Selasa, 29 Desember 2015

[Quote] Nothing to Fear by Matthew D’Ancona

Ah, sudah cukup lama tidak menuliskan quote yang menarik hatiku dari buku yang telah kubaca. Di beberapa buku terakhir, aku memang hanya menemukan beberapa saja. Oleh karena itu aku akan menggabungkannya dengan postingan review-nya. Namun kali ini quotes yang kutemukan di buku Nothing to Fear ini agak banyak. Jadi kuputuskan untuk membuat post terpisah. Baiklah, aku tidak akan berlama-lama. Mungkin saja kalian ada yang sependapat denganku mengenai quote(s) berikut. Enjoy! :D
 
gambar diambil dari sini
---------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Air matanya tidak lagi mengungkapkan kesedihan, melainkan refleks yang dipicu trauma. (hal. 21)
 
Karena bila mencintainya, Ginny tidak akan pernah mau meninggalkannya. (hal. 29)

“Kurasa saat ini aku seharusnya mengatakan tidak semua pernikahan buruk, hanya yang kujalani.” (hal. 29)

Di mata Ginny, itulah arti kematian sesungguhnya: kehidupan berakhir ketika tidak ada lagi orang yang mendengarkannya, saat pendongeng menungkapkan cerita pada dinding kosong yang hampa. (hal. 57-58)

“Ibuku dulu sering berkata, hasil karya seni baru bisa disebut karya seni saat dilihat, atau dibaca, atau didengar orang lain. Bila tidak, ia hanya menjadi karya yang mati.” (hal. 76)

Sang seniman memahami bahwa jiwa manusia gelap dan penuh kekejaman, dan keajaiban tidak selalu terjadi pada orang yang tepat. (hal. 123)

Tidak ada yang bisa menjelaskan rasa takut itu atau menghilangkannya. Sosok mengerikan tersebut benar-benar nyata. (hal. 168)

Mengintip lebih baik daripada menari bagaikan boneka di cengkraman seorang mantan pembunuh yang tidak terburu-buru. (hal. 243)

“Kenapa orang tidak bisa menjaga rahasia saat diminta?” (hal. 254)

“Begitu semua ini dimulai, seakan-akan keadaan sudah tidak terkendali lagi. Ini yang paling aneh. Seakan-akan memang sudah seharusnya terjadi seperti itu.” (hal. 278)

“Tenang dulu dan pikir dua kali sebelum melakukan apapun – melakukan sesuatu yang akan kausesali.” (hal. 308)

“Dan kehidupanmu belum berakhir.” (hal. 318)

Hal seperti itu tidak usah ditelaah terlalu dalam: dalam kasus-kasus seperti ini, dokter dan pasien berada pada posisi sejajar, keduanya memasrahkan semuanya kepada Tuhan. (hal. 348)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar