[Review] My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry by Fredrik Backman

"Tidak ada pahlawan super yang sempurna dan itu tidak apa-apa." - Elsa


Judul: My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
Pengarang: Fredrik Backman
Penerjemah: Jia Effendie
Penyunting: Yuke Ratna P
Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
Penata letak: CDDC
Perancang sampul: Artgensi
Penerbit: Noura Books
Terbit: Cetakan ke-2, Februari 2017
Tebal buku: 496 halaman
ISBN: 978-602-385-164-5

Pada April 2017, buku ini masuk ke dalam daftar buku inceranku/wishlist. Selain tertarik karena judulnya yang panjang, buku ini menjadi perhatianku karena saat itu bisa kusandingkan dengan A Man Called Ove (salah satu wishlist juga). Jika buku itu bercerita tentang kakek tua, nah, di buku ini ada neneknya. Jadi seperti berpasangan. Namun terlepas dari hal tersebut, aku memang tertarik untuk membaca buku ini. Alhamdulillah, wishlist ini berhasil terwujud. Buku ini sampai bulan Oktober lalu dan di bulan ini mulai kubaca sembari mengikuti Tanos Reading Challenge

Novel fiksi ini mengangkat kisah kehidupan anak kecil bernama Elsa. Dia berusia 7 tahun dan "berbeda" dalam artian memiliki pola pikir yang dewasa (serta lumayan bijak) dan suka sekali bertanya kepada orang-orang di sekitarnya. Sifat ini membuatnya sering bermasalah di sekolah. Ketika Elsa bermasalah, Nenek akan datang membantunya karena menurut Nenek:

"Semua anak tujuh tahun berhak memiliki pahlawan super."-hlm.1

Nenek Elsa sendiri telah berusia 77 tahun dan "sangat bersemangat" untuk usianya. Nenek jelas baik hati namun juga "nyentrik". Dia tidak segan berkonflik dengan orang-orang disekitarnya dan sulit berdiam diri. Nenek dan Elsa memiliki bahasa rahasia. Mereka sering pergi ke Tanah-Setengah-Terjaga; sebuah tempat dimana semua kerajaan dongeng yang Nenek ciptakan berada. 

Nenek sering meminta Elsa melakukan misi perburuan harta karun. Misinya seputar mencari barang-barang Nenek yang saat itu diperlukannya tapi dia lupa dimana meletakkannya. Sebagai permintaan terakhir, Nenek memberikan Elsa suatu misi yang nantinya dapat mengubah hidup siapa pun yang terlibat di dalamnya. Misi terakhir itulah yang menjadi konflik di novel ini. Misi tersebut adalah mengantar surat-surat dari Nenek yang sebagian besar isinya berupa permintaan maaf dari Nenek untuk si penerima surat. Tentunya surat-surat tersebut tidak tersusun rapi di atas meja. Elsa harus menemukan petunjuk tentang keberadaan surat tersebut dulu baru bisa mengantarkannya. 

Bagaimana menggambarkan anak kecil dengan pola pikir demikian namun tetap kelihatan kepolosannya? Bagaimana bercerita tentang hubungan dan petualangan Nenek dan cucunya tanpa terasa membosankan? Belum lagi penulis yaitu Fredrik Backman dengan santainya memikat pembaca dengan kalimat sarat logika serta banyak paragraf singkat yang demikian menarik. Pembaca dibuat tertawa, gemas, lalu sedih sepanjang membaca buku ini. 

"Setipe dengan karya Roald Dahl dan Neil Gaiman. Sangat menyentuh, terkadang lucu, menyajikan potret bijak seorang anak dalam menghadapi kesedihannya." - Kirkus Review

Dongeng-dongeng yang Nenek ceritakan adalah salah satu poin menarik dari novel ini. Jadi di buku ini pembaca diajak untuk menikmati dongeng sekaligus melihat ke dunia nyata. Ide untuk mengalihkan semua karakter dan alur cerita menjadi bentuk dongeng terasa unik menurutku. Jadi pengen mencontohnya. Namun butuh imajinasi yang mantap juga, hmm. :D

"Nenek telah mendongeng sepanjang ingatan Elsa. Awalnya dongeng-dongeng itu hanya untuk menidurkan Elsa, dan melatihnya bahasa rahasia Nenek. Namun akhir-akhir ini dongeng-dongeng itu memiliki dimensi lain. Sesuatu yang tidak Elsa pahami."-hlm.52

Secara keseluruhan aku menikmati cara Fredrik Backman bertutur. Kisah novel ini menarik, menyentuh dan lucu sekaligus mengandung pesan moral yang banyak dan menghangatkan hati. Ada beberapa halaman yang membuatku menangis karena kurasakan dekat dengan kehidupanku. Cara Nenek bercerita kepada Elsa tentang kehidupan teman-teman dan keluarga mereka dalam bentuk dongeng sangat menarik. Oh ya semua karakter di novel ini mendapatkan porsinya masing-masing. Jadi semua berfungsi dan tidak disia-siakan. Aku ingin membaca karya Backman yang lainnya, salah satunya yang kusebutkan di paragraf pertama ulasan ini yaitu  A Man Called Ove.

Rating: 5/5 (it was amazing) 
Kutipan menarik dari buku ini:
"Orang-orang terbaik pastilah berbeda--lihat saja para pahlawan super. Jika kekuatan super adalah sesuatu yang normal, semua orang pasti memilikinya."-hlm.2
"Tidak semua monster adalah para monster sejak awal. Beberapa monster lahir karena duka. Tidak semua monster tampak seperti monster. Beberapa yang lainnya membawa sifat monster di dalam mereka."-hlm.165-167
"Elsa mengerti kalau semua orang takut kepada mereka, dan butuh waktu lama untuk membuat mereka mengerti bahwa sang Monster dan Wurse--seperti si pemabuk--tidak seperti kelihatannya."-hlm. 177
"Sudah cukup lama sejak kali terakhir aku begitu menikmati membaca. Begitu kau dewasa, kau hampir tidak bisa melakukannya. Hal-hal berada di puncaknya ketika kau masih anak-anak, setelah itu terus menurun dari sana... "-hlm.280
"Rasa takut itu seperti merokok, kata Nenek. Hal tersulit adalah berhenti, bukan memulai."-hlm.306
"Kau harus memedulikan sesuatu, Elsa. Segera setelah semua orang memedulikan sesuatu di dunia ini, nenekmu selalu menyebutnya sebagai 'merajuk', tapi jika kau tidak memedulikan apa pun, kau sebenarnya sama sekali tidak hidup. Kau hanya ada…"-hlm.438

Comments

  1. Ah jadi pingin ikutan baca juga!! Makasih review nya kak. Masuk waiting list nih buat dibaca^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Icha. Silakan dicoba. Mana tahu novel ini cocok dengan selera Icha. :D

      Delete
  2. Kayaknya buku ini bagus ya, jadi pengen baca juga. Oiya, saya juga ada resensi buku seri petualangan karya Dee Lestari. Visit ke blog saya juga ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurutku bagus mba. Kalau tertarik silakan dicoba.
      Buku Dee Lestari baru satu yg pernah kubaca yg judulnya Akar (sepertinya bagian dari serial Supernova). Sipp nanti kumampir ke blog nya. :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Review] Le Petit Prince by Saint-Exupery – Perenungan sederhana tentang kehidupan

[Review] The Silmarillion by J.R.R Tolkien – Sebuah riwayat yang panjang

[Review] Emma by Jane Austen – Drama percintaan klasik