Jumat, 29 Januari 2016

Kaas (Keju) by Willem Elsschot – Impian Keju, Manusia Keju, Cobaan Keju

“Kini terbentanglah dunia keju bagiku.”

sumber

Judul asli: Kaas
Judul terjemahan: Keju
Pengarang: Willem Elsschot
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Mei, 2010
Tebal buku: 176 halaman
Genre: Klasik, Roman
Format: Paperback
ISBN: 978-979-22-5767-0

Aku jatuh cinta pada Kaas sejak pertama kali melihatnya. Sinopsis dan review yang kubaca saat itu berikut desain cover-nya yang minimalis telah merebut hatiku. Sekarang buku itu sudah ada di tanganku. Dan semakin dilihat aku jadi semakin sayang. Haha, iya, iya, jadi rada lebay, nih. Namun sejak dua tahun yang lalu ketika melihat Kaas untuk pertama kali, aku menyimpannya erat di dalam hati. Dan memang betul sepertinya ungkapan “jodoh pasti bertemu”. Ada kisah ajaib, lho, saat aku membelinya di awal tahun 2016 ini. Saat itu aku sedang berkunjung ke Gramedia dan buku tersebut terlihat di bagian obral. Oke, untuk kelanjutan ceritanya tidak akan dibahas di postingan ini. Silakan klik di sini jika ingin tahu, ya. 

Kaas ditulis oleh Willem Elsschot dan selesai di tahun 1933. Ini merupakan roman dari negeri kincir angin yang sukses dicetak ulang berkali-kali. Karena sudah lama aku menginkan buku ini, tentunya ekspektasi yang kupunya cukup besar. Dan Kaas memang tidak mengecewakan. Dari judulnya saja mungkin sudah bisa kita simpulkan bercerita tentang apa. Yup, kaas adalah bahasa Belanda untuk keju. Siapa yang suka keju disini? Aku bakal ngacungin 10 jari tanganku, deh. I am keju lover, haha. Dan bagi yang tidak suka keju, selamat menikmati “hidangan keju” dari awal hingga akhir buku.

Keju, Impian Keju, Film Keju, …, Cobaan Keju, Menara Keju, Luka Keju.

Haha, aku tidak bisa menahan senyum saat menuliskan review ini. Membaca Kaas sangat menyenangkan namun tetap penuh makna dan ada moral cerita yang bisa kita petik. Buku ini mampu membuatku tersenyum bahkan saat aku membaca bagian awal buku. Maksudku di bagian Daftar Tokoh. Haha, iya, membaca deskripsi yang Elsschot berikan untuk tokoh utama di buku ini (Frans Laarman) sudah mengasyikan. Berlanjut hingga ke bagian berikutnya “Unsur-unsur dalam buku” hingga masuk ke alur cerita dan seterusnya. Aku tersenyum dengan intens. Jika bisa, rasanya ingin sekali berkenalan dan bercakap-cakap dengan penulisnya.

Frans Laarmans, kerani di General Marine and Shipbuilding Company, lalu pengusaha, lalu kerani lagi

Baiklah, untuk mengurangi kadar pujianku untuk buku ini, aku akan bercerita sedikit soal inti cerita dari novel ini. Frans Laarman adalah seorang kepala keluarga berusia 50 tahun. Dia bekerja sebagai staf administratif (kerani) di sebuah galangan kapal. Dia sudah bekerja di sana selama 30 tahun. Suatu kali, di pemakaman ibunya, dia berkenalan dengan teman abangnya yang bernama Van Schoonbeke. Pria ini adalah seorang pengusaha kaya yang sering mengundang teman-temannya untuk berkumpul. Dari pria inilah dimulai mimpi keju, petualangan keju, dan blabla keju lainnya yang Laarmans hadapi, haha.

“Jalan” penuh keju itu ditawari oleh Van Schoonbeke untuk dilewati oleh Laarmans. Dia menjadi agen penjualan keju milik Hornstra untuk wilayah Belgia. Laarmans sendiri awalnya tidak mengetahui mengapa dia merasa tertantang untuk menjadi penjual keju meski dirinya sendiri tidak menyukai keju.  Baru diakhir buku nanti penulis memaparkan penyebab dia berani menerima kesepakatan untuk menjual keju. Hornstra sendiri setuju untuk bekerja sama dengan Laarmans dan mengiriminya 20 ton keju edam yang kulit luarnya merah seperti buah apel untuk dijual dalam jangka waktu seminggu. Haha, lagi-lagi aku kembali tertawa membayangkan paragraf yang telah kubaca mengenai tingkah Laarmans saat masih menggebu-gebu memulai usaha kejunya ini. Apakah Laarmans berhasil menjual kejunya?

Buku ini memakai sudut pandang pertama (aku). Ini membuat kita lebih mudah untuk menyelami sifat Laarman si tokoh utama. Dia digambarkan sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara. Sikapnya terkadang kikuk namun bisa juga menjadi spontan. Mengetahui apa yang dia pikirkan juga menjadi pengantar bagi kita untuk mengetahui karakter dan keunikan dari tokoh lainnya. Entahlah, menurutku tokoh-tokoh di dalam cerita ini terasa bersahabat, apa adanya, mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Kebiasaan mengucapkan apa yang kupikirkan di jalanan umum seperti ini harus kuhentikan, sebab terkadang aku mengagetkan orang. Bagi kerani tak dikenal hal itu bukan masalah, namun lain halnya bagi pengusaha. (hal. 46-47)

Dari penjelasan mengenai pengarang di bagian belakang buku, bisa diketahui jika Elsschot sering menulis tentang keluarga dan bisnis. Di buku ini pun kedua nuansa tersebut bisa terlihat dengan mudah. Mulai dari cerita tentang ibunya yang walaupun sudah dikubur sejak bagian awal cerita, namun tetap disebut-sebut hingga akhir buku. Cerita tentang ibunya ini pun menarik, runtut, dan santai. It is like simple is more. Begitu pula kisah tentang abang tertuanya yang selalu mengecek keadaan Laarmans (dan kurasa adik-adiknya yang lain) setiap hari meski hanya melalui kunjungan singkat. Dan tentunya kisah istri dan anak-anaknya yang ikut andil dalam petualangan keju yang Laarmans hadapi.  

Sangat kusesalkan bahwa ibuku yang baik tak dapat mengalami semua ini. (hal. 74)

Mereka yang terbaring di sini tak tahu menahu perihal riwayat kejuku, jika tahu pastilah Ibu datang ke Gafpa untuk menghibur dan memberikan dukungan. (hal. 158)

Anak-anak yang patuh, anak-anak yang terpuji.
Istri yang baik, istri yang penyayang. (hal. 160)

Sementara dari sisi bisnis, melalui buku yang hanya setebal 176 halaman ini, kita bisa mendapatkan banyak tips untuk menjadi pengusaha atau setidaknya pedagang. Di buku ini Laarmans sama sekali awam dengan dunia bisnis Tips seperti ini mulai bermunculan semenjak Laarmans memulai petualangan kejunya. Semacam list of do and don’t’s lah. Menurutku, inti dari semua tips itu adalah segera memulai. Laarmans terlalu sibuk menyiapkan kantor dan hal administratif lainnya seperti isi kantor, mesin tik, kertas surat, dan lain-lain meski abangnya sudah mengingatkan untuk segera menjual keju dan rutin menanyakan statistik penjualan di setiap kunjungan singkatnya ke rumah Laarmans.

Kini kusadari diriku tak punya pengalaman sebab aku belum pernah menjual apa pun. (hal. 124)

Tidak ada kemarahan dan kebencian di novel ini. Hanya ada senyum dan pembelajaran. Meski pun tingkah Laarmans sesekali membuat kita gemes, namun aku tidak pernah bisa sampai mengutuknya atau membencinya. Elsschot pintar sekali meramunya. Alih-alih kesal , kita malah dibuat senyum sambil geleng-geleng kepala. Sindiran-sindiran halus dan sedikit nuansa sarkasme mengajak kita bercermin ke diri kita sendiri. Buku ini terasa manusiawi dan melihat sudut yang tidak banyak diperlihatkan oleh seseorang. Misalnya adegan saat Laarmans menghadapi kematian Ibunya. Malam itu dia habis meminum bir dan hampir mau muntah saat ibunya menghadapi sakratul maut. Dia merasa kikuk dengan situasi tersebut. Namun jangan men-judge yang aneh-aneh dulu. Laarmans sangat menyayangi ibunya. Berulang kali dalam buku ini dia memuji kebaikan ibunya.

Ah, ya, aku menemukan sebuah ironi di buku ini. Jika di Indonesia, sepertinya keju dianggap sebagai makanan mewah, sementara di sana tidak. Setidaknya ketika Elsschot menuliskan buku ini. Hihi, mungkin karena mereka makan keju tiap hari kali, ya. Hal tersebut bisa terlihat saat Van Schoonbeke mengumumkan kepada teman-temannya jika Laarmans telah menjadi pengusaha keju. Dia tidak menyebutkan kata keju dan malah menggantinya dengan kata “bahan makanan”. Barulah ketika dia berbicara berdua saja dengan Laarmans, dia menyebut kata keju. Ya, seakan-akan keju dianggap sebelah mata saja. Ya, penilaian seperti itu memang relatif.

Kini aku harus mengaku usaha itu menyangkut keju. Janggal rasanya, namun menurutku ada sesuatu yang menjijikkan dan ganjil. Tentulah akan lebih menyenangkan bagiku jika aku bisa berdagang yang lain, …. (hal. 37)

Mengapa ia mengatakan “bahan makanan”, bukannya keju? Rupanya dia menganggap produk itu janggal, sama seperti aku.

Huwwa, tidak terasa cerita keju ini telah kutamatkan. Aku menikmati kisahnya dan buku ini membuatku terkesan. Suasana yang dibangun terasa menyenangkan dan akrab. Alur ceritanya mengalir dan semua karakter di dalamnya mendapat porsi yang pas. Baca sampai akhir karena di bagian akhir buku ada Catatan Pengarang. Di situ ada tips untuk menjadi seorang pengarang yang baik. Tips tersebut dikemas dalam bentuk paragraf panjang dan penuh analogi. Buku ini boleh jadi tipis dan covernya cukup sederhana serta bisa ditemukan di bagian obral, namun buku ini sangat kaya. Aku merasa beruntung bisa membaca buku ini. Dan salah satu ciri khas cerita klasik (menurutku) adalah quote(s) manis tentang kehidupan. Aku merangkum semua quote tersebut di postingan selanjutnya. Klik di sini, ya. Okelah, aku tutup review ini di sini. Salam Keju untuk pembaca semua. :D

Rating: The Best

Submitted to:
Posting Bareng BBI 2016
Read and Keep Challenge 2016

2 komentar:

  1. Bener, intinya segera memulai. Laarmans terlalu sibuk dengan urusan menyiapkan kantor daripada menjual keju, jadi gemes XD

    BalasHapus