7 Alasan Memilih dan Membeli Buku Bacaan


Sebab ingin membabat timbunan, tahun ini berusaha agar tidak tergoda untuk membeli buku baru. Meski intensitas baca masih menurun namun syukurlah niat buat berhenti menumpuk bahan bacaan masih bertahan hingga detik ini.

Sebagai gantinya, aku mau cerita sedikit tentang hal-hal yang bisa menjadi sebab pembaca memilih ataupun tergoda membeli buku bacaan (baru). Apa yang aku ceritakan berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi. Barangkali ada yang samaan. Silahkan tulis di kolom komentar. :D

1| Sampul/Cover


Yup, ibarat dari mata turun ke hati, pesona sampul/cover buku saat ini bisa menjadi alasan seorang pembaca tertarik untuk membeli buku tersebut. Bukan berarti sampul bagus maka isinya bagus pula. Setidaknya desain sampul yang oke dapat membuat tanganku menarik buku tersebut dari rak dan mengamatinya lebih jauh.

Tidak heran jika beberapa penerbit ada yang menggelar voting sebelum memutuskan desain sampul mana yang akan dicetak. Meski sifatnya subjektif memang. Sampul yang menarik buat seseorang belum tentu menimbulkan kesan yang sama di mata yang lain.

Aku pribadi punya jenis desain sampul yang disukai dan ada juga yang kurang disukai. Ada perasaan nanggung atau sedikit mengeluh juga sih jika desain sampulnya tidak terlalu kusuka tetapi ternyata isi bukunya bukan kaleng-kaleng alias bagus, hehe.

2| Penulis


Boleh jadi setiap pembaca memiliki penulis favorit. Buku apapun yang ditulis olehnya bakal otomatis dibeli bahkan dikoleksi. Percaya saja gitu kalau tulisannya akan selalu klik di hati. Walaupun ternyata kurang memuaskan, malah bisa dimaklumi, hehe.

Selain penulis favorit, umumnya penulis terkenal/populer bisa juga mendapat perlakuan demikian. Melihat namanya di antara deretan buku lain, bisa membuat tergerak untuk mengambilnya dari rak lalu mulai membaca sinopsis dsb. Intinya, nama penulis bisa menjadi poin plus tersendiri yang bisa bikin pembaca membawa pulang bukunya.

Mungkin karena berkaitan erat dengan perasaan, hal ini bisa jadi pisau bermata dua juga sih. Ada kasus dimana reputasi penulis tidak hanya dikaitkan dengan hasil karyanya namun juga bagaimana dia bersikap ke publik. Beberapa berhenti membaca buku penulis favoritnya bukan karena kualitas namun ada perilaku penulis tersebut yang tidak disenangi. Ya, kabar-kabarnya sih ada yang begitu.

3| Judul


Pernah membeli buku karena tertarik dengan judulnya? Selain melihat sampul, membaca judul buku biasa dilakukan sebelum memutuskan untuk membawa buku tersebut pulang. Ada satu-dua judul yang setelah kulihat membuatku kepincut dan jadi penasaran sendiri dengan isi bukunya. Alhasil dibawa lah itu buku ke kasir. Ini terjadi saat membeli buku secara online maupun offline.

Ya, apalagi saat membeli buku secara online. Kita melihat sampul bukunya hanya seukuran thumbnail bukan seukuran buku asli. Itupun hanya dari layar bukan memegang langsung fisik bukunya. Otomatis judul yang dirangkai sedemikian rupa bisa punya peran sendiri. Judul yang menarik (eye catching ataupun provoking) membuat pembaca menjadi tidak tahan untuk segera melahapnya.

Kalau untukku pribadi, judul dengan frasa sedang hingga panjang (bahkan berupa kalimat utuh) lebih sering membuat tertarik daripada judul pendek (contoh hanya memuat nama seseorang). Sebab judul yang demikian bisa lebih membuat penasaran sehingga ikutan menebak-nebak isi bukunya seperti apa.

Judul pendek bisa juga menarik jika buku tersebut merupakan bagian dari sebuah serial, misalnya. Jadi saat membacanya, aku telah mempunyai gambaran siapa dan apa spesialnya nama/kata yang menjadi judul buku tersebut.

Untuk buku-buku terjemahan, jujurly membaca judul dalam format bahasa Inggris lebih aku suka daripada terjemahan Indonesia. Terlepas apakah regulasinya memang demikian, syukurlah banyak penerbit yang memang mencetak judul asli dalam bahasa Inggris untuk buku-buku terjemahan.

Di sisi lain, jika bukan buku terjemahan alias buku asli karya anak bangsa, judul dengan muatan bahasa Indonesia lebih aku suka. Rasanya lebih menyatu dan sesuai dengan image cerita di buku tersebut. Tidak terasa dipaksakan, memberikan nuansa yang lebih nyaman, dan tentunya bisa lebih mencuri perhatian serta rasa penasaran.

4| Sinopsis


Rasa penasaran akan sebuah buku bisa sedikit terobati dengan membaca sinopsisnya. Sebab akan repot juga kalau harus izin membuka sebuah buku yang bersegel satu per satu lalu membaca cepat saat sedang di toko buku, misalnya.

Sinopsis atau blurb di sampul belakang buku bisa menjadi daya tarik tersendiri yang membuat seseorang membeli buku tersebut. Apalagi untuk penulis yang baru memulai debutnya ataupun untuk buku-buku dengan penampilan "biasa saja".

Oleh karena itu, menurutku, menulis sinopsis bisa menjadi tantangan tersendiri. Selain harus menggambarkan isi buku, sinopsis dapat menjadi alat untuk menaikan nilai jual buku tersebut. Umum sekali melihat pengunjung toko buku yang mengecek atau membaca sinopsis di bagian belakang buku sebelum membawanya ke kasir.

5| Review/ Ulasan


Biasanya kalau aku, jika tertarik dengan sebuah buku setelah membaca sinopsisnya, maka akan mencoba mencari tahu bagaimana tanggapan pembaca lain mengenai buku tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan mengecek situs Goodreads, misalnya. Bisa juga dengan menjelajah Google, mana tahu ada yang telah menulis ulasan mengenai buku tersebut.

Cara ini paling sering kulakukan kalau akan membeli buku secara online sebab waktu untuk belanja buku lebih panjang dan bisa sambil rebahan alias dalam kondisi santai. Jadi lebih enak mencari tahu apakah isi buku tersebut cocok dengan seleraku atau tidak. Apalagi jika ulasannya berasal dari blogger yang bahan bacaannya satu server denganku, hehe.

Intinya membaca sebuah review/ulasan yang ditulis oleh pembaca lainnya dapat mempengaruhi seseorang membeli buku tersebut atau tidak. Bagaimanapun ada banyak sekali buku bertebaran di dunia ini, namun kita boleh jadi tidak punya cukup waktu untuk membaca semuanya. Jadi tidak ada salahnya untuk memilih baca buku yang memang bagus saja.

6| Rekomendasi


Ini sedikit mirip dengan poin review/ulasan yang telah kubahas tadi. Namun (kalau dipikir-pikir) ada juga perbedaannya sih, haha.

Aku pernah membeli sebuah buku berkat rekomendasi dari pembaca lainnya. Salah satu keuntungan menjadi anggota komunitas baca adalah mendapat rekomendasi buku-buku yang menarik. Bisa melalui artikel blog yang ditulisnya, bisa juga melalui review/ulasannya.

Apalagi di masa menjamurnya bookstagram saat ini. Buku-buku baru dan menarik lebih cepat menyebar. Berbagai opini mengenai sebuah buku dapat diakses dengan mudah dan jumlahnya banyak. Terkadang saking banyaknya rekomendasi yang ditemukan, sedikit membuat pusing juga untuk memutuskan membeli/membaca buku yang mana dulu, hehe.

Rekomendasi mengenai bahan bacaan juga bisa didapatkan di kolom komentar. Pengalaman pribadiku, sih. Aku bisa kepo dengan judul-judul buku rekomendasi dari pembaca yang telah meluangkan waktu menulis komentar di blog ini. Beberapa diantaranya masuk ke dalam daftar buku incaranku (wishlist books).

7| Serial


Lebih tepatnya buku-buku yang merupakan bagian dari sebuah serial. Biasanya buku seperti itu akan otomatis dibeli. Entah karena memang merupakan serial populer, entah memang suka dengan alur ceritanya, atau entah pula karena sudah terobsesi untuk menyelesaikan serial tersebut sebab sudah kepalang dibaca.

Sebuah serial biasanya mempunyai latar dan karakter tokoh yang lumayan kuat. Begitu pula dengan alurnya. Ini boleh jadi merupakan keuntungan bagi seorang penulis karena tidak perlu berkali-kali membangun karakter dan latar. Dari sisi penjualan, tampaknya lebih mudah menjual buku kedua, ketiga, dst daripada menjual buku pertama ataupun buku dengan alur cerita yang baru.

Aku pribadi ada beberapa serial yang belum selesai dibaca dan itu rasanya nanggung banget. Penasaran namun untuk menyelesaikannya sudah susah. Mungkin beberapa serial tersebut sudah mulai langka di pasaran. Sulit untuk ditemui. Namun aku tidak jera sih. Masih tetap membuka diri buat membaca serial, hehe.

7+| Diskon


Ini salah satu penyebab gendutnya timbunan buku di lemari. Beberapa buku kena diskon sering menggoda atau bahkan terasa memaksa agar dibeli, hehe. Aku pernah terjebak dalam dunia diskon ini. Apalagi jika buku-buku yang kena diskon memang menarik, berkualitas, dan masuk daftar buku incaran. Jadi makin sulit untuk berkata "tidak".

Sejak berkenalan dengan pola hidup minimalis (hidup sesuai kebutuhan dan tidak mau mubazir menumpuk barang), aku berusaha mencegah diri ini agar tidak terjebak diskon lagi. Salah satu caranya dengan menyadari kalau yang namanya program diskon itu akan selalu ada.

Misalnya selama pandemi kemarin, sudah jarang sekali aku main ke toko buku. Mereka juga jarang menggelar pameran buku (book fair) secara offline. Sebagai gantinya diskon secara online semakin digalakkan. Aku sempat tergoda namun buku yang dibeli tidak sebanyak book fair offline. Aku mikir ongkirnya juga, sih, haha.

Dari sini aku pahami kalau namanya diskon memang ada setiap tahun. Nah, tahun ini aku mencoba lebih keras lagi yaitu dengan sama sekali tidak membuka link diskon tersebut. Kalau tidak dibuka maka tidak akan lapar mata yang ujungnya bakal nambah timbunan lagi. Aku juga mencoba bertanggung jawab dengan buku-buku lain yang sudah duluan antri minta dibaca. Ini terasa lebih adil dan menenangkan.

Jika suatu kali timbunan habis, boleh jadi baru aku akan cek diskonan dari penerbit langganan. Mana tahu ketemu buku bagus dengan harga miring, hehe. Ataupun kalau tidak, akan mencoba bacaan yang baru terbit agar lebih up to date. Pastinya bakal disesuaikan dengan selera juga dan tetap berusaha agar tidak menimbun bahan bacaan lagi.

Alasan Apa Lagi Ya?

Itulah 7+ alasan yang boleh jadi membuat pembaca tertarik memilih ataupun membeli sebuah buku bacaan berdasarkan pengalaman dan pengamatanku. Adakah alasan lainnya? Silahkan komen di kolom komentar ya. Selamat membaca buku. :D

Comments

  1. Aku lebih ke penulis dan blurb. Baru setelah itu alasan2 lainnya di atas. Tiap kali beli buku, pasti deh tertarik Krn blurb nya atau penulisnya memang aku suka.

    Sama sih mba, aku pun udah berusaha untuk nahan diri utk ga beli buku lagi, demi ngabisin buku2 yg numpuk. Tapi tiap kali seller buku bekas langganan ku posting buku2 yg dia jual, ya ampuuuuuun langsung tergoda Mulu 🤣🤣. Dia tau aja lagi aku sukanya thriller dan misteri. Jadi kalo blurb nya udah menarik, pasti deh ujung2nya pesen lagi 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. Penulis emang bisa banget bikin buat beli bukunya. Apalagi penulis favorit atau setidaknya penulis yang sudah populer. Baca blurb juga umum sekali. Sudah jadi kebiasaan alias wajib alias otomatis aja gitu baca blurb sebelum belanja buku. :D

      Haha sulit memang kak menahan godaan belanja buku. Apalagi kalau bukunya bagus eh harganya miring. Gak apalah kak Fanny kalau tergoda terus beli. Selama niat dan emang rajin baca buku tsb. Bacaan aku tahun ini gak segencar tahun sebelumnya.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Review] The Silmarillion by J.R.R Tolkien – Sebuah riwayat yang panjang

[Review] Maybe Someday by Colleen Hoover – Musik dan pilihan hati

[Review] Le Petit Prince by Saint-Exupery – Perenungan sederhana tentang kehidupan