[Review] Stardust by Neil Gaiman – Ini dongeng untuk orang dewasa
“Kadang-kadang bintang jatuh. Tapi tidak
kembali lagi ke atas.” - Yvaine
![]() |
gambar diambil dari sini |
Judul: Serbuk Bintang
Judul asli: Stardust
Pengarang: Neil Gaiman
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Tahun terbit: April,
2008 (cetakan ke-4)
Tebal buku: 256
halaman
ISBN: 978-979-22-2688-1
Dongeng
adalah salah satu pelengkap masa kecilku. Sedari dulu aku sudah menjadi
penikmat dongeng. Rasanya seru jika bisa sesekali mengunjungi negeri-negeri
dongeng. Tempat para peri ataupun binatang yang bisa berbicara tinggal. Tempat
beragam keajaiban dapat terlihat secara nyata tanpa proses pemahaman yang
dalam. Ya, membaca dongeng rasanya seperti menghirup udara masa kecil dulu.
Sebagaimana
dongeng yang dikonsumsi untuk anak kecil, rasanya hampir semua (jika aku tidak
terputus di tengah jalan membacanya) memiliki akhir yang bahagia. Semua
permasalahan terselesaikan. Yang jahat mendapat hukuman atau kalau tidak
pengampunan. Di akhir cerita tidak ada rasa negatif yang muncul seperti rasa kesepian, kemarahan, kemalangan, putus asa dan
lain-lain. They lived happy ever after.
Semenjak
bertambah umur dan seusai membaca Reckless, pun sebelumnya membaca online berbagai
celotehan menarik di internet, dongeng yang happy ending mulai terganti dengan
dongeng jenis lainnya, haha. Setiap dongeng yang kubaca apalagi yang dengan
rating (kali ini) dewasa, ada tersisip rasa-rasa lainnya itu. Walaupun
demikian, keajaiban khas dongeng berikut makhluk penghuninya tidak banyak
berubah.
Dua hari
yang lalu, aku baru saja menamatkan sebuah buku dongeng yang di sampul belakangnya telah mengklaim: Ini dongeng untuk orang dewasa. Ada yang bisa
menebak? Oke, judulnya Stardust. Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai
Serbuk Bintang. Buku karangan Neil Gaiman ini terbitan Gramedia dan memiliki
sampul yang menarik. Aku suka sampulnya berikut komposisi warnanya. Kertas dan ilustrasi di dalam novel ini juga membuat tampilannya
semakin menarik.
Bukan klaim
“Dongeng untuk orang Dewasa” yang membuatku tertarik membeli dan membaca buku
ini. Jauh sebelum melihat buku ini, aku sudah akrab dengan judulnya. Dulu, aku
pernah menonton sebuah film dengan judul yang sama di sekitar awal tahun 2000an.
Ada beberapa adegan di film itu (yang samar-samar masih kuingat) sama persis
dengan adegan yang kubaca di buku.
Malah
awalnya kukira cerita ini hanya ada di film, tidak ada bukunya. Aku pun sedikit
penasaran dan mulai mengecek tahun terbitnya. Ternyata tahun 1999. Oke,
setelah penasaran seperti ini, aku pun Googling. You know, do some research,
haha. Oke, aku temukan di Wikipedia kalau film yang kutonton tersebut di rilis
tahun 2007 dan memang diangkat atau berdasarkan novel ini.
Baiklah,
buku ini bercerita tentang sebuah Desa bernama Desa Tembok. Dinamakan demikian
karena ada sebuah tembok tinggi bewarna kelabu yang berdiri di sebelah timur
desa. Tembok ini merupakan perbatasan antara Desa dengan wilayah dibalik
tembok. Wilayah atau negeri yang sejatinya tempat para peri dan makhluk
dongeng lainnya semisal penyihir tinggal. Negeri yang penuh keajaiban dan juga
mengundang bahaya.
Tepat di timur desa Tembok terdapat tembok
tinggi dari batu kelabu, yang menjadi asal mula nama desa ini. Tembok ini kuno,
dibangun dari balok-balok granit kasar, merentang keluar dari hutan dan kembali
memasuki hutan. (hal. 11)
Namun ada
satu celah bukaan di tembok tersebut. Melalui celah tersebut seseorang atau
sesuatu baik dari Negeri Peri ataupun manusia dapat melintas. Namun waga Desa
Tembok tidak pernah mengijinkan hal semacam itu terjadi, kecuali dengan alasan
tertentu. Oleh karenanya, mereka menempatkan secara bergantian setiap 8 jam,
dua orang penjaga di kedua sisi tembok. Penjaga tersebut bertugas mengawasi dan
mencegah, terutama anak-anak melewati tembok dan melintasi padang rumput di
balik tembok tersebut.
Namun
penjagaan tersebut dilonggarkan setiap 9 tahun sekali. Saat itu akan ada Pekan
Raya di padang rumput di balik tembok. Beragam makhluk datang dan berjualan
aneka macam dagangan di sana. Warga desa Tembok juga diperbolehkan untuk
mengunjungi pekan raya tersebut. Dan di sanalah kisah ini bermula.
Dunstant
Thorn memiliki seorang anak lelaki yang telinga dan matanya seperti Peri.
Anaknya ini bernama Tristran Thorn. Saat anaknya berumur (kalau tidak salah) 17
tahun, Tristran memaksa untuk pergi ke negeri di balik tembok untuk mengambil
bintang jatuh atas permintaan Victoria Forester. Gadis tercantik di Desa Tembok
tersebut meminta bintang tersebut dibawa kepadanya dan jika Tristran berhasil,
maka dia boleh meminta apapun dari Victoria. Tristran yang jatuh cinta pada
kecantikan Victoria pun menyanggupi hal tersebut. Berkat bantuan ayahnya yang
berhasil meyakinkan penjaga tembok, dia pun diizinkan untuk lewat.
Tristran
berhasil menemukan si Bintang Jatuh yang ternyata bernama Yvaine atas bantuan
katai berbulu (aku juga tidak mengerti ini makhluk apa, hehe). Namun dia harus
melakukan perjalanan selama 6 bulan dari tempat si Bintang tersebut jatuh untuk
sampai kembali ke desa Tembok. Nah petualangan pun dimulai karena ada makhluk
lain yang mengejar si Bintang. Pun ada misteri lainnya kenapa si Bintang bisa
jatuh, hohoho. :)
Tidak
banyak yang bisa kuceritakan soal buku ini. Yang jelas ceritanya menarik dan
menawarkan “eksotika” negeri Peri, haha. Banyak hal ajaib walaupun masih kurang
puas dengan deskripsi tentang Katai Berbulu. Adapun kalimat yang digunakan di
buku ini sedikit mengingatkanku dengan buku klasik. Yea, memang setting-nya
klasik banget, saat Charles Dickens masih muda, haha. Sehingganya ada beberapa
kalimat yang membingungkan.
Oh yea
perihal ending, mungkin tidak seekstrim Reckless, namun ending yang happy berubah
saat aku membaca bagian epilog di beberapa halaman terakhir buku ini. Haduh,
hingga kalimat terakhir yang kubaca, sedih dan sepi. Mengapa harus ada epilog dan
akhirnya jadi sedih? Haha, okay, aku-nya yang terbawa kenangan masa kecil
dengan dongeng-dongeng happy ending. Lupa kalau ini dongeng untuk orang dewasa
dan ya, you can check some quotes of its here.
Haha,
sekian review-nya. Enjoy your day, fellas!
Rating: (4/5) really liked it
Comments
Post a Comment