Review Novel Curtain: Poirot’s Last Case karya Agatha Christie

“Kau dan aku, Hastings, akan pergi berburu sekali lagi.” - Hercule Poirot


Judul asli: Curtain: Poirot’s Last Case
Judul terjemahan: Tirai
Series: Hercule Poirot #34
Pengarang: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan keempat belas - Januari 2014
Tebal buku: 320 halaman
Format: Paperback
Genre: Mystery
ISBN: 978-979-22-3222-6

Di tahun 2017, aku pernah membaca salah satu kisah Poirot dengan judul The Mysterious Affair at Styles. Kisah tersebut merupakan awal mula pertemuan antara Kapten Hastings dan Poirot melalui sebuah kasus pembunuhan yang terjadi di Styles Court.

Sebab aku membaca serial Poirot secara acak, beberapa tahun setelahnya baru tahu kalau kisah tentang Styles adalah buku pertama dari serial Hercule Poirot. Pantas saja ada banyak deskripsi tentang Poirot disana. Mulai dari penampilan hingga cara Poirot memecahkan suatu masalah. Mulai dari kepala bulat telur, kumis yang rapi hingga sel kelabu yang memenuhi otak cemerlangnya.

Akhir tahun lalu (2022) aku kembali membaca secara acak serial Poirot. Pilihannya jatuh pada Curtain: Poirot's Last Case. Ya, berdasarkan judulnya, bisa ditebak jika ini adalah akhir dari serial Poirot.

Kapten Hastings kembali muncul di sini. Bersama Poirot, mereka kembali ke Styles. Kasus terakhir yang akan ditangani oleh Poirot terjadi di Styles Court (yang kini sudah berpindah tangan dan berubah menjadi penginapan).

Poirot telah mencurigai salah satu tamu di sana sebagai pelaku pembunuhan. Sebut saja X. Ia adalah dalang dari lima pembunuhan dimana dengan cerdiknya, ia bisa lolos dari hukuman. Bahkan dicurigai pun tidak. Korbannya acak dan tidak ada motif personal. Hanya berupa kepuasaan pribadi saja melihat orang-orang di sekitarnya saling membunuh. Sungguh perilaku yang keji.

“Misalnya saja dia dikenal sebagai tukang jagal.Pasti tak seorang pun ambil peduli kalau ada noda darah di baju tukang jagal.” - Poirot
“Pasti setiap orang akan tahu kalau ada tukang jagal yang bertengkar mulut dengan tukang roti.” - Hastings
“Tapi orang pasti tidak tahu kalau si pembunuh itu jadi tukang jagal semata-mata untuk mencari kesempatan supaya bisa membunuh si tukang roti.” - Poirot

Keberadaan X boleh dibilang mengancam keberadaan semua tamu di Styles. Poirot sudah renta dan jantungnya bisa berhenti berdenyut setiap saat. Oleh karena itu ia memanggil Hastings untuk membantunya.

Bantuan seperti apa yang didapatkan Poirot? Berhasilkan mereka menghentikan X untuk melakukan pembunuhan? Siapa sebenarnya X? Bagaimana penulis akan mengakhiri kisah Poirot?

Saat tahu kalau ini adalah buku terakhir dari seri Poirot, aku menjadi tidak fokus dengan kasus yang ditanganinya. Aku lebih penasaran bagaimana akhir hidup Poirot. Dengan cara seperti apa penulis menutup kisah petualangan detektif berkepala bulat telur ini.

Walaupun sebenarnya kasus tersebut sangat unik dan tentu saja menurutku sengaja dibuat lebih keren mengingat lewat buku ini Agatha menutup kisah Poirot. Melalui kacamata Hastings, pembaca diajak menebak siapa X dan siapa calon korbannya. Lalu bagaimana cara X bersiasat sehingga terjadi pembunuhan tanpa membuat dirinya dicurigai. Tampak seperti lawan yang imbang bagi Poirot sebab telah terjadi lima pembunuhan dimana X tetap bebas. Hanya saja aku tidak bisa terhubung dengan premis tersebut. Ya, itu tadi mungkin sebabnya. Aku lebih peduli dengan nasib sang Detektif.

“Ini, Hastings, akan merupakan kasusku yang terakhir. Dan juga yang paling menarik—dan karenanya penjahatnya pun demikian. Sebab dalam diri X kita menjumpai teknik yang luar biasa hebat, gemilang—yang menimbulkan kekaguman. Sebegitu jauh, mon cher, si X ini sudah beroperasi dengan kesanggupan sedemikian mengagumkan, sampai-sampai dia mampu mengalahkan aku—Hercule Poirot! Dia sudah berhasil mengembangkan serangan yang tidak kutemui jawabannya.” - hlm.233

Meski sudah mengetahui bagaimana akhir dari Poirot, ternyata tidak meredupkan semangat untuk membaca kisahnya yang lain. Bagiku Poirot tetap hidup dan beraksi. Kalau tidak salah serial Poirot ini ada 34 judul termasuk Curtain. Dan aku baru membaca sebanyak tujuh buku. Masih banyak sekali yang tersisa untuk dinikmati. Ya, mungkin karena hal tersebut benakku menolak kepergian Poirot.

Secara keseluruhan Curtain merupakan penutup kisah Poirot yang apik. Kasus yang ditawarkan rumit sebab pelaku dibentuk menjadi sangat cerdik sekaligus keji. Menggunakan Styles sebagai tempat awal dan akhir kisah Poirot menandakan buku ini telah dipersiapkan dengan baik oleh penulis.

Selain latar tempat yang sama, munculnya Hastings kembali di sisi Poirot ternyata kali ini tidak membuatku merasa terganggu. Apalagi saat mengetahui bagaimana keterlibatan Hastings yang cukup signifikan baik dalam alur cerita maupun kasus yang tengah ditangani. Keberadaan Judith, putri kesayangan Hastings juga turut menambah keseruan cerita.

Christie memilih untuk menyelesaikan serial ini di saat sang detektif masih dalam kondisi cemerlang. Dan menurutku tidak perlu ada yang disayangkan dari keputusan tersebut. Boleh jadi bagi pembaca yang mengikuti kisah Poirot secara berurutan (membaca dari buku pertama dan seterusnya) bisa merasa lebih sedih atau kehilangan.

Namun aku mengikuti kisahnya secara acak dan mengingat masih banyak buku Poirot lainnya yang belum dilahap, maka bagiku Poirot tetap hidup. Karir dan petualangannya menguak kejahatan masih bakal tetap asyik untuk dinikmati.

Rating: 4/5 (really liked it)
Kutipan menarik dari buku ini:

“Makin tua usia seseorang, semakin sering dia mengingat kejadian yang dulu-dulu. orang mencoba menangkap kembali kenangan-kenangan lama.”-hlm.22

Tak seorang manusia pun berhak mempermalukan manusia lainnya di tempat umum. - hlm.131

“Rumah memang memiliki suasananya masing-masing. Rumah ini memiliki masa lalu yang jelek.” - hlm.195

“Kebanyakan orang pada umumnya tak mau tahu. Mereka cuma menginginkan hiburan. Mereka menginginkan kata-kata yang menentramkan hati. Kadang-kadang kesembuhan yang menakjubkan memang terjadi. Tapi kesembuhan itu tak bakal ada pada masalah Poirot ini.” - hlm.236

“Kebenaran jarang dihargai. Padahal kebenaran itu menghemat banyak waktu dan pidato yang tidak tepat.” - hlm.241

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Review] The Silmarillion by J.R.R Tolkien – Sebuah riwayat yang panjang

[Review] Maybe Someday by Colleen Hoover – Musik dan pilihan hati

[Review] Le Petit Prince by Saint-Exupery – Perenungan sederhana tentang kehidupan