Buku-buku yang belum diulas di 2019


Tidak banyak aktivitas blogging termasuk juga aktivitas baca selama tahun 2019 lalu. Seperti yang pernah kutulis di postingan sebelumnya, penyebabnya adalah beberapa hal di dunia nyata yang lumayan menyita perhatian. Skala prioritas pun diterapkan. Lalu ketika merasa lapang (ada waktu luang, pikiran tenang) serta semakin rindu untuk ngeblog di Bukulova, rindu pula membaca, kedua aktivitas tersebut kumulai lagi.

Lalu, apakah di 2019 sama sekali tidak membaca buku? Tidak juga. Di tahun tersebut, tepatnya di sekitar awal tahun, aku sempat menuntaskan dua buku. Hanya saja ulasannya belum sempat kutuliskan.

Hal ini hampir mirip dengan yang terjadi di 2018. Beberapa buku yang telah dibaca namun belum diulas itu membuatku merasa berhutang. Sebab tujuan utama Bukulova dibuat adalah untuk mendokumentasikan buku-buku yang telah selesai dibaca. Jadi, ya, melalui postingan ini, aku kembali mengumpulkan niat dan ingatan untuk mengulas secara singkat kedua buku yang sempat kubaca di 2019 lalu.

1| The Life-Changing Magic of Tidying Up - Marie Kondo


Buku nonfiksi satu ini merupakan best-seller di banyak negara, termasuk Indonesia. Penulisnya tidak kalah populer, pernah diundang mengisi acara televisi di Amerika. Konsep dan cara berbenah/beberes rumah yang diusung oleh Marie Kondo (dikenal dengan metode Konmari), berikut filosofi yang menyertainya, serta manfaat yang didapat dari kegiatan tersebut sangat menarik untuk disimak.

Secara kasat mata, buku ini terdiri dari lima bab. Setelah tuntas membaca, aku bisa menyimpulkan isi buku ini ke dalam tiga bagian yaitu mengapa (bab 1), bagaimana (bab 3-4) dan apa (bab 5).

Kerap setelah berbenah, rumah atau tempat kerja dapat kembali berantakan dalam waktu singkat. Hal ini bisa membuat seseorang jadi malas/jera karena terasa percuma. Merapikan berulang kali juga menyita waktu dan energi yang tidak sedikit. Menurutku bab pertama dari buku ini dapat menjawab pertanyaan mengapa kita sering gagal berbenah.

Marie bercerita tentang kegemarannya berbenah sejak kecil. Dia juga berbagi tentang kendala apa saja yang bisa ditemui saat melakukan hal tersebut. Disusul dengan cara apa saja yang sebelumnya ia tempuh agar kegiatan tersebut tidak sia-sia. Dari situ, ia pun menyimpulkan kalau berbenah juga memerlukan metode khusus dan bisa dipelajari.

Pada bagian pendahuluan di buku ini, kiat sukses yang ditawarkan oleh Marie dalam berbenah/beberes rumah/tempat kerja itu dimulai dari membuang, kemudian rapikan ruangan secara menyeluruh, sekaligus dalam satu waktu.

Perihal bagaimana melakukannya secara detail bisa dibaca pada bab 3-4 yaitu tentang cara membuang, merapikan, dan menyimpan barang. Metode yang diajarkan oleh Marie Kondo menarik. Baca langsung bukunya, ya, kalau penasaran, hehe.

Aku belum pernah memikirkan teknis berbenah yang baik berikut kriteria manakah yang sebaiknya dipakai saat hendak membuang barang. Buku ini lumayan membantu karena aku juga tertarik untuk merapikan barang-barang yang kumiliki. Rasanya kalau melihat dan tinggal di tempat yang rapi itu lebih menenangkan dan membantu untuk fokus saat melakukan pekerjaan lainnya.

Ya, berbenah mungkin terlihat sepele. Namun jika dipikirkan, kegiatan ini bisa memberikan manfaat positif. Merapikan ruangan dan bertanggung jawab terhadap barang-barang yang dimiliki secara tidak langsung seperti merapikan kehidupan. Beragam manfaat lainnya bisa dibaca di bagian terakhir buku (bab 5).

Singkatnya buku ini membantu pembacanya dalam berbenah termasuk membuang barang-barang yang tidak dibutuhkan dan tidak berarti. Dampaknya jika dilakukan, rumah akan menjadi rapi. Secara tidak langsung turut memberikan efek positif bagi kehidupan sehari-hari. (Rating: 4/5 (really liked it)

2| Mrs. McGinty’s Dead - Agatha Christie


Rasanya sudah cukup sering aku bercerita tentang hal ini. Tapi, ya, sudahlah, aku akan cerita lagi, haha. Semoga pembaca tidak bosan.

Aku pernah mengunjungi bazar buku murah di salah satu toko buku di kota kelahiranku ini. Harga buku-buku di sana murah meriah. Meskipun bukan terbitan baru, pecinta buku manapun pasti akan tergoda untuk membeli. Buku-buku yang ditawarkan pun dalam kondisi baik (bersegel).

Aku melihat beberapa bundel buku Agatha Christie disana. Satu bundel berisi 10 buku dengan harga tiga puluh rupiah saja. Luar biasa! Otomatis aku beli, donk. Lagi pula buku-buku tersebut belum pernah kubaca. Nah, salah satu bukunya berjudul Mrs. McGinty;s Dead.

Buku ini masih berkisah tentang Poirot yang menangani kasus pembunuhan. Blurb-nya menarik sekali.

Hercule Poirot mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melongok. Ya, kereta api yang ditunggunya akhirnya tiba. Lalu sekonyong-konyong ada yang sengaja mendorongnya dengan keras….

Poirot hampir berhasil menangkap seorang pembunuh. Kini ia sendiri nyaris menghadapi maut.

Ia harus bertindak cepat--kalau mau selamat, dan harus menyelamatkan orang yang tak bersalah dari hukuman gantung atas tuduhan pembunuhan keji terhadap seorang wanita tua yang “tak punya musuh”.

Cuma sedikit yang terlintas di kepalaku tentang karakter Mrs. McGinty. Kalau tidak salah ia punya rumah sewa dan tidak sepenuhnya “bersih”. Semacam suka kepo dengan urusan orang lain, haha.

Jujur aku sulit mengingat apalagi secara detail kisah ini. Makanya kutuliskan saja blurb-nya.

Satu hal yang tidak berubah, menurutku sampul buku edisi ini tetap menarik. Sepertinya itu alasan pertama aku memilih judul ini diantara teman-temannya yang lain.

Penutup

Sebenarnya aku sangat jarang mau baca ulang buku-buku yang telah kulahap. Saat menulis postingan ini, kok jadi pengen, ya, reread buku Christie dan buku Marie Kondo di atas. Mungkin kalau tbr di rumah ini berhasil dibereskan, aku akan mempertimbangkan membaca ulang beberapa buku. :D

Setidaknya untuk saat ini, hutangku kepada diri sendiri sudah lunas. Semoga tidak terulang lagi, haha. Solusinya ya memang harus rajin dan tegas ke diri sendiri. Komitmen yang sudah dibuat sebisa mungkin dilaksanakan. #semangat :D

Comments

  1. Marie Kondo kayaknya bagus deh baca ulsannya mbak, aku punya tapi belum baca. habis ini deh aku mau baca ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. Menurutku bagus bukunya. Menginspirasi juga terutama biar makin rajin beres2 & gak nimbun barang. Silakan dicoba kak. :D

      Delete
  2. Aku mulai rutin dan konsisten baca #oneweekonebook, itu sejak resign 2020, sampai sekarang :D. Sebelumnya baca sih tetep, tapi ga bisa seminggu 1 buku. Kerjaan kantor yg hrs diprioritasin, ditambah sampe rumah aja malem :p. Ga mungkin bisa namatin buku2 tebel favoritku.

    Setelah resign, sambil ngisi waktu biar ga bosen, baru deh perpustakaan pribadiku aku urus lagi. Buku2 yg dibeli tapi blm sempet baca dipisahin, dan jadi target buat bacaan seminggu, tapi sekalian aku tulis reviewny juga mba.

    Cuma memang ga di blog, kayak gini, tapi di IG. Kalo blog ttp hanya ttg traveling dan kuliner aja. Sbnrnya pengin sih aku bikin blog khusus hanya mereview buku. Cuma kok agak males yaa wkwkwkwkwk. Lebih enak di IG kalo nulis review, lagian aku ga bisa bikin review terlalu panjang kalo utk blog.

    Ya ampuuuuun itu happy banget bisa Nemu buku 10 cuma 30rb :o. Aku bakal borong juga sih mba :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perjalanan baca setiap orang beda2 ya kak. Dan seru juga nih dengar cerita kak fani dan buku2nya. :D

      Aku pengen bisa one week one book. Biar teratur aja dan cepet habis timbunan haha.

      Tapi sekarang belum bisa. Kalau aku paksain takut bakal jadi beban. Haha.

      Salut buat temen2 yg bisa dan lancar #oneweekonebook nya :D

      IG sekarang sdh semacam microblogging kan kak. Banyak juga yg dulu rutin nulis di blog, pindah ke ig. Kalau cocok sharing review disana, lanjutkan aja. Semangadh kak.

      Bener banget kak. Murah meriah dan ori juga. Apa gak senang hati jadinya. Hihi.

      Delete
  3. Aku juga tertarik sama kedua buku di atas. Sudah lama banget pingin baca bukunya Marie Kondo tapi takut nggak dilaksanakan jadi males hahaha. Tapi aku pernah menonton video-video dia di Youtube dan yang menarik buatku sih filosofi beberes dia yaitu "pilih mana barang yang mau disimpan" bukan "pilih mana barang yang mau dibuang" yang lebih sering kita pakai biasanya. Dengan begini, jadinya kita lebih berpikir aktif, bener nggak mau keep barang ini? Aku sendiri baru pernah nerapin di lemari aja, dan berakhir dengan dua plastik baju untuk dikasih-kasihin. Jadi cukup berhasil yaa hehehe.

    Terus soal Agatha Christie, aku baru aja baca Magpie Murders karya Anthony Horowitz dan itu memang terinspirasi sama Agatha Christie, tapi dia di zaman modern, jadi lebih nyambung. Kalau mbak belum baca, boleh tuh dicoba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha coba aja kak. Habis baca mana tau bukan males. Kaka anin malah jadi makin pengen eksekusi beres2. :D

      Iya kak videonya banyak di youtube. Betul juga yg kak Anin bilang kalau konsepnya bantu kita memutuskan barang mana yg mau disimpan. Semacam cara menyimpan barang dengan lebih bijak.

      Haha aku pernah nyoba juga kak. Ngerapihin lemari pakaian. Beberapa aku keep buat dijualin kak. Niatnya pengen belajar jualan. Tapi nyampe detik ini baru nyampe "niat". Belum juga dieksekusi. :') :D

      Wah kedengarannya menarik. Aku belum pernah baca. Makasih rekomendasinya kak.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Review] The Silmarillion by J.R.R Tolkien – Sebuah riwayat yang panjang

[Review] Maybe Someday by Colleen Hoover – Musik dan pilihan hati

[Review] Le Petit Prince by Saint-Exupery – Perenungan sederhana tentang kehidupan