Quotes from "Stardust" by Neil Gaiman
Dua hari
yang lalu kuselesai membaca kisah Tristran Thorn yang mencari Bintang Jatuh di
negeri seberang Desa Tembok. Petualangannya menarik dan banyak hal ajaib yang
dia alami. Dongeng untuk orang dewasa ini kuperoleh (lagi-lagi) saat
mengunjungi Bazaar buku di Gramedia Book Store di kotaku, haha.
Nuansanya
klasik dan memang mengingatkanku dengan novel-novel klasik walauun faktanya
buku ini pertama kali terbit di tahun 1999. Mungkin Neil Gaiman penyuka novel
klasik. Namun novel ini sudah pernah difilmkan, lho. Filmnya sendiri
menggunakan judul yang sama “stardust” dan rilis tahun 2007. Ada yang sudah pernah baca atau nonton? Anyway, here
are some quotes I got from the book. Enjoy! :D
![]() |
gambar diambil dari sini |
Dan, terlalu lugu untuk merasa takut,
terlalu muda untuk merasa gentar, Tristran menyebrangi padang yang kita
kenal…dan memasuki Negeri Peri. (hal. 61)
“setiap kekasih adalah orang gila dalam
hatinya dan penyanyi dalam benaknya.” (Tristran – hal. 86)
“Minuman itu nikmat pada saat-saat sulit,
dan sekarang ini jelas saat sulit.” (Katai berbulu – hal. 92)
Meskipun pakaian tidak membentuk manusia
(seperti kata peribahasa), dan bulu bagus tidak menjadikan burung bagus,
terkadang pakaian bisa juga menjadi bumbu. (hal. 104)
“Lebih baik aku memanggil orang yang tidak
ada, daripada orang yang memang ada tak tahu kita ada di sini karena aku tidak
berkata apa-apa.” (Tristran – hal. 182)
“Kadang-kadang bintang jatuh. Tapi tidak
kembali lagi ke atas.” (Yvaine – hal. 182)
Tristran lega, bisa kembali berpijak pada
sesuatu yang menempel pada tanah, namun juga, dengan cara yang tidak bisa
diungkapkannya dalam kata, dia merasa kecewa, seolah-olah, saat kakinya
menyentuh bumi lagi, dia kehilangan sesuatu yang snagat bagus. (hal. 188)
Matahari bersinar di mata mereka, setengah
membutakan dan mengubah dunia menjadi emas cair. (hal. 210)
Comments
Post a Comment