Selasa, 21 April 2015

Lord Edgware Dies – Ketika si Pura-pura terdiam melihat si Mati berbicara

“Si mati angkat bicara. Ya, memang kadang-kadang orang yang sudah mati pun bisa bicara.” - Poirot


gambar diambil dari sini

Judul: Matinya Lord Edgware
Judul Asli: Lord Edgware Dies
Pengarang: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus, 2007 (Cetakkan ketujuh)
Tebal buku: 336 halaman
ISBN-13: 978-979-22-2885-4

Suatu malam aku membuka segel buku ini. Wanginya segera merebak dan menimbulkan sensasi tersendiri yang merayap langsung ke suatu bagian di otak yang ku tak tahu apa namanya. Sensasi menyenangkan dan diliputi rasa penasaran yang lumayan mengasikan. Ini kali kedua aku membaca kisah Poirot karangan Agatha Christie. Dan tampilan di buku ini cukup berbeda dengan seri yang kubaca sebelumnya (Hallowe’en Party).

Tidak seperti Hallowe’en Party, seri kali ini tidak dibuka dengan perkenalan para tokoh. Haha, aku jadi mempertanyakan hipotesaku yang sempat kutuliskan di resensi sebelumnya. Namun lebih dari itu, aku penasaran, apakah memang seperti ini yang seharusnya? Mengapa ada yang dilengkapi dengan “Susunan tokoh-tokoh” da nada yang tidak?

Hal ini agaknya menggiringku ke hipotesa baru, haha. Setelah aku cermati, di seri kali ini, Agatha tidak menjadi narrator seperti halnya di Hallowe’en Party. Di seri ini, Agatha bercerita melalui sudut pandang seorang Hastings. Jadi seolah-olah Hastings yang menuliskan buku ini. Hastings sendiri sepertinya teman dekat Poirot. Yea, dia mendampingi Poirot selama memecahkan kasus ini. Hampir mirip dengan Watson-nya si Holmes.

Jadi hipotesa baru tersebut adalah ketika Agatha menjadi narator, maka dia akan menggunakan dua atau tiga halaman pertama untuk membuat daftar tokoh-tokoh yang terlibat di dalam cerita tersebut. Sementara ketika dia memakai sudut pandang “aku”, maka tidak akan ada susunan tokoh-tokoh yang akan ditampilkan di cerita tersebut. Haha, baiklah, ini hanya sekedar ide isengku. Dan tentu saja aku akan mengecek hipotesa ini di serial Poirot lainnya. Kebetulan aku masih punya satu judul lagi yang bahkan masih belum kubuka segelnya. Mungkin seri yang satu itu (N or M ?) bisa menjadi penengah, lol.

Baiklah secara ringkasnya, seri kali ini mengisahkan tentang perceraian antara Lord Edgware yang kaya dan mempunyai selera yang “aneh” serta “kaku” dengan isteri keduanya yang seorang artis terkenal bernama Jane Wilkinson. Jane sendiri adalah tipe wanita egois yang sering bicara blak-blakan. Bahkan dia bicara di depan banyak orang bahwa dia ingin menghabisi nyawa suaminya.

Yea, dia ingin sekali bercerai dengan Lord Edgware agar bisa menikah dengan Duke of Merton. Namun Lord Edgware tidak pernah suka atau menyetujuinya. Jane lalu meminta agar Poirot bertemu dengan Lord Edgware untuk membicarakan soal perceraiannya tersebut. Jane berasumsi bahwa jika seorang Poirot yang membujuknya, Lord akan mau menceraikannya. Tanpa disangka, Poirot dapat bertemu dengan Lord Edgware sehari lebih awal dari seharusnya. Dan tepat di hari itu juga, lebih tepatnya di malam harinya, Lord Edgware tewas terbunuh.

Kecurigaan mengarah ke Jane Wilkinson karena ada seorang saksi yang menyatakan melihat Jane menemui Lord malam itu setelah makan malam. Jane dalam balutan pakaian serba hitam memasuki perpustakaan dimana Lord Edgware biasa menghabiskan waktunya. Namun kesaksian tersebut terbantahkan karena ada lebih banyak saksi lagi yang melihat bahkan berbicara dengan Jane di pesta makan malam di daerah Chipswick. Bagaimana bisa ada dua Jane di waktu yang sama namun lokasi yang berbeda?

Hastings terus bersama Poirot dalam memecahkan kasus ini setahap demi setahap. Melaluinya aku sedikit lebih mengenal Poirot. Selain suka memperhatikan penampilannya, Poirot juga suka sekali dengan kumisnya. Haha, sayangnya aku lupa di halaman berapa dan bagaimana bunyi kutipan yang menandakan bahwa Poirot amat bangga dengan kumisnya tersebut.

Hal menarik lainnya, yang juga lupa kuingat berada entah di halaman berapa, adalah tentang sel-sel kelabu kecil. Poirot sangat suka berceloteh mengenai sel-sel kelabu kecil di otaknya yang membantunya dalam memecahkan kasus dan misteri. Aku pun mencoba googling, dan haha, maaf, masih belum mengerti sepenuhnya tentang materi kelabu di otak tersebut. :D

Satu hal yang juga aku amati dari serial Poirot ini adalah tentang kesukaannya terhadap psikologi. Entah mungkin karena aku pun cukup suka dengan hal yang berbau seperti ini, maka aku menemukan hal ini sebagai hal yang menarik. Dan sepertinya Agatha juga mempunyai ketertarikan dengan bidang ini. Di serial ini ada beberapa kutipan yang mengajari kita sedikit tentang psikologi lalu cara membaca bahasa tubuh seseorang yang cukup seru untuk disimak. Ya, mungkin psikologi merupakan bumbu yang bisa membuat serial detektif menjadi lebih gurih.

“Kukira tergantung setting-nya, Kawan. … Ceritanya harus tentang dia dan ditulis untuk dia. Bagiku dia tipe wanita yang hanya menaruh perhatian pada dirinya sendiri.” (hal. 15)

“Psikologi karakter itu menarik,” katanya lagi, tak peduli. (hal. 17)

“Orang yang berminat pada kriminalitas pasti juga tertarik pada psikologi. Bagi para ahli, bukan tindakan membunuhnya yang menarik, tapi latar belakangnya. Kau paham, Hastings?” (hal. 17)

Meskipun aku tak tergila-gila pada “psikologi” seperti Poirot, penjelasan Lady Edgware tentang suaminya telah membangkitkan rasa ingin tahuku. (hal. 48)

Kelihatan sekali dia amat cemas, duduknya condong ke depan dan kedua tangannya saling meremas dengan gugup. (hal. 262)

Hal yang mungkin menarik, terutama bagiku, adalah tentang makhluk mitos yang disisipi ke dalam cerita dan deskripsi tentang seorang lelaki yang amat tampan. Setidaknya hal tersebut kutemukan di dua serial Poirot yang telah kubaca ini. Mungkin jika kalian membaca review-ku sebelumnya (Hallowe’en Party), di sana Agatha menyisipkan nama Peri Laut dan Peri Hutan. Lalu ada tokoh bernama Michael Garfield yang fisiknya seperti hasil karya pemahat klasik. Sementara di serial ini, ada nama Dewa Hermes dan Dewa Apollo yang merupakan gambaran fisik dari salah seorang pelayan Lord Edgware.

Pintu segera terbuka menyambut kami. Yang membuka bukan kepala pelayan yang sudah tua dan berambut putih – seperti layaknya jika melihat bagian luar rumah ini – tapi seorang pemuda yang sangat tampan. Dia begitu jangkung dan pirang, sehingga dapat berpose untuk pemahat yang ingin memahat patung Dewa Hermes atau Dewa Apollo. (hal. 48)

Overall, ini buku yang menarik. Walaupun aku bisa menebak dengan tepat siapa pembunuhnya dan bagaimana, namun tidak dengan perihal alasan dia membunuh Lord Edgware tersebut. Yea, mungkin kalian juga bisa menebaknya. Dan mungkin pula Agatha telah tahu bahwa kita (pembaca) bisa menebak bahkan ketika di pertengahan cerita. Mungkin karenanya Agatha lalu menyisipkan lima pertanyaan yang mampir ke benak Poirot yang membantunya menyingkap alasan atau motif dibalik pembunuhan ini. Lima pertanyaan tersebut membantu membuat kisah di serial ini lebih rumit dan menarik.

Dan hal yang lebih menariknya lagi, aku malah suka dengan karakter si Pembunuhnya. Maksudku karakternya unik dan ketika membaca bagian terakhir buku ini, saat si Pembunuh mendapat vonis mati, aku tersenyum. Bukan karena dia memang pantas akan hukuman tersebut, namun lebih karena melihatnya menyikapi hukuman mati tersebut. Haha, gak terbayang jika memang ada orang seperti itu. Yea, miris namun menarik dan unik.

Selebihnya, aku suka packaging-nya. Tidak seperti serial yang kubaca sebelumnya (Hallowe’en Party) dimana ukuran dan ketebalan font huruf yang digunakan, serta kertasnya, yang malah mengingatkanku dengan buku bajakan alias buku kopian. Packaging yang ini lebih rapi dan ekslusif. Entahlah apa memang benar yang kemarin itu bajakan, tapi kan….

Haha, yup, masih ada dua judul serial detektif karangan Agatha yang kupunya. Satu berjudul “N or M ?” (seperti yang kusebutkan di atas) dan satunya lagi “Sleeping Murder” yang katanya kisah Miss Marple yang terakhir. Well, I love her stories. What about you, guys?

Rating: Better

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar