Review Novel The Plotters karya Un-Su Kim

Dia tumbuh besar dalam perpustakaan yang dipenuhi pembunuh bayaran, penembak sewaan, dan pemburu hadiah.


Judul: The Plotters
Penulis: Un-Su Kim
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Yuli Pritania
Penerbit: Noura Books
Terbit: Cetakan ke-1, Juli 2020
Tebal buku: 409 halaman
ISBN: 978-623-242-119-6

Buku ini salah satu yang kutunggu kedatangannya. Pindah dari Batam, ada banyak barang yang diputuskan untuk dibawa melalui kargo. Tumpukan bacaanku salah satunya. Termasuk didalamnya The Plotters yang untunglah bisa sampai dengan selamat tanpa kerusakan seperti beberapa buku lainnya.

Dari luar, novel ini membuatku tertarik sebab dua hal. Pertama, kemasannya. Desain sampulnya enak dipandang mata. Novelnya juga terlihat tidak begitu tebal. Ditambah yang kupunya ini edisi bertanda tangan. Hehe, rasanya ini kali pertama punya buku bertanda tangan penulisnya.

Kedua, novel ini merupakan karya penulis Korea Selatan. Latarnya juga menggunakan negara tersebut. Aku pun merasa bakal dapat nuansa yang berbeda kala menikmati novel ini. Berbau Asia dan tentunya tidak sama dengan bacaanku kebanyakan. Ditambah lagi novel ini mendapat ulasan yang positif. Ah, jadi makin gak sabar buat baca.

Lalu apakah kesan positif tersebut bisa bertahan hingga halaman terakhir? Sebelum itu, mari kita lihat dulu alur ceritanya.

The Plotters membahas sebuah dunia pembunuhan berencana yang dilakukan oleh sebuah sindikat. Mereka melakukan pembunuhan berdasarkan pesanan yang datang. Pembunuhan dilakukan dengan rapi. Mayat korban pun diperlakukan dengan sebaik mungkin agar tidak terendus oleh pihak berwajib.

Anggota yang terlibat di sindikat ini sangat banyak. Tersusun mulai dari Ketua sebagai narahubung sekaligus penerima pesanan. Lalu ada Perencana (the plotters) dan ada pula eksekutor alias si Pembunuh bayaran yang akan melakukan tugas tersebut.

Perencana akan membuat skenario yang detail tentang bagaimana para pembunuh nanti melakukan tugasnya. Mulai dari lokasi, senjata yang digunakan, hingga akhirnya bagaimana membereskan mayat korban. Membuat miris namun menarik, bukan?

"Ketika melihat betapa dia gemetar hebat, aku ingin tahu secara persis siapa yang duduk di meja, memutar-mutar pena, dan merancang rencana keparat ini." - Chu, hlm.93

Lalu pembaca punya tokoh bernama Reseng. Salah satu pembunuh dari sindikat (sebut saja Perpustakaan) yang dibangun oleh Rakun Tua. Sindikat ini telah berdiri selama 40 tahun dan sangat disegani. Namun tidak ada yang abadi.

Muncul sindikat lain yang didirikan oleh Hanja, yang tak lain tak bukan sudah seperti anak asuh Rakun Tua sendiri. Aku lupa nama sindikat yang didirikannya. Yang jelas Hanja menjadi saingan yang meresahkan. Bisnis Rakun Tua ini menggunakan konsep lama berbeda dengan yang Hanja lakukan.

Reseng terlibat dalam perseteruan tersebut. Apalagi ketika muncul satu tokoh lain yang diam-diam bermaksud menghancurkan kedua sindikat tersebut dengan latar balas dendam atas kematian kedua orangtuanya. Tokoh ini lumayan berani dan pintar sehingga berhasil menyusup sebagai salah seorang Perencana.

Siapakah dia? Reseng hampir terbunuh gara-gara orang ini. Apakah nyawa Reseng akan selamat meski dia telah terlibat secara emosional? Lalu bagaimanakah penulis akan mengakhiri novel ini?

Dunia sindikat pembunuh berencana ini digambarkan dengan baik sehingga menjadi menarik. Dalam artian, di novel ini, bisnis tersebut digambarkan menjanjikan dan banyak klien yang menyewa mereka untuk melakukan pekerjaan kotor tersebut. Entah memang ada di dunia nyata atau tidak, bisnis seperti ini memang mengerikan.

Terutama terkait mental si Pembunuh bayaran sendiri. Novel ini menggambarkan bagaimana kondisi mental mereka saat akan membunuh hingga sesudahnya (tidak hanya dari sudut pandang Reseng si tokoh utama namun ada juga dari sisi pembunuh lainnya).

Setiap kali pulang dari membunuh, dia dipenuhi inersia--kelembaman. Itu bukan perasaan bersalah, juga bukan ketidaksenangan atau perasaan benci terhadap diri sendiri, tetapi benar-benar hanya inersia. - hlm.256

Bagaimanapun manusia merupakan makhluk yang memiliki emosi. Dan pekerjaan tersebut membuat kondisi mental Pembunuh menjadi tidak baik. Bukan hanya dari tugas untuk membunuh saja, melainkan juga dari konsekuensi jika mereka gagal atau menolak ataupun jika ingin keluar alias kabur dari pekerjaan tersebut. Penulis memberikan paket lengkap kepada pembaca terkait dunia ini (yang semoga saja hanya rekaan semata).

Tentunya ada banyak karakter lain yang terlibat di novel ini, baik secara dominan maupun pelengkap. Banyak yang menyukai karakter Reseng. Dia seorang Pembunuh bayaran yang ahli dalam melakukan tugasnya namun juga mempunyai sisi unik.

Reseng ini suka membaca buku dan juga punya dua ekor kucing peliharaan. Jadi tokoh ini tetap digambarkan manusiawi bukan semacam super assasin yang dingin dan semacamnya.

Boleh jadi disinilah letak kelihaian penulis yaitu Un-Su Kim dalam meramu novel ini. Karakter Reseng memang memiliki daya tariknya sendiri. Namun menurutku para karakter lainnya juga tidak kalah dengan Reseng.

Bisa dibilang karakter lainnya memiliki kompleksitas tersendiri. Dibangun dengan tidak asal-asalan. Setiap karakter terasa "kuat". Masing-masing memiliki latar belakang serta alasan tersendiri yang membuat mereka mau tidak mau hingga akhirnya mampu terlibat dengan dunia mengerikan seperti itu. Menyimak kehidupan para karakter lainnya selain Reseng menurutku memberikan nilai tambah positif terhadap novel The Plotters ini.

Secara keseluruhan The Plotters menawarkan kisah yang menarik sekaligus mengganggu. Pembunuhan dijadikan bisnis yang terorganisir sehingga menjadi pekerjaan yang memiliki konsekuensi sendiri seperti dunia kerja lainnya. Terlepas dari sisipan budaya Korea tempat para karakternya hidup, pembaca seperti dibawa ke dunia asing dengan penghuninya yang memiliki kehidupan berbeda dari kebanyakan.

Novel ini memang menawarkan premis berupa kehidupan serta dunia pembunuh bayaran yang menarik. Namun di satu sisi, alur ceritanya tidak gegap gempita ataupun spektakuler dengan aksi luar biasa maupun alur yang penuh intrik dan plot twist sebagaimana novel bertajuk kriminal lainnya.

Penulis tampaknya lebih mengajak pembaca melihat sisi manusia dari tokoh utama dan dari banyak karakter lainnya. Alur ceritanya menurutku lebih menyoroti kehidupan mereka sebagai makhluk yang membutuhkan pekerjaan untuk hidup. Hanya saja mereka memilih ataupun jatuh terlibat dengan pekerjaan yang seperti itu.

The Plotters mendapatkan banyak ulasan positif dan penulisnya pun tidak sembarangan (pernah mendapatkan penghargaan menulis yang prestisius di Korea dan nominasi bergengsi lainnya). Bisa disimpulkan jika novel ini memang menarik dan enak dibaca. Jadi silahkan dicoba apalagi jika ingin bacaan bergenre thriller ataupun kriminal yang berbeda serta tentunya bercitarasa Asia.

Rating: 4/5 (really liked it)
Kutipan menarik dari buku ini:

Beberapa orang memang memiliki wajah seperti itu. Orang dengan perasaan batin yang tidak pernah bisa ditebak, yang terus menerus tersenyum walaupun mereka sedang sedih atau marah. - hlm.9

Sama seperti tanaman yang tumbuh di mana pun ia berakar, maka semua tragedi kehidupanmu berasal dari tempat mana pun kau pertama kali menjejakkan kaki. - hlm.36

Begitu banyak orang yang berjuang mengatasi kesulitan dan rasa frustasi dan akhirnya meraih tujuan mereka, semuanya tewas oleh anak panah orang idiot karena mereka gagal melindungi satu-satunya kelemahan kecil mereka. - hlm.41

Seperti biasa, waktu punya cara untuk berjalan melingkar dan menggigit bokongmu. - hlm.47

Siapapun kita, kita semua harus berjuang dalam pertempuran kita sendiri untuk meraih kebahagiaan. - hlm.221

Kalau kau tidak bisa mengingat seseorang, tidak ada alasan untuk bersedih. - hlm.307

Kisah menyedihkan pahlawan yang memburu monster, hanya untuk menjadi monster juga, pada akhirnya. - hlm.318

Orang menyembunyikan motivasi sejati mereka, bahkan dari diri mereka sendiri. Dan, mereka harus menciptakan motivasi palsu agar bisa terus menipu diri sendiri. - hlm.357

Orang mengira penjahat sepertiku akan masuk neraka, tapi itu tidak benar. Penjahat sudah berada di neraka. Menjalani setiap momen dalam kegelapan tanpa sedikit pun berkas cahaya dalam hatimu. Neraka yang sejati adalah hidup dalam keadaan takut terus-menerus, bahkan tanpa menyadari bahwa kau berada di neraka. - hlm.386-389

Comments

  1. Udah sering liat buku ini tapi baru tau kalo ternyata seseru ini! Berarti ini bukunya tentang pembunuhan tapi dari sudut pandang pembunuh kan Mba? Karena biasanya kan buku mystery gini tuh dari sudut pandang korban atau detektif gitu jadi unik banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan seru di satu sisi. Tapi gak "meriah" banget seperti novel crime lainnya. Ada banyak renungan tentang kehidupan gitu juga.

      Iya bisa dibilang melihat dari sudut pandang pembunuh dan orang2 yang hidup di dalam jaringan pembunuh bayaran. Kayak masuk ke dunia lain. Hehe..

      Silakan cobain langsung Tika.. :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Review] The Silmarillion by J.R.R Tolkien – Sebuah riwayat yang panjang

[Review] Maybe Someday by Colleen Hoover – Musik dan pilihan hati

[Review] Le Petit Prince by Saint-Exupery – Perenungan sederhana tentang kehidupan