Quotes from "The Silence of the Lambs" by Thomas Harris
Adakah yang
familiar dengan Hannibal Lecter? Yup, psikiater super jenius namun juga
mengalami gangguan jiwa. Diketahui dia telah membunuh 9 orang dengan cara yang
sadis, bahkan tidak segan menelan lidah para korbannya. Dan aku di sini telah
selesai membaca seri kedua dari tetralogy Hannibal Lecter. Tidak masalah langsung melompat ke seri kedua karena kita
sebagai pembaca masih bisa mengikuti kisahnya. Meski demikian, aku ingin juga
membaca seri pertamanya yaitu Red Dragon.
Begitu pula dengan dua seri lainnya.
![]() |
sumber |
Aku
sebelumnya tidak berharap ada banyak quotes yang bisa kukutip, mengingat ini
buku thriller. Nyatanya, setelah kucek lagi catatanku, ada banyak quotes manis
dari buku ini. Apa boleh buat, kurangkum quotes tersebut dalam postingan yang
terpisah dari postingan tentang review-nya.
Nah, langsung saja kita simak. Mungkin saja ada juga quotes yang kalian sukai. Enjoy them. :D
Pertama-tama, jangan perparah keadaan.
(hal. 69)
“Setahuku tidak ada cara yang ampuh,
kecuali tekad untuk mencapai tujuan.” (hal. 85)
Tapi jangan pikirkan hal-hal lain kalau
sedang berkemas. Starling berkemas dengan cepat dan rapi. (hal. 93)
Di tengah kegelapan ia melihat wajah
ngengat yang mungil dan berkesan bijak. Matanya yang berpendar itu pernah
menatap Buffalo Bill. (hal. 145)
Pada hari tertentu kita bangun sebagai
orang yang berbeda. (hal. 157)
“Kalau kita ketemu dua laki-laki, bisa
dipastikan yang menelpon bukan orang yang diharapkan.” (hal. 162)
Sekilas ia teringat orangtuanya yang telah
tiada. Ia bertanya-tanya, apakah mereka akan kecewa jika mereka bisa melihatnya
sekarang—pertanyaan yang sering kita ajukan dalam hati. Jawabannya tidak,
mereka takkan kecewa. (hal. 211)
Ia tahu pria setengah baya dapat begitu
dikuasai hasrat untuk tampil bijaksana sehingga berusaha mengarang-ngarang, dan
ia pun menyadari betapa berbahaya kecendrungan ini bagi anak muda yang
mempercayai segala ucapannya. Karena itu ia bicara dengan hati-hati, dan hanya
mengenai hal-hal yang diketahuinya. (hal. 254)
“Kau sedang menghadapi ujian yang paling
berat—jangan biarkan kemarahan dan frustrasi menghalangi akal sehatmu. Inilah
yang menentukan, apakah kau bisa memimpin atau tidak. Bertindak menurut emosi
takkan membuahkan hasil.” (hal. 254)
Dan ia pun menyadari bahwa kepemimpinan
merupakan bakat alam yang tidak bisa ditiru dengan teknik-teknik secanggih
apapun. (hal. 256)
Dia seekor cemetery mink. Dia hidup dalam
rongga dada, di dalam jantung yang telah mongering. (hal. 295)
Rasanya sukar menerima kenyataan bahwa
seseorang memahami kita tanpa bermaksud baik kepada kita. (hal. 383)
Comments
Post a Comment