[Review] Nothing to Fear by Matthew D'ancona – Ada dongeng di dalamnya
“Tenang dulu dan pikir dua kali sebelum
melakukan apapun – melakukan sesuatu yang akan kausesali.”- Peter
![]() |
Gambar diambil dari sini |
Judul asli: Nothing to Fear
Judul terjemahan: Tak
Perlu Takut
Pengarang: Matthew D’Ancona
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Tahun terbit:
November, 2012
Tebal buku: 360
halaman
ISBN:
978-979-22-9048-6
Buku ini seperti muncul di hadapanku secara tiba-tiba. Padahal aku sudah hampir tiga kali membongkar buku di tumpukan yang sama. Ya, mungkin karena ukuran buku ini yang hanya sekitar 18 cm. Ditambah pula dengan desain sampulnya yang berupa garis warna cokelat berbingkai kuning, cenderung tidak menarik perhatian dan bisa dengan mudah terlewatkan.
Namun jika bicara tentang desain sampulnya, aku sama sekali tidak protes. Ya, mungkin butuh sedikit waktu bagi buku ini untuk terlihat ke permukaan, dan jika kamu telah melewati waktu tersebut dan menemukannya, maka kamu akan tertarik secara perlahan-lahan. Setidaknya itu yang terjadi kepadaku. Aku meletakkan buku itu di atas meja di samping tempat tidurku. Awal mulanya aku mengagumi komposisi warna dan garis yang dibentuk di atas cover tersebut. Dan ketika aku semakin memperhatikan sampulnya, baru kusadari jika garis-garis tersebut bukanlah garis abstrak. Melainkan gambar sebuah pintu yang terbuka dan didalamnya memancarkan cahaya kuning keemasan, seperti nyala lilin. Aku semakin mengagumi covernya dan jadi penasaran dengan cerita apa yang ada di dalamnya.
Novel ini dibuka dengan adegan Genie, si tokoh utama, yang tengah mencari rumah baru. Dia dibantu oleh sahabatnya Peter. Ada beberapa rumah yang ditawarkan si agen penjual yang bernama Luke. Dan ada satu rumah yang telah begitu lengkap, layak huni, dan tidak memerlukan banyak renovasi. Namun Genie menolak rumah tersebut dan malah memilih sebuh rumah yang membutuhkan tenaga dan waktu ekstra untuk merapikannya.
Rumah itu dinilai Genie bagaikan seorang kakek cerewet yang menyambut keponakannya yang baru pulang dari negeri yang jauh. Rumah yang tidak ramah namun di sana lah dia menemukan kecocokan. Genie ingin memulai hidup baru setelah perceraiannya dengan Harry. Dia pun sepakat mengambil rumah itu walaupun sahabatnya, Peter, sempat meragukan keputusannya. Dan ya, dari rumah baru itulah cerita ini berlanjut.
Genie
memiliki tetangga yang menarik. Tetangga pertama adalah sepasang kakek nenek
yang hanya tinggal berdua. Dan tetangga yang satunya lebih menarik lagi.
Seorang pemuda berusia sekitar 26 tahun bernama Sean. Kulitnya pucat dan
sikapnya aneh dan agak canggung. Kali pertama Genie bertemu dengannya, dia
menangkap kesan seorang yang pendiam dan misterius. Namun siapa sangka jika
mereka akan menjadi dekat satu sama lainnya. #ahem
Konflik dan
kecurigaan Genie dimulai saat dia mengintip ke dalam kamar rahasia Sean,
kekasihnya tersebut. Peter pun mulai memanasi Genie untuk mencurigai Sean
ditambah pula dengan kematian Winston (kucing tua milik Genie) yang
mengenaskan. Ada rahasia apakah dari diri seorang Sean? Apa yang membuat Genie
begitu ketakutan dan melarikan diri setelah mengintip kamar rahasia kekasihnya?
Asli, cerita ini mempunyai beberapa lapisan. Ada rahasia dibalik rahasia, ah,
maksudku ada twist yang menarik di akhir kisah. :D
Hayo, siapa
yang suka dongeng di sini? Aku ikut tunjuk jari, tunjuk tangan, dan juga tunjuk
kaki. Dongeng memang mewarnai masa kecilku. Ada banyak dongeng yang pernah
kubaca ataupun kutonton baik dalam bentuk kartunnya atau langsung para artis
yang memerankannya. Ya, sih, umumnya dongeng-dongeng tersebut berbau western
semacam Cinderella, si Tudung Merah, Beauty and the Beast, dll. Namun ada pula
dongeng khas Indonesia semacam Timun Mas, Bawang Putih dan Bawang Merah, dsb
yang dulu sempat kubaca terutama dari buku pelajaran Bahasa Indonesia sewaktu
kusekolah dulu.
Dan Nothing
to Fear ini menjadi unik karena di dalamnya terdapat unsur dongeng. Aku sempat
menduga jika sebagian ide dari kisah ini terinspirasi dari dongeng si Janggut
Biru. Adegan dimana Genie mengintip, disandingkan oleh penulis bersama cuplikan
adegan dari dongeng si Janggut Biru tersebut. Haha, aku menduga bukan karena
aku memang tahu kisah si Janggut Biru. Aku tahu dari tulisan si Penulis sendiri
yang mengutip beberapa adegan dari dongeng tersebut. Ah, ini benar-benar terasa
“fair”. Maksudnya aku suka si penulis novel ini memaparkan dengan manis dan
lugas apa yang mungkin menjadi inspirasi dari kisah fiksi yang ditulisnya ini.
“Nona-nona kalian tidak boleh mengintip.
Kalian pasti akan menyesal!” Itu moral yang ditanamkan Charles Perrault dalam
kisah Janggut Biru yang legendaris. “Aku bisa melakukan apapun.” Demikian
peringatan Janggut Biru kepada istrinya yang masih muda tentang amarah yang
akan mereka bangkitkan dari dalam diri bila dia menggunakan kunci kecil untuk
membuka ruangan terlarang. (hal. 242-243)
Akan terkesan
biasa jika kisah ini terinspirasi dari sebuah dongeng. Maksudku, biasa jika
hanya sampai disitu saja keterlibatan dari sebuah dongeng. Ada hal yang lebih
dari itu. sepertinya Matthew alias si penulis memang memiliki minat dan bahkan
mempelajari lebih dalam akan makna di balik sebuah dongeng. Dia membuat Genie
si tokoh utama sebagai seorang sarjana yang aktif menulis karya ilmiah yang
membahas tentang dongeng. Dia mempunyai hepotesa sendiri bahwa dongeng bisa
jadi sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh seorang anak ke anak kecil lainnya.
Ya, dongeng adalah peringatan dari anak-anak untuk anak-anak yang lain. Dan
hepotesa tersebut terdengar olehku sebagai hepotesa yang dibuat oleh Matthew
sendiri. Dia seolah mencoba menyatakannya melalui buku ini. Dan ya, aku pun
menilai poin ini cukup menarik. Membaca sebuah buku yang sekaligus mengajak
kita untuk berdiskusi tentang dongeng. (hal. 79, 98, 99, 106)
“Jadi –kalau kau benar—semua ini bukan
hanya pesan dari orang dewasa untuk anak-anak. Dongeng adalah peringatan dari
anak-anak untuk anak-anak yang lain.” (hal. 98)
“Alarm dari anak-anak pada zaman dahulu.
Tanda peringatan dari tempat tidur.” (hal. 99)
Selain itu,
aku juga suka cara Matthew menyampaika deskripsinya. Kisah ini ditulis dengan
baik, deretan kalimat per kalimat (wlaupun terjemahan) terasa mengalir dengan
lancar. Beberapa analogi yang dia tuliskan terasa ringan. Ya, mudah dipahami
namun tidak pula dangkal atau membosankan. Haha, entahlah bagaimana
mengekspresikannya. Buku ini mampu membuatku larut di dalamnya terutama di
bagian awal hingga pertengahan meski tokoh-tokoh di dalamnya mempunyai
pekerjaan yang -sepertinya- terkesan membosankan (baca: penulis karya ilmiah,
jurnalis, programmer, dst).
Lebih
lanjut, aku selalu menganggap bahwa karakter atau tokoh memegang peranan
penting dalam sebuah karya fiksi. Ketika si penulis mampu membuat karakter
tokoh yang kuat dalam artian tidak tumpang tindih atau berubah-ubah, maka
kemungkinan karya/cerita yang dihasilkannya akan menarik untuk disimak. Tokoh
di dalam kisah ini masing-masing memiliki kedalaman karakter. Pun dilengkapi
dengan penjelasan psikologis karakter tersebut. Entahlah, rasanya menarik
bagiku untuk menyimak sisi psikologis dan kedalaman karakter para tokoh di buku
ini (hal. 84, 95, 168, 104, 105, dsb).
Ya, aku
merasa perlu untuk melihat profil Matthew, si penulis. Apa yang membuatnya
menuliskan tentang dongeng dan mampu merinci karakter para tokohnya. Hehe,
setelah membaca beberapa situs, diketahui jika Matthew adalah seorang jurnalis
dan sudah tentu penulis. Ya, tidak mengherankan jika dia bisa menulis dengan
gaya seperti ini. Haha, ini opiniku sih.
Hmm..apalagi
ya yang bisa kuceritakan dari buku ini? Ah, okay, memang ada beberapa deskripsi
tempat yang sulit untuk kupahami. Mungkin aku memang sering kesulitan dalam
mereka image (terutama mengenai tempat) yang penulis buku ini tampilkan. Lebih
tepatnya deskripsi tempat di pinggir pantai itu. Namun ada satu hal juga yang membuatku greget…saat
menjelang penutup kisah ini. Aku merasa agak lambat dan aku sedikit ingin
berteriak, “oh, ayolah, selesaikan sekarang!”
Haha,
entahlah, meski begitu tetap saja ini buku yang asyik dan mencoba menebak-nebak
bagaimana endingnya pun cukup mengasyikan. Nah, mengenai typo, aku menemukan
dua buah typo. Pertama di halaman 182 dan satu lagi di halaman 352. Sementara
itu, aku lupa di halaman berapa, ada kata yang membingungkanku. Entah itu typo
atau bukan. Kata tersebut adalah: Geragapan. Jika ada yang tahu apakah “geragapan”
memang bentuk baku dari “gelagapan”, silakan komen, ya. :D
Yup, itulah
buku terakhir yang kubaca di bulan ini. Bagaimana denganmu? :):)
Rating: (4/5) really liked it
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete