Jumat, 07 Februari 2020

[Review] Big Little Lies

“Oh, musibah.”


Judul Asli: Big Little Lies
Judul Terjemahan: Dusta-dusta Kecil
Pengarang: Liane Moriarty
Alih Bahasa: Lina Jusuf
Editor: Bayu Anangga
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedua, Mei 2017
Tebal buku: 512 halaman
Format: Paperback
ISBN: 9786020339962

Menurut KBBI V /merisak/ merupakan kata kerja yang berarti mengusik atau mengganggu. Kata ini digunakan sebagai padanan untuk kata bullying dalam bahasa Inggris (yang lebih umum dikenal oleh masyarakat). Bentuk perisakan yang dilakukan dapat secara verbal atau fisik. Tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, perisakan dapat pula terjadi pada anak-anak bahkan di usia TK. Kata inilah yang menjadi isu utama dalam Big Little Lies. Bagaimana perisakan telah berujung pada kematian seseorang.

Jane Chapman dan Ziggy (anak lelakinya) telah berpindah-pindah tempat tinggal. Saat Ziggy telah waktunya bersekolah, Jane memutuskan untuk menyewa apartemen di daerah Pirriwee Peninsula, Australia (latar tempat kisah di novel ini terjadi). Ia menyekolahkan Ziggy di salah satu TK di sana. Sekolah yang bagus, dan kepindahannya berlangsung lancar hingga kejadian di hari orientasi mulai mengungkap banyak hal.

Jane berkenalan dengan Madeline (ibu tiga orang anak, berusia empat puluh yang ekspresif dan bersemangat). Madeline kemudian mengenalkannya dengan Celeste (ibu dari dua anak kembar, ia cantik dan kaya namun selalu gelisah). Anak-anak mereka memulai kelas yang sama di sekolah tersebut. Mereka pun bersahabat. Fokus cerita berpusat pada kehidupan keluarga mereka bertiga.

Berdasarkan pengamatanku, pada novel misteri terutama yang bearoma whodoneit, setelah pengenalan karakter, pembaca disodorkan dengan kabar kematian. Siapa yang kehilangan nyawa telah terungkap pada bagian awal cerita. Setelah itu pembaca akan diundang untuk mengungkap siapa pelaku dan motifnya. Apakah Big Little Lies termasuk novel misteri? Boleh jadi iya. Namun unsur dramanya juga sangat kental. Aku jadi ragu, hehe.

Di dalam novel ini, perihal kematian telah samar-samar dimunculkan di bagian awal. Samar-samar karena pembaca tidak akan mendapati siapa yang terbunuh dan bagaimana itu bisa terjadi. Kedua hal tersebut baru akan terjawab di beberapa bab terakhir. Jika motif utama membaca Big Little Lies adalah untuk menebak identitas korban dsb, silakan bersabar membacanya. Untungnya tidak akan membosankan karena para orang tua anak-anak TK di Pirriwee Public School telah meramaikan suasana dengan ocehan, gosip, dan drama diantara mereka.  Ya, tidak membosankan, hanya menguji kesabaran menahan rasa penasaran.

Namun tidak ada salahnya menikmati drama yang tersaji di novel ini. Apalagi terkait isu perisakan yang dapat menimpa siapa saja. Tidak hanya dalam lingkungan sekolah, hal ini juga dapat terjadi dalam lingkungan keluarga. Efek dari perisakan itu sendiri sudah tentu merusak. Perisakan secara verbal sama buruknya dengan perisakan secara fisik. Novel ini juga menggambarkan bagaimana respon para karakter yang mengalami hal tersebut. Menurutku Big Little Lies mengajak pembaca untuk peduli dan melawan perisakan.

Secara keseluruhan, novel setebal 512 halaman ini menarik untuk dibaca. Kehebohan para orang tua (terutama ibu-ibu) di sini (baik di sekolah maupun di rumah) terasa nyata dan akrab. Bagi yang ingin menikmati versi visualnya, HBO telah menayangkan Big Little Lies dalam bentuk limited series. Bahkan kopi yang kupunya ini memiliki sampul berupa wajah para pemerannya.

Rating: liked it (3.5/5)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar