Selasa, 12 September 2017

Pride and Prejudice and Zombies by Jane Austen dan Seth Grahame-Smith – Kisah klasik berbumbu zombie

Seluruh dunia tahu jika sesosok mayat hidup yang telah mencicipi otak manusia, ia akan menginginkan otak lainnya lagi.


Judul: Pride and Prejudice and Zombies
Pengarang: Jane Austen and Seth Grahame-Smith
Penerbit: Imania
Distributor: Mizan Media Utama
Terbit: Cetakan pertama, Februari 2013
Tebal buku: 534 halaman
Format: Paperback
Genre: Classic, Action
ISBN: 978-602-97648-3-3

Sebenarnya aku telah selesai membaca buku ini sekitar pertengahan Juni lalu. Sebenarnya pula selain buku ini, aku masih punya hutang (kepada diri sendiri) untuk mereview beberapa buku lainnya (The Monstrumologist dan A Carribean Mystery) yang telah selesai kubaca lebih dulu daripada Pride and Prejudice and Zombies ini. Namun ketika telah 300an kata menulis tentang The Monstrumologist, review itu menjadi semacam stuck. Gagal atau sulit untuk dilanjutkan. Alhasil kucoba beralih sejenak mereview buku ini.

Pride and Prejudice merupakan salah satu karya terbaik dari penulis wanita klasik bernama Jane Austen. Banyak karyanya yang telah mampu bertahan hingga saat ini (kira-kira telah mencapai satu abad lamanya). Dan banyak pula yang telah diadaptasi ke dalam bentuk film.
 
Aku tidak tahu bagaimana menyebut seri ini. Apakah ini sejenis pastiche atau parody atau apa dari Pride and Prejudice yang Austen buat sebelumnya. Yap, aku masih perlu banyak belajar soal dunia literasi, hehe. Namun merujuk ke kaver buku, Pride and Prejudice and Zombies ini merupakan versi plesetan. Seri klasik tersebut dibubuhi zombie oleh Seth-Grahame-Smith dan voila jadilah versi ini yang terbit pertama kali pada tahun 2013. Pun telah diadaptasi ke dalam layar lebar. Ekspektasiku terhadap kisah plesetan ini cukup tinggi meskipun aku belum pernah membaca versi klasik dari Jane Austen-nya (buku Jane Austen yang telah selesai kubaca hanya Emma) ataupun menonton filmnya. Membayangkan drama klasik dibumbui action zombie sangat menyenangkan dan membuat penasaran.

Kisah di buku ini langsung dibuka dengan huru hara yang ditimbulkan oleh zombie di daerah Netherfield Park. Kasus tersebut telah berlalu namun tempat tersebut ternyata telah kembali dihuni oleh sebuah keluarga terhormat. Di lain tempat (namun masih berdekatan.tetangga) Nyonya Bennet merasa uring-uringan. Bukan karena serangan zombienya namun lebih kepada nasib kelima putrinya yang belum juga menikah. Dia merasa perkenalan dengan anggota penghuni Netherfield yang baru dapat membuka jalan bagi putrinya untuk segera melepaskan masa lajang mereka.

Lain halnya dengan Tuan Bennet, ia lebih fokus mempersiapkan anak-anaknya untuk bertarung melawan zombie. Dia telah membawa mereka bahkan hingga ke negeri Cina untuk belajar ilmu bela diri Shaolin. Meski demikian, dia menyetujui perkenalan kelima putrinya dengan keluarga baru di Netherfield tersebut. Dua dari pemuda kaya yang baru menempati kawasan tersebut bernama Tuan Bingley dan Tuan Darcy.

Urusan terpenting dalam hidup Tuan Bennet adalah menjaga agar putri-putrinya tetap hidup. Urusan Nyonya Bennet, adalah menikahkan mereka semua. (hal. 10)

Kisah pun bergulir. Seperti khas pada masa itu, pesta dansa diadakan di Netherfield dan ajang perkenalan pun dimulai. Tuan Darcy merasa tertarik dengan Elizabeth yang merupakan putri kebanggan Tuan Bennet. Ia mempunyai skill ilmu bela diri paling baik diantara kelima putrinya yang lain diikuti dengan sifat yang jauh lebih rasional dan berani dibanding kakaknya, Jane. Namun baik Lizzy (panggilan untuk Elizabeth) dan Tuan Darcy sama-sama terlalu angkuh untuk menunjukkan perasaan mereka. Beberapa kesalahapahaman bergulir dan memenuhi jalan cerita percintaan klasik ini (yang boleh jadi merupakan khas kisah Jane Austen kali, ya, hehe).

Premis yang ditawarkan oleh buku ini memang menarik. Zombie memang salah satu alternative yang terasa segar dan mengundang rasa penasaran para pembaca fiksi. Ditambah karya klasik sekelas Jane Austen pula yang ditempeli oleh zombie ini. Meski demikian terkadang ide boleh jadi brilian namun eksekusinya belum tentu sesuai dengan harapan.

Entah dengan pembaca lainnya, namun aku merasa tidak terlalu terkesan dengan buku ini. Adegan zombie dan pertarungan dengan zombie tersebut terkesan semacam tempelan saja. Pun adegan pertarungan tersebut sering berupa pengulangan semisal mereka bertemu dengan para zombie itu di tengah jalan. Drama tentang Charlotte yang perlahan berubah menjadi zombie bahkan menikah dengan Tuan Collins terasa aneh walaupun agak menggelikan membayangkan tidak ada seorang pun yang menyadarinya selain sahabatnya, Elizabeth. Padahal dia mulai sulit berbicara. Kata-kata yang Charlotte gunakan menjadi absurd dan sulit dipahami.

Okelah soal zombie yang semacam tempelan yang bahkan tidak dijelaskan (seingatku) darimana wabah ini bermula. Dan okelah tentang si zombie yang dibagian akhir buku diceritakan bisa salah mengira kembang kol dengan otak manusia. Maksudnya si zombie menyantap kembang kol dengan begitu lahap karena mengira itu adalah otak. Bagian yang lumayan membuatku merasa meh. Namun masih ada satu hal konyol lainnya yang disisipi di buku ini. Hal tersebut berkaitan dengan ninja.

Yea, ninja yang di Jepang itu. Hal ini tentang bagaimana Lady Catherine de Bourgh yang merupakan bibi dari Tuan Darcy menentang keputusan kemenakannya itu untuk menikahi Elizabeth. Lalu diajaknya Elizabeth berkelahi dengan pasukan ninjanya dan dengan dirinya sendiri (kalau tidak salah). Elizabeth beraliran shaolin dan Lady Catherine de Bourgh beraliran ninja. Shaolin vs Ninja? Is that necessary to put into this story? Hemp.

Aku pernah membaca suatu ungkapan dari seorang tokoh (yang sayangnya kulupa namanya). Ungkapan tersebut kira-kira seperti ini: terkadang yang membuat kita kecewa bukanlah orang lain melainkan harapan kita terhadap orang tersebut (atau bisa kita ganti kata “orang” dengan “situasi” atau dengan “buku”). Ya, mungkin karena aku memulai membaca Pride and Prejudice and Zombies dengan ekspektasi yang lumayan tinggi yang akhirnya mengakibatkan rasa meh yang lumayan tinggi pula dengan sisipan zombie, shaolin, dan ninja tersebut. Setidaknya aku menyadari satu hal bahwa Jane Austen memang bukan penulis sembarangan. Karya klasiknya mampu bertahan dan terus dibaca oleh banyak orang hingga saat ini. Pun jalinan kisah asli Pride and Prejudice-nya yang lebih menghidupkan jalinan kisah di buku ini.

Overall, buku setebal 534 halaman ini memang menawarkan ide yang unik. Pun dilengkapi dengan ilustrasi yang oke di beberapa bagiannya yang menjadikannya lebih semarak. Namun jalinan kisahnya terutama yang berkaitan dengan zombie masih kurang kuat dan tidak terlalu asik. Oh ya ada beberapa bagian terjemahannya yang membuat bingung hanya saja aku tidak bisa menyebutkan yang mana karena rentang antara selesai membaca buku ini dengan menuliskan reviewnya lumayan jauh. Silakan koleksi dan baca jika kalian penasaran. Kalau aku, mungkin kalau ada kesempatan mau mencoba menonton versi filmnya. Selamat membaca buku, teman-teman.

Rating: Good (1/3)
Submitted to:
----------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------

Yaiy! Selesai sudah review tentang Pride and Prejudice and Zombies. Syukurlah akhirnya terselesaikan walaupun rentang waktu antara membaca dan mereviewnya lumayan jauh. Seperti biasa di bagian ini akan kutampilkan beberapa kutipan manis yang kutemukan dari buku. Biasanya dari buku klasik aku bisa menemukan banyak kutipan. Kali ini aku hanya menemukan tiga. Dan jika menyinggung bukunya, aku kurang terlalu puas dengan versi plesetan ini. Okelah, lebih baik langsung ke kutipan tadi, ya. silakan dinikmati. :D

“Ya, Tuan, saya tahu hal itu. Bila saya pergi berkeliling dunia, saya tidak akan bertemu yang lebih baik. Tapi saya selalu mengamati bahwa mereka yang baik sewaktu kanak-kanak adalah orang yang nantinya akan berhati baik juga ketika dewasa. Dan tuanku selalu memiliki perilaku paling manis, anak paling baik hati di seluruh dunia.” (hal. 351)

Cara Nona Bingley mengejek Elizabeth memang bukan cara yang bijaksana untuk mengenalkan diri sendiri kepada Darcy, tapi orang yang sedang marah memang tidak bijaksana. (hal. 380)


“Walaupun ini kejadian menyedihkan untuk Lydia, kita harus bisa mengambil kesimpulan dari pelajaran berharga ini: bahwa harga diri perempuan demikian mudah direnggut seperti sebuah baju saja. Bahwa satu salah langkah dapat menyebabkan kerusakan tak berkesudahan. Bahwa satu-satunya obat untuk kehormatan yang terluka adalah darah si pembuat keonaran.” (hal. 401)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar