Kamis, 20 September 2018

Si Badung jadi Pengawas by Enid Blyton – Lebih “kaya” daripada dua buku sebelumnya

“Kita takkan bisa mengerti perubahan yang bisa terjadi pada pribadi seseorang.” – Elizabeth



Judul asli: The Naughtiest Girl is a Monitor
Judul terjemahan: Si Badung jadi Pengawas
Seri: The Naughtiest Girl #3
Pengarang: Enid Blyton
Ahli bahasa: Djokolelono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedelapan - Juni, 2017
Tebal buku: 256 halaman
Format: Paperback
ISBN: 9789792280326

Ada dua seri yang ingin kubaca hingga selesai di tahun ini. Dan aku sudah cukup sering agaknya bercerita tentang hal ini. Seri pertama adalah Hannibal Lecter series karangan Thomas Harris. Ada dua dari empat buku lagi yang belum kuselesaikan. Seri berikutnya adalah The Naughtiest Girl atau yang diterjemahkan sebagai seri Si Badung karangan Enid Blyton. Ada empat buku juga yang sudah diterjemahkan dan hingga review ini ditulis, aku telah menyelesaikan tiga diantaranya. Aku ingin menamatkan membaca kedua seri tersebut hanya karena aku sudah mempunyai semua buku di dalam serinya. Semoga target ini berhasil, sesuai dengan apa yang kuharapkan. Baik itu selesai membacanya juga selesai mereviewnya.

Seri si Badung sendiri terdiri dari xx buku, dan yang sudah diterjemahkan oleh Gramedia (setahuku) sebanyak empat buku. Di buku pertama, kisahnya lebih dominan tentang Elizabeth yang baru masuk ke sekolah asrama Whyteleafe. Ini tentang bagaimana Elizabeth menolak keras dan berusaha untuk keluar dari sekolah tersebut dengan berperilaku badung. Lanjut, ke buku kedua, Elizabeth yang berubah pikiran semakin betah bersekolah di Whyteleafe. Hanya saja di buku kedua ini dia diuji dengan kedatangan dua orang murid baru. Apakah Elizabeth kembali menjadi badung kemudian dikeluarkan? Hasilnya, Elizabeth semakin menjadi pribadi yang lebih baik sehingga di akhir buku, dia dipercaya menjadi salah satu Pengawas.

Rencana Besar by Tsugaeda – Menilik kasus perbankan dan tenaga kerja

“Anda tampak percaya diri sekali dengan kegiatan Anda di Serikat Pekerja. Anda seperti punya rencana yang besar.” – Makarim kepada Rifad


Judul: Rencana Besar
Pengarang: Tsugaeda
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang sampul: Upiet
Pemeriksa aksara: Yusnida & Dewi Surani
Penata aksara: Gabriel
Penerbit: Bentang
Terbit: Cetakan pertama - Agustus, 2013
Tebal buku: 378 halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-602-7888-65-4

Novel ini sudah lumayan lama berada di tumpukan buku-buku yang belum kubaca. Hingga di awal bulan Agustus lalu aku memutuskan untuk mulai menikmatinya. Secara fisik, Rencana Besar memiliki desain kaver yang cantik. Pilihan warna di kavernya juga menarik. Jumlah halamannya tidak sampai lima ratus halaman atau dengan kata lain tidak termasuk buku bantal. Secara konten, banyak yang memberikan rating dan review yang positif tentang buku ini di situs Goodreads. Apalagi novel ini merupakan karangan dari penulis lokal, asli Indonesia punya. Hal-hal tersebut membuatku memutuskan untuk mengoleksi dan akhirnya selesai juga membacanya.

Rencana Besar karangan Tsugaeda bercerita melalui sudut pandang orang ketiga dimana Makarim Ghanim—menjadi tokoh utamanya. Di novel ini, ia diminta oleh teman lamanya Agung untuk menyelidiki lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia (UBI). Agung sendiri adalah salah seorang Dewan Direksi di bank tersebut. Hilangnya uang tersebut berkaitan dengan tiga pegawai muda UBI yang masing-masing memiliki keahlian, jabatan serta prestasi kerja yang tidak main-main. Mereka bertiga ditempatkan di UBI cabang Surabaya. Dan ke sanalah Makarim menyelidiki dan berkenalan dengan mereka.

Sabtu, 11 Agustus 2018

(Book Haul & Wrap Up) March – July 2018

instagram @kikioread

Yap! Terakhir posting tentang book haul & wrap up di Bukulova ini di awal Maret lalu. Dan tadaa… baru di pertengahan menuju akhir Agustus baru bisa kembali nulis dan update ini blog. #hiks

Sepertinya tidak perlu kujelaskan “mengapa” karena yang namanya alasan itu memang selalu ada, hehe. Hanya saja, asli, kangen alias rindu dengan dunia ini: baca dan nulis. Pun apalagi dengan hal itu: kangen menghabiskan waktu bersama buku, dan tersesat ke dalam alur cerita yang dibawanya serta kangen “mengurus” bookstagram yang bernama @kikioread. Lalu apa kabar, ya, target baca yang jauh di awal tahun dipasang itu? Semoga bisa terlaksana dengan sukses. #yosh #ganbatte

Okelah, terlepas dari curhatan di dua paragraf di atas, sebenarnya inti postingan ini berupa Book Haul dan Wrap Up. Selama Maret hingga Juli lalu, aktivitas membaca dan membeli buku tidak terlalu signifikan. Oleh karenanya bisa digabung dalam satu postingan saja. Mau tahu apa saja buku-buku yang berdatangan dan yang beres kubaca di lima bulan terakhir ini? Yuk, ah, langsung scroll down.

Cewek Paling Badung di Sekolah by Enid Blyton – Asal mula Elizabeth dikirim ke Whyteleafe

"Untuk menjadi anak yang baik, kau harus memiliki hati. Hati yang baik.” – Nona Scott


Judul asli: The Naughtiest Girl in the School
Judul terjemahan: Cewek Paling Badung di Sekolah
Seri: The Naughtiest Girl #1
Pengarang: Enid Blyton
Ahli bahasa: Djokolelono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kesepuluh - Juni, 2017
Tebal buku: 264 halaman
Format: Paperback
ISBN: 97897922800302

Terhitung dari tahun 2017, ini kali kedua aku membaca novel karangan Enid Blyton setelah lama penasaran dengan karyanya. Novel yang kubaca ini masih berkaitan, masih dalam seri yang sama. Saat itu aku langsung membaca buku keduanya. Tidak masalah, sebab ceritanya ringan dan mudah untuk diikuti karena bisa dibilang novel ini termasuk ke dalam Children Literature.

Cewek Paling Badung di Sekolah (The Naughtiest Girl in the School) bercerita tentang awal mula Elizabeth Allen bersekolah di sekolah asrama Whyteleafe. Kelakuan badungnya di rumah sudah sulit untuk ditolerir dan mengirimnya ke Whyteleafe adalah tindakan yang benar. Elizabeth sendiri awalnya menolak dengan keras bersekolah di sana. Dia mencoba berbagai cara agar segera dikeluarkan dari sekolah lalu dikirim balik ke rumah. Apakah upayanya berhasil?

Kamis, 19 Juli 2018

Sirkus Pohon by Andrea Hirata – Cerita tentang sirkus, pohon, dan kehidupan diantaranya


“Bangun pagi, let’s go!” – Ibu Bos


Judul: Sirkus Pohon
Pengarang: Andrea Hirata
Penyunting: Imam Risdiyanto
Perancang sampul: Febrian & Adit Hapsoro
Ilustrasi sampul: Arifah Insani & Larasati Apsari
Penerbit: Bentang
Terbit: Cetakan kedua - September, 2017
Tebal buku: 410 halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-602-291-409-9

Ketika membawa buku ini ke kasir, aku sudah tidak ingat lagi kapan kali terakhir menikmati karya Pak Cik Andrea Hirata. Saat itupun hanya karya fenomenalnya yaitu tetralogi Laskar Pelangi yang sempat kucicipi. Meski tidak ingat mengenai waktu pastinya, rasa yang didapat saat membaca karya Andrea Hirata masih membekas. Karyanya penuh dengan kearifan lokal. Alur ceritanya sarat dengan humor sekaligus mampu membuat hati tercenung dan sempat mengharu.

Sirkus Pohon merupakan novel kesepuluh hasil karya beliau yang telah diterbitkan. Wangi khas buku yang baru dicetak menguar ketika aku membuka segel dan lembaran-lembaran Sirkus Pohon. Wangi ini semakin menggugah rasa untuk segera membaca dan menikmati dua kisah kehidupan plus percintaan dari dua pasang tokoh di dalamnya. Kisah tersebut dipaparkan bergantian dengan alur maju serta dilengkapi dengan deskripsi yang mengalir lancar sejak paragraf pertama. Awalnya kedua kisah tersebut tampak tidak saling berhubungan karena pasangan yang menjadi tokoh utamanya berbeda umur dan latar belakang. Namun akhirnya di halaman 46, kedua kisah tersebut mulai bersinggungan.