Pengalaman Aneh di sebuah Toko Buku

Literatourism - Sudah lama ingin bercerita tentang ini. Hanya saja untuk memulainya sulit (baca: ditunda-tunda). Akhirnya dua tahun pun berlalu, haha. Meski detail ingatan tentang kejadian tersebut agak samar-samar, kesan yang ditinggalkan masih lumayan kuat.

sumber unsplash | edited by me

Awal Mula

Oke, langsung saja. Waktu itu aku dan suami pergi ke luar kota. Di sana kami menginap dan mengunjungi beberapa tempat, termasuk ke sebuah toko buku yang lumayan besar (tiga lantai, kalau tidak salah ingat). Karena aku menyukai bacaan fiksi, maka kami menghabiskan sebagian besar waktu di area tersebut. Suasana saat itu sepi (mungkin karena tengah hari). Seingatku, hanya ada aku, suamiku, seorang pengunjung lainnya dan sekitar dua atau tiga orang pramuniaga toko. Di sinilah kejadian aneh itu terjadi. Apakah ada penjelasan logis dibaliknya, aku tidak tahu.  

Aku berencana untuk membeli beberapa buku dari toko tersebut. Aku pun mulai mencari dengan menyusuri (katakanlah) koridor di area buku-buku fiksinya. Di kiri kananku tertutup rak berwarna hitam yang penuh berisi buku-buku. Aku berjalan pelan hingga ke ujung luar dari koridor tersebut. Di ujungnya kutemui sebuah dinding putih yang juga tertutup oleh deretan rak tinggi penuh buku. Aku yakin benar, kondisi saat itu kosong/sepi. Hanya aku yang menyusuri koridor tadi karena suamiku sedang berda di koridor sebelah, entah sedang melihat buku apa. Saat menyusurinya, aku sendiri tidak menyentuh semua buku di koridor itu. Hanya yang menarik perhatianku saja. Dan itu pun tidak banyak. Setelah selesai, aku letakkan kembali dengan semestinya.

Kejadian Aneh

Keanehan muncul ketika aku telah tiba di ujung lorong. Fokusku berpindah. Aku mulai mengamati buku-buku yang ada di rak yang menempel di dinding itu. Saat itulah dari arah belakang, tiba-tiba terdengar suara gedebuk. Ada sesuatu yang jatuh. Jika kamu berada di toko buku, pasti sudah bisa menebak, apa yang jatuh. Ya, satu buku jatuh dari rak di koridor tadi. Aku segera memutar kepala untuk memstikan. Pandanganku pertamakali jatuh ke lantai. Bola mataku menyusuri  lantai koridor tersebut. Tampak ada buku yang tergeletak di lantai. Lalu aku mengangkat kepalaku dan melihat ke ujung koridor yang satunya. Di sana ada satu pengunjung yang juga sedang menatapku dengan pandangan terkejut. Kami sekejap saling berpandangan dari ujung-ujung koridor tersebut.

Aku dan pengunjung tersebut hanya sebatas saling berpandangan. Diantara kami tidak ada yang bergerak untuk mengambil buku yang terjatuh. Aku terhanyut dengan keherananku. Melihat dari sikap dan posisi berdirinya, sangat tidak mungkin pengunjung itu yang menjatuhkan buku tersebut. Jarak buku yang terjatuh di koridor itu lebih dekat dengan tempatku berdiri.

Sepertinya di koridor lain, tak jauh dari tempat buku itu terjatuh, ada pramuniaga toko yang sedang bekerja merapikan buku-buku. Setelah puas saling memandang kebingungan tadi, beberapa detik kemudian aku mendengar seorang penjaga toko menyuruh seorang temannya untuk mengambil buku yang terjatuh tadi. Aha! Ternyata mereka juga mendengarnya dan menyadari ada buku yang tiba-tiba terjatuh dari rak.

sumber: unsplash

Aku ceritakan kejadian tersebut kepada suami. Okelah, anggap saja aku yang kurang rapi meletakkan buku yang sempat kulihat ketika melintasi rak tersebut. Meski aku yakin, buku yang jatuh itu bukanlah buku yang aku ambil untuk diamati dan dibaca sinopsisnya. Aku mencoba berpikir rasional dan otakku mencoba menyediakan alasan sesuai logika. Tak lama setelah puas berkeliling, aku dan suami hendak pergi ke kasir untuk membayar buku yang kami minati. Kami menuju kasir sambil melihat sebentar ke rak yang kebetulan belum kami amati dan rak-rak tersebut searah dengan meja kasirnya.

Sebelum Pulang

Kalau tidak salah ingat, di rak tersebut ada banyak buku detektif terjemahan semacam Sherlock Holmes dll. Aku ambil satu buku dan mulai membaca sinopsis di sampul belakangnya. Suami berdiri disampingku entah mengamati apa. Tangannya penuh dengan beberapa buku yang akan kami bayar. Lalu terjadi lagi. Suara kedebug itu sekali lagi terdengar. Jelas. Satu buku lagi terjatuh dan kali ini posisinya tak jauh dari tempat kami berdiri. Di sampingku, di sebelah kiriku.

Aku merasa sangat heran dan memandang suami yang juga ternyata sama terkejutnya. Lalu saat pandanganku beralih kembali ke rak tersebut, rasanya dengan jelas kulihat ada satu lagi buku yang menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai. Jadi total disampingku ada dua buku yang terjatuh.

Tidak mau berurusan dengan hal-hal ganjil seperti ini, suami lantas memberi aba-aba agar kami segera saja ke kasir dan membayar buku yang mau kami beli. Tidak usah pedulikan kenehan yang barusan terjdi di depan mata. Aku pun menurutinya. Kami berjalan ke arah kasir dan otakku mencerna semua kejadian tersebut. Apakah ada gempa barusan? Apakah ada hembusan udara dari AC yang terlalu kencang sehingga buku tersebut jatuh? Apakah sebelumnya ada pengunjung lain yang mengambil buku itu dari rak dan tidak dikembalikan dengan baik sehingga bukunya oleng dan terjatuh? Apakah ada petugas toko yang tidak menyusunnya dengan benar? Makin lama asumsiku malah jadi berburuk sangka dengan orang lain, duh.

Oh, ya, saat mengikuti suami berjalan ke kasir sembari berpikir tentang kejadian itu, aku sempat menoleh sejenak ke belakang. Tampak seorang pramuniaga toko mengambil buku yang jatuh tadi dari lantai dan menaruh di raknya kembali.

Penutup

Baiklah, mungkin tidak perlu berspekulasi apapun mengenai apa yang terjadi. Pun ini sudah dua tahun yang lalu. Hanya saja mau tidak mau, hal tersebut telah menimbulkan kesan yang kuat diingatanku meski beberapa detilnya menguap. Dan, ya, tulisan ini aku letakkan di bawah label Literatourism (wisata literasi). Haha, maafkan kalau postingan pertama dari label ini agak nyeleneh. Niatnya ingin mengisi label ini dengan semacam ulasan atau berupa tour gitu dari tempat-tempat beraoma literasi yang aku kunjungi. Ya, sudahlah. Omong-omong, apakah kamu juga pernah mengalami hal aneh atau ganjil ketika berada di toko buku atau perpustakaan, misalnya? Ceritakan di kolom komentar, ya. Terimakasih.

Comments

  1. Saya sering ditemuin sama situasi kaget gara2 buku jatuh tiba-tiba, udahannya saya malah dimarahin sama temen karena katanya naruh bukunya terlalu tegak, kurang disenderin jadinya jatoh deh. Tadinya mau agak2 mistis gitu malah jd lucu😂 Tapi kalau di tempat yg mba datengin itu kok kesannya emg serem gitu ya huhu. Anyway mba salam kenal ya!😁🙏🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha..iya jadinya lucu kak, malah kena marah. Biar ada penjelasan logisnya kali ya kak. Ini kali pertama aku ngalamin keanehan kayak gini di toko buku jadi mungkin berasa rada serem. Tapi bukan berarti mau ngalamin kae gitu lagi. Cukup sekali aja deh, haha. Salam kenal kak Awl. :D

      Delete
  2. Padahal ini siang-siang tapi aku bacanya merinding 😂
    Bagian "buku yang menjatuhkan dirinya sendiri" itu lumayan aneh ya. Aku juga kalau lihat sendiri mungkin ngibrit 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, berasa baca cerita mistis ya kak. Pastinya bikin kaget dan buru-buru kabur karena gak tahu kenapa bisa kae gitu. Minta dibaca banget itu buku kae nya. :D

      Delete
  3. Wah Mbak, itu buku yang jatuh sendiri minta dibeli kayaknya, hehehe. Saya belum pernah mengalami hal aneh di toko buku atau di perpus bahkan di perpus yang konon katanya angker. Saya penakut parah soalnya, hihihi, jadi lebih sering tak berlama-lama kalau toko buku atau perpus yang saya kunjungi kebetulan lagi sepi banget, hahhah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, iya nih jangan-jangan, kak. Wah, syukurlah kalau kakak gak ketemu yang aneh-aneh waktu ke perpus yang kakak bilang itu. Kalau yang konon angker dan sepi banget pula, kayaknya aku bakal minta temenin (gak mau sendirian ke sana). Semoga gak ngalamin lagi, deh kayak gini. :D

      Delete
  4. Aku kalau ada buku yang tiba-tiba jatuh gitu, pasti kaget banget, tapi buru-buru langsung mikir, mungkin tadi (entah berapa menit yang lalu) ada orang lewat situ, terus nggak sengaja nyenggol dikit, tetapi baru jatuh sekarang. hahaha. rada ga masuk akal emang, tetapi karena aku penakut, itu pemikiran yg paling sering aku pikirin biar ga ketakutan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, sama, kak. Aku juga pasti nyari/mikir penjelasan logis dulu. Selain biar gak ketakutan, aku mikir logis biar gak keburu panik juga atau heboh sendiri, hehe.

      Delete
  5. Aku kalau di sana kayaknya bakal nanya ke petugasnya, karena penasaran. Soalnya petugas ya kayak udah biasa gitu kan rapihin buku yg jatoh2. "Emang di sini bukunya sering jatoh sendiri ya Mas/Mba?"
    Sukur2 dia bilang iya karena angin atau licin. Hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, iya, boleh dicoba, nih. Biar gak penasaran. Lumayan nanti dapat pencerahan versi penjaga tokonya.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

7 Alasan Memilih dan Membeli Buku Bacaan

[Review] The Silmarillion by J.R.R Tolkien – Sebuah riwayat yang panjang

[Review] Cewek Paling Badung di Sekolah by Enid Blyton – Asal mula Elizabeth dikirim ke Whyteleafe