Sabtu, 11 Agustus 2018

Cewek Paling Badung di Sekolah by Enid Blyton – Asal mula Elizabeth dikirim ke Whyteleafe

"Untuk menjadi anak yang baik, kau harus memiliki hati. Hati yang baik.” – Nona Scott


Judul asli: The Naughtiest Girl in the School
Judul terjemahan: Cewek Paling Badung di Sekolah
Seri: The Naughtiest Girl #1
Pengarang: Enid Blyton
Ahli bahasa: Djokolelono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kesepuluh - Juni, 2017
Tebal buku: 264 halaman
Format: Paperback
ISBN: 97897922800302

Terhitung dari tahun 2017, ini kali kedua aku membaca novel karangan Enid Blyton setelah lama penasaran dengan karyanya. Novel yang kubaca ini masih berkaitan, masih dalam seri yang sama. Saat itu aku langsung membaca buku keduanya. Tidak masalah, sebab ceritanya ringan dan mudah untuk diikuti karena bisa dibilang novel ini termasuk ke dalam Children Literature.

Cewek Paling Badung di Sekolah (The Naughtiest Girl in the School) bercerita tentang awal mula Elizabeth Allen bersekolah di sekolah asrama Whyteleafe. Kelakuan badungnya di rumah sudah sulit untuk ditolerir dan mengirimnya ke Whyteleafe adalah tindakan yang benar. Elizabeth sendiri awalnya menolak dengan keras bersekolah di sana. Dia mencoba berbagai cara agar segera dikeluarkan dari sekolah lalu dikirim balik ke rumah. Apakah upayanya berhasil?

Sekolah asrama Whyteleafe memiliki gambaran sekolah yang ideal. Di sekolah ini anak-anak berpartisipasi mengelola sekolah (tentunya dalam porsi yang tidak berlebihan). Aktivitas yang ditawarkan juga tidak hanya belajar di ruang kelas. Anak-anak difasilitasi untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Aku jadi bertanya-tanya, apakah memang sekolah asrama disana seperti ini? Aku memang tidak tahu, sih, bagaimana rasanya bersekolah di asrama. Hanya saja gambaran kehidupan di Whyteleafe mampu menyenangkan jiwa anak-anak sekaligus membuat mereka lebih berkembang. Mari kita lihat perkembangannya termasuk apa yang akan Elizabeth lakukan di buku ketiga dan keempat nanti, hehe.

Alur cerita yang ditawarkan mungkin sederhana. Konfliknya berkaitan dengan sekolah (guru dan murid dimana kali ini setara siswa sekolah dasar). Hanya saja, Enid mengemasnya dengan baik. Sedikit belajar tentang psikologi anak melalui novel ini. Karakter anak-anak lainnya yang menjadi “teman” Elizabeth di sini juga menarik untuk dinikmati. Salut untuk pengarang buku anak karena menjelma menjadi anak-anak dengan segala perasaan dan pikiran mereka yang kemudian ditampilkan dalam sebuah cerita tanpa harus terasa berlebihan itu tidak mudah.

Singkatnya novel ini mengandung nilai pendidikan yang bagus. Meski endingnya dapat ditebak (apalagi sudah baca buku keduanya, hehe), proses menuju ending itu layak untuk disimak. Ya, lika-likunya gitu. Dan, ya, sepertinya aku tidak akan berpanjang lebar mereview novel ini. Selain karena jarak antara selesai baca dan menulis review ini cukup jauh, aku juga sedang membereskan banyak hal yang bikin kepala pusing kalau tidak segera dibereskan. Untuk menutup review ini, kutampilkan beberapa kutipan menarik yang kutemukan saat membaca novel ini. Syukurlah, saat membacanya aku tidak malas untuk mengambil post note dan menandai beberapa kutipan menarik tersebut. Thanks to myself, haha. Selamat membaca buku, kawan. :D

Rating: Better (2/3)
Baca juga:
----------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------

“Untuk menjadi anak yang baik, kau harus memiliki hati. Hati yang baik.” (hal. 13)

“Sungguh sayang kau memutuskan untuk menjadi anak nakal. Kalau saja kau memberi kesempatan pada dirimu untuk berkembang secara wajar, maka kau akan jadi anak yang luar biasa.” (hal. 97)

“Memang, minta maaf sesuatu yang paling sulit di dunia, tetapi hal kecil ini bisa membuat suatu perubahan besar. Cobalah. Akan terbukti aku benar.” (hal. 167)

1 komentar: