Selasa, 21 April 2015

[Quote] Lord Edgware Dies by Agatha Christie

Ini kali kedua aku selesai membaca seri Hercule Poirot karangan Agatha Christie. Tidak seperti buku sebelumnya (Hallowe’en Party), kisah yang satu ini cukup kompleks dan banyak sekali karakter yang terlibat di dalamnya. Yea, aku kagum dengan cerita yang melibatkan banyak tokoh namun masing-masing dieksplor dengan baik. Haha, sepanjang yang bisa kuamati memang begitu di seri Lord Edgware Dies ini. Terlebih karakter antagonis di seri ini, haha, sangat menggemaskan. Herannya, aku malah suka terlebih di bagian ending-nya.

Baiklah, seperti biasa, setelah membuat review untuk buku ini, aku juga mengutip beberapa quote yang menarik (lagi-lagi versi seorang Kiki). Boleh jadi quote ini juga menarik bagi kalian. Enjoy, :D

Manusia memang mudah lupa. (hal. 9)

Untuk bisa menerima sorotan yang begitu tajam dibutuhkan jiwa besar dan rasa humor yang tinggi. (hal. 13)

Karakter asing dengan mudahnya dapat terpampang di wajah itu, tapi wajah itu sendiri tak punya karakter yang mudah kukenali. (hal. 14)

“Apa kau tak tahu, Kawan, bahwa masing-masing kita ini adalah kabut misteri yang pekat, benang kusut perasaan, keinginan, dan kemampuan? Mais oui, c’est vrai. Betul. Kita membuat penilaian --- tapi sembilan dari sepuluh dugaan kita itu salah.” (Poirot, hal. 16)

“Cinta uang bisa membuat orang macam itu meninggalkan jalan yang bijak dan sikap hati-hati.” (Poirot, hal. 17)

“Bagi para ahli, bukan tindakan membunuhnya yang menarik. Tapi latar belakangnya.” (hal. 17)

“Kita bisa melihat dengan mata hati kita.” (Poirot, hal. 18)

“Penampilan sebenarnya soal kecil, tapi bagi manusia --- itu penting --- untuk menjaga gengsi.” (Poirot, hal. 62)

“Dari satu sudut, sama sekali taka da hal yang kebetulan.” (Poirot, hal. 98)

“Ah! Tiram pun bisa tergugah karena curiga.” (Poirot, hal. 99)

“Dan seterusnya dan seterusnya --- sampai kita mendapat baju yang paling pas --- yaitu kebenaran.” (Poirot, hal. 100)

“Tak ada seorang manusia pun yang harus belajar dari manusia lain. Tiap individu harus mengembangkan kemampuan-kemampuannya sendiri semaksimal mungkin, bukannya meniru kemampuan orang lain.” (Poirot, hal. 165-166)

“C’est toujours possible, kemungkinan selalu ada, Madame.” (Poirot, hal. 177)

“Gadis mana saja selalu punya kawan pria. Kalau tidak, pasti ada kelainan.” (Japp, hal. 189)

“Detektif itu, selalu punya teori. Dia memang seharusnya begitu.” (Poirot, hal. 192)

“Sebagai detektif aku punya kehormatan yang mesti dijaga. Kehormatan itu soal yang serius.” (Poirot, hal. 208)
“Yah, kurasa di dunia ini ada berbagai macam kehormatan.” (Hastings, hal. 208)
“Si mati angkat bicara. Ya, memang kadang-kadang orang yang sudah mati pun bisa bicara.” (Poirot, hal. 224)

“Oh ya, ya, kita dapat. Kita akan tahu! Kemampuan otak manusia itu, Hastings, hampir tidak terbatas.” (Poirot, hal. 282)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar