Jumat, 26 Januari 2018

The Curse of the Wendigo by Rick Yance – Apakah Wendigo itu nyata?

“Terkadang akal sehat menciptakan monster.” – Henri Poincare


Judul asli: The Curse of the Wendigo
Judul terjemahan: Kutukan Wendigo
Pengarang: Rick Yance
Penerjemah: Nadya Andwiani
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Olvyanda Ariesta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan pertama, 2017
Tebal buku: 480 halaman
Format: Paperback
Genre: Thriller
ISBN: 978-602-03-7779-7

The Curse of the Wendigo merupakan buku lanjutan dari The Monstrumologist. Aku merasa beruntung karena bisa mendapatkan kedua buku tersebut sebagai hadiah. Kedua buku ini memiliki nuansa kaver yang sama. Masih berwarna hitam yang mungkin merujuk kepada kekelaman kisah di dalamnya. Pun begitu juga dengan goresan warna merah yang sudah dapat ditebak jika itu adalah warna darah. Dan aku bersemangat sekali untuk menyelesaikan membacanya. Selain karena penasaran, tentunya untuk menghargai sang pemberi. Terimakasih kak Nana untuk hadiah GA-nya. Sstt, kak Nana itu juga adalah penterjemah buku ini, lho.

Dr. Warthrop dan asisten kesayangannya Will Henry berangkat menuju tempat yang bisa dikatakan ujung benua Amerika (maaf, lupa namanya – kemungkinan Kanada). Mereka diminta oleh Mrs. Muriel Chanler untuk mencari suaminya yang juga sahabat karib Dr. Warthrop yang bernama John Chanler. John berusaha mencari bukti keberadaan Wendigo atau makhluk pemangsa manusia yang hampir mirip dengan Homo Vampiris atau vampir. Di sisi lain, Dr. Warthrop sangat menyangkal keberadaan Wendigo. Meski demikian, ia akhirnya tidak bisa menolak permintaan Mrs. Muriel yang dulu rupanya pernah menjadi tunangannya.


Daratan yang mereka tuju dipenuhi salju tebal. Seorang pemandu ditugaskan untuk mendampingi mereka mengunjungi kediaman salah satu suku asli di sana. Kuat dugaan John berada di tempat atau areal tersebut. Perjalanan mereka “ringan” dan menyenangkan hingga suatu ketika mereka menemukan mayat yang tersula di sebuah pohon dengan kondisi mengenaskan (dikuliti dan jantung yang separuh tergigit).

John lalu memang bisa ditemukan dan di bawa pulang. Namun ia tidak sama seperti semula. Seolah kewarasannya hilang, dan perlahan berubah menjadi monster menakutkan dan mengancam. Ia dipenuhi rasa lapar yang tidak terpuaskan dan mulai memakan korban. Para monstumolog yang saat itu sedang mengadakan pertemuan tahunan memutuskan untuk membuat tim untuk menangkap John yang kabur dari pengawasan.

Buku kedua seri Sang Monstrumologis ini mengeksplorasi batas antara mitos dan kenyataan, cinta dan benci, genius dan gila.

Ya, mungkin kalimat di atas yang kuambil dari blurb di belakang novel ini bisa menyimpulkan isi dari novel ini secara umum. Wendigo yang menjadi topik “pembahasan” berulang kali digambarkan sebagai mitos dan kenyataan di dalam fiksi ini. Hingga di akhir buku, aku masih kebingungan untuk memutuskan apakah Wendigo ini memang termasuk monster seperti anthropophagi di seri pertama (The Monstrumologist) atau memang dianggap sebagai tahyul semata. Namun jika aku pikir lebih jauh, aku lebih setuju dengan analisa Warthrop. John tidak berubah menjadi monster atau Wendigo. Ah, meski demikian aku masih belum paham sepenuhnya apa yang menjadi penyebab John bisa menjadi ganas seperti itu. Faktor psikologikah? #ihjadibolakbalik #okeskip

Ada apa dengan cinta dan benci? Menurutku buku kedua ini lebih kaya. Ada banyak hal yang dieksplorasi oleh penulisnya. Jika kubandingkan dengan seri pertama, The Monstrumologist lebih banyak membahas tentang monster, perburuan monster, dan hubungan antara sang Monstrumolog dengan asistennya serta perihal karakter mereka. Nah, pada seri keduanya ini, pembaca akan dibawa untuk mengenal perkumpulan para ahli monster, dan berkenalan dengan monstrumolog lainnya. Lalu ada sajian yang menyimpulkan bahwa Dr. Pellinore Warthrop yang dikenal dengan karakter yang dingin, anti sosial dan rasional ternyata memiliki rasa sayang yang dalam terhadap beberapa orang terdekat di dalam hidupnya tersebut.

Aku bisa merasakan hati doktor yang hangat tentang bagaimana dia menyayangi sahabatnya dan mantan tunangannnya. Pun begitu dengan rasa sayangnya yang kuat terhadap Will Henry. Ah, ya, tidak melulu mengenai Dr. Warthrop. Di sini ada sedikit kisah manis antara Will Henry dan Lilly, keponakan perempuan Von Helrung. Karakter Lilly di sini seolah menjadi simbol feminisme dengan keinginannya untuk mendobrak tradisi bahwa monstrumolog itu hanya pekerjaan untuk para pria.

Dan, sepertinya tidak banyak yang bisa kuceritakan mengenai poin “genius dan gila”. Mungkin bisa kita tangkap dari karakter dan jalan cerita di novel ini, hehe. #gaje

Secara keseluruhan, menurutku buku ini tidak sesadis buku sebelumnya. Ketika ada korban berjatuhan dan korban-korban itu terlihat “berantakan”, aku tidak terlalu merasa bergidik. Ya, mungkin karena fokus ceritanya tidak sepenuhnya tentang perburuan monster dan ada hal-hal lainnya yang dibahas selain karakter sang Doktor dan asistennya tersebut. Dan, itu juga mungkin karena pembunuhnya yang tidak sepenuhnya diyakini sebagai monster terutama oleh si tokoh utama.

Meski demikian, aku menyukai perkembangan karakternya. Seperti yang kutuliskan sebelumnya, ruang lingkup di novel ini terasa luasnya dan perkumpulan para Monstrumologist itu memang harus segera diberikan porsi cerita. Yap, tinggal menunggu seri ketiganya yaitu The Isle of Blood. Mari kita ikuti si Doktor dan asisten kesayangannya tersebut. Dan mungkin identitas si Aku yang menemukan jurnal Will Henry bisa terungkap namanya di seri ketiga tersebut. #pentingnyasebuahnama #memangpentingkan #haha #abaikan

Rating: Better (2/3)
The Monstrumologist Series:
#2 The Curse of the Wendigo
----------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------

Yuhuu…akhirnya review ini selesai. Membaca buku ini memakan waktu “setahun”. Dari Desember 2017 hingga Januari 2018 #haha #apasih. Nah, stelah sekian purnama, tidak ada kutipan manis dari buku yang telah kubaca, kali ini muncul kembali. Ada sekitar delaan kutipan yang kutemukan yang asik untuk dibagi karena maknanya membuatku terkesan (menurutku). Mari langsung saja disimak, ya. Jika ada yang kamu sukai, silakan komen, ya. Salam.

“Di suatu tempat pasti ada seseorang yang mengenalnya sebelum dia datang ke sini. Setiap manusia pasti memiliki seseorang.” (hal. 17)

“Aku ini sebutir debu,” katanya. “Siapa yang akan mengingatku begitu aku tiada nanti?” (hal. 35)

Ada hal-hal yang terlalu mengerikan untuk diingat da nada hal-hal yang hampir terlalu menakjubkan untuk dikenang. (hal. 40)

“Rasanya sulit, Will Henry, sangat sulit, memikirkan hal-hal yang tidak kita pikirkan.” (hal. 58)

Orang paling sinis sekalipun mudah terpengaruh oleh kebohongannya sendiri. (hal. 77)

“Mengapa kau berbohong, Will Henry? Apa kau pernah mendengar bahwa seseorang yang akan berbohong tentang hal-hal kecil tidak akan sungkan berbohong soal hal besar?” (hal. 105)

“Maksudku, dengan memiliki otak besar ada harga yang harus kita bayar. Naluri kita sering dipadamkan oleh nalar.” (hal. 112)

“Mengerikan! Rasanya seperti mengunyah kaki kursi. Tapi hanya itu yang kita miliki. Dan kita harus belajar untuk puas dengan yang kita miliki, tidak peduli seberapa hambar atau getir rasanya.” (hal. 164) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar