Selasa, 19 Mei 2015

Reckless - Tidak semua dongeng berakhir bahagia selama-lamanya

Baik Goyl maupun manusia tidak ada yang hidup terlau lama untuk memahami bahwa masa lalu terlahir dari masa depan, sama seperti masa depan terlahir dari masa lalu.


gambar diambil dari sini

Judul Asli: Reckless
Pengarang: Cornelia Funke
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Februari, 2012
Tebal buku: 376 halaman
ISBN: 978-979-22-8008-1

Bagi penyuka dongeng dan makhuk mitos, boleh jadi nama-nama seperti Putri Tidur, Putri Salju, Cinderella, Hans dan Gretel bukanlah sesuatu yang baru. Pun nama-nama makhluk mitos semacam Penyihir, Peri, Raksasa, Kurcaci terasa begitu familiar di ingatan. Nah, bagaimana jika semua makhluk dongeng dan mitos tersebut benar ada dan hidup di dalam satu dunia yang sama? Can you imagine that? Sebuah dunia yang penuh makhluk-makhluk tersebut. Satu dunia dimana Putri Salju, Putri Tidur berikut Peri dan Kurcaci berada dalam tempat yang sama. Sebuah dunia tempat dimana berbagai macam dongeng berasal dan dunia itulah yang menjadi latar belakang cerita di novel ini.

Awalnya aku rada malas untuk membaca novel ini duluan. Hal ini dikarenakan desain sampul atau cover-nya tidak menarik. Ada gambar semacam makhluk raksasa hijau yang mencoba meninju seorang pemuda berkaos merah. Yeah, benar-benar terlihat aneh di mataku. Pun komposisi warnanya yang tidak bersemangat atau menurunkan semangat untuk mulai membuka buku ini, menurutku. Begitu pula ketika membaca halaman kedua dan berikutnya hingga bab pertama selesai, sering sekali aku menjadi bingung karena susunan kalimat yang sedikit membuat kita harus sedikit memutar otak. Ahh, cukup sulit memang untuk awalnya.

Namun setelah memasuki bab 5 “Schwanstein”, aku baru mulai mendapatkan flow atau alurnya. Jangan khawatir, jarak antar satu bab dengan bab yang lainnya tidaklah dalam hitungan puluh halaman. Sebagai contoh, Bab 4 hanya berisi tiga halaman saja. Yea, walaupun terdiri dari banyak bab, namun isinya singkat, jarang yang terdiri dari sepuluh halaman ataupun lebih.

Dan semakin aku masuk ke dalam cerita ini, semakin miris dan kelam. Ahh, greget banget, euy! Aku jadi takut sendiri dengan jalan ceritanya. Aku jadi greget dengan nasib tokoh utama yang, apa ya, bukan menyedihkan tapi cukup menggenaskan di beberapa bagian. Oh, ini novel sudah jadi semacam novel thriller dan nyaris suspense. Dan benar seperti yang teah diperingatkan oleh synopsis cerita di cover bagian belakang: Kalau kau mencari cerita dongeng yang berakhir bahagia selama-lamanya, berarti buku ini bukan untukmu. Haha, mungkin aku terdengar lebay, namun jika kamu pencinta dongeng, maka persiapkan dirimu sebelum membaca buku ini. It will ruin your tale world, lol.

Secara ringkas, buku ini bercerita tentang petualangan Jacob Reckless di dunia Cermin. Jacob mempunyai seorang ayah yang bernama John Reckless dan seorang adik bernama Will Reckless. Sang Ayah sepertinya merupakan seorang insinyur teknik yang tiba-tiba menghilang saat Jacob dan Will masih kecil. Hal ini membuat Ibu mereka merasa begitu kehilangan dan mengalami depresi.

Suatu hari, Jacob -yang juga begitu merasa kehilangan akan ayahnya dan sangat menginginkan agar ayahnya kembali- masuk diam-diam ke dalam ruang kerja ayahnya. Dan di situlah dia akhirnya menemukan sebuah cermin yang indah yang ternyata mampu membawanya ke sebuah dunia, dunia dongeng. Yea, dunia ini masih muda, belum semaju dunia yang kita tinggali. Di dunia ini semua dongeng dan makhluk mitos hidup. Jacob pun jadi ketagihan melakukan petualangan di dunia ini selama bertahun-tahun. Dia berpetualangan mencari benda-benda ajaib seperti Sepatu Kaca, Rambut Rapunzel, Pohon Emas, Manusia-Angsa, dan benda lainnya yang mengandung sihir. Dan selama bertahun-tahun pula dia menyembunyikan dunia cermin ini dari siapapun, terlebih dari adiknya, Will.

Hingga suatu hari, Will mulai mengetahui tentang dunia ini dan ikut masuk ke dalamnya. Saat itu di dunia cermin sedang terjadi pemberontakan dan perang besar antara bangsa Goyl dan manusia. Bangsa Goyl adalah makhluk berkulit batu dan tinggal di dalam tanah. Mereka kuat, besar, dan kulit batunya yang keras memiliki warna berbeda. Ada yang memiliki kulit batu kecubung, jasper, oniks dan batu baiduri bulan. Mata mereka berwarna emas dan sangat sensitive dengan cahaya matahari. Namun mata mereka mampu melihat dengan tajam di kegelapan.

Bangsa Goyl dipimpin oleh seorang Raja bernama Kami’en. Dia mempunyai seorang jendral perang yang bernama Hentzau. Kami’en mempunyai seorang istri Peri bernama Peri Gelap. Karena bantuan peri ini pulalah, dia bisa memenangkan perang dengan bangsa manusia yang dipimpin oleh Kaisar Therese von Austrien. Peri ini pun menebar kutukan. Bagi manusia yang terkena cakar Goyl, perlahan kulit dan dagingnya akan berubah menjadi batu serupa bangsa Goyl. Ingatan manusianya pun akan menghilang dan mereka pun menjadi prajurit Kami’en. Peri menebar kutukan ini untuk memanen manusia-goyl berkulit Giok. Di dalam mimpinya, Peri melihat bahwa manusia-goyl berkulit giok ini yang akan melindungi Kami’en. Yea, Peri Gelap sangat mencintai Kami’en.

Sebelumnya tidak pernah ada Goyl yang memiliki Giok sebagai kulit dan tubuhnya. Hentzau dan bahkan Kami’en sendiri berpikir ini hanyalah omong kosong peri. Namun mereka berusaha menghormati keinginan Peri Gelap dan terus mencari Goyl Giok tersebut. Hingga suatu hari, Will Reckless terkena cakar Goyl dan Jacob harus mati-matian mencari penawar bagi tubuh adiknya yang mulai berubah menjadi batu. Jacob dan Rubah yang selalu mengikutinya kemana-mana, lalu Will serta Clara –kekasih Will- memulai perjalanan mereka. Mulai dari melewati Rimba Lapar yang penuh makhluk menyeramkan (termasuk penyihir yang menculik Hans dan Gratel) hingga melewati padang Unicorn untuk masuk ke Lembah tempat tinggal para Peri.

Huwwaa, petualangan mereka sangat greget dan kasihan sekali aku kepada Jacob yang berulang kali demam dan luka-luka. Miris sekali nasibnya namun bagaimanapun dia harus menyelamatkan Will sekaligus melindunginya dari bangsa Goyl yang mulai memburunya. Belum lagi ulah Orang Kerdil atau Dwarf yang bernama Valiant yang menyebalkan. Haha, yea walaupun Valiant licik dan gila emas, dia akhirnya menjadi penolong Jacob untuk mencari penawar bagi adiknya. Benar, jangan mencari “life happily ever after” di buku ini, haha.

Bagi pencinta dongeng, Reckless karangan Cornelia Funke ini memang bisa banget to ruin your childhood, haha. Jalinan ceritanya yang kompleks dan beberapa cuplikan rahasia dari dongeng-dongeng semacam Putri Salju, Cinderella membuat kita melihat ke sisi yang berbeda. Sisi yang kelam semacam Putri Tidur yang menjadi mumi karena Pangeran yang tak kunjung datang. Yea, dan sisi kelam ini terkadang membuatku bergidik ngeri. Haha, padahal aku tahu jika ini hanya fiksi dan sebagian makhluk di dalam novel ini sudah pernah kudengar dan kubaca sebelumnya. Namun apa yang dialami Jacob dalam petualangannya membuatku ikut merasa deg-degan. Tidak salah jika majalah Time pernah menganggap Cornelia memliki bakat yang unik dan memasukkannya ke “Time 100”, daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia.

Memang, ada saat dimana aku kecewa karena tidak berhasil mendapat gambaran utuh, terlebih mengenai makhluk mitos di buku ini, semacam Gagak-Emas, Daumling, Heinzel. Cornelia terkesan sambil lalu menyebutkan nama-nama mereka seolah pembaca sudah pernah melihat makhluk tersebut sehingga tidak perlu deskripsi. Namun mungkin Cornelia sengaja seperti itu agar cerita fokus kepada tokoh cerita. Dan memang aku menemukan penjelasan yang kuat dari sisi karakter atau watak dari para tokoh penting (bukan figuran) di cerita ini. Baik itu watak/sifat protagonist maupun yang antagonisnya.

Ketika mata-mata itu akhirnya kembali, bahkan penglihatan Hentzau yang kabur bisa melihat dari wajahnya bahwa ia telah kehilangan jejak. Dulu ia pasti sudah langsung menghabisi si mata-mata, tapi sekarang ia sudah belajar mengendalikan amarah yang bergentayangan di dalam diri mereka semua, walaupun tidak sebaik pengendalian diri Raja. (hal. 106)

Di usia Nesser sekarang, ia tidak mengenal konsep takut; anak seusia itu mengira mereka tidak bisa mati, bahkan tanpa darah Peri di pembuluh darahnya. Hentzau masih bisa mengingat perasaan itu dengan sangat jelas. (hal. 106-107)

“Komandan?”
Hentzau senang mendengar gelar itu dalam suaranya yang muda. Itu masih menjadi penangkal terbaik untuk keraguan yang ditebarkan Peri Gelap dalam dirinya. (hal. 107)

Di buku ini pun Cornelia tidak langsung menyebutkan nama suatu perasaan. Dia lebih kepada menjelaskannya, memberikan uraian. Mungkin inilah yang membuat aku lebih merasa greget mengikuti jalinan cerita di novel ini. Seolah aku bisa merasakan perasaan para tokoh dan mengalami ketegangan berikut konflik di dalam cerita ini. Haha, yea entah kenapa aku berulang kali memakai kata greget. Ini memang greget. :D

Perasaan apakah ini, yang mencabik-cabik bagian dalam dirinya bagai rasa lapar dan dahaga? Tidak mungkin ini cinta. Cinta hangat dan lembut, seperti gundukan dedaunan. Tapi perasaan ini gelap, seperti bayangan di bawah semak beracun, dan menyerupai perasaan lapar. Sangat kelaparan.
Jacob. Bahkan namanya pun tiba-tiba terasa berbeda. Dan Rubah merasakan embusan angin dingin menerpa kulit manusianya.
(hal. 240)

Yea, buku setebal 376 halaman ini memang, lagi-lagi, greget. Penuh dengan adegan dan plot yang tak terduga, misterius dan sedikit miris. Terlepas dari sebuah typo, lalu desain sampul yang (menurutku) kurang menarik, serta beberapa kalimat terutama di awal cerita yang membingungkan, buku ini seru dan layak untuk kalian baca, baik bagi yang suka dan tidak suka dongeng. Buku ini memberi warna baru untuk dongeng-dongeng yang dulu sering kudengar dan baca sewaktu kecil. Walaupun di sini dongeng-dongeng tersebut berubah kelam and no happy ending, but I can deal with it. Haha, memang hanya sedikit quote yang berhasil kukutip dari buku ini. Keseluruhan buku ini menarik dan tak terduga. Bravo! :D

Rating: The Best

Tidak ada komentar:

Posting Komentar