Rabu, 31 Mei 2017

Mary Poppins Comes Back by P. L. Travers – Perjumpaan kedua dengan Mary Poppins dan keajaiban yang mengikutinya

Mungkin kita tidak akan pernah lebih tahu daripada ini—memikirkan sesuatu adalah mewujudkannya.- Matahari



Judul: Mary Poppins Comes Back
Pengarang: P. L. Travers
Penerbit: Qanita
Terbit: Cetakan pertama - Januari, 2015
Tebal buku: 336 halaman
Format: Paperback
Genre: Fantasy
ISBN: 978-602-9225-59-4

Ini merupakan seri kedua dari Mary Poppins. Dan aku merasa senang sekali ketika pertama kali menemukannya. Selain karena kavernya yang jauh lebih asyik daripada seri pertamanya yang kupunya itu, aku juga merasa senang bisa melanjutkan membaca seri ini secara berurutan. Tidak terpikir sebelumnya jika ada Mary Poppins lainnya yang telah diterjemahkan. Senang sekali kembali mengenal sosok pengasuh yang tegas, angkuh, narsis dan sedikit pemarah tersebut.

Awalnya memang merasa cukup aneh dengan karakternya. Mengapa dia bersikap begitu aneh dengan anak-anak? Dia membuat jarak dengan mereka meski tugasnya adalah mengasuh. Namun rasanya akan seru jika bisa berkenalan dengan Mary Poppins karena jika dia datang maka sekitar kita akan dipenuhi keajaiban yang ganjil dan juga tentunya petualangan yang benar-benar diluar nalar dan dugaan.

Jane dan Michael saling bertukar pandang. Mereka tahu, tidak ada gunanya bertanya karena Mary Poppins tidak pernah menjelaskan sesuatu pun. (hal. 38)
 
Mary Poppins kembali datang ke rumah keluarga Banks, rumah Nomor 17 di Cherry-Tree Lane. Marry datang bersama layang-layang yang diterbangkan Michael di suatu taman. Dan Mary memang datang di saat yang tepat. Di rumah tersebut sedang terjadi kegaduhan dan Mrs. Banks (seperti biasa) menjadi panik dan sedih. Kedatangan Mary Poppins sangat disukai oleh keluarga tersebut. Meskipun cara Mary aneh dalam mengasuh dan berinteraksi dengan anak-anak, namun mereka sangat menyayanginya. Aku pun mungkin demikian jika bisa berkenalan dan menghabiskan waktu dengan Mary Poppins.

Tidak ada alur yang signifikan. Satu hal yang bergerak maju adalah pertumbuhan anak-anak keluarga Banks plus kedatangan seorang anggota baru yaitu si manis Annabel. Selebihnya isi dari buku ini adalah petualangan dan hal ajaib yang Mary tawarkan kepada anak-anak tersebut. Polanya pun mirip dengan buku sebelumnya (klik review-nya di sini).

Pertama pola tentang kedatangan Mary Poppins yang tiba-tiba. Di buku pertama dia turun dari angkasa dengan menggenggam payung bertangkai burung beo kepunyaannya itu. Di buku ini, Mary turun bersama awan dan benang layangan. Pola selanjutnya, jika di buku pertama, anak-anak Banks bertemu Paman Albert, di sini mereka bertemu kerabat Mary lainnya yaitu Mr. Turvy. Semua menjadi terjungkir balik di setiap hari Senin Keduanya.

Adapun pola lainnya, di seri ini anak-anak Banks tidak berpesta dengan hewan-hewan di kebun binatang. Kali ini keganjilannya meliputi bintang-bintang, komet, matahari, dan aneka benda langit. Mereka Keluar Malam dan menonton pertunjukkan sirkus yang dipimpin oleh Matahari dan ditutup dengan adegan dansa. Oh ya, tidak lupa dengan burung Jalak yang berisik namun kesepian. Ia kembali menyambut kelahiran seorang anggota keluarga Banks setelah di buku pertama burung itu banyak berbincang dengan bayi John dan Barbara. Bayi Annabel yang masih mampu memahami suara alam membuat si Burung kegirangan. Namun akhirnya Annabel perlahan melupakannya dan membuatnya sedih dan kecewa. Mungkin dia memang ingin punya sahabat manusia. Tentunya hanya Mary Poppins yang berbeda.

“Perjalanan panjang, sungguh!” kata Burung Jalak pelan sambil mengangkat kepala dari dada. “Dan, ah, akan segera terlupakan!” (hal. 160)

Meski polanya mirip, ada beberapa hal yang mengejutkan di buku keduanya ini. Petualangan yang dialami anak-anak keluarga Banks tidak semuanya menyenangkan. Ada petualangan yang mengerikan dan aku merasa: wah, ini petualangan ajaib yang berbahaya. Ini kisah Jane yang hampir teperangkap di dunia Mangkuk di hari Rabu saat dia menjadi begitu berbeda karena bad mood. Jane mau saja diajak anak-anak di dunia Mangkuk untuk masuk dan mampir ke rumah mereka. Setelah sampai di rumah tersebut, seorang kakek tua dan anak-anak tersebut tidak memperbolehkan Jane kembali. Anak itu sangat ketakutan. Lalu, pasti tahu, kan, siapa yang menyelamataknanya? Hehe.

Hal lainnya yang mengejutkan adalah tentang kisah Robertson Ay dan sekilas clue tentang Laksamana Bloom. Robertson Ay adalah pemuda pemalas yangs sering sekali tidur. Mr. Banks sudah beberapa kali dibuat marah-marah dengan tingkahnya yang aneh misalnya menyemir topi Mr. Banks dengan tidak rapi dll. Melalui kisah yang Mary tuturkan, kita dibawa menebak siapa jati diri Robertson Ay sebenarnya #tsah. Sementara Laksamana Bloom yang memang aneh karena sering berteriak dan selalu terbawa suasana laut tampak mengucapkan selamat tinggal ketiga Mary dan anak-anak pergi menuju komidi putar. Malam itu kalung rantai yang dipakai Mary putus. Artinya Mary harus pergi kembali meninggalkan keluarga Banks. Anak-anak merasa kehilangan. Namun liontin yang Mary pakai mereka simpan dan dalam liontin tersebut tersimpan sesuatu yang mengharukan.

Melalui blurb di belakang buku ini bisa diketahui bahwa seri Mary Poppins Comes Back telah diadaptasi dalam bentuk film musical pada tahun 1964 dan mendapatkan banyak penghargaan diantaranya Academy Awards, Golden Globe Awards, dan Grammy Awards. Rasanya aku belum pernah menonton seri adaptasinya. Semoga ada waktu dan kesempatan nanti. Terlepas dari itu, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi pada beberapa halaman dari bagian awal hingga akhir buku yang membuatku merasa lebih enak menikmati kisahnya.

Ya, kembali lagi sangat menyenangkan bisa berkenalan dengan Mary Poppins. Imajinasi di buku ini tanpa batas namun berisi nasehat dan pembelajaran yang baik. Meskipun sosoknya tegas dan angkuh, Mary adalah pengasuh terbaik dan penyayang. Ya, siapa yang tidak suka dengan Mary Poppins walaupun tidak ada yang tahu sebenarnya dia itu apa, hehe. Silakan dicoba membacanya. Jangan menyerah ketika merasa buku ini begitu aneh. Bacalah hingga akhir dan rasanya akan sangat menyenangkan. Sekali lagi imajinasinya cukup liar (dalam konotasi baik, ya). Selamat membaca buku, kawan.

Rating: Better (2/3)
Submitted to:
----------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------

Tadaa…selesai sudah bertualang dengan Mary Poppins di seri keduanya ini. Melalui buku ini kita dapat lebih mengenal sosok Mary Poppins berikut orang-orag di sekitar kawasan Chery-Tree Lane. Aku menyukai kisah klasik ini dan berharap dapat membaca kelanjutannya. Pada buku setebal 336 halaman ini ada beberapa kutipan manis yang kutemukan. Dan seperti bias akarena jumlahnya tidak lebih dari 10 buah, aku gabung dnegan reviewnya. Silakan dinikmati. Semoga hari kalian menyenangkan dan penuh keajaiban, hehe. :D

“Awal yang baik adalah pekerjaan yang sudah setengah selesai. …” (hal. 46)

“Berhati-hatilah dengan rasa penasaranmu,” kata Mary Poppins. (hal. 49)

“Kita selalu berjalan,” gerutunya kepada Jane dengan berbisik, berhati-hati agar Mary Poppins tidak mendengarnya, “tapi rasanya seakan kita tidak pernah tiba di mana pun.” (hal. 171)

“Apa yang nyata dan apa yang tidak? Bisakah kau memberitahuku atau aku memberitahumu? Mungkin kita tidak akan pernah lebih tahu daripada ini—memikirkan sesuatu adalah mewujudkannya. Maka, jika Michael mengira membawa Bulan di kedua lengannya—wah, kalau begitu, dia memang membawa Bulan.” (hal. 234)

“Ada balon untuk semua orang, seandainya saja mereka tahu. Mereka menentukan pilihan dan tidak terburu-buru! Dan aku telah menjual semuanya! Balon dan balon!” (hal. 265)


“Semua hal baik pasti akan berakhir, pada suatu saat nanti,” kata Mary Poppins angkuh. (hal. 308)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar