Jumat, 26 Juni 2015

Wake (Terjaga) – Ringan, Menarik, dan Asik

“Mimpi bukan kenangan, Janie. Isinya harapan dan ketakutan. Indikasi adanya tekanan-tekanan lain dalam hidup. Seharusnya kau justru paling tahu bedanya.” – Cabel

gambar diambil dari sini

Judul: Terjaga
Judul asli: Wake (Trilogy)
Pengarang: Lisa McMann
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober, 2010 (cetakan ke-2)
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-979-22-5246-0

Astaga! Sudah hampir 5 bulan aku membeli buku ini namun belum kubaca. Ya, tepatnya aku membeli buku ini di sekitar akhir bulan Januari lalu. Aku melihat buku ini dalam satu paket (aku tidak membelinya secara terisah). Dan Wake (buku ini) merupakan salah satu trilogy karangan Lisa McMann. Buku setebal 216 halaman ini baru mulai kubaca malam ini.

Apa yang membuatku menjadi menunda membacanya lalu terlupa? Hmm, mungkin karena cover-nya. Benar tidak baik menghakimi sebuah buku melalui cover/sampul-nya. Namun tak pelak itu yang terjadi padaku. Ya, mungkin karena aku juga saat itu sedang tidak bisa berkosentrasi untuk membaca. Namun memang komposisi warna cover-nya ini nyaru sekali dengan warna dan tatakan meja tulisku. Aku bahkan pernah tidak sadar jika memiliki ketiga seri komplit buku ini. Haha, ini buku seperti main hide and seek denganku.

Buku seri pertama dari trilogi ini berjudul Wake. Inti cerita berpusat pada Janie Hannagan yang memiliki kemampuan aneh yaitu tersedot ke dalam mimpi seseorang yang tidur tidak jauh darinya. Awalnya kukira dia hanya bisa tersedot ketika dia dalam keadaan tertidur juga. Namun cara kerjanya ternyata berbeda. Janie bisa tiba-tiba tersedot dalam keadaan sadar. Jadi dia seolah berpindah alam. Latar tempat, suara, serta suasana sekitarnya berubah mengikuti mimpi dari orang tersebut.

Janie menyadari memiliki kemampuan ini saat dia berumur 8 tahun. Dia tersedot ke dalam mimpi salah seorang penumpang. Saat itu dia tengah naik kereta api bersama Ibunya. Dan kemampuan anehnya ini terus mengikutinya hingga dia SMA. Jika dia sedang tersedot ke mimpi orang lain, Janie akan terlihat seperti kejang-kejang. Dia tidak mampu mengendalikan dirinya. Tangan dan kaki pun terasa kebas. Pun dia akan kehilangan banyak sekali energy ketika berhasil lepas dari mimpi mereka. Namun perlahan dia mencoba mencari tahu perihal kemampuannya sebagai seorang Dream Catcher ini.

Cabel Strumheller adalah salah seorang teman sekelasnya yang memiliki perhatian khusus kepadanya. You know what, this kind of guy is too good to be true, lol. Cabel berpenampilan berantakan. Dia sebenarnya cerdas namun pendiam dan pernah tidak naik kelas. Well, bisa dibilang sebenarnya Cabel itu kakak kelas Jeanie. Nah, suatu kali Cabel berubah penampilan. Uhm, ya, ada beberapa cewek yang mulai naksir dengannya.

Ya, Cabel menyayangi Jeanie. Dia terlihat manis dan mengkhawatirkan Jeanie. Dan ya, akhirnya Jeanie percaya kepadanya dan menceritakan perihal kemampuan Dream Catcher-nya. Duh, manis banget pokoknya melihat perlakuan Cabel ke Jeanie. Bukan manis yang umum seperti memberi bunga ataupun kata-kata romantis ya. Ini manis yang seperti penuh perhatian dan perduli alias peka dengan perasaan Janie. Dia sangat menyayangi Janie. Itulah mengapa Cabel cowok yang too good to be true, lol. Walaupun Cabel mempunyai rahasia serius yang membuat Janie sempat patah hati dan menangis semalaman.

Aku suka dengan buku ini. Ada beberapa hal yang menyebabkannya. Pertama,  aku suka dengan gaya Lisa menuliskannya. Membaca buku ini bagai membaca jurnal harian seseorang. Setiap kejadian memiliki tanggal dan waktu sehingga kita (jika teliti) bisa mengikuti alur waktunya dengan mudah. Setiap penggalan ada yang panjang namun ada juga yang pendek bahkan hanya satu kalimat. Membaca buku ini sama sekali tidak membuat capek. Aku bahkan bisa menamatkan 216 halamannya dalam waktu kurang lebih 4 jam.

Adapun yang kedua adalah tentang kisah Jeanie di dalam buku ini sangat menarik. Ide seseorang yang mempunyai kekuatan Dream Catcher bagiku terasa unik. Belum lagi dibumbui soal persahabatan dan percintaan ala remaja. Haha, jujur aku bukan pecinta teenlit. Dan syukurlah buku ini mampu memposisikan dirinya sedemikian rupa. Ini buku bukan Teenlit dan bukan pula Harlequin. Hmm, tapi mungkin bisa masuk kategori Young Adult Fantasy.

Dan hal ketiga yang membuat buku ini menarik adalah pesan moral di dalamnya. Aku senang Janie digambarkan sebagai anak dari lingkungan yang kurang mampu namun mempunyai daya juang yang tinggi demi masa depannya. Jarang ada yang mengangkat ide seperti ini. Haha, ya, ya, bisa jadi aku-nya lah yang kurang referensi. Namun Janie bisa jadi contoh bahwa kalau kita bekerja keras, kita bisa meraih yang kita inginkan. Dan selain itu, ada beberapa pesan lainnya yang disampaikan Lisa secara halus melalui buku ini.

Ya, Wake memang memiliki cerita yang ringan, menarik dan asik. Dan sejauh ini Wake memiliki ending yang happy. Haha, walaupun jika ada fanfiction-nya, ada beberapa plot yang bisa diubah menjadi lebih liar dan rumit. Hmm, aku sempat membayangkan trilogy ini diangkat ke layar lebar. Sepertinya bakal seru. Eh, oke, mungkin terlalu dini untuk berkata demikian karena aku baru menyelesaikan Wake. Masih ada Fade dan Gone. Namun ada rasa ingin melihat Wake secara visual, hehe.

Baiklah, sepertinya tidak ada lagi poin di buku ini yang bisa ku review. Oh ya, aku hanya menemukan beberapa quote (kurang dari 8 buah). Oleh karena itu aku akan menuliskan quote/kutipan tersebut sekalian di post ini saja sekaligus sebagai penutup postingan ini.

Terimakasih sudah membaca hingga ke baris ini. Sampai jumpa di review selanjutnya, insha Allah. :)

Rating: Better
--------------------------------------------------------------------------------------------------

[Quote] Wake by Lisa McMann

“Mimpi bukan kenangan, Janie. Isinya harapan dan ketakutan. Indikasi adanya tekanan-tekanan lain dalam hidup. Seharusnya kau justru paling tahu bedanya.” (hal. 126)

Sudah waktunya berhenti menangis, menentukan sikap, dan melakukan sesuatu. Waktunya berhenti mengasihani diri sendiri. (hal. 132)

“Aku punya masalah dan aku ingin memecahkannya. Aku ingin bermimpi tentang cara memecahkan masalah ini.” (hal. 134)

“Hal-hal buruk tidak pernah pergi. Dan itu bukan salah siapa-siapa.” (hal. 185)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar