Kamis, 08 Mei 2014

7 hal Terbaik yang Dilakukan Remaja Top - Suatu Pedoman Hidup Menuju Kedewasaan

“Pemuda-pemuda sekarang suka kemewahan. Mereka berperilaku buruk, merendahkan otoritas, tidak menghargai orang lain..!”

 
Judul: 7 hal Terbaik yang Dilakukan Remaja Top

Judul asli: The Best Thing (Smart) Teens Do
Pengarang: John C Friel, Ph.D dan Linda D Friel, MA
Penerbit: Kaifa
Tahun terbit: Cetakan I, Januari 2003
Tebal buku: 244 halaman
 
Pada saat ini banyak sekali kita mendengar berbagai macam penilaian ataupun perkataan para orangtua yang bernada miris dan sinis kepada para remaja sekarang. Yang pada umumnya berkaitan dengan perilaku buruk mereka. Padahal itu semua tidak terlepas dari peran orangtua dalam memberikan pendidikan atau menyikapi segala tingkah laku anak-anaknya.

Seiring dengan perkembangan zaman, tantangan hidup yang dialami para remaja sekarang sangatlah berbeda dengan masa-masa sebelumnya atau masa para orangtua mereka. Sehingga timbullah berbagai hal yang membingungkan dan menyulitkan bagi para orangtua dan anak-anak mereka. Namun tetap saja ada solusi untuk memecahkan masalah masa kini seperti juga pada masa lalu. Seperti apakah solusi yang baik dan tepat itu?

Berawal dari berbagai tingkah laku para remaja dan sikap orangtua (orang dewasa) inilah John C Friel, Ph.D dan Linda D Friel, MA, yang berprofesi sebagai psikolog dan menangani terapi individu dan keluarga ini mengeluarkan solusi dan pendapat mereka dalam sebuah buku yang berjudul Teens on 7 (7 Hal Terbaik yang Dilakukan Remaja Top). Buku ini tersusun atas 19 bab yang dikelompokkan lagi menjadi 4 bagian, yaitu: (1)Penderitaan dan kenikmatan, kekuatan dan kemuliaan, (2)Tujuh langkah cerdas, (3)Kiat-kiat, (4)Bawa semuanya pulang.

Pada awal bab (Bab 1-2), penulis memaparkan tentang segala tingkah para remaja, penyebabnya, dan bagaimana para orangtua sekarang menyikapinya. Namun masih berupa penjelasan yang bersifat umum.
Perbedaan para remaja sekarang dengan saat para orangtua mereka remaja, disebutkan oleh John dan Linda sebagai konflik antar generasi. Tentunya masalah para remaja sekarang tidak dapat diatasi dengan cara yang sama dengan para orangtua mereka pada saat dulu. Namun bukan berarti pula tidak ada solusinya.

Setiap manusia, khususnya para remaja yang akan beranjak pada masa dewasa membutuhkan suatu perjuangan. Diantaranya perjuangan untuk membebaskan diri dari peran ‘korban’ dan ‘pelaku’, terutama pada tindak kekerasan. Karena bias diasumsikan bahwa kebanyakan korban dan pelaku tindak kekerasan itu menganggap bahwa solusi atas masalah mereka adalah si Korban harus merasakan menjadi pelaku tindak kekerasan. Begitu pula sebaliknya, si Pelaku haruslah merasakan dirinya menjadi korban. Solusi tersebut dipandang salah oleh sepasang suami-istri psikolog ini. Solusi bagi keduanya adalah menjadi seseorang yang dewasa dan bertanggungjawab. Hal ini membutuhkan suatu perjuangan untuk tumbuh menjadi kuat. Dan inilah tantangan hidup yang bukan hanya untuk para remaja saja.

Adapun 7 langkah cerdas dalam mengarungi masalah remaja yang merupakan judul pokok buku ini dipaparkan pada bab ke-4 sampai dengan bab ke-11, dimana terangkum pada bagian ke-II. Namun isi bagian ke-II ini masih terbatas pada pemahaman dan proses pembelajaran dari 7 langkah cerdas tersebut.

Langkah cerdas tersebut adalah (1)Mengembangkan kemampuan paling tidak dalam satu bidang dan (2)Mempunyai kecerdasan emosional (EQ) yang baik (Bab ke 4-5). Namun hal ini tentunya diiringi dengan rasa penerimaan diri dan rasa memiliki. Seperti persepsi yang akurat tentang diri mereka sendiri termasuk keterbatasan mereka. Buku ini menjelaskan pula bahwa kunci untuk menuju kecerdasan emosi ialah belajar memahami perasaan sendiri, mendengarkan apa yang mereka katakana, dan kemudian bertindak sepantasnya. Penguasaan emosi merupakan sesuatu yang harus dipelajari oleh setiap orang sebelum mereka memasuki kedewasaan psikologis dengan mengendalikan mereka, bukan menekannya.

Suatu pola yang sangat memprihatinkan dan banyak terjadi di dalam keluarga pada saat ini adalah semakin jarangnya para orangtua berada di rumah. Ini karena disibukkan oleh berbagai urusan pekerjaan dan mereka hanya memberikan ceramah bukannya mendengarkan segala keluhan anak-anak mereka. Hal ini membuat si Anak ‘menjerit diam’ (seperti yang disebutkan John dan Linda).

Namun tidak jarang pula mereka menumpahkan segala permasalahan mereka kepada teman-teman mereka. Namun terlepas dari itu semua, anak-anak maupun remaja yang sedang bermasalah memang lebih baik untuk mengumpulkan kekuatan mereka untuk berbicara kepada orang dewasa terdekat. Karena perlu diakui, mereka mempunyai lebih banyak pengalaman dan pemahaman dalam memberikan solusi yang terbaik. Itulah langkah cerdas lainnya, yaitu (3)Mempunyai teman yang bisa diandalkan, dan (4)Dapat memanfaatkan kekuatan yang dimiliki secara positif, (Bab 6-7).

Adapun langkah cerdas lainnya ialah, (5)Tidak boleh lari dari masalah yang serius, (6)Berusaha menemukan jati diri, dan yang terakhir (7)Tidak melakukan hal-hal yang ekstrim (berbahaya). Ketujuh langkah cerdas ini disajikan dengan baik oleh suami-istri Friel, walaupun hanya sebatas pemahaman dan pengaruh untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, bagian ke-III dari buku ini yaitu bab 12-18, berisikan kiat-kiat tentang cara-cara yang baik untuk memudahkan dalam mengaplikasikan langkah cerdas diatas. Sebagai contoh, untuk menerapkan langkah cerdas pertama, penulis menawarkan agar para remaja mendapatkan atau mencari seseorang yang tahu tentang apa yang ingin kamu ketahui, misalnya dnegan membaca riwayat hidup seseorang. Kemudian dalam menerapkan langkah cerdas kelima, John dan Linda menganjurkan caranya yaitu dengan berani menyingkap dan mengakuinya. Begitu pula dengan kiat-kiat lainnya yang disajikan dengan baik dan cukup jelas. Adapun bagian yang terakhir, yang hanya terdiri dari 3 halaman, John dan linda hanya memberikan kesimpulan ulang dari segala pembahasan dan kembali meyakinkan bahwa hal-hal yang disajikan pada bab-bab sebelumnya sangatlah bagus untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun buku ini tetap memiliki beberapa kekurangan. Diantaranya ada sebagian kata-kata ataupun kalimat yang kurang bias dimengerti dnegan mudah dan menjadikan bagian awal buku ini kurang menarik, walaupun masih bisa ditelaah apa maksudnya. Mungkin hal ini berkaitan dengan masalah penerjemahan isi buku.
Dilain pihak, buku ini sarat akan kisah menarik yang dapat kita ambil hikmahnya. Kisah-kisah itu terasa pas dengan topic pembahasan. Selain itu buku ini juga membuka pengetahuan dan wawasan kita dalam bidang psikologi serta pengetahuan tentang bagaimana menjadi remaja yang sebaik-baiknya.

Singkatnya buku ini merupakan pedoman bagi para remaja menuju kebahagiaan dan keberhasilan. Serta sebagai denah jalan yang unik menuju kedewasaan dnegan berbagai fakta, data, teori, serta gagasan-gagasan yang ada. Karena remaja yang mendengarkan pikiran dan hatinya akan mampu melewati masa remaja yang sukses. Begitu pula dalam memperbaiki hubungan para remaja dan orngtua yang sering terjadi kesalahpahaman. Karena buku ini juga tidak terbatas bagi para remaja, para orangtua maupun para pendidik dapat memeperoleh berbagai pemahaman dari dalam buku ini.

Rating:Good

P.S: Ini review yang kubuat untuk keperluan tugas Bahasa Indonesia waktu SMA beberapa tahun yang lalu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar