[Review] Kaas (Keju) by Willem Elsschot – Impian Keju, Manusia Keju, Cobaan Keju
“Kini terbentanglah dunia keju bagiku.”
![]() |
sumber |
Judul asli: Kaas
Judul terjemahan:
Keju
Pengarang: Willem Elsschot
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Tahun terbit: Mei,
2010
Tebal buku: 176
halaman
Genre: Klasik, roman, sastra
Format: Paperback
ISBN: 978-979-22-5767-0
Aku jatuh
cinta pada Kaas sejak pertama kali melihatnya. Sinopsis dan review yang kubaca
saat itu berikut desain sampulnya yang minimalis telah merebut hatiku. Sekarang
buku itu sudah ada di tanganku. Dan semakin dilihat aku jadi semakin sayang.
Haha, iya, iya, jadi rada lebay, nih. Namun sejak dua tahun yang lalu ketika melihat
Kaas untuk pertama kali, aku menyimpannya erat di dalam hati. Dan memang betul
sepertinya ungkapan “jodoh pasti bertemu”. Ada kisah ajaib, lho, saat aku
membelinya di awal tahun 2016 ini. Saat itu aku sedang berkunjung ke Gramedia
dan buku tersebut terlihat di bagian obral. Oke, untuk kelanjutan ceritanya tidak
akan dibahas di postingan ini. Silakan klik di sini jika ingin tahu, ya.
Kaas
ditulis oleh Willem Elsschot dan selesai di tahun 1933. Ini merupakan roman
dari negeri kincir angin yang sukses dicetak ulang berkali-kali. Karena sudah
lama aku menginkan buku ini, tentunya ekspektasi yang kupunya cukup besar. Dan
Kaas memang tidak mengecewakan. Dari judulnya saja mungkin sudah bisa kita
simpulkan bercerita tentang apa. Yup, kaas adalah bahasa Belanda untuk keju.
Siapa yang suka keju disini? Aku bakal ngacungin 10 jari tanganku, deh. I am keju lover, haha. Dan bagi yang
tidak suka keju, selamat menikmati “hidangan keju” dari awal hingga akhir buku.
Keju, Impian Keju, Film Keju, …, Cobaan
Keju, Menara Keju, Luka Keju.
Haha, aku
tidak bisa menahan senyum saat menuliskan review ini. Membaca Kaas sangat
menyenangkan namun tetap penuh makna dan ada moral cerita yang bisa kita petik.
Buku ini mampu membuatku tersenyum bahkan saat aku membaca bagian awal buku.
Maksudku di bagian Daftar Tokoh. Haha, iya, membaca deskripsi yang Elsschot
berikan untuk tokoh utama di buku ini (Frans Laarman) sudah mengasyikan.
Berlanjut hingga ke bagian berikutnya “Unsur-unsur dalam buku” hingga masuk ke
alur cerita dan seterusnya. Aku tersenyum dengan intens. Jika bisa, rasanya
ingin sekali berkenalan dan bercakap-cakap dengan penulisnya.
Frans Laarmans,
kerani di General Marine and Shipbuilding Company, lalu pengusaha, lalu kerani lagi
Baiklah,
untuk mengurangi kadar pujianku untuk buku ini, aku akan bercerita sedikit soal
inti cerita dari novel ini. Frans Laarmans adalah seorang kepala keluarga
berusia 50 tahun. Dia bekerja sebagai staf administratif (kerani) di sebuah
galangan kapal. Dia sudah bekerja di sana selama 30 tahun. Suatu kali, di
pemakaman ibunya, dia berkenalan dengan teman abangnya yang bernama Van Schoonbeke.
Pria ini adalah seorang pengusaha kaya yang sering mengundang teman-temannya
untuk berkumpul. Dari pria inilah dimulai mimpi keju, petualangan keju, dan
blabla keju lainnya yang Laarmans hadapi, haha.
“Jalan”
penuh keju itu ditawari oleh Van Schoonbeke untuk dilewati oleh Laarmans. Dia
menjadi agen penjualan keju milik Hornstra untuk wilayah Belgia. Laarmans sendiri
awalnya tidak mengetahui mengapa dia merasa tertantang untuk menjadi penjual
keju meski dirinya sendiri tidak menyukai keju.
Baru diakhir buku nanti penulis memaparkan penyebab dia berani menerima
kesepakatan untuk menjual keju. Hornstra sendiri setuju untuk bekerja sama
dengan Laarmans dan mengiriminya 20 ton keju edam yang kulit luarnya merah
seperti buah apel untuk dijual dalam jangka waktu seminggu. Haha, lagi-lagi aku
kembali tertawa membayangkan paragraf yang telah kubaca mengenai tingkah
Laarmans saat masih menggebu-gebu memulai usaha kejunya ini. Apakah Laarmans
berhasil menjual kejunya?
Buku ini
memakai sudut pandang pertama (aku). Ini membuat kita lebih mudah untuk
menyelami sifat Laarman si tokoh utama. Dia digambarkan sebagai anak bungsu
dari 9 bersaudara. Sikapnya terkadang kikuk namun bisa juga menjadi spontan. Mengetahui
apa yang dia pikirkan juga menjadi pengantar bagi kita untuk mengetahui
karakter dan keunikan dari tokoh lainnya. Entahlah, menurutku tokoh-tokoh di
dalam cerita ini terasa bersahabat, apa adanya, mempunyai kelebihan dan
kekurangan tersendiri.
Kebiasaan mengucapkan apa yang kupikirkan
di jalanan umum seperti ini harus kuhentikan, sebab terkadang aku mengagetkan
orang. Bagi kerani tak dikenal hal itu bukan masalah, namun lain halnya bagi pengusaha.
(hal. 46-47)
Dari
penjelasan mengenai pengarang di bagian belakang buku, bisa diketahui jika
Elsschot sering menulis tentang keluarga dan bisnis. Di buku ini pun kedua
nuansa tersebut bisa terlihat dengan mudah. Mulai dari cerita tentang ibu Laarmans yang
walaupun sudah dikubur sejak bagian awal cerita, namun tetap disebut-sebut
hingga akhir buku. Cerita tentang ibunya ini pun menarik, runtut, dan santai. It is like simple is more. Begitu pula kisah
tentang abang tertuanya yang selalu mengecek keadaan Laarmans (dan kurasa
adik-adiknya yang lain) setiap hari meski hanya melalui kunjungan singkat. Dan
tentunya kisah istri dan anak-anaknya yang ikut andil dalam petualangan keju
yang Laarmans hadapi.
Sangat kusesalkan bahwa ibuku yang baik tak
dapat mengalami semua ini. (hal. 74)
Mereka yang terbaring di sini tak tahu
menahu perihal riwayat kejuku, jika tahu pastilah Ibu datang ke Gafpa untuk
menghibur dan memberikan dukungan. (hal. 158)
Anak-anak yang patuh, anak-anak yang
terpuji.
Istri yang baik, istri yang penyayang.
(hal. 160)
Sementara
dari sisi bisnis, melalui buku yang hanya setebal 176 halaman ini, kita bisa mendapatkan
banyak tips untuk menjadi pengusaha atau setidaknya pedagang. Di buku ini
Laarmans sama sekali awam dengan dunia bisnis Tips menjadi pengusaha mulai
bermunculan semenjak Laarmans memulai petualangan kejunya. Semacam list of do and don’t’s lah. Menurutku,
inti dari semua tips itu adalah segera memulai. Laarmans terlalu sibuk
menyiapkan kantor dan hal administratif lainnya seperti isi kantor, mesin tik,
kertas surat, dan lain-lain meski abangnya sudah mengingatkan untuk segera
menjual keju dan rutin menanyakan statistik penjualan di setiap kunjungan
singkatnya ke rumah Laarmans.
Kini kusadari diriku tak punya pengalaman
sebab aku belum pernah menjual apa pun. (hal. 124)
Tidak ada
kemarahan dan kebencian di novel ini. Hanya ada senyum dan pembelajaran. Meskipun tingkah Laarmans sesekali membuat kita gemes, namun aku tidak pernah bisa
sampai mengutuknya atau membencinya. Elsschot pintar sekali meramunya.
Alih-alih kesal, kita malah dibuat senyum sambil geleng-geleng kepala. Sindiran-sindiran
halus dan sedikit nuansa sarkasme mengajak kita bercermin ke diri kita sendiri.
Buku ini terasa manusiawi dan melihat sudut yang tidak banyak diperlihatkan
oleh seseorang. Misalnya adegan saat Laarmans menghadapi kematian ibunya. Malam
itu dia habis meminum bir dan hampir mau muntah saat ibunya menghadapi sakratul
maut. Dia merasa kikuk dengan situasi tersebut. Namun jangan men-judge yang aneh-aneh
dulu. Laarmans sangat menyayangi ibunya. Berulang kali dalam buku ini dia
memuji kebaikan ibunya.
Ah, ya, aku
menemukan sebuah ironi di buku ini. Jika di Indonesia, sepertinya keju dianggap
sebagai makanan mewah, sementara di sana tidak. Setidaknya ketika Elsschot
menuliskan buku ini. Hihi, mungkin karena mereka makan keju tiap hari kali, ya.
Hal tersebut bisa terlihat saat Van Schoonbeke mengumumkan kepada
teman-temannya jika Laarmans telah menjadi pengusaha keju. Dia tidak
menyebutkan kata keju dan malah menggantinya dengan kata “bahan makanan”.
Barulah ketika dia berbicara berdua saja dengan Laarmans, dia menyebut kata
keju. Ya, seakan-akan keju dianggap sebelah mata saja. Ya, penilaian seperti
itu memang relatif.
Kini aku harus mengaku usaha itu menyangkut
keju. Janggal rasanya, namun menurutku ada sesuatu yang menjijikkan dan ganjil.
Tentulah akan lebih menyenangkan bagiku jika aku bisa berdagang yang lain, ….
(hal. 37)
Mengapa ia mengatakan “bahan makanan”,
bukannya keju? Rupanya dia menganggap produk itu janggal, sama seperti aku.
Tanpa terasa cerita keju ini telah kutamatkan. Aku menikmati kisahnya dan buku
ini membuatku terkesan. Suasana yang dibangun terasa menyenangkan dan akrab. Alur
ceritanya mengalir dan semua karakter di dalamnya mendapat porsi yang pas. Baca
sampai akhir karena di bagian akhir buku ada Catatan Pengarang. Di situ ada
tips untuk menjadi seorang pengarang yang baik. Tips tersebut dikemas dalam
bentuk paragraf panjang dan penuh analogi. Buku ini boleh jadi tipis dan sampulnya
cukup sederhana serta bisa ditemukan di bagian obral, namun buku ini sangat
kaya. Aku merasa beruntung bisa membaca buku ini. Dan salah satu ciri khas
cerita klasik (menurutku) adalah kutipan manis tentang kehidupan. Aku
merangkum semua quotes tersebut di postingan selanjutnya. Klik di sini, ya. Okelah, aku tutup review
ini di sini. Salam Keju untuk pembaca semua. :D
Bener, intinya segera memulai. Laarmans terlalu sibuk dengan urusan menyiapkan kantor daripada menjual keju, jadi gemes XD
ReplyDeleteHaha..bener bener..
Delete