Jumat, 26 Januari 2018

PS. I Love You by Cecelia Ahern – Karya kedua Ahern yang aku baca

“Kita kan tidak bisa menghindar terus. Ada saatnya kita harus menghadapinya.”- Daniel


Judul asli: PS. I Love You
Pengarang: Cecelia Ahern
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Desain sampul: emte
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedelapan, Juli 2013
Tebal buku: 632 halaman
Format: Paperback
Genre: Romance
ISBN: 978-979-22-9788-1

Pertama kali mengenal karya penulis perempuan asal Irlandia ini melalui novelnya yang berjudul A Place Called Here. Novel tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan memiliki sampul yang cantik berwarna ungu terang. Nama Cecelia Ahern melekat di benakku karena aku menikmati roman kontemporer yang ditulisnya tersebut. Kisah di dalam novel tersebut memang berbau percintaan namun ada unsur fantasi atau keajaiban. Tidak banyak, namun ada. Oleh karenanya aku menjadi tertarik untuk membaca karya lainnya. Saat melihat PS. I Love You dan Where the Rainbow Ends, aku tidak ragu untuk membelinya.

PS. I Love You lebih dulu kubaca karena novel ini mendapatkan review yang bagus dan merupakan best seller. Bahkan buku yang kupunya merupakan cetakan kedelapan. Terjemahannya sendiri lumayan tebal sekitar 632 halaman. Namun bukunya sendiri tidak selebar buku-buku Ink World Series. Apalagi jika memang penyuka bacaan roman maka tidak akan kesulitan menikmati kisah di novel ini.

Kisah dibuka dengan narasi mengenai kondisi Holly paska kematian Gerry, suaminya. Ia kehilangan arah untuk menjalani hidup. Hidupnya terasa hancur dan seakan ikut berhenti. Gerry tidak hanya suami namun juga sahabat terkasihnya serta “batu karang” tempatnya bersandar. Suka duka sudah mereka lewati. Hal ini membuat Holly sangat kewalahan dan tertekan ketika kanker yang diderita oleh suaminya tersebut tidak lagi bisa teratasi. Keluarga dan sahabat mencoba membantunya pulih. Hanya saja itu bukan hal yang mudah dan membutuhkan waktu.

Satu bentuk keajaiban (namun masih bisa dijelaskan secara logis) datang. Gerry membantu Holly untuk menjalani hidup tanpanya dengan suatu cara yang manis. Gerry telah mempersiapkan kejutan dan surat-surat yang harus di buka Holly sesuai dengan bulan yang tertera di kertas tersebut. Pesan-pesan Gerry berisi dorongan agar Holly tabah dan menlanjutkan hidup. Yang tidak kalah manisnya, di akhir surat, Gerry selalu bilang: PS. I Love You.

Awal mula membaca novel ini, aku tidak terlalu simpati dengan Holly. Kehilangan yang dirasakannya sangat dalam, namun dia ternyata lumayan “keras kepala” untuk bangkit. Di sisi lain, ia sebenarnya punya keluarga yang ramai dan begitu mendukungnya seperti kedua orangtuanya dan saudara-saudara. Hidupnya pun sebenarnya lengkap dengan kehadiran sahabat dan kerabat yang sangat peduli dengan kondisinya. Ya, aku sulit mengerti bagaimana Holly terus bertahan dengan kondisi menyedihkan itu dan sikap-sikap “menggemaskan” sebelum pesan-pesan dari Gerry datang.

Jika ada pembaca yang mengalami hal yang sama denganku, teruskan saja membacanya. Lambat laun, aku pun bisa memahami dan ikut merasakan kepedihan hatinya. Ya, kehilangan apalagi kehilangan seseorang memang tidak akan pernah mudah. Apalagi jika orang tersebut merupakan orang terkasih (siapapun itu). Seolah bayangan mereka akan terus mengikuti gerak langkah kita. Pasti akan selalu ada waktu-waktu dimana ingatan tentang mereka kembali muncul. Air mata boleh jadi akan kembali mengalir saat melalui momen itu. Sungguh sangat kuat orang-orang yang bisa menghadapi kehilangan orang terkasih dengan tabah.

Jika dikaitkan dengan A Place Called Here, aku menemukan suatu benang merah di antara kedua buku ini. Yup, itu tadi, kehilangan. Aku tidak tahu apakah ini akan berlaku pada banyak karya yang Cecelia Ahern buat. Kata itulah yang muncul ketika aku memikirkan kedua novel ini. A Place Called Here berurusan dengan kehilangan benda-benda hingga kehilangan diri sendiri. Sementara PS. I Love You juga berkutat dengan kehilangan suami yang jika diteruskan dapat (telah) menjelma menjadi kehilangan diri sendiri. Ah, mari kita baca Where the Rainbow Ends untuk mendapatkan “suara ketiga”. Atau ya, baca lebih banyak lagi untuk membuktikan kebenaran dugaan itu, hehe.

Mungkin aku tidak akan membahas lebih banyak tentang novel ini. Tidak akan bercerita tentang karakter di dalamnya, typo atau salah cetak, ataupun hal lainnya yang mungkin biasa dibahas dalam sebuah review. Sebagai gantinya aku akan mengutip beberapa kalimat manis yang kutemukan di dalm novel ini. Secara singkat, aku lumayan menyukai PS. I Love You namun tidak sebanyak aku menyukai A Place Called Here. Jika melihat novel Ahern lainnya akan tetap kubeli. Entah bagaimana aku sudah suka dengan tulisannya, hehe. Bagaimana denganmu? Selamat membaca buku, ya.

“Kita kan tidak bisa menghindar terus. Ada saatnya kita harus menghadapinya.” (hal. 358)

“Ah, well, kita semua kan sudah mendapat bagian masing-masing secara adil, baik kesialan maupun keberuntungan. Kau sendiri pernah mengalaminya, bukan?” (hal. 367)

Dia rindu bisa menikmati acara televisi favoritnya, bukan sekadar memelototi layar kaca dengan mata nyalang selama berjam-jam, hanya mengisi waktu. (hal. 370)

“Richard, belum lama ini aku belajar bahwa membicarakan masalah dengan orang lain bisa membantu.” (hal. 397)

“Bagaimana kau merasakan kebahagiaan bila tidak pernah mengalami kesedihan?” (hal. 529)

Jelas, itu tidak mudah, namun dia sudah belajar bahwa tidak ada yang mudah dalam hidup ini. (hal. 624)

Rating: Better (2/3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar