Kamis, 31 Maret 2016

[Quote] The Silence of the Lambs by Thomas Harris

Adakah yang familiar dengan Hannibal Lecter? Yup, psikiater super jenius namun juga mengalami gangguan jiwa. Diketahui dia telah membunuh 9 orang dengan cara yang sadis, bahkan tidak segan menelan lidah para korbannya. Dan aku di sini telah selesai membaca seri kedua dari tetralogy Hannibal Lecter. Tidak masalah langsung melompat ke seri kedua karena kita sebagai pembaca masih bisa mengikuti kisahnya. Meski demikian, aku ingin juga membaca seri pertamanya yaitu Red Dragon. Begitu pula dengan dua seri lainnya.

sumber
 
Aku sebelumnya tidak berharap ada banyak quotes yang bisa kukutip, mengingat ini buku thriller. Nyatanya, setelah kucek lagi catatanku, ada banyak quotes manis dari buku ini. Apa boleh buat, kurangkum quotes tersebut dalam postingan yang terpisah dari postingan tentang review-nya. Nah, langsung saja kita simak. Mungkin saja ada juga quotes yang kalian sukai. Enjoy them. :D

Pertama-tama, jangan perparah keadaan. (hal. 69)

“Setahuku tidak ada cara yang ampuh, kecuali tekad untuk mencapai tujuan.” (hal. 85)
 
Tapi jangan pikirkan hal-hal lain kalau sedang berkemas. Starling berkemas dengan cepat dan rapi. (hal. 93)

Di tengah kegelapan ia melihat wajah ngengat yang mungil dan berkesan bijak. Matanya yang berpendar itu pernah menatap Buffalo Bill. (hal. 145)

Pada hari tertentu kita bangun sebagai orang yang berbeda. (hal. 157)

“Kalau kita ketemu dua laki-laki, bisa dipastikan yang menelpon bukan orang yang diharapkan.” (hal. 162)

Sekilas ia teringat orangtuanya yang telah tiada. Ia bertanya-tanya, apakah mereka akan kecewa jika mereka bisa melihatnya sekarang—pertanyaan yang sering kita ajukan dalam hati. Jawabannya tidak, mereka takkan kecewa. (hal. 211)

Ia tahu pria setengah baya dapat begitu dikuasai hasrat untuk tampil bijaksana sehingga berusaha mengarang-ngarang, dan ia pun menyadari betapa berbahaya kecendrungan ini bagi anak muda yang mempercayai segala ucapannya. Karena itu ia bicara dengan hati-hati, dan hanya mengenai hal-hal yang diketahuinya. (hal. 254)

“Kau sedang menghadapi ujian yang paling berat—jangan biarkan kemarahan dan frustrasi menghalangi akal sehatmu. Inilah yang menentukan, apakah kau bisa memimpin atau tidak. Bertindak menurut emosi takkan membuahkan hasil.” (hal. 254)

Dan ia pun menyadari bahwa kepemimpinan merupakan bakat alam yang tidak bisa ditiru dengan teknik-teknik secanggih apapun. (hal. 256)

Dia seekor cemetery mink. Dia hidup dalam rongga dada, di dalam jantung yang telah mongering. (hal. 295)

Rasanya sukar menerima kenyataan bahwa seseorang memahami kita tanpa bermaksud baik kepada kita. (hal. 383)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar