Jumat, 26 Juni 2015

Fade (Pudar) – Ini Lebih Serius

Kau harus memutuskannya sendiri. Tolong jangan letakkan tanggung jawab itu di pundak orang lain. Itu hanya akan menyiksa mereka.” – Martha Stubin

gambar diambil dari sini

Judul: Pudar
Judul asli: Fade (Trilogy)
Pengarang: Lisa McMann
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: April, 2010
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 978-979-22-5584-3

Setelah menamatkan Wake (bagian pertama dari trilogy ini), aku langsung mengambil Fade. Apalagi alasannya jika bukan ingin melihat tingkah Cabel di kelanjutan seri ini. Haha, labil banget, ya? Tetapi tentu saja, aku juga ingin melihat tantangan selanjutnya yang akan dihadapi oleh Janie perihal kemampuannya dalam menangkap mimpi.

Ketika membaca seperempat halaman dari buku ini, aku bisa menebak mengapa buku ini berjudul Fade (pudar). Ya, ini adalah efek dari kekuatan yang Janie miliki. Perlahan penglihatannya menjadi kabur. Butuh waktu lama baginya untuk bisa melihat kembali setelah tersedot ke mimpi orang lain. Dan Cabe semakin gila mengkhawatirkan Janie.

But Fellas, Cabe di sini tidak terlalu charming lagi, haha. Memang dia begitu mengkhawatirkan dan tulus menyayangi Janie namun sikapnya malah cenderung menjadi posesive dan cemburuan. Agak mengecewakan namun dia punya alasan sendiri yang terkait dengan masa lalunya sehingga dia jadi bertingkah seperti itu.

Baiklah, singkat cerita, Kapten Fran Komisky memberikan tugas baru untuk Cabe dan terutama Janie (jika dia bersedia). Tugas tersebut adalah mengungkap kasus pelecehan di Fieldridge High, tempat Janie dan Cabe sekolah. Diduga ada guru yang melakukan pelecehan terhadap para murid. Namun informasinya masih samar dan baru sebatas kecurigaan. Di sini, Janie akan jadi umpan dan Cabe jelly se-jelly-nya (read: jealous, cemburu). Bukan karena Janie mendapat tugas, namun dia takut kehilangan Janie dan melihat Janie berdekatan dengan cowok lain. Dan hal tersebut hampir membuatnya gila.

Selain tentang kisah detektif sederhana tersebut, Janie pun semakin mengetahui kekuatan apa yang bersarang di dirinya selama ini. Kapten menyerahkan arsip Martha Stubin kepada Janie. Ya, sebelumnya Martha memang bekerja di kepolisian dan Kapten sudah tidak asing dengan seseorang yang mempunyai kemampuan menangkap mimpi. Dan melalui arsip serta buku catatan yang Martha tuliskan, Janie mendapatkan berita gembira sekaligus mimpi buruk.

Membaca Fade mungkin memang tidak semeriah membaca Wake. Namun alur serta gaya penceritaan yang Lisa McMann pakai masih sama. berbentuk semacam jurnal dengan penanda berupa tanggal dan jam. Kisah ini sedikit lebih kompleks dan aku turut prihatin dengan Janie yang merasa begitu kelelahan dan butuh waktu lebih lama untuk bisa kembali melihat dengan normal sehabis tersedot ke dalam mimpi orang lain. Penggambaran Janie yang jarinya kebas, lalu sakit kepala serta memudarnya penglihatan yang dia memiliki mengingatkanku dengan gangguan tidur bernama sleep paralysis. Ada yang pernah mengalaminya? Well, aku pernah dan cukup intens kala itu. Membaca deskripsi tersebut turut membuatku ikutan sakit kepala. Well played, Lisa! Well played.

Tidak banyak quote yang bisa kukutip dari buku ini. Entah mungkin karena aku yang membacanya terlalu cepat atau aku yang memang terlalu tenggelam dan malas membuat beberapa catatan sebagaimana biasa jika aku membaca buku yang nantinya akan ku-review. Namun masih ada pesan moral yang baik yang mungkin ingin Lisa sampaikan kepada pembacanya. Pesan (yang berhasil kutangkap) tersebut cukup implisit.

Pesan pertama, memang tidak ada manusia yang sempurna. Haha, ya, ya, lagi-lagi focus kepada Cabe. Memang cowok itu baik, perhatian, dan bertubuh sehat, namun dibalik itu dia bisa menjadi monster seandainya tidak dapat menahan diri. Ya, semua itu berasal dari trauma masa lalu yang pernah dia hadapi. Beruntung dia mempunyai kemampuan untuk keluar dari hal tersebut dan dia masih mempunyai kakak yang mau mengurusi dan membesarkannya.

Pesan kedua, hmm, kira-kira seperti ini: kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya hingga kamu mengalaminya sendiri. Ya, seperti Janie yang merana melihat Cabe yang dulu harus mendekati Shay demi membongkar kasus narkoba di sekolah tersebut. Kali ini Cabe yang harus melihat Janie didekati dan harus mendekati salah seorang guru di sekolah tersebut. Guru tersebut masih muda dan ya, guru yang tampan. Cabe hampir gila menghadapi hal itu dan berulangkali meminta Janie untuk mundur dari kasus tersebut. Ya, you should walk on their shoes and feel it.

Bisa dibilang, Fade mengubah Wake yang semula ringan dan asik menjadi lebih serius. Namun aku masih merasa enjoy membacanya. Haha, begitu enjoy-nya, kutamatkan buku ini dalam waktu sehari. Ya, packaging buku ini sangat membantu sekali. Kertas yang digunakan tebal dan terang. Spasi dan ukuran huruf di buku ini pun sedang sehingga tidak terlalu menyakiti mata. Plus di setiap buku ada pembatas yang tebal dan menarik. Haha, ya, aku memang pecinta bonus pembatas buku, no idea why.

Baiklah, kurasa hari ini aku akan mulai membaca Gone (Tiada), buku terakhir dari trilogy ini. Lucu itu jika aku bisa menamatkan Gone dalam waktu sehari seperti menamatkan Wake dan Fade. Lucu, karena bisa dibilang aku bisa menamatkan 600 halaman dalam waktu tiga hari. Sementara ada buku 500an halaman lainnya yang butuh seminggu lebih untuk menamatkannya. Haha, ya, mungkin kembali lagi ke konten bukunya.

Oke, sepertinya tidak ada lagi poin lainnya yang menarik untuk dibahas. Sekian untuk review kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat. :)

“Aku mencintaimu. Aku akan berusaha tidak menyakitimu lagi. Aku tahu aku pasti gagal. Tapi aku akan terus berusaha, selama kau mengizinkanku.” Cabe – hal. 85

Rating: Better

Tidak ada komentar:

Posting Komentar