Sabtu, 11 Agustus 2018

(Book Haul & Wrap Up) March – July 2018

instagram @kikioread

Yap! Terakhir posting tentang book haul & wrap up di Bukulova ini di awal Maret lalu. Dan tadaa… baru di pertengahan menuju akhir Agustus baru bisa kembali nulis dan update ini blog. #hiks

Sepertinya tidak perlu kujelaskan “mengapa” karena yang namanya alasan itu memang selalu ada, hehe. Hanya saja, asli, kangen alias rindu dengan dunia ini: baca dan nulis. Pun apalagi dengan hal itu: kangen menghabiskan waktu bersama buku, dan tersesat ke dalam alur cerita yang dibawanya serta kangen “mengurus” bookstagram yang bernama @kikioread. Lalu apa kabar, ya, target baca yang jauh di awal tahun dipasang itu? Semoga bisa terlaksana dengan sukses. #yosh #ganbatte

Okelah, terlepas dari curhatan di dua paragraf di atas, sebenarnya inti postingan ini berupa Book Haul dan Wrap Up. Selama Maret hingga Juli lalu, aktivitas membaca dan membeli buku tidak terlalu signifikan. Oleh karenanya bisa digabung dalam satu postingan saja. Mau tahu apa saja buku-buku yang berdatangan dan yang beres kubaca di lima bulan terakhir ini? Yuk, ah, langsung scroll down.

Cewek Paling Badung di Sekolah by Enid Blyton – Asal mula Elizabeth dikirim ke Whyteleafe

"Untuk menjadi anak yang baik, kau harus memiliki hati. Hati yang baik.” – Nona Scott


Judul asli: The Naughtiest Girl in the School
Judul terjemahan: Cewek Paling Badung di Sekolah
Seri: The Naughtiest Girl #1
Pengarang: Enid Blyton
Ahli bahasa: Djokolelono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kesepuluh - Juni, 2017
Tebal buku: 264 halaman
Format: Paperback
ISBN: 97897922800302

Terhitung dari tahun 2017, ini kali kedua aku membaca novel karangan Enid Blyton setelah lama penasaran dengan karyanya. Novel yang kubaca ini masih berkaitan, masih dalam seri yang sama. Saat itu aku langsung membaca buku keduanya. Tidak masalah, sebab ceritanya ringan dan mudah untuk diikuti karena bisa dibilang novel ini termasuk ke dalam Children Literature.

Cewek Paling Badung di Sekolah (The Naughtiest Girl in the School) bercerita tentang awal mula Elizabeth Allen bersekolah di sekolah asrama Whyteleafe. Kelakuan badungnya di rumah sudah sulit untuk ditolerir dan mengirimnya ke Whyteleafe adalah tindakan yang benar. Elizabeth sendiri awalnya menolak dengan keras bersekolah di sana. Dia mencoba berbagai cara agar segera dikeluarkan dari sekolah lalu dikirim balik ke rumah. Apakah upayanya berhasil?

Kamis, 19 Juli 2018

Sirkus Pohon by Andrea Hirata – Cerita tentang sirkus, pohon, dan kehidupan diantaranya


“Bangun pagi, let’s go!” – Ibu Bos


Judul: Sirkus Pohon
Pengarang: Andrea Hirata
Penyunting: Imam Risdiyanto
Perancang sampul: Febrian & Adit Hapsoro
Ilustrasi sampul: Arifah Insani & Larasati Apsari
Penerbit: Bentang
Terbit: Cetakan kedua - September, 2017
Tebal buku: 410 halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-602-291-409-9

Ketika membawa buku ini ke kasir, aku sudah tidak ingat lagi kapan kali terakhir menikmati karya Pak Cik Andrea Hirata. Saat itupun hanya karya fenomenalnya yaitu tetralogi Laskar Pelangi yang sempat kucicipi. Meski tidak ingat mengenai waktu pastinya, rasa yang didapat saat membaca karya Andrea Hirata masih membekas. Karyanya penuh dengan kearifan lokal. Alur ceritanya sarat dengan humor sekaligus mampu membuat hati tercenung dan sempat mengharu.

Sirkus Pohon merupakan novel kesepuluh hasil karya beliau yang telah diterbitkan. Wangi khas buku yang baru dicetak menguar ketika aku membuka segel dan lembaran-lembaran Sirkus Pohon. Wangi ini semakin menggugah rasa untuk segera membaca dan menikmati dua kisah kehidupan plus percintaan dari dua pasang tokoh di dalamnya. Kisah tersebut dipaparkan bergantian dengan alur maju serta dilengkapi dengan deskripsi yang mengalir lancar sejak paragraf pertama. Awalnya kedua kisah tersebut tampak tidak saling berhubungan karena pasangan yang menjadi tokoh utamanya berbeda umur dan latar belakang. Namun akhirnya di halaman 46, kedua kisah tersebut mulai bersinggungan.

Kamis, 08 Maret 2018

[Book Haul & Wrap Up] February 2018

instagram @kikioread

Bulan Februari telah berakhir. Ritual akhir bulan di blog ini pun digelar, hehe. Yap, seperti biasa Bukulova akan menampilkan daftar buku yang kudapatkan dan selesai kubaca di bulan Februari ini. Selama di bulan ini Alhamdulillah ada 3 koleksi buku baru yang didapat. Lalu ada 3 buku lainnya yang berhasil selesai dibaca. Dan senangnya, buku-buku tersebut juga selesai diulas, #hore.

Ketiga buku di atas serta bookmark yang kece itu adalah hadiah yang kudapatkan dari hasil mengikuti GA di akun bokkstagram kak Miftah. Terimakasih. Ya buat hadiahnya yang nyaris bertepatan dengan tanggal ultahku. Berasa ini hadiah yang ulang tahun yang tak terduga. Kebetulan aku juga sedang penasaran ingin mencoba membaca buku ARC.

Minggu, 04 Maret 2018

Red Dragon by Thomas Harris – Buku pertama seri Hannibal Lecter

Tidak ada hantu di Shiloh. Manusialah yang dihantui. Shiloh sendiri tak peduli.


Judul asli: Red Dragon
Judul terjemahan: Naga Merah
Pengarang: Thomas Harris
Alih bahasa: B. Sendra Tanuwidjaya
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Januari 1998
Tebal buku: 519 halaman
Format: Paperback
Genre: Thriller, Crime
ISBN: 978-979-22-9145-2

Red Dragon adalah salah satu buku yang menyenangkan hatiku saat bisa membawanya ke kasir. Pasalnya aku telah berkeinginan untuk membaca seri lengkap Hannibal Lecter ini. Seri ini aku mulai dengan membaca buku keduanya yaitu The Silence of the Lambs. Alur ceritanya cepat dan membuat merinding karena dilimpahi oleh adegan sadis yang berani dan bikin jantung berdegub. Syukurlah, tidak masalah ternyata jika membaca seri ini secara tidak berurutan. Sejauh ini aku bisa mengikuti kisahnya tanpa kehilangan poin-poin yang penting yang tidak bisa terlewatkan.

Red Dragon dibuka dengan kedatangan Jack Crawford (anggota penyidik FBI) ke kediaman Will Graham (mantan penyidik FBI). Mereka pernah bersama-sama menangani kasus pembunuhan berantai oleh sosiopat jenius, Dr. Hannibal Lecter. Bukan hanya itu, mereka malah berhasil menangkapnya. Tentu, meski sudah berada di dalam sel di sebuah rumah sakit jiwa dengan keamanan maksimum, Lecter masih memiliki peran signifikan di novel ini.