Jumat, 20 Januari 2017

[Quote] Sekali Lagi si Paling Badung by Enid Blyton

Woah, ini kali pertama aku membaca karangan Enid Blyton. Kisahnya menarik dan mendidik. Buku ini termasuk ke dalam Children Literature sehingga aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Ada banyak pembelajaran yang bisa mereka dapat. Dan mungkin karena buku ini termasuk buku yang mampu melintasi ruang dan waktu (diterbitkan pertama kali tahun 1942), ada banyak kalimat baik yang kutemukan di dalamnya. Dikarenakan kalimat tersebut lebih dari 10, maka tidak kusatukan dengan postingan review-nya. Yuk, mari dibaca. Mana tahu ada beberapa yang menginspirasi atau malah mengingatkan kalian dengan masa kecil, hehe. :D


Tetapi kini ia sadar bahwa berkelakuan baik bukanlah hanya baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk seluruh sekolah. (Hal. 10)

"Aku yakin wajah kita cermin pribadi kita, bisa diubah!" (Hal. 19)

Tidak semua anak mempunyai binatang peliharaan, sebab hanya mereka yang sayang binatang sajalah yang diberi hak untuk mengurus binatang peliharaan mereka. (Hal. 20)

"Aku tak bisa menyalahkan orang lain untuk perbuatan yang dulu juga pernah kulakukan." (Hal. 24)

"Kau tak boleh mengatakan seperti itu, kecuali bila kau mempunyai bukti-bukti yang cukup," kata Nora segera. "Dan bahkan kalau kau mempunyai bukti cukup, kau harus melaporkannya pada Rapat Besar. Disitulah tempat untuk menegur siapa pun yang kau anggap bersalah. Kau tahu itu." (Hal. 35)

Seharusnya bila kau melihat sesuatu yang kau anggap salah, kau harus berpikir tenang, agar kau bisa mempertimbangkannya secara wajar, tidak melebih-lebihkannya, tidak memutarbalikannya. Kau tadi berbicara dengan sikap sangat membenci Robert. Dan itu tidak saja melukai hatinya, tetapi juga pasti melukai hatimu sendiri." (Hal. 55)

“Kau takut. Kau takut menyakiti hatimu sendiri, meruntuhkan keangkuhanmu sendiri.” (hal. 58)

Tetapi mereka giat belajar untuk suatu alasan yang tidak benar! Hanya untuk bisa mengejek lawannya! Jadi sesungguhnya mereka rajin belajar bukan karena senang belajar, tetapi karena merasa terpaksa! Sungguh sayang. (hal. 65)

“Sahabat lebih menyenangkan daripada musuh. Daripada mencari musuh lebih baik cari sahabat, Elizabeth sobatku.” (hal. 75)

“Mungkin kata-kata itu memang keji, tetapi bukannya tidak benar!” (hal. 85)

“…. Kau harus ingat untuk selalu mengatakan yang sebenarnya. Tak peduli betapa beratnya bebanmu karena itu. Kalau kau berani berkata benar, maka kami akan lebih menghargaimu.” (hal.128)

“Begini, Robert, bila kau tahu bagaimana suatu kebiasaan timbul dan tumbuh, kau akan bisa mengetahui cara melawannya.” (hal. 136)

“…. Sungguh senang untuk ditolong. Tetapi lebih senang lagi untuk menolong.” (hal.141)

Memang Robert harus dihukum, tetapi bergembira karena orang lain dihukum sungguh tidak begitu baik menurut pendapatnya. (hal.143)

Orang dewasa tampaknya selalu bisa membereskan persoalan apapun. (hal.167)

“…. Melarikan diri sama sekali takkan pernah bisa menyelesaikan suatu kesulitan, malah hanya akan memperburuk keadaan.” (hal.168)

“…. Kita takkan pernah melihat orang-orang yang berkepribadian kuat, orang-orang bijaksana bertengkar, atau membual, atau menarik perhatian orang—itu dilakukan hanya oleh orang-orang yang berkepribadian lemah!” (hal.169)
“Aku bisa melupakan kebencianku padamu karena aku merasa sangat bahagia, begitu bahagia hingga aku yakin aku mampu mengubah pribadiku.” (hal.175)

“Lain kali aku akan memberi kesempatan pada siapa pun sebelum aku menentukan bahwa mereka jahat,” (hal.177)

“Tidak ada gunanya memaksa orang. Segala hal harus dilakukan atas kehendak mereka sendiri, kalau tidak hasilnya akan sangat buruk.” (hal.180)

“Kita takkan bisa berbuat keji pada siapa pun pada saat kita merasa bahagia.” (hal.183)

“Memang orang yang akan menjadi cukup berarti di dunia ini adalah mereka yang bisa dipercayai orang lain serta bisa dimintai pertolongan,” (hal.238)

“…. Semua orang memiliki keberanian yang sama. Hanya ada yang tidak bisa memutuskan kapan menggunakan keberanian tersebut.” (hal.241)

Tetapi memang, siapa sombong akan terdorong, siapa angkuh akan jatuh, dan siapa takabur akan hancur. (hal.249)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar