[Review] The Miraculous Journey of Edward Tulane by Kate DiCamillo – Buka Hati, Buka Pikiran
“If you have no intention of
loving and being loved, then the whole journey is pointless.” -The Old Doll
![]() |
gambar diambil dari sini |
Judul: The Miraculous
Journey of Edward Tulane
Pengarang: Kate DiCamillo
Penerbit: Candlewick
Press
Tahun terbit: 2009 (first
electronic edition)
Tebal buku: 183 halaman
ISBN: 978-0-7636-4942-5
(electronic)
Suatu hari,
berbulan yang lalu di tahun 2014, dari sebuah akun olshop buku di Facebook, aku
mendapat ebook yang berjudul The Miraculous Journey of Edward Tulane. Sesuatu yang
menarik hatiku pertama kali dari buku ini di kala itu adalah nama Edward
Tulane. Bukan, bukan malah ingat Twilight dengan Edward Cullen-nya, hoho.
Bagiku Tulane itu sebuah nama yang asing dan aneh. Begitu pula ketika melihat
nama pengarangnya: Kate DiCamillo. Oke, ini boleh jadi berbau Perancis atau
kalau tidak Itali.
Haha, setelah main tebak-tebakan, aku pikir buku ini bercerita tentang kisah petualangan yang
dialami oleh seorang anak manusia. Namun setelah melihat sampulnya lalu mengintip ke
halaman pertama, tada.. ternyata kelinci. Lebih-lebih, ini rupanya petualangan
sebuah boneka kelinci. What? Bahkan setelah membaca lebih jauh lagi dalam
ebook versi Bahasa Inggrisnya ini, si Edward Tulane melakukan perjalanan
panjang bertahun-tahun. Benar-benar salah tebakanku rupanya, haha.
Baiklah,
seperti yang telah kukatakan sebelumnya, buku ini bercerita tentang petualangan
Edward – sebuah boneka kelinci porselen yang sangat bagus dan berbulu lembut.
Dia dimiliki oleh seorang gadis kecil berusia 10 tahun bernama Abilene. Edward
merupakan hadiah dari neneknya yang bernama Pellegrina. Abilene sangat
menyayangi Edward. Dia memakaikan Edward berbagai macam pakaian yang bagus dan
terbuat dari sutera. Bahkan Edward mempunyai sebuah jam saku cantik sebagai
pelengkap penampilannya.
Tidak
seperti Abilene yang begitu menyayanginya, Edward adalah boneka kelinci yang
apatis, tidak merasakan emosi apapun dan merasa tersinggung saat seseorang
menyebutnya sebuah boneka. Dia tidak menyayangi Abilene seperti gadis itu
menyayanginya. Terlebih dia merasa bosan dengan kehidupannya yang itu-itu saja.
Hingga
suatu kali, Abilene dan keluarganya membawa Edward berlayar ke Inggris. Ketika
kapal tersebut melintasi lautan, sebuah insiden membuat Edward terlempar dari
kapal dan jatuh tenggelam ke dasar lautan. Sesaat sebelum semua menjadi gelap
dan kabur oleh air laut, dia sempat melihat Abilene yang berteriak memanggilnya
dengan histeris. Edward juga sempat melihat jam sakunya di tangan Abilene
sebelum sinar yang terpantul di jam tersebut meredup seiring semakin jauhnya
Edward terjatuh ke dasar laut.
Nah, saat
itulah, pertama kalinya dia merasakan sesuatu. Dia mampu merasakan sesuatu yang
bernama “rasa takut”.
“…, he
experienced his first genuine and true emotion. Edward Tulane was afraid.”
(hal. 47-48)
Dari saat itulah perjalanan “ajaib”nya dimulai, sendirian tanpa Abilene. Dia
dibawa dari laut oleh seorang nelayan tua bernama Lawrence yang ingin
memberikan Edward kepada istrinya Nellie. Sang istri sangat senang dan
memberinya nama Susanna. Ya, dia menyangka Edward adalah kelinci perempuan
sehingga tak ayal dia pun diberi pakaian perempuan. Nellie sangat menyayanginya
terutama dia bisa bercerita apapun kepada Edward. Ya, Edward memang tidak
bergerak dan membalas ucapannya, namun Edward terlihat seperti mendengarkan semua
perkataan Nellie. Dan Edward memang mendengarkan.
Namun dia
tidak lama tinggal bersama Nellie dan Lawrence. Perjalanannya berlanjut saat
Lolly, salah satu anak Nellie, membuangnya ke tempat pembuangan sampah.
Perjalanan yang lebih menarik, terjal, dan tak terduga membuat boneka kelinci
apatis ini mengenal beragam perasaan lainnya, seperti tersakiti (hal. 70),
kegilaan (hal. 100), pulih/bangkit (hal. 104-105), berduka (hal. 124), menjadi
kuat (hal. 133), berharap (hal. 140), dan lain-lain.
Menurutku
ini adalah buku yang menarik. Selain karena twist dan ending-nya yang manis, hal lainnya
adalah karena tokoh utama dari buku ini yang tak lain sebuah boneka. Sempat
kuteringat dengan film Toys, dimana boneka-boneka tersebut mampu berbicara dan
bergerak alias mempunyai jiwa. Namun, dibuku ini DiCamillo membatasi karakter
Edward. Tidak seperti di film tersebut, Edward tidak mampu bergerak sendiri dan
tidak mampu berbicara. Walaupun sedikit demi sedikit hal ini mengabur di beberapa halaman terakhir. Edward mampu berbicara dengan boneka lainnya namun
tidak dengan manusia. Ya, aku sedikit merasa terkejut dan merasa "hmm" dengan
hal ini. Namun boneka-boneka tersebut masih bersifat statis, tidak mampu
bergerak dan aku merasa hal ini seperti sebuah nilai tambah.
Hal lainnya
yang menarik adalah alur penceritaan yang bergerak maju dan mudah dicerna. Buku
ini ringan dan cocok untuk porsi anak-anak, namun di dalamnya juga terdapat
banyak pembelajaran yang menarik. Lika liku perjalanan yang Edward lakukan
berikut berikut perkembangan emosi yang dialaminya, sempat membuatku sedih dan
mengalirkan airmata. Mungkin akunya yang sensitif, hehe.
Salah satu moral yang bisa kutarik dari buku ini adalah tentang rasa syukur.
Terkadang kita lupa untuk bersyukur dengan apa yang telah kita miliki,
sesempurna apapun hal itu. Namun ketika hal itu dicabut alias ditarik, mau
se-sepele, sekecil apapun itu, kita akan merasakan sesuatu yang bernama
kehilangan. Boleh jadi kehilangan yang amat sangat. Umumnya kita merasa
sesuatu yang kita miliki itu biasa dan melupakan keistimewaannya karena telah
sangat amat terbiasa dengan kehadiran dan keistimewaan itu. Sampai akhirnya
sesuatu terjadi, hehe. Jika kalian mau melihat lebih banyak kutipan menarik dari
buku ini, klik di sini, ya. :D
Sedikit
tambahan informasi, buku ini muncul di salah satu drama Korea berjudul My Love
from the Star. Buku ini disukai dan dibaca berkali-kali
oleh karakter utama pria di serial tersebut. Dan setelah kutelusuri lebih jauh lagi,
DiCamillo juga adalah pengarang sebuah bestseller The Tale of Despereaux yang
telah difilmkan oleh Universal Pictures. Tidak heran ini menjadi sebuah buku yang menarik
untuk dilahap. :D
Rating: (4/5) really liked it
Comments
Post a Comment