Rabu, 31 Mei 2017

The Conch Bearer by Chitra Banerjee Divakaruni – Kisah pembawa keong ajaib dari India

“Menangis tidak jelek. Membersihkan hati, membuat ruang di dalamnya untuk pertumbuhan.” - Abhaydatta


Judul asli: The Conch Bearer
Judul terjemahan: Keong Ajaib
Pengarang: Chitra Banerjee Divakaruni
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan pertama - Februari, 2004
Tebal buku: 272 halaman
Format: Paperback
Genre: Adventure, Mystery, Fantasy
ISBN: 979-22-0745-7

Jika membaca nama pengarang buku ini, mungkin sebagian besar bisa menebak jika buku ini ditulis oleh seseorang dari India, setidaknya Asia. Nama tengah dan belakangnya kental sekali dengan unsur yang demikian. Belakangan aku mengecek internet untuk memastikannya, dan hasilnya memang positif. Ketika membeli aku hanya menebak dan memang namanya membuatku tertarik untuk membawa buku ini karena aku belum pernah menikmati buku karangan penulis dari negeri Taj Mahal tersebut. Selain itu, aku juga menyukai kavernya yang simple dan ringkasan kisahnya mengenai Anand yang berusia dua belas tahun itu membuatku berpikir The Conch Bearer tidak masalah dibaca oleh anak-anak..

Judul, kaver, dan blurb buku ini mengarahkan kita ke keong sebagai inti masalahnya atau pusat cerita. Keong? Mau tak mau aku pikiranku tertarik ke salah satu dongeng dari negeri kita tercinta, Indonesia, yaitu dongeng Keong Emas. Sepertinya pada beberapa kawasan, terlebih yang pernah mempunyai hubungan sejarah, telah berbagi kebudayaan atau suatu sistem yang khas. Misalnya, adanya kemiripan bangunan candi hindu di Indonesia dan India. Ada pula beberapa tradisi ritual perkawinan yang mirip (hasil nonton beberapa serial Bollywood bareng Emak, hehe). Lalu keong? Keong menjadi hewan ajaib di salah satu dongeng di negeri ini. Pun dengan keong di dalam kisah ini. Entah mengapa aku jadi menghubungkan hal-hal di atas seperti itu.
 
Anand adalah seorang anak miskin berusia 12 tahun. Dia harus putus sekolah demi membantu perekonomian keluarga setelah ayahnya pergi dan tak lama menghilang tanpa kabar di Dubai. Pekerjaan Ibunya sebagai tukang masak sama sekali tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Pun adiknya, Meera tengah mengalami shock dan tidak dapat berbuat banyak. Ibunya menghabiskan banyak tabungan mereka demi kesembuhan Meera namun sama sekali tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

Anand menyukai kisah-kisah dongeng dan selalu percaya bahwa keajaiban itu ada. Hingga kepercayaan Anad teruji dengan datangnya seorang kakek tua bernama Abhaydatta. Dia menawari Anand untuk menjadi asistennya dan membantu si Kakek mengembalikan keong ajaib ke Lembah Perak, tempat keong itu seharusnya berada sebelum dicuri dari sana oleh seorang penyihir jahat bernama Surabhanu. Anand terpukau dengan keindahan keong. Si Kakek membantu menyembuhkan Meera. Akankah Anand dapat meninggalkan Ibu dan Adiknya demi bertualang bersama si Kakek dengan menjadi pembawa keong? Terlebih apakah Ibunya mengijinkannya? Sejahat dan sekuat apakah Surabhanu yang mengincar keong ajaib itu? dan siapa gadis kecil yang diberi nama Nisha yang membantu Anand menyusul Kakek Abhaydatta?

Ia tidak mengatakan pada ibunya bahwa jauh di dalam hatinya, ia percaya keajaiban mungkin bisa terjadi. Bukan, bukan mungkin, tetapi memang terjadi. Bahw akeajaiban terjadi sepanjang saat, di sekitar mereka, hanya saja kebanyakan orang tidak menyadarinya. (hal. 11)

Seperti yang kutuliskan sebelumnya, beberapa bulan lalu aku menemani Emak menonton beberapa drama India yang tayang di salah satu channel TV. Dan, yea, menurutku drama itu sering berlebihan. Maksudnya yang baik terlalu baik. Sementara yang jahat terlalu jahat dan licik. Yang paling bikin “gemes” itu waktu melihat protagonisnya begitu lugu dan kena fitnah dan sengsara dan terlalu drama. Kukira itu cuma hanya ada di serial tivi saja. Namun tidak. Setidaknya aku menemukan hal yang sama di buku ini.

Anand bekerja di sebuah warung teh milik Haru. Si pemilik warung alangkah tidak baiknya terhadap anak itu. Anand dipekerjakan meski dibawah umur. Dia sering dimarahi, dipukuli, dan saking mirisnya diberi sarapan basi. Benar-benar bikin “gemes”. Dan rasa gemas itu semakin dipelintir oleh penulis dengan adegan ini: Anand menyisihkan uang hasil kerjanya yang pas-pasan untuk membeli manga manis yang dihargai dengan mahal oleh penjualnya. Dia hanya dapat membeli sebuah manga. Di perjalanan pulang dia mendapat musibah. Dia terjatuh dan mangganya terlepas dari tangannya karena dia ketakutan dengan angin dan kabut yang tampak mengikutinya. Oh Tuhan, memang akhirnya happy ending. Hanya saja baru membaca bagian awal buku ini, kita sudah disuguhi dengan hal-hal berbau kekerasan, ketidakadilan, humiliation, dan hal-hal yang bikin “gemes” lainnya. Apa memang benar begitu realita hidup di sana?

Anand membuka mulut untuk memprotes. Astaga, si pemilik toko meminta dua kali lebih banyak daripada yang diminta para pedagang kaki lima! (hal. 21)

Kakinya tersandung sesuatu, lalu ia jatuh terjerembap. Manga terlepas dari tangannya dan menggelinding ke dalam kegelapan. (hal. 24)

Ya, mungkin ini kisah petualangan dengan latar drama. Setidaknya aku bisa menikmati beberapa bagian dari buku ini meski tidak bisa menikmati secara keseluruhan. Ada bagian yang membuatku merasa lelah untuk diikuti. Misalnya petualangan yang menjadi terasa garing dan sebagainya. Balik lagi mungkin itu karena buku ini mungkin ditulis untuk anak-anak atau setidaknya bukan untuk dewasa (mengabaikan beberapa adegan kekerasan di bagian awal buku). Selain itu ada hal-hal di buku ini yang mengingatkanku dengan beberapa kisah legendaris. Anand si pembawa keong mengingatkanku dengan kisah perjalanan Frodo dan Sam dalam seri The Lord of the Rings. Lalu tentang tas Abhaydatta mengingatkanku dengan kantong Doraemon. Begitu pula dengan sosok ular besar jelmaan Surabhanu mengingatkanku dengan wujud Voldemort dalam serial Harry Potter.

Memang butuh usaha ekstra bagiku untuk menamatkan buku ini. Aku sampai tiga kali jeda membacanya dan sempat diselingi oleh buku lain. Namun aku sudah berkomitmen dengan membuat daftar buku-buku yang akan dibaca di bulan ini dan buku ini termasuk ke dalam daftar itu. Syukurlah kisah mulai membaik ketika menjelang akhir. Horeee…

Pastinya aku salut dengan penerjemahnya sekaligus penasaran. Aku tidak tahu pasti buku aslinya yang belum diterjemahkan itu menggunakan bahasa Inggris atau India. Jika menggunakan bahasa India pasti terasa unik. Dan memang ada beberapa kata yang bikin penasaran karena tidak diterjemahkan atau dibuatkan catatan kaki. Kebanyakan nama makanan, lalu sebutan seperti “dadaji”. Istilah-istilah tersebut agak membuat bingung campur penasaran. Terlepas dari hal itu, ini kali pertama aku membaca buku yang pengarangnya berasal dari negeri India dan aku berterimakasih untuk penterjemah dan penerbitnya. The Conch Bearer memberikan pengalaman membaca dengan konteks budaya yang berbeda dari buku-buku yang kubaca sebelumnya.

Rating: Better (2/3)
Submitted to:
----------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------

Akhirnya aku bisa berusaha memnuhi komitmen untuk membaca The Conch Bearer di bulan ini. Buku ini sudah ada di tumpukan sejak setahun lalu. Membacanya lumayan mengurangi tumpukan, haha. Kisahnya berkisar tentang perjalanan dua orang anak (salah satunya bernama Anand) dan seorang kakek tua. Misi mereka mengembalikan keong ajaib ke tempat semula di Lembah Perak. The Conch Bearer ditulis oleh seorang penulis dari India. Oleh karena itu membacanya memberikan pengalaman yang berbeda meski lumayan sulit menamatkannya.

Aku menemukan beberapa kutipan menarik di buku ini. Sudah kuketik ulang. Berikut daftarnya. Ada yang kamu suka? By the way, selamat membaca buku, kawan. :D

Ibu benar, pikirnya. Berbagi apa yang kita punyai dengan orang lain betul-betul terasa menyenangkan. Kalau tidak, mengapa ia tiba-tiba merasa tersiram kehangatan, … (hal. 19)

Kalau saja aku punya kekuatan untuk menyapukan tanganku ke atas meja-meja dan membuatnya baru dan mengilap! pikirnya. Tetapi tidak, kalau aku tahu bagaimana melakukan sihir semacam itu, aku akan mulai dengan hati Haru yang jahat. (hal. 20)

Anand melihat sekeliling tanpa harapan, mencari petunjuk. Aku butuh sesuatu untuk menuntunku ke pilihan yang benar, pikirnya. Sejauh ini, aku hanya membuat kesalahan demi kesalahan. (hal. 81)

“Bahaya akan menimpa kita kapan saja. Kita tidak bisa menghentikannya. Kita hanya bisa berusaha mempersiapkan diri. tidak ada gunanya menunggu-nunggu bencana dan menderita karena pengaruhnya  bahkan sebelum ia datang.” (hal. 102)

“Waktu menghapus semua duka,” kata Keong. “Namun kalian manusia begitu tidak sabar. Kalian menghendaki penyelesaian sekarang juga. Syukurlah itupun bisa diatur.” (hal. 254)

“—untuk bisa meraih sesuatu yang besar, seseorang harus melepaskan cengkeramannya atas sesuatu yang lain yang juga sama disukainya.” (hal. 259)


“Menangis tidak jelek,” katanya. “Membersihkan hati, membuat ruang di dalamnya untuk pertumbuhan.” (hal. 261)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar