Kamis, 26 Oktober 2017

A Caribbean Mystery by Agatha Christie – Miss Marple kembali memecahkan suatu kasus

“Sesungguhnya, biasanya kita tidak mengetahui mengenai keadaan orang lain. Bahkan, juga tidak mengetahui mengenai orang yang paling dekat dengan kita.” - Evelyn



Judul asli: A Caribbean Mystery
Judul terjemahan: Misteri Karibia
Series: Miss Marple
Pengarang: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan keenam - Mei, 2014
Tebal buku: 320 halaman
Format: Paperback
Genre: Mystery
ISBN: 978-979-22-9319-7

Selain menciptakan tokoh Poirot, Queen of Crime a.k.a Agatha Christie (sepengetahuanku) juga mempunyai beberapa tokoh detektif lainnya antara lain Miss Marple; serta Tommy dan Tuppence. Untuk seri Miss Marple sendiri aku sudah pernah melahap Sleeping Murder dan Miss Marple's Final Cases. Alih-alih detektif, Miss Marple digambarkan sebagai perempuan paruh baya (atau malah bisa dikatakan lumayan tua) yang suka bercerita dan mempunyai pikiran yang jernih dalam memecahkan beragam kasus (kriminal) yang tidak sengaja menghampiri kehidupannya. Ya, tokoh-tokoh yang Agatha ciptakan boleh dibilang mempunyai kesan dan penampilan yang tidak dapat tertebak.

Well, aku selesai membaca buku ini pada Juni lalu. Dan, ya, baru sekarang aku bisa menuliskan reviewnya. Ada beberapa potongan kisah A Caribbean Mystery yang mulai terlupakan. Mungkin karena alurnya seperti diperlambat atau memang tidak terlalu mengesankanku. Aku juga mulai lupa apa motif si pelaku sebenarnya dan bahkan nama-nama tokoh di dalamnya (selain Miss Marple tentunya). Ah, apakah ini karena factor U? Hahaa, tidaak. #hebohsendiri

Baiklah, demi hutang review terhadap diri sendiri, aku akan membuka kembali beberapa halaman di buku ini. Secara ringkasnya, buku ini memiliki latar sebuah pulau di perairan Karibia. Miss Marple tengah berlibur di sana akibat bujukan dari salah seorang keponakannya. Miss Marple terkena serangan radang paru-paru yang berat sehingga dokter menyarankannya untuk berlibur di tempat yang banyak sinar matahari. Miss Marple akhirnya setuju meski merasa cukup berat meninggalkan rumahnya di St. Mery Mead.

Keponakannya tersebut telah mengurus segalanya. Bukan hanya tiket perjalanan dan penginapan, rumahnya di St. Mery Mead pun dijamin akan diurus dengan baik. Tempat di Karibia tersebut bernama St. Honored dan Miss Marple menginap di Hotel Golden Palm. Meskipun pengurus hotel tersebut telah berganti, namun mereka telah berjanji untuk mengurus Miss Marple dengan sebaik-baiknya. Pasangan suami Istri Kendal tampak harmonis dan bersemangat. Pun usaha ini sangat penting dan berarti untuk mereka.

Miss Marple telah merasa bosan karena kegiatan dan pemandangan di sana dinilainya begitu monoton. Hingga (tentu saja) terjadi sebuah pembunuhan yang seharusnya dapat dicegah olehnya. Mayor Palgrave, salah seorang kenalannya di penginapan tersebut merupakan pensiunan serdadu. Dia suka bercerita mengenai pengalaman masa mudanya. Hari itu dia bercerita tentang peristiwa pembunuhan dan dia memiliki potret si pembunuh tersimpan di dalam dompetnya. Wajah pembunuh tersebut tampak mirip dengan salah seorang tamu di hotel ini juga. Namun belum sempat menyebutkan nama orang tersebut kepada Miss Marple, Mayor Palgrave menghentikan ceritanya dan dia ditemukan terbunuh keesokanharinya.

Siapakah pembunuhnya? Tentu ada banyak tersangka di sana. Miss Marple mulai memperhatikan setiap tamu di penginapan tersebut berikut pengurusnya. Sedikit demi sedikit fakta bermunculan. Aku ikut menebak-nebak dan bahkan itu pun aku sudah tidak ingat apakah tebakanku benar atau salah. OMG, hahaha. Entah mengapa ada banyak potongan mengenai buku ini yang terlupakan. Padahal kavernya lumayan manis paduan warna ungu muda dan putih.

Ada satu hal yang sempat aku cermati di kisah ini (dan aku ngeh karena sudah kuberi tanda di halamannya). Ini tentang penyakit Tekanan Darah Tinggi. Ternyata pada masa Agatha menuliskan kisah ini, penyakit tersebut belum (istilahnya) sefamiliar saat ini. Pada saat itu masih tergolong penyakit baru. Dan penyakit tersebut diangkat menjadi dugaan penyebab kematian Mayor Palgrave berdasarkan analisa dokter. Saat membaca bagian tersebut, betapa waktu telah bergerak semakin maju. Banyak hal sudah berkembang. Namun aku masih senang membaca kisah dengan latar masa lalu bahkan klasik. Selalu, kesederhanaan hidup di masa itu terasa menyenangkan untuk disimak, hehe.

“Oh, begitu. Alatnya sangat menakutkan, kalau Anda memasang ban karet pada lengan seseorang dan kemudian memompanya alat itu, saya tidak menyenanginya. Akan tetapi, dokter saya berkata, bahwa tekanan darah saya adalah baik sekali untuk orang seumur saya.” (hal. 61)

Meski biasanya aku menemukan banyak kutipan menarik terlebih dari buku dengan latar masa lalu, di sini tidak banyak yang kutemukan. Aku hanya menemukan satu dan itupun telah kutaruh di bagian atas review ini. Secara keseluruhan, kisah Miss Marple kali ini memang menarik hanya saja aku sempat kelelahan dengan alurnya dan dengan tahapan dia menyingkap kasusnya. Ada beberapa hal yang sempat terlupa karena rentang waktu aku membaca dan menulis review ini cukup jauh. Ditambah mungkin aku-nya yang kurang terkesan dengan petualangan Miss Marple kali ini. Tentunya aku masih bersemangat memburu kisah-kisah lainnya yang telah Agatha tulis. Apalagi di bagian belakang buku ini dilengkapi dengan daftar judul lengkap karya Agatha, mulai dari seri Poirot, Miss Marple, Tommy and Tuppence hingga kumpulan cerita lainnya. Total ada 80 judul. Hayo, kamu sudah baca dan sudah punya berapa? Selamat membaca buku, kawan. :D

Rating: Better (2/3)
Submitted to:
Read and Review Reading Challenge 2017 kategori Lima buku dari penulis yang sama 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar