Minggu, 25 Januari 2015

The Miraculous Journey of Edward Tulane – Buka Hati, Buka Pikiran

“If you have no intention of loving and being loved, then the whole journey is pointless.” -The Old Doll

gambar diambil dari sini
 
Judul: The Miraculous Journey of Edward Tulane
Pengarang: Kate DiCamillo
Penerbit: Candlewick Press
Tahun terbit: 2009 (first electronic edition)
Tebal buku: 183 halaman
ISBN: 978-0-7636-4942-5 (electronic)

Suatu hari, berbulan yang lalu di tahun 2014, dari sebuah akun olshop buku di Facebook, aku mendapat ebook yang berjudul The Miraculous Journey of Edward Tulane. Apa yang menarik hatiku pertama kali tentang buku ini di kala itu adalah nama Edward Tulane. Bukan, bukan malah ingat Twilight dengan Edward Cullen-nya, hoho. Bagiku Tulane itu sebuah nama yang asing dan aneh. Begitu pula ketika melihat nama pengarangnya, hmm Kate DiCamillo. Oke, ini boleh jadi berbau Perancis atau kalau tidak Itali.

Haha, pun setelah semakin menebak-nebak, aku pikir ini sebuah kisah petualangan yang dialami oleh seorang manusia. Namun setelah melihat cover lalu mengintip ke halaman pertama, tada.. ternyata kelinci. Lebih-lebih, ini rupanya petualangan sebuah boneka kelinci. What? Lebih-lebih setelah membaca lebih jauh lagi dalam ebook versi Bahasa Inggrisnya ini, si Edward Tulane melakukan perjalanan panjang bertahun-tahun. Benar-benar salah tebakanku rupanya, haha.

Baiklah, seperti yang telah kukatakan sebelumnya, buku ini bercerita tentang petualangan Edward – sebuah boneka kelinci porselen yang sangat bagus dan berbulu lembut. Dia dimiliki oleh seorang gadis kecil berusia 10 tahun bernama Abilene. Edward merupakan hadiah dari neneknya yang bernama Pellegrina. Abilene sangat menyayangi Edward. Dia memakaikan Edward berbagai macam pakaian yang bagus dan terbuat dari sutera. Bahkan Edward mempunyai sebuah jam saku cantik sebagai pelengkap penampilannya.

Namun tidak seperti Abilene yang begitu menyayanginya, Edward adalah boneka kelinci yang apatis, tidak merasakan emosi apapun dan merasa tersinggung saat seseorang menyebutnya sebuah boneka. Dia tidak menyayangi Abilene seperti gadis itu menyayanginya. Terlebih dia merasa bosan dengan kehidupannya yang itu-itu saja.

Hingga suatu kali, Abilene dan keluarganya membawanya berlayar ke Inggris. Ketika kapal tersebut melintasi lautan, sebuah insiden membuat Edward terlempar dari kapal dan jatuh tenggelam ke dasar lautan. Sesaat sebelum semua menjadi gelap dan kabur oleh air laut, dia sempat melihat Abilene yang berteriak memanggilnya dengan histeris. Edward juga sempat melihat jam sakunya di tangan Abilene sebelum sinar yang terpantul di jam tersebut meredup seiring semakin jauhnya Edward terjatuh ke dasar laut.

Nah, saat itulah, pertama kalinya dia merasakan sesuatu. Dia mampu merasakan sesuatu yang bernama “rasa takut”.
“…, he experienced his first genuine and true emotion. Edward Tulane was afraid.” (hal. 47-48)

Dan dimulai dari saat itulah perjalanan “ajaib”nya dimulai, sendirian tanpa Abilene. Dia dibawa dari laut oleh seorang nelayan tua bernama Lawrence yang ingin memberikan Edward kepada istrinya Nellie. Sang istri sangat senang dan memberinya nama Susanna. Yea, dia menyangka Edward adalah kelinci perempuan sehingga tak ayal dia pun diberi pakaian perempuan. Nellie sangat menyayanginya terutama dia bisa bercerita apapun kepada Edward. Yea, Edward memang tidak bergerak dan membalas ucapannya, namun Edward terlihat seperti mendengarkan semua perkataan Nellie. Dan Edward memang mendengarkan.

Namun dia tidak lama tinggal bersama Nellie dan Lawrence. Perjalanannya berlanjut saat Lolly, salah satu anak Nellie, membuangnya ke tempat pembuangan sampah. Perjalanan yang lebih menarik, terjal, dan tak terduga membuat boneka kelinci apatis ini mengenal beragam perasaan lainnya, seperti tersakiti (hal. 70), kegilaan (hal. 100), pulih/bangkit (hal. 104-105), berduka (hal. 124), menjadi kuat (hal. 133), berharap (hal. 140), dan lain-lain.

Menurutku ini adalah buku yang menarik. Selain karena twist-nya yang manis, hal lainnya adalah karena tokoh utama dari buku ini yang tak lain sebuah boneka. Sempat kuteringat dengan film Toys, dimana boneka-boneka tersebut mampu berbicara dan bergerak alias mempunyai jiwa. Namun, dibuku ini DiCamillo membatasi karakter Edward. Tidak seperti di film tersebut, Edward tidak mampu bergerak sendiri dan tidak mampu berbicara. Walaupun sedikit demi sedikit hal ini mengabur ketika buku ini akan berakhir. Edward mampu berbicara dengan boneka lainnya namun tidak dengan manusia. Yea, aku sedikit merasa terkejut dan merasa meh dengan hal ini. Namun boneka-boneka tersebut masih bersifat statis, tidak mampu bergerak dan aku merasa hal ini seperti sebuah poin plus.

Hal lainnya yang menarik adalah alur penceritaan yang bergerak maju dan mudah dicerna. Buku ini ringan dan cocok untuk porsi anak-anak, namun di dalamnya juga terdapat banyak pembelajaran yang menarik. Lika liku perjalanan yang Edward lakukan berikut berikut perkembangan emosi yang dialaminya, sempat membuatku sedih dan mengalirkan airmata. Yea, mungkin akunya yang sensitive, hehe.

Mungkin salah satu moral yang bisa kutarik dari buku ini adalah tentang rasa syukur. Terkadang kita alpa untuk bersyukur dengan apa yang telah kita miliki, sesempurna apapun hal itu. Namun ketika hal itu dicabut alias ditarik, mau se-sepele, sekecil apapun itu, kita akan merasakan sesuatu yang bernama kehilangan. Boleh jadi kehilangan yang amat sangat. Yea, umumnya kita merasa sesuatu yang kita miliki itu biasa dan melupakan keistimewaannya karena telah sangat amat terbiasa dengan kehadiran dan keistimewaan itu. Sampai akhirnya sesuatu terjadi, hehe. Jika kalian mau melihat lebih banyak quote menarik dari buku ini, klik di sini, ya. :D

Sedikit tambahan informasi, buku ini muncul di salah satu drama Korea berjudul My Love from the Star. Buku ini disukai dan dibaca berkali-kali oleh karakter utama pria di serial tersebut. Dan setelah kutelusuri lebih jauh lagi, DiCamillo juga adalah pengarang sebuah bestseller The Tale of Despereaux yang telah difilmkan oleh Universal Pictures. Tidak heran ini menjadi sebuah buku yang menarik untuk dilahap. :D

Rating: Better

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar