[Series] Dream Catcher by Lisa McMann

Saat blog walking ke Tikbookholic milik kak Tika Insani, aku jadi terinspirasi untuk membuat tema tulisan baru di blog ini. Tema baru tersebut kuberi nama “Series”. Sesuai namanya tulisan ini berisi rangkuman ulasan mengenai buku-buku berseri (serial) yang telah kuselesaikan. Misalnya, aku telah tuntas membaca keempat buku serial Hannibal Lecter. Nah, setelah selesai membuat review/ulasan per buku, aku akan membuat rangkuman keempat buku di seri tersebut sekaligus. Contohnya seperti postingan kak Tika berikut ini:


Tampak merepotkan? Aku rasa tidak. Aku pikir ini akan lumayan membantuku karena ada niat ingin merampingkan menu label di side bar blog ini. Selain itu, aku sedang bersemangat ingin membuat bacaan yang lebih bervariasi untuk Bukulova. Sekaligus aku harap, tulisan seperti ini dapat memudahkan para pembaca blog mengetahui suatu serial secara ringkas dan cepat tanpa perlu membaca ulasan bukunya satu per satu. Ya, intinya semoga postingan ini dapat bermanfaat.

instagram @kikioread

Oke, untuk mengawalinya, aku memilih serial Dream Catcher milik Lisa McMann. Tidak ada alasan khusus. Aku hanya memilih seri ini secara acak dan sesuai mood, meski sebenarnya ingin berurutan dari awal. Ya, sudahlah, hehe. Lanjut cerita, seri ini terdiri dari tiga buku dengan judul-judul yang pendek (hanya satu kata) yaitu Wake, Fade dan terakhir Gone. Aku menuntaskan seri ini di tahun 2015 lalu. Untuk bukunya sendiri terbit pada tahun 2010.

Secara ringkas, Dream Catcher mengangkat kisah tentang Janie yang mempunyai kemampuan “ajaib” yaitu dapat tersedot masuk ke dalam mimpi seseorang. Dari mimpi tersebut dia bisa memperoleh banyak informasi tertentu dan personal. Dia pun direkrut oleh anggota penyidik kepolisian untuk mengungkap kasus-kasus yang banyak terjadi di kalangan para remaja. Ya, Janie digambarkan sebagai seorang siswa SMA (aku tidak terlalu ingat kelas berapa). Bisa disimpulkan jika seri ini juga masuk ke dalam ranah Young Adult Fantasy. Oh, ya sebagai pemanis, tentu saja ada aroma romantis di dalamnya. Syukurlah, tidak terlalu berlebihan serta tidak menggangu premis awalnya (menurutku).

Ada beberapa hal menarik dari seri ini. Pertama alur cerita ditampilkan mirip format diari / jurnal harian (ada keterangan tanggal dan waktu kejadian), sehingga tidak membosankan karena memberikan suasana yang berbeda dari kebanyakan novel pada umumnya. Membacanya terasa ringan sebab bahkan ada yang isinya hanya sebaris. Masing-masing bukunya juga tidak tebal (rata-rata sekitar 200an halaman). Jadi, dapat dituntaskan dengan cepat. Eh, aku jadi kepikiran, mengapa penulisnya memecah seri ini menjadi tiga buku, ya? Kalau digabungkan, jumlah halamannya masih normal untuk ukuran novel atau hanya sekitar 600an halaman. Haha, entahlah. Mungkin ada alasan khusus dibaliknya.

Selanjutnya, aku suka dengan konsep kekuatan Janie. Ide cerita tentang seseorang yang dapat tersedot ke dalam mimpi orang lain terasa unik dan menarik. Jika membaca seluruh buku, pembaca akan memahami lebih jauh mengenai kekuatan ajaib ini. Aku jadi teringat dengan perkataan salah satu pahlawan super jebolan Marvel Studio yaitu Spiderman. Kira-kira isinya begini: seiring dengan kekuatan besar, maka akan ada tanggung jawab besar yang menyertainya. Tidak hanya sekedar tersedot dan membahas cerita ringan ala remaja, Lisa mengajak kita melihat Janie memanfaatkan kekuatan tersebut untuk menyelesaikan kasus kriminal. Terlebih lagi (dan yang menjadi inti sari serial ini) kekuatan tersebut disertai dengan konsekuensi yang serius sehingga akhirnya itu menjadi konflik utama dari serial ini.

Terakhir, yang kusukai adalah serial ini membawa pesan moral di dalamnya. Jadi bukan hanya cerita remaja yang beradaptasi dengan kekuatan ajaib dan seputar romantisme di antara para tokoh utama. Satu pesan moral yang membekas adalah mengenai kecanduan alkohol. Lisa membawa topik ini ke dalam fiksinya bahkan di halaman berisi ucapan terimakasih, ia menyelipkan situs yang memuat pertolongan terhadap efek buruk dari kecanduan ini. Hingga saat menuliskan postingan ini, aku belum pernah mengecek situs tersebut dan kurang tahu apakah situsnya masih aktif sekarang. Namun, pesannya tersampaikan. Ada beberapa pesan moral lainnya yang kutangkap tetapi tidak akan kutampilkan di tulisan ini. Silakan baca langsung di ulasan Wake, Fade, serta Gone, ya, (aku letakkan link-nya di bawah postingan ini).

Apakah serial ini dapat dibaca secara acak atau tidak berurutan? Jujur, aku sudah mulai lupa apakah di setiap bagian awal buku ada penjelasan singkat yang dapat menyegarkan ingatan pembaca sekaligus membuat serial ini dapat dibaca secara acak misalnya tentang siapa Janie dan apa yang tengah dialaminya. Jika melihat dari sisi kasus yang diselesaikan Janie, setiap buku memiliki kasus yang berbeda-beda sehingga terkesan mudah saja kalau membaca secara acak. Namun, untuk menjawab pertanyaan di awal paragraf ini dengan ingatan yang samar, aku cenderung menyarankan untuk membacanya secara berurutan sebab seingatku ada pengembangan emosi dari para karakter di dalamnya dan ada benang merah di antara buku-buku di serial ini.

Contoh, tokoh Cabel yang awalnya seperti Prince Charming karena tampak sempurna di buku pertama, terlihat sedikit menyebalkan di buku kedua. Tokoh Janie pun demikian. Di awal dia mencoba mencari tahu kekuatan misterius apa yang bersemayam di dirinya dan dimana serta kapan ini semua berawal. Lalu di buku kedua, Janie berusaha mencari tahu bagaimana cara mengendalikan kekuatan tersebut. Dan di buku terakhir, pembaca akan diajak melihat Janie berdamai dengan dirinya sendiri dengan mengetahui siapa dan mengapa kekuatan ini muncul. Omong-omong, aku boleh jadi tidak mampu mengingat “benang merah” dari ketiga buku di serial ini jika saja tidak menulis ulasan Gone setelah menuntaskannya di 2015 lalu. Silakan baca langsung di ulasannya, biar lebih jelas.

Secara keseluruhan aku menyukai serial ini. Premisnya unik dan ceritanya dikembangkan dengan menarik (diwarnai dengan misteri, sedikit bumbu romantis dan diakhiri dengan kisah yang mengaduk emosi). Tokoh utamanya seorang remaja yang masih bersekolah dan memiliki pacar namun romantisme mereka tidak mengalahkan cerita utama serialnya. Ketiga bukunya juga dapat diselesaikan dengan segera karena tidak terlalu tebal dan ditulis dalam bentuk jurnal harian. Baiklah, aku akan mengakhiri postingan perdana tema Series ini. Semoga bermanfaat.

Average rating: 3/5 (liked it)
Dream Catcher series:

Comments

Popular posts from this blog

[Review] The Silmarillion by J.R.R Tolkien – Sebuah riwayat yang panjang

[Review] Emma by Jane Austen – Drama percintaan klasik

[Review] The Dark Blood by Ashara – Kisah Makhluk Penghisap Darah, namun bukan Vampire