Kamis, 08 Mei 2014

[Review] Gadis Jeruk by Jostein Gaarder - Dongeng tentang cinta yang penuh teka teki

"Bukankah dunia ini hanya sebuah dongeng panjang? (Dan) bagiku dunia ini selalu penuh keajaiban"



Judul: Gadis Jeruk

Judul asli: The Orange Girl
Pengarang: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: Cetakan Ke-1, Juli 2011
Tebal buku: 252 halaman
ISBN: 978-979-433-623-6

Aku suka sekali wangi buku yang baru buka segel. Membuatku berdegub. Dan kali ini aku sedang menghirup wangi sebuah novel karangan Jostein Gaarder. Buku setebal 252 halaman ini merupakan Mizan Gold Edition (edisi spesial karya-karya terbaik penulis dunia).

Georg, seorang anak lelaki berusia 15 tahun mendapatkan surat dari ayah kandungnya yang bernama Jan Olav. Yang menjadikannya spesial adalah surat ini datang dari ayahnya yang telah meninggal sebelas tahun lalu. Melalui surat ini Jan Olav atau sang ayah ingin berkisah tentang pertemuannya dengan Gadis Jeruk. Ia menceritakannya dalam bentuk dongeng misteri gitu. Jadi, penuh teka teki yang diam-diam menggelitik kita, para pembaca, untuk terus membacanya hingga tuntas.

Pertemuan Jan Olav dengan Gadis Jeruk pertama kali di atas sebuah trem. Ia penasaran akan sosok wanita yang membawa sekeranjang penuh jeruk di dalam sebuah trem yang padat penumpang. Karena kecerobohannya, ia tak sengaja mendorong Gadis Jeruk tadi sehingga jeruk-jeruk tersebut berhamburan di dalam trem. Ketika trem berhenti dan Gadis Jeruk turun, ia mengejarnya untuk meminta maaf. Adegan ini sedikit mengingatkanku dengan adegan pembuka film Parfume (adaptasi visual dari novel Parfume karya Patrick Suskind). Ini dimana pemeran utama mengejar perempuan yang sedang membawa sekeranjang jeruk (hal. 44)

Pertemuan tersebut membuat Jan Olav ingin mengenal Gadis Jeruk lebih jauh. Namun sulit sekali untuk menemukannya. Rasa pensaran dari pandangan pertama membawanya menerka-nerka, kira-kira siapa Gadis Jeruk ini? Apakah dia seorang penyihir? Untuk apa dia membawa sekeranjang penuh jeruk? Dan ada apa dengan mantel anorak tua?

Aku mengawali membaca buku ini dengan konsep realitas. Maksudku, mungkin hanya bahasa pengarang saja yang melebih-lebihkan identitas si Gadis Jeruk. Namun lambat laun aku tertarik juga ke pusaran itu. Pusaran dongeng! Ini memang dongeng. Setidaknya pencarian tersebut digambarkan seperti dongeng. Dan sisi magis Gadis Jeruk a la dongeng ini mulai terasa dari halaman 57-58:

Aku meletakkan lengan kiriku di atas meja, dan seketika dia meletakkan tangannya di atas tanganku…kemudian dia melepaskannya, bangkit dengan anggun dari meja bersama kantong besar jeruk ditangannya dan menyelinap ke luar. Ketika dia pergi, ku lihat ada bening air di matanya.

Seperti Jan Olav yang tiba-tiba bertanya kepada Georg (anaknya) tentang teleskop ruang angkasa Hubble (di sini ada cerita tentang Teleskop Hubble dan filosofi tentangnya), aku merasa si Pengarang, Gaarder, juga bisa membaca pikiranku. Aku sempat berasumsi bahwa mungkin saja Gadis Jeruk adalah cenayang pembaca pikiran dan masa depan. Ternyata kemudian, asumsi ini dipaparkan oleh Gaarder di paragraf selanjutnya. Cerdas! Unik!

Selain itu, novel ini berkisah melalui dua sudut pandang dalam lintasan waktu yang berbeda. Baru saja aku akan terbuai dalam "dongeng" (hlm. 61), Gaarder langsung mengganti latar waktu dan latar tempat ke masa kini. Pembaca diajak beralih untuk melihat pemikiran Georg tentang Gadis Jeruk ayahnya tersebut.

Hal yang paling menggelitik dan membuatku tersenyum-senyum sendiri adalah saat membaca narasi/gambaran tentang seorang pria yang sedang kasmaran. Ternyata pria yang jatuh cinta pun sibuk mereka-reka, membuat asumsi, dan bermain logika mengenai perasaan pujaan hatinya #halah. Dan sepertinya hal tersebut berasal dari sifat maskulin bercampur ego yang dimiliki pria. Itu asumsiku, sih. Kesimpulan dari menyimak kisah Jan Olav ini, haha.

Dia tampak seperti seorang gadis yang demi mengenalnya lebih baik, aku bersedia menyerahkan apa saja. (hal. 88).

Tentu setiap pria mempunyai sifat dan karakterisitik tersendiri yang boleh jadi berbeda satu dengan lainnya. Namun sedikit banyak tergambarkan dengan jelas bagian ketika kaum Adam tersebut sedang "berbunga-bunga". Jarang kutemukan novel seperti ini (pasti karena referensi bacaanku yang masih sedikit). Umumnya, novel yang kutemukan memakai sudut pandang perempuan sebagai tokoh yang kasmaran. Sementara lawannya atau pria digambarkan sebagai sosok yang dingin. Singkatnya begini gambaran perasaan pria yang sedang jatuh cinta berdasarkan menurut Jan Olav:

Aku sebeku es, aku terbakar api (hal. 84).

Bicara mengenai kisah cinta, menurut buku ini, jodoh di tangan Tuhan karena Tuhan yang menggerakkan hati. Ketika manusia memutuskan untuk meneruskan gerakan hati tersebut ke sesuatu yang lebih konkret yang kita sebut sebagai tindakan/usaha, maka jodoh tersebut boleh jadi akan dipersatukan. Nah, yang jadi masalah (mungkin), boleh jadi kita gagal membedakan mana yang merupakan gerakan hati dari Tuhan dan manakah yang hanya bisikan halus dari setan, hehe.

Tidak selalu mudah untuk menemukan orang di dalam sebuah kota besar, setidaknya kalau kita berniat untuk bertemu mereka seolah-olah secara kebetulan…Tapi, jika dua orang yang nyaris tidak melakukan hal lain kecuali saling mencari, tidak mengherankan jika mereka akan saling berjumpa secara kebetulan. (hal. 156)

Cerita pun terus bergulir. Tentang pertemuan mereka kembali. Lalu tentang kisah cinta mereka. Di akhir buku akan terungkap siapa Gadis Jeruk tersebut dan jawaban dari semua teka teki lainnya. Aku sempat nangis membaca akhir kisah novel Gadis Jeruk ini. Mungkin karena pengarangnya adalah seorang guru filsafat, maka novel ini pun penuh dengan ungkapan dan pemahaman yang menarik tentang kehidupan.

Secara keseluruhan novel ini menarik. Kisah cinta dibalut dalam bentuk dongeng dan realitas. Selain itu kualitas terjemahannya juga bagus. Mungkin yang agak menyulitkanku adalah menghafal nama tokoh dan nama tempat di dalam novel ini. Ini pertama kalinya aku membaca nama-nama dalam bahasa Norwegia. Ya, Jostein Gaarder berasal dari sana. Intinya, buku ini menarik dan menggelitik. Aku jadi ingin membaca buku Gaarder lainnya seperti Dunia Sophie dan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. 

Rating: (3/5) liked it 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar