Rabu, 13 Desember 2017

Maybe Someday by Colleen Hoover – Musik dan pilihan hati

For her I bend, for you I break


Judul asli: Maybe Someday
Judul terjemahan: Mungkin Nanti
Pengarang: Colleen Hoover
Penerjemah: Shandy Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan pertama, 2015
Tebal buku:  440 halaman
Format: Paperback
Genre: Contemporary Romance
ISBN: 9786020323435

Contemporary Romance. Siapa yang terlintas di kepala saat mendengar kata tersebut? Jika aku, maka akan teringat dengan Cecelia Ahern dan Colleen Hoover (CoHo). Itupun nama yang kusebutkan terakhir baru di akhir tahun inilah aku membaca dua novelnya. Awal tahun aku membeli Slammed dan buku tersebut masih terbungkus segelnya. Sempat melihat di Kubikel Romance tentang Maybe Someday membuatku tergelitik untuk ikutan baca dan beli. Syukurnya, buku tersebut sedang dalam diskon. Jadi, mengapa tidak?

Sydney mengagumi permainan gitar Ridge dan cara dia bermain ketika bersantai di balkonnya. Kedua apartemen mereka berseberangan. Sydney yang mempunyai ketertarikan dengan musik, tanpa sadar ikut bernyanyi, menciptakan lirik untuk musik yang dilantunkan oleh Ridge. Dua minggu setelah mereka bertukar nomor telepon, tepat di hari ulang tahunnya, hati Sydney hancur mengetahui kekasihnya, Hunter berselingkuh dengan teman seapartemennya yaitu Tori.

Sydney marah dan memutuskan untuk keluar dari apartemen tersebut dan lupa membawa dompet. Ridge memintanya tinggal di apartemennya (setidaknya untuk sementara waktu) karena dia merasa bertanggung jawab. Yap, yang memberitahu tentang perselingkuhan itu adalah Ridge. Cowok itu sering melihat mereka bermesraan ketika Sydney sedang tidak berada di sana. Sydney membayar dengan menciptakan lirik lagu untuk band Ridge.

Hubungan mereka menjadi intens. Satu demi satu hal terungkap seperti Ridge yang ternyata tunarungu dan telah memiliki kekasih yaitu Maggie. Bagaimana keduanya (Ridge dan Sydney) mencoba mengendalikan perasaan cinta yang mulai tumbuh di hati mereka demi hati Maggie adalah inti dan bahasan sebagian besar isi novel ini. CoHo dapat menampilkan narasi yang asik untuk diikuti terutama mengenai tokoh-tokohnya. Ya, cerita ini digulirkan melalui dua sudut pandang yang saling bergantian. Satu dari sudut pandang Ridge dan satunya dari sudut pandang Sydney.

Meski demikian, kisah ini bisa menjadi sensitif karena premisnya memang berkaitan dengan orang ketiga dalam suatu hubungan. Siapa, sih, yang merasa tidak gemesh ketika membahas hal seperti ini. Aku tidak menamatkan buku ini sekali duduk. Ada beberapa kali jeda dan membutuhkan sekian hari. Ketika mulai membaca lagi (setelah jeda itu) ada perasaan mual mengingat kisah ini tentang hal itu. Dan mungkin itu kelebihan CoHo. Sekali lagi caranya bercerita menarik. Bagaimana dia membawa alurnya dan menyelesaikan konflik-konflik yang sederhana namun dapat menjadi “wah”.

Hey, ada satu hal lagi yang menarik. Lirik yang diciptakan Sydney selalu dikagumi Ridge. Dikatakan jika lirik itu sangat mengagumkan. Aku menjadi gregetan sendiri ingin tahu apa isi liriknya. Baru sekitar di halaman 102 bait-bait di lirik lagu itu ditampilkan. Dan ketika aku iseng membaca bagian awal buku yang berisi kata pengantar dari CoHo, barulah aku tahu. CoHo begitu serius menggarap buku ini. Lirik lagu tersebut telah dibuat menjadi soundtrack. Ah, langsung lah aku meluncur ke www.maybesomedaysoundtrack.com. Seperti saran CoHo, pembaca bisa menikmati lagu-lagu tersebut sesuai urutannya muncul di buku. Aku, sih, pengen mencoba begitu. Meski percobaanku gagal, hehe. Mungkin ini bisa jadi referensi cara baca yang seru terutama jika kamu penggemar romance dan dapat membaca dengan alunan lagu.

Saya menikmati kolaborasi dengan musisi Griffin Peterson menyiapkan lagu pendukung asli untuk mendampingi novel ini. Griffin dan saya bekerjasama dengan intens untuk menghidupkan tokoh-tokoh di novel ini dan lirik lagu-lagu di dalamnya agar kalian mendapakan pengalaman membaca paling berkesan.

BTW, aku juga membeli novella-nya yang berjudul Maybe Not. Rasanya nanggung jika tidak. Kebetulan sama-sama masuk dalam katalog diskon. Yap, penyakit buku berseri. Kurang afdhol kalau tidak lengkap padahal saat itu belum tahu apakah aku akan suka dengan ceritanya. Syukurlah tidak mengecewakan.

Singkatnya, novel ini mengangkat kisah yang sensitif namun dibuat sedemikian rupa agar tidak menyakiti hati siapapun. Penulisnya bercerita dengan baik melalui dua sudut pandang tokoh utama yang ditampilkan bergantian. Awal buku dibuka dengan konflik yang mengejutkan. Kemudian dilanjutkan dengan “masa-masa tenang” sebelum ditutup dengan konflik yang jauh lebih nendang. Jika mau bocoran sedikit, ending-nya semacam win-win solution. Masing-masing bahagia dengan hidupnya. Silakan menikmati buku ini sambil mendengarkan kumpulan lagu soundtrack-nya yang memang sudah dibuat khusus. Dan nantikan review aku tentang novella-nya, ya, hehe. Selamat membaca buku, teman. 

Rating: Better (2/3)
Submitted to:
Read and Review Challenge 2017 kategoriContemporary Romance
P.S. Silakan baca review Novellanya yaitu Maybe Not dengan klik link di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar