Kamis, 26 Maret 2020

[Review] The Silent Patient

Kita semua tidak waras, aku yakin, hanya berbeda-beda bentuknya.


Judul asli: The Silent Patient
Judul terjemahan: Pelukis Bisu
Pengarang: Alex Michaelides
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Barokah Ruziati
Penyelaras Aksara: Christie Putri Wardani
Perancang sampul: Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan pertama, 2019
Tebal buku: 400 halaman
Format: Paperback
Genre: Thriller
ISBN: 9786020633909

Ketika berada di Sekolah Dasar, aku pernah menghabiskan waktu untuk bermain dengan semut hitam yang gesit. Aku meletakkannya di atas buku tulis. Semut itu lalu berusaha kabur namun aku menangkapnya dan meletakkannya kembali ke atas buku. Bukan menangkap dengan mencubit namun dengan cara yang lebih halus. Aku melakukannya dengan maksud mengamati semut tersebut. Bagaimana ia menggerakkan kaki-kakinya, bagaimana sungutnya bergerak ke kiri dan ke kanan, sekaligus aku berimajinasi dengan raut mukanya, dengan apa yang dipikirkan semut itu dalam kondisi tersebut.

Dua orang teman sebayaku melihat tingkahku tersebut. Lalu salah satunya, entah atas dorongan apa melontarkan kalimat yang intinya menganggapku gila. Dalam pembelaanku, aku hanya menghabiskan waktu sebentar bermain sambil mengamati seekor semut. Lambat laun ketika umur bertambah, aku menjadi bertanya-tanya, apa inti sari dari sebuah kegilaan? Apakah hanya berdasarkan perilaku yang tidak umum/tidak lazim dilakukan oleh orang lain? Atau apakah berdasarkan motivasi di dalam kepalanya sehingga ia melakukan hal tersebut, hal yang tidak umum dilakukan? Namun apa landasan dari sebuah kelaziman itu sendiri?

Kamis, 19 Maret 2020

[Review] The Final Descent

Siapakah monsternya dan spesies mana yang seharusnya kita sebut menyimpang?


Judul asli: The Final Descent
Judul terjemahan: Turunan Terakhir
Pengarang: Rick Yance
Penerjemah: Nadya Andwiani
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Olvyanda Ariesta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: April, 2019
Tebal buku: 344 halaman
Format: Paperback
Genre: Fiksi, Thriller
ISBN: 9786020624198

Menguras emosi dan memutarbalikkan persepsi. Itulah frasa yang boleh jadi cukup menggambarkan apa yang dirasakan saat menuntaskan buku ini. Di dalamnya ada kemelut yang gelap. Ada pergolakan batin dan perubahan karakter yang cukup signifikan. Meski lebih tipis dari “teman-temannya” (344 halaman), buku ini lebih rumit dan menjebak.

Tiga jurnal terakhir Will Henry yang terangkum di dalam The Final Descent, ditampilkan melalui periode waktu yang acak. Pertama dari sisi saat ini, Will Henry dewasa berusia sekitar 30 tahunan yang kembali menemui Dr. Warthrop di kediamannya. Kedua, dari sisi remajanya saat berusia enam belas tahun (tiga tahun jaraknya dari petualangan mereka di Pulau Darah), termasuk beberapa bulan saat kedatangan spesies bernama T. cerrejonensis di Harington Lane. Terakhir, ada sisi berupa “suara” Will kecil yang pertama kali bertemu Dr. Warthop. Pada bagian awal buku, telah ada halaman yang menerangkan bahwa tiga jurnal terakhir ini memang cukup merepotkan dalam penyusunannya dan terasa semakin ganjil.

[Review] The Isle of Blood

Kita adalah pemburu. Kita, kita semua, adalah monstrumolog.


Judul asli: The Isle of Blood
Judul terjemahan: Pulau Darah
Pengarang: Rick Yance
Penerjemah: Nadya Andwiani
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Olvyanda Ariesta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Februari, 2019
Tebal buku: 592 halaman
Format: Paperback
Genre: Thriller
ISBN: 978-602-06-2127-2

Kutipan di atas merupakan kalimat pembuka alinea terakhir dari folio kesepuluh jurnal Will Henry. Kalimat tersebut membuatku teringat pada pelajaran Sejarah di sekolah dulu mengenai manusia purba. Sebelum mengenal cocok tanam, insting berburu lebih dulu ada dan merupakan modal untuk bertahan hidup. Konsep “berburu” tersebut dikembangkan lebih jauh di novel ini yang membuatku sadar, insting tersebut tidak menghilang, bertahan hingga di kehidupan manusia modern seperti saat ini. Hanya saja objek dari perburuan itu yang kian melebar dan tak terbatas. Makna itulah yang kutangkap dan lumayan meninggalkan bekas di benak.

The Isle of Blood merupakan buku ketiga dari seri The Monstrumologist. Buku ini yang paling tebal dari yang lainnya (592 halaman). Di buku pertama, sosok monsternya benar-benar berwujud monster seperti tinggi, buas, menyeramkan (monster yang sangat mudah dipahami oleh siapa pun). Di buku kedua, sosok monsternya lebih ke roh jahat atau pikiran manusia yang kacau (aku tidak terlalu paham, sih, hehe). Di sini aku menemukan wujud monster baru yang dihadapi oleh monstrumolog. Sosok dan permasalahannya hampir mirip dengan situasi dunia yang kita hadapi saat ini: wabah. 

Kamis, 05 Maret 2020

[Review] The 100-Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared

“Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apa pun yang akan terjadi, pasti terjadi.”


Judul: The 100-Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Pengarang: Jonas Jonasson
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penyunting: Ade Kumalasari
Perancang sampul: Adipagi
Penerbit: Bentang
Terbit: Edisi kedua, Cetakan kedua, Oktober, 2018
Tebal buku: 504 halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-602-291-500-3

Kalau ingatanku tidak salah, inilah novel pertama dengan judul terpanjang yang pernah kubaca. Di bagian belakang buku ada kutipan wawancara dengan pengarangnya yaitu Jonas Jonasson. Sang pengarang sendiri menyatakan jika ide novel ini diawali dengan judulnya. Ia suka dan ingin membaca novel dengan judul yang muncul dari benaknya tersebut. “…hanya saja saya harus menulisnya dahulu.”-ungkapnya.

Allan Karlsson, seorang pria tua asal Swedia yang memulai petualang baru di hari ulang tahunnya yang ke-100 tahun. Alih-alih merayakan ulang tahunnya dengan pesta bersama walikota dan diliput oleh pers, Allan memutuskan untuk kabur dengan melompat lewat jendela kamarnya di Rumah Lansia tersebut. Hendak kemana dan melakukan apa, Allan sendiri pun tidak tahu. Ia hanya kabur tanpa pertimbangan dan rencana apapun. Begitulah sederhananya Allan. Ternyata sebuah petualangan besar menunggunya. Kalau aku, sudah pasti penasaran petualangan apa yang seorang lansia bisa alami.