Review Novel Memoirs of a Geisha (Memoar Seorang Geisha) karya Arthur Golden

Kami tidak menjadi geisha karena kami ingin hidup bahagia; kami menjadi geisha karena kami tak punya pilihan. - Mameha


Judul: Memoirs of a Geisha
Judul terjemahan: Memoar Seorang Geisha
Pengarang: Arthur Golden
Alih bahasa: Listiana Srisanti
Desain sampul: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan ketigabelas, Februari 2018
Tebal buku: 496 halaman
Format: Paperback
Genre: Historical Fiction
ISBN: 978-602-03-3769-2

Bukan hanya karena desain sampulnya yang menarik untuk dilihat, ada kenangan tersendiri di benak terkait Memoirs of a Geisha. Kebetulan, aku telah lebih dulu mendengar tentang kisah ini dalam bentuk adaptasi layar lebarnya beberapa tahun lalu. Namun hanya berupa cuplikan saja. Tidak pernah menonton secara lengkap. Hal ini akhirnya menyisakan rasa penasaran. Oleh karena itu, ketika menemukannya dalam bentuk buku, aku pun memutuskan untuk membelinya.

Memoirs of a Geisha berkisah tentang perjalanan hidup Sayuri Nitta. Mulai dari masa kecilnya di tempat kelahiran, sebuah desa kecil di Yoroido, hingga bagaimana dia bertumbuh menjadi seorang geisha. Selain wajah yang cantik, Sayuri juga memiliki daya tarik berupa mata yang berwarna kelabu, warisan dari ibunya.

Kalau orang lain matanya coklat tua, mata ibuku abu-abu transparan, begitu juga mataku. - hlm.13

Sayuri kecil (dan juga Satsu, kakak perempuannya) tinggal di tepi laut di desa nelayan tersebut. Paska kematian ibunya, mereka dijual oleh sang ayah dan dibawa ke Kyoto. Sayuri dibawa ke sebuah Okiya (rumah inap/tempat minum tempat geisha dan calon geisha tinggal) yang jauh lebih baik dari Satsu.

Di sana Sayuri disekolahkan untuk menjadi seorang geisha. Kehidupan di tempat itu tidak mudah. Dia sering ditindas oleh geisha senior bernama Hatsumomo. Memang perangai geisha satu itu sangat buruk. Namun penghasilan terbesar Okiya tempat Sayuri bernaung banyak berasal dari penampilan Hatsumomo. Oleh karena itu, tidak ada yang bisa mengusirnya.

Percobaan kaburnya dari okiya tersebut gagal. Sementara Satsu berhasil dan meninggalkan dirinya. Sayuri merasa sedih namun harus pasrah dengan keadaan. Suatu kali di tepi sungai, Sayuri yang sedang menangis bertemu dengan seorang baik hati yang disebut sebagai Ketua. Berkat perkataan Ketua, Sayuri kecil bangkit dan menemukan tujuan hidupnya yaitu menjadi geisha sukses. Terlebih dia juga harus membayar utang pengasuhan dan pendidikan terhadap Okiya Nitta.

Sayuri sendiri sebetulnya bukan namanya. Itu adalah nama yang digunakan ketika dia resmi memasuki dunia geisha. Nama tersebut diberikan oleh kakak angkatnya, Mameha, yang baik secara langsung maupun tidak telah mendidik serta mengajari bagaimana menjadi seorang "penghibur".

Boleh jadi banyak yang berpikir kalau geisha merupakan istilah untuk wanita penghibur (artian secara negatif). Di buku ini dijelaskan kalau Geisha juga memiliki arti seorang seniman. Jadi, untuk menjadi geisha profesional mereka harus melewati beberapa tahapan dan memiliki keterampilan seni yang apik.

Mereka juga belajar di sekolah tertentu; diantaranya mempelajari banyak musik dan tarian tradisional. Menjadi geisha tidak sembarangan. Ada adat dan ketentuan yang mengikat sebelum maupun sesudahnya. Begitu pula tentang filosofi dari kimono serta riasan yang mereka gunakan.

Seorang geisha tidak akan keluar di malam hari sebelum ada orang yang menyalakan api di punggungnya sebagai tanda keberuntungan. - hlm.44

Pemahaman mengenai geisha merupakan salah satu sisi yang bisa pembaca dapatkan saat menikmati buku ini, selain menikmati kisah perjalanan hidup dan romansa Sayuri, si tokoh utama. Penjabarannya sendiri tidak kaku melainkan dibalut dalam kalimat yang menarik. Perihal tentang kehidupan Geisha kala itu disisipkan ke dalam alur cerita secara bertahap.

Tetapi yang dimaksud geisha dengan danna-nya bukanlah suami. Geisha tidak pernah menikah. Atau paling tidak, mereka yang menikah tidak lagi menjadi geisha. - hlm.164

Selain menambah pengetahuan pembaca terkait geisha dan (tentunya) budaya Jepang, buku ini juga memberikan sedikit gambaran mengenai kehidupan penduduk negara matahari terbit tersebut di masa Perang Dunia kedua. Ya, novel ini menggunakan latar masa lampau. Sebuah kilas balik kehidupan layaknya sebuah memoar.

Penulis menyinggung sedikit tentang situasi yang dialami penduduk saat perang berkecamuk. Kemudian tentang langkah yang diambil oleh pemerintah Jepang yang saat itu kalah. Juga tentang bagaimana efek perang terhadap kehidupan ekonomi mereka, terutama pada kehidupan para geisha di distrik Gion, Kyoto.

me·mo·ar /mémoar/ n 1 kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan dengannya. (Sumber KBBI online)

Berdasarkan rujukan di atas, memoirs atau yang diterjemahkan sebagai memoar, secara umum berarti catatan atau rekaman tentang pengalaman hidup seseorang. Lalu apakah buku ini betul sebuah memoar?

Pertanyaan tersebut muncul di benak setelah kepo tentang sosok Sayuri Nitta dan Mameha yang digambarkan begitu populer. Pencairan akan jawaban tersebut mengarah ke sebuah artikel online (sayangnya, aku lupa penulis dan situsnya). Hal tersebut juga dipertegas oleh penulis dalam ucapan terima kasihnya yang terletak di bagian belakang buku.

Yup! Ternyata buku ini adalah fiksi. Namun dibuat seperti nyata, maksudku nyata layaknya sebuah memoar. Saat membaca bagian awal buku, aku percaya kalau Sayuri, Mameha, Ketua, dll merupakan sosok yang nyata. Perihal nama mereka disamarkan, tak jadi soal. Jadi aku berusaha dengan menjelajah Google mencari foto Sayuri asli dkk. Hasil yang muncul foto artis yang memerankannya di film. hehe.

Kembali ke alur cerita, ada satu hal yang mengganjal di benakku yaitu perihal hubungan antara Sayuri dan Ketua di novel ini. Ketua jauh lebih tua (lupa antara belasan atau puluhan tahun) dibandingkan Sayuri. Sejak pertemuan keduanya di tepi sungai, Sayuri telah jatuh hati.

Mungkin Sayuri melihat figur ayah yang bisa mengayomi dsb dari sosok Ketua. Lalu bagaimana dengan Ketua sendiri? Sayuri tidak jatuh sendirian. Perasaannya berbalas. Oleh karena itu, hal ini cukup ganjil jika dilihat terutama dari sisi Ketua. Aku pun merasa kurang nyaman dengan bagian cerita yang ini. IYKWIM.

Secara keseluruhan, aku menikmati membaca Memoirs of a Geisha. Boleh jadi karena aku mengira kalau kisah di buku ini nyata, hihi. Setidaknya rasa penasaran akan alur ceritanya sudah tuntas terbayar. Kalaupun ada beberapa perbedaan dengan versi adaptasi layar lebarnya, bagiku tidak masalah.

Arthur menulis novel debutnya ini dengan baik dan cukup indah. Membacanya tidak membosankan meski buku ini cukup tebal (496 halaman) serta dengan ukuran yang juga jauh lebih besar daripada novel lainnya. Ada beberapa kutipan menarik. Akan kutuliskan di bagian bawah ulasan ini.

Adapun riset yang dilakukan penulis terhadap kebudayaan Jepang khususnya tentang geisha patut diacungi jempol. Beberapa kali aku melipir ke Google untuk mencari tahu seperti apa itu Gion, Okiya, Shamisen, serta bagaimana lagu-lagu dan tarian tradisional Jepang pada masa itu. Bagi pecinta kebudayaan Jepang ataupun penikmat historical fiction (fiksi sejarah), buku ini bisa jadi pilihan yang menarik untuk dinikmati.

Rating: 4/5 (really liked it)
Kutipan menarik dari buku ini:

Khayalan bisa sangat berbahaya. Mereka menjalar seperti api, dan kadang-kadang membakar habis kita. - hlm.118

Seorang wanita yang tinggal dalam rumah megah mungkin akan membanggakan semua barangnya yang indah. Tetapi saat mendengar derak api, dia dengan cepat akan memutuskan barang-barang mana yang paling bernilai baginya. - hlm.334

"Persahabatan adalah hal yang sangat berharga, Sayuri. Jangan membuangnya." - hlm.349

"Dua orang itu setara—benar-benar setara—hanya jika mereka berdua memiliki kepercayaan diri yang sama." - hlm.336

Kurasa tak seorang pun dari kita bisa bicara jujur tentang rasa sakit sebelum kita tak lagi menderita. - hlm.475

Dunia kita sama tidak permanennya dengan ombak yang timbul di lautan. Apa pun perjuangan dan kemenangan kita, betapapun kita menderita karenanya, segera saja semuanya akan merembes menyatu, seperti tinta yang tumpah ke kertas. - hlm.486

Comments

Popular posts from this blog

[Review] The Silmarillion by J.R.R Tolkien – Sebuah riwayat yang panjang

[Review] Maybe Someday by Colleen Hoover – Musik dan pilihan hati

[Review] Le Petit Prince by Saint-Exupery – Perenungan sederhana tentang kehidupan