioread

Book Series - Aku membaca kisah Ingo ini sekitar tiga tahun lalu (tahun 2017). Saat itu toko buku terbesar di kotaku sedang mengadakan semacam bazaar dan serial ini kena diskon super. Serial ini terdiri dari empat buku dan saat itu keempatnya ada di depan mataku. Alhasil, aku bawa pulang semua dan mulai membacanya kemudian.

Sekilas tentang Serial Ingo

Pernah mendengar tentang putri duyung, kan? Atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata Mermaid. Nah, serial Ingo ini bercerita tentang kaum Mer (mungkin lengkapnya Mermaid) dan kaum udara (manusia). Seingatku, kisah ini dibuka dengan legenda setempat tentang kisah cinta antara Mathew Trewhella dan Putri Duyung Zennor di daerah Senara, Cornwall, Inggris. Namun selanjutnya fokus cerita beralih ke petualangan kakak-beradik Sapphire dan Connor menjelajahi lautan/ingo bersama sahabat duyung mereka. Selain petualangan, ada pula kisah tentang pencarian ayah mereka yang berujung pada penemuan jati diri mereka berdua. Serta kisah-kisah interaksi dengan makhluk laut lainnya, termasuk monster laut legendaris, Kraken.

Poin Menarik dari Serial Ingo

Bicara tentang makhluk laut, menurutku adalah salah satu hal menarik dari serial ini. Misalnya, pada buku pertama, pembaca diajak berkenalan dengan anjing laut (meski dalam balutan fiksi). Di buku-buku selanjutnya ada sisipan kisah tentang lumba-lumba, hiu, paus, gurita, hingga beruang kutub. Aku menarik kesimpulan bahwa sang penulis, Helen, mengajak pembacanya untuk peduli dengan lautan dan ekosistem di dalamnya. Bahwa lautan itu indah dan manusia mampu melindungi hewan-hewan laut yang bernasib malang tersebut (lumba-lumba yang terkena jala lalu tenggelam; paus yang ditampilkan begitu waspada menjauhi manusia; beruang kutub dan anjing laut yang kelaparan, dsb). Pesan tentang kesadaran menjaga lautan kurasakan sangat kental ketika membaca serial ini.

sumber goodreads | edited by me using canva

Buku-buku di serial ini menurutku aman dibaca oleh anak-anak. Selain karena pesan tentang lautan di paragraf sebelumnya, rasanya Helen agak menghindari menulis hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan. Di buku kedua misalnya (The Tide Knot), adegan gelombang tinggi yang menerjang pantai St. Pirans digambarkan tidak terlalu mencekam. Justru kisah tentang lumba-lumba terdampar yang begitu membekas di benakku. Pada buku ketiga yaitu The Deep, adegan perjalanan mereka menempuh dasar laut menuju liang Kraken serta perjalanan pulangnya terasa jauh lebih membekas daripada misi mereka menidurkan Kraken-si Monster laut itu sendiri. Begitu pula adegan perang besar yang seharusnya menjadi puncak serial ini di buku keempat sekaligus terakhir (The Crossing of Ingo) menurutku ditampilkan biasa saja. Deskripsinya tidak meyakinkan dan terkesan lambat. Ya, tampaknya Helen lebih suka menggugah kepedulian pembaca terhadap Ingo alias ekosistem lautan daripada menampilkan adegan perang dan semacamnya.

Omong-omong, ini kali pertama aku membaca karya Helen Dunmore. Aku tidak tahu apakah beliau memang suka menulis tentang lingkungan atau tidak. Namun serial Ingo ini menarik. Dimulai dari ilustrasi sampulnya yang cantik hingga ke deskripsi mengenai dunia Ingo itu sendiri. Saat membaca serial ini, aku rasanya ingin ikutan masuk ke dalam Ingo. Ingin pula dapat bernapas dengan normal di sana dan mulai menjelajah. Rasanya itu adalah salah satu alternatif yang asyik untuk melepas penat kehidupan di dunia nyata, hehe. Ya, mungkin karena aku juga lumayan suka dengan pantai dan menganggap lautan itu tempat yang indah meski misterius.

Baca secara Berurutan atau Acak?

Karena buku-buku dari serial ini lengkap empat jilidnya dan aku suka dengan alur ceritanya, maka saat itu aku dapat tuntas membacanya sekali jalan (seingatku membaca semuanya secara berurutan tanpa terputus atau ada jeda membaca buku lain). Menurutku serial ini lebih baik diselesaikan secara berurutan. Memang ada sedikit kilas balik dari buku sebelumnya, namun pengalaman yang dibangun jika kita membaca dari awal terasa lebih menyenangkan daripada menikmatinya secara acak. Beberapa tokoh baru yang muncul juga memiliki kaitan dengan buku atau jilid sebelumnya. Belum lagi kita dapat melihat dengan lebih baik pengembangan karakter pada tokoh utamanya jika dibaca secara urut.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, aku menyukai serial ini. Petualangan Sapphire dan Connor bersama sahabat duyung mereka di dunia Ingo menyenangkan untuk diikuti. Meskipun ada hal-hal terkait kekerasan dan perang yang dibatasi, keindahan Ingo disampaikan dengan kuat sehingga bisa menarik hati pembacanya. Selaras dengan pesan kepedulian terhadap lingkungan terutama ekosistem laut dan kutub, dapat pula menjadi poin positif yang membuat buku ini aman untuk dinikmati anak-anak. Rasanya juga menyenangkan menikmati kisah tentang putri duyung yang tidak dikaitkan dengan percintaan dan romantisme semacamnya.

Average rating: 3/5 (liked it)
Ingo series:                                        
#1 Ingo (2013)
#2 The Tide Knot (2013)
#3 The Deep (2013)

Comments

  1. Saya juga suka sama serial ini, sudah koleksi lengkap sampai buku Stormswept (bukan lanjutannya, tapi masih cerita tentang dunia Ingo). Yang paling berkesan, sih, memang tentang Krakken dan Ibu Paus. Walaupun serial ini pace-nya lumayan lambat (menurut saya) tetapi pesan moralnya bagus dan covernya memang cantik dan layak koleksi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Stormswept ada versi terjemahan ya mba? Atau mba baca yg bahasa aslinya? Sejauh ini baru serial Ingo tulisan dari Helen yang pernah saya baca. Baca serial ini nambah pengetahuan soal hewan laut ya mba, hehe.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Review] The Silmarillion by J.R.R Tolkien – Sebuah riwayat yang panjang

[Review] Emma by Jane Austen – Drama percintaan klasik

[Review] The Dark Blood by Ashara – Kisah Makhluk Penghisap Darah, namun bukan Vampire