Quotes from "Nothing to Fear" by Matthew D’Ancona
Ah, sudah
cukup lama tidak menuliskan quote yang menarik hatiku dari buku yang telah
kubaca. Di beberapa buku terakhir, aku memang hanya menemukan beberapa saja. Oleh
karena itu aku akan menggabungkannya dengan postingan review-nya. Namun kali
ini quotes yang kutemukan di buku Nothing to Fear ini agak banyak. Jadi kuputuskan untuk membuat post
terpisah. Baiklah, aku tidak akan berlama-lama. Mungkin saja kalian ada yang
sependapat denganku mengenai quote(s) berikut. Enjoy! :D
![]() |
gambar diambil dari sini |
---------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Air matanya tidak lagi mengungkapkan
kesedihan, melainkan refleks yang dipicu trauma. (hal. 21)
Karena bila mencintainya, Ginny tidak akan
pernah mau meninggalkannya. (hal. 29)
“Kurasa saat ini aku seharusnya mengatakan
tidak semua pernikahan buruk, hanya yang kujalani.” (hal. 29)
Di mata Ginny, itulah arti kematian
sesungguhnya: kehidupan berakhir ketika tidak ada lagi orang yang
mendengarkannya, saat pendongeng menungkapkan cerita pada dinding kosong yang
hampa. (hal. 57-58)
“Ibuku dulu sering berkata, hasil karya
seni baru bisa disebut karya seni saat dilihat, atau dibaca, atau didengar
orang lain. Bila tidak, ia hanya menjadi karya yang mati.” (hal. 76)
Sang seniman memahami bahwa jiwa manusia
gelap dan penuh kekejaman, dan keajaiban tidak selalu terjadi pada orang yang
tepat. (hal. 123)
Tidak ada yang bisa menjelaskan rasa takut
itu atau menghilangkannya. Sosok mengerikan tersebut benar-benar nyata. (hal.
168)
Mengintip lebih baik daripada menari
bagaikan boneka di cengkraman seorang mantan pembunuh yang tidak terburu-buru.
(hal. 243)
“Kenapa orang tidak bisa menjaga rahasia
saat diminta?” (hal. 254)
“Begitu semua ini dimulai, seakan-akan
keadaan sudah tidak terkendali lagi. Ini yang paling aneh. Seakan-akan memang
sudah seharusnya terjadi seperti itu.” (hal. 278)
“Tenang dulu dan pikir dua kali sebelum
melakukan apapun – melakukan sesuatu yang akan kausesali.” (hal. 308)
“Dan kehidupanmu belum berakhir.” (hal.
318)
Hal seperti itu tidak usah ditelaah terlalu
dalam: dalam kasus-kasus seperti ini, dokter dan pasien berada pada posisi
sejajar, keduanya memasrahkan semuanya kepada Tuhan. (hal. 348)
Comments
Post a Comment