Jumat, 20 Januari 2017

Sekali Lagi si Paling Badung by Enid Blyton – Si Badung yang mencoba berubah menjadi anak baik

“Tetapi tak apa. Aku telah mendapat kesempatan ini. Dan akan kutunjukkan pada semua orang bahwa aku mampu berbuat sesuatu dalam semester nanti!” – Elizabeth


Judul asli: The Naughtiest Girl Again
Judul terjemahan: Sekali Lagi si Paling Badung
Pengarang: Enid Blyton
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedelapan, Februari 2012
Tebal buku: 280 halaman
Format: Paperback
Genre: Children Literature
ISBN: 978-979-22-8031-9

Jika mendengar nama Enid Blyton pikiranku langsung tertuju kepada serial Lima Sekawan. Rasanya, petualang Lima Sekawan tersebut sangat kental terdengar sewaktu aku kecil dulu, bersamaan dengan buku-buku cerita seram Goosebumps. Meski tertarik untuk membacanya dan paling tidak membaca karangan Enid, namun belum pernah kesampaian. Oleh karena itu, aku menjadi tertarik saat tidak sengaja melihat buku ini di antara tumpukan buku obral di Pesta Buku Gramedia tahun lalu. Buku ini ber-cover kuning cerah dan memang terlihat menonjol. Ilustrasi cover-nya menarik apalagi setelah membaca nama pengarangnya, aku tidak ragu untuk membawanya ke kasir. Yap, ini saatnya membaca karangan Enid Blyton untuk pertama kalinya.

Ketika membaca judulnya, aku sudah menebak jika buku ini berseri dan ini bukan seri pertama. Aku pun meluncur ke Goodreads dan jika aku tidak salah pengertian, buku ini merupakan seri kedua dari total 10 seri yang Enid tulis. Meskipun langsung melompat ke seri kedua namun tetap bisa diikuti dengan baik. Jalan ceritanya bisa berdiri sendiri meskipun tokoh di dalamnya tetap sama (hanya ada penambahan dua tokoh baru). Dan ketika membaca seri kedua ini, aku bisa merasakan ada perkembangan dari karakter tokoh di dalamnya. Pengembangan itu sepertinya bergerak maju seperti alur yang bergulir di dalam kisah di buku tersebut.

Buku ini berkisah tentang Elizabeth yang bersekolah di sekolah asrama Whyteleafe. Elizabeth anak yang jujur dan adil. Dia juga pemberani meski keras kepala dan pemarah. Dia dijuluki si Badung pada semester lalu (seri pertama). Tapi tampaknya sekolah Whyteleafe telah mampu mengubahnya dan dia bertekad mengubah diri menjadi anak baik di semester baru ini. Namun tekadnya tersebut segera diuji dengan kedatangan kedua anak baru yaitu Robert dan Kathleen. Robert anak yang suka menindas, keji dan licik. Sementara Kathleen diam-diam mengerjai Elizabeth sehingga dia dimarahi oleh para guru. Bagaimana Elizabeth akan melalui semester ini? Apakah dia mampu menjadi anak baik atau sekali lagi menjadi anak paling badung seantero sekolah? :D

Jika aku ingin berpikir jauh dan sedikit berlebihan, sepertinya Enid mengumpamakan sekolah asrama Whyteleafe sebagai sebuah negara. Anak-anak yang bersekolah di dalamnya ibarat penduduk di Negara tersebut. Ada yang hobi beternak, berkebun, ada yang suka memlihara hewan, ada pula yang suka bermain musik ataupun berolahraga. Sekolah ini memiliki sistem pemungutan suara yang adil dalam menentukan pengawas dan mengadakan Rapat Besar untuk memechkan masalah yang ada. Mereka juga memiliki kepala dan dewan penasihat yang membantu anak-anak selama bersekolah dan tinggal di sekolah tersebut. Suatu tatanan yang rapi dan manis sekali jika memang bisa berjalan dengan baik di dunia nyata.

Jika mau menilik ke tokoh utama, karakter Elizabeth cukup unik. Karakternya (seperti yang kukatakan sebelumnya) meledak-ledak namun pemberani serta jujur dan adil. Buku ini dengan baik menggambarkannya. Baik di sini maksudnya terasa natural. Ada kebaikan dan ada hal yang tidak baik juga di dalam dirinya. Ini membuat pembaca tidak akan sepenuhnya terpukau pada sifat baik Elizabeth namun ada juga beberapa hal yang bisa dikagumi. Ringkasnya, karakternya penuh dengan kelebihan dan kekurangan dan itu membuatnya terasa manusiawi (tidak terlalu fiksi).

“…. Elizabeth, kau memang campuran berbagai sifat. Kau bisa berbuat konyol, tapi kau juga bisa berlaku bijaksana. Kau bisa tak sabaran, tapi kau juga bisa bersabar. Kau bisa bertindak keji, tapi kau juga bisa baik hati. Di atas semua itu kita tahu bahwa kau selalu berusaha untuk berlaku adil, bijaksana, dan setia.” (hal.277)

Lebih jauh, buku ini memang termasuk ke dalam Children Literature, jadi bisa dibaca oleh anak-anak. Ada banyak nasihat yang bisa mereka (dan kita) ambil. Buku ini bisa membantu mendidik anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Banyak sekali yang Enid ajarkan terutama tentang sikap dan perilaku yang baik. Nasihat yang disampaikan tersebut tidak terkesan menggurui. Semua terasa biasa namun bekesan saat ia menyampaikan nasihatnya melalui buku ini.

Ya, Enid tampaknya sangat mencintai anak-anak dan itu bisa terlihat dari banyaknya buku yang bertemakan Children Literature yang telah ia tulis. Dan kisah-kisah yang ditulisnya bisa kita baca hingga saat ini. Contohnya buku ini pertama kali terbit pada tahun 1942. Sementara seri yang  kupunya ini merupakan cetakan kedelapan yang diterjemahkan oleh penerbit Gramedia. Ini tandanya kisahnya yang bagus mampu bertahan melintasi waktu. Ingin sekali aku mengoleksi dan bisa membaca seri lainnya dari kisah gadis badung ini. Dan tidak menutup kemungkinan untuk membaca serial lainnya yang Enid tulis.

Umm, okay, tidak ada lagi poin yang bisa kubahas dari buku ini. Intinya aku menyukai buku ini dan bisa larut di dalam kisahnya. Aku juga menemukan banyak sekali kalimat baik serta inspiratif di dalamnya. Kalimat-kalimat tersebut kurangkum dalam postingan lain (klik di sini). Baiklah teman-teman, selamat menikmati hari. Selamat membaca buku. :D

Rating: Better (2/3)

1 komentar: