[Review] Gadis Jeruk by Jostein Gaarder - Dongeng tentang cinta yang penuh teka teki
"Bukankah dunia ini hanya sebuah dongeng panjang? (Dan) bagiku dunia ini selalu penuh
keajaiban"
![]() |
Judul: Gadis Jeruk
Judul asli: The Orange Girl
Pengarang: Jostein
Gaarder
Penerbit: Mizan
Tahun
terbit: Cetakan Ke-1, Juli 2011
Tebal buku:
252 halaman
ISBN:
978-979-433-623-6
Aku suka
sekali wangi buku yang baru buka segel. Membuatku berdegub. Dan kali ini aku
sedang menghirup wangi sebuah novel karangan Jostein Gaarder. Buku
setebal 252 halaman ini merupakan Mizan Gold Edition (edisi spesial karya-karya terbaik penulis dunia).
Georg, seorang anak lelaki berusia 15 tahun mendapatkan surat
dari ayah kandungnya yang bernama Jan Olav. Yang menjadikannya spesial adalah
surat ini datang dari ayahnya yang telah meninggal sebelas tahun lalu. Melalui
surat ini Jan Olav atau sang ayah ingin berkisah tentang pertemuannya dengan Gadis Jeruk.
Ia menceritakannya dalam bentuk dongeng misteri gitu. Jadi, penuh
teka teki yang diam-diam menggelitik kita, para pembaca, untuk terus membacanya
hingga tuntas.
Pertemuan
Jan Olav dengan Gadis Jeruk pertama kali di atas sebuah trem. Ia
penasaran akan sosok wanita yang membawa sekeranjang penuh jeruk di dalam
sebuah trem yang padat penumpang. Karena kecerobohannya, ia tak sengaja
mendorong Gadis Jeruk tadi sehingga jeruk-jeruk tersebut berhamburan di dalam trem.
Ketika trem berhenti dan Gadis Jeruk turun, ia mengejarnya untuk
meminta maaf. Adegan ini sedikit mengingatkanku dengan adegan pembuka film Parfume (adaptasi visual dari novel Parfume karya Patrick Suskind). Ini dimana pemeran utama mengejar perempuan
yang sedang membawa sekeranjang jeruk (hal. 44)
Pertemuan tersebut membuat Jan Olav ingin mengenal Gadis Jeruk lebih jauh. Namun sulit sekali untuk
menemukannya. Rasa pensaran dari pandangan pertama membawanya menerka-nerka, kira-kira siapa Gadis Jeruk ini? Apakah dia seorang
penyihir? Untuk apa dia membawa sekeranjang penuh jeruk? Dan ada apa dengan
mantel anorak tua?
Aku mengawali membaca buku ini dengan konsep realitas. Maksudku, mungkin hanya
bahasa pengarang saja yang melebih-lebihkan identitas si Gadis Jeruk. Namun
lambat laun aku tertarik juga ke pusaran itu. Pusaran dongeng! Ini memang
dongeng. Setidaknya pencarian tersebut digambarkan seperti dongeng. Dan sisi
magis Gadis Jeruk a la dongeng ini mulai terasa dari halaman 57-58:
Aku meletakkan lengan kiriku di atas meja,
dan seketika dia meletakkan tangannya di atas tanganku…kemudian dia
melepaskannya, bangkit dengan anggun dari meja bersama kantong besar jeruk
ditangannya dan menyelinap ke luar. Ketika dia pergi, ku lihat ada bening air
di matanya.
Seperti Jan Olav yang tiba-tiba bertanya kepada Georg (anaknya) tentang teleskop ruang
angkasa Hubble (di sini ada cerita tentang Teleskop Hubble dan filosofi
tentangnya), aku merasa si Pengarang, Gaarder, juga bisa membaca pikiranku. Aku sempat berasumsi bahwa mungkin saja Gadis Jeruk adalah cenayang pembaca pikiran dan
masa depan. Ternyata kemudian, asumsi ini dipaparkan oleh Gaarder di
paragraf selanjutnya. Cerdas! Unik!
Selain itu, novel ini berkisah melalui dua sudut pandang dalam lintasan waktu yang berbeda. Baru saja aku akan terbuai dalam "dongeng" (hlm. 61), Gaarder langsung mengganti latar waktu dan latar tempat ke masa kini. Pembaca diajak beralih untuk melihat pemikiran Georg tentang Gadis Jeruk ayahnya tersebut.
Selain itu, novel ini berkisah melalui dua sudut pandang dalam lintasan waktu yang berbeda. Baru saja aku akan terbuai dalam "dongeng" (hlm. 61), Gaarder langsung mengganti latar waktu dan latar tempat ke masa kini. Pembaca diajak beralih untuk melihat pemikiran Georg tentang Gadis Jeruk ayahnya tersebut.
Hal yang
paling menggelitik dan membuatku tersenyum-senyum sendiri adalah saat membaca narasi/gambaran tentang seorang pria yang sedang kasmaran.
Ternyata pria yang jatuh cinta pun sibuk mereka-reka, membuat asumsi, dan
bermain logika mengenai perasaan pujaan hatinya #halah. Dan sepertinya hal tersebut berasal dari sifat maskulin bercampur ego yang dimiliki pria. Itu asumsiku, sih. Kesimpulan dari menyimak kisah Jan Olav ini, haha.
Dia tampak seperti seorang gadis yang demi
mengenalnya lebih baik, aku bersedia menyerahkan apa saja. (hal. 88).
Tentu setiap pria mempunyai sifat dan karakterisitik tersendiri yang boleh
jadi berbeda satu dengan lainnya. Namun sedikit banyak tergambarkan dengan jelas bagian ketika kaum Adam tersebut sedang "berbunga-bunga". Jarang
kutemukan novel seperti ini (pasti karena referensi bacaanku yang masih
sedikit). Umumnya, novel yang kutemukan memakai sudut pandang perempuan sebagai
tokoh yang kasmaran. Sementara lawannya atau pria digambarkan sebagai sosok yang dingin. Singkatnya begini gambaran perasaan pria yang sedang jatuh cinta berdasarkan menurut Jan Olav:
Aku sebeku es, aku terbakar api (hal. 84).
Bicara
mengenai kisah cinta, menurut buku ini, jodoh di tangan Tuhan karena Tuhan yang
menggerakkan hati. Ketika manusia memutuskan untuk meneruskan gerakan hati tersebut
ke sesuatu yang lebih konkret yang kita sebut sebagai tindakan/usaha, maka jodoh tersebut
boleh jadi akan dipersatukan. Nah, yang jadi masalah (mungkin), boleh jadi kita gagal
membedakan mana yang merupakan gerakan hati dari Tuhan dan manakah yang hanya
bisikan halus dari setan, hehe.
Tidak selalu mudah untuk menemukan orang di
dalam sebuah kota besar, setidaknya kalau kita berniat untuk bertemu mereka
seolah-olah secara kebetulan…Tapi, jika dua orang yang nyaris tidak melakukan
hal lain kecuali saling mencari, tidak mengherankan jika mereka akan saling
berjumpa secara kebetulan. (hal. 156)
Cerita
pun terus bergulir. Tentang pertemuan mereka kembali. Lalu tentang kisah cinta
mereka. Di akhir buku akan terungkap siapa Gadis Jeruk tersebut dan jawaban dari
semua teka teki lainnya. Aku sempat nangis membaca akhir kisah novel Gadis
Jeruk ini. Mungkin karena pengarangnya adalah seorang guru filsafat, maka novel
ini pun penuh dengan ungkapan dan pemahaman yang menarik tentang kehidupan.
Secara keseluruhan novel ini menarik. Kisah cinta dibalut dalam bentuk dongeng dan realitas. Selain itu kualitas terjemahannya juga bagus. Mungkin yang agak menyulitkanku adalah menghafal nama tokoh dan nama tempat di dalam novel ini. Ini pertama kalinya aku membaca nama-nama dalam bahasa Norwegia. Ya, Jostein Gaarder berasal dari sana. Intinya, buku ini menarik dan menggelitik. Aku jadi ingin membaca buku Gaarder lainnya seperti Dunia Sophie dan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken.
Secara keseluruhan novel ini menarik. Kisah cinta dibalut dalam bentuk dongeng dan realitas. Selain itu kualitas terjemahannya juga bagus. Mungkin yang agak menyulitkanku adalah menghafal nama tokoh dan nama tempat di dalam novel ini. Ini pertama kalinya aku membaca nama-nama dalam bahasa Norwegia. Ya, Jostein Gaarder berasal dari sana. Intinya, buku ini menarik dan menggelitik. Aku jadi ingin membaca buku Gaarder lainnya seperti Dunia Sophie dan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken.
Rating: (3/5) liked it
Comments
Post a Comment