Jumat, 16 Mei 2014

Therese Raquin: Romantisme dalam Kemasan Ilmiah

“They dared not peer down into their own natures, down into the feverish confusion that filled their minds with a kind of dense, acrid mist.”

gambar diambil dari sini

Judul: Therese Raquin
Judul Asli: Therese Raquin
Pengarang: Emile Zola
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus, 2011
Tebal buku: 336 halaman
ISBN: 978-979-22-7436-3

Baru saja menyelesaikan membaca Therese Raquin karya Emile Zola. Novel ini termasuk dalam jajaran novel klasik yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Awal mula tertarik membeli novel ini karena membaca kalimat pertama, ya hanya kalimat pertama, dari resume di cover belakang novel. Kalimat tersebut berisi seperti ini: Di sebuah apartemen kumuh di Passage du Pont-Neuf, Paris, Therese Raquin terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Camille, sepupunya yang sakit-sakitan. Terus ada apa dengan penggalan resume tersebut? Haha, simple, ada kata Paris-nya. Itulah mengapa aku langsung membelinya, tanpa membaca lagi kelanjutan resume di belakang novel tersebut. Aku ingin mendatangi Paris suatu hari nanti dan aku ingin melihat Paris melalui novel ini, hehe.

Novel yang bisa dikatakan bergenre romantis ini ditulis oleh Emile Zola. Dia adalah seorang penulis di Prancis yang sangat berpengaruh dan tokoh penting aliran naturalisme dalam sastra Prancis (wikipedia.org). Di awal penerbitannya, novel ini banyak sekali menerima cibiran miring dari para kritikus masa itu. Cibiran tersebut akhirnya membuat Zola terpaksa membuat Pendahuluan untuk edisi kedua dari novelnya ini. Aku tidak bisa mengingat dengan jelas, novel mana saja yang dilengkapi dengan Pendahuluan atau Kata Pengantar dari penulisnya, sepertinya tidak ada. Namun Zola merasa perlu memberikan Pendahuluan yang juga dinilainya sebagai hal konyol, untuk meluruskan maksud dan tujuan dari kisah di dalam novelnya ini.

Lebih lanjut, para kritikus tersebut menilai novel ini tidak senonoh dan menyalahi moral karena ternyata novel ini berisi tentang perselingkuhan. Yup, secara garis besar novel ini bercerita tentang seorang wanita muda bernama Therese Raquin. Sejak kecil Therese diasuh oleh bibinya yang bernama Mme Raquin bersama dengan anak lelaki bibinya tersebut yang bernama Camille. Sepupunya atau Camille digambarkan sebagai pemuda yang sedari kecil sakit-sakitan. Sementara Mme Raquin yang begitu menyayangi Camille berusaha untuk selalu melindungi anak lelaki satu-satunya ini dari bahaya maut. Camille selalu dicekoki obat-obatan dan dia tidak mau minum obat jika Therese tidak ikut menelan obat yang sama tersebut, meskipun Therese tidak sedang sakit. Alhasil, Mme Raquin pun ikut memaksa Therese meminum obat-obatan tersebut.

Ketika beranjak dewasa, Therese pun dinikahkan oleh Mme Raquin dengan Camille anaknya tersebut. Therese tidak mampu menolak. Walaupun watak asli Therese adalah seorang yang meletup-letup, watak tersebut telah tenggelam dan berubah menjadi penurut dan pencemas. Pernikahan yang tanpa cinta itu terjadi dan berlangsung selama beberapa tahun sebelum akhirnya Camille mengenalkan Laurent, teman masa kecilnya kepada Therese. Perselingkuhan pun akhirnya terjadi antara Therese dan Laurent yang akhirnya menjerumuskan mereka ke suatu masalah yang begitu dalam. Membuat mereka berani melakukan sebuah perbuatan keji yang akhirnya malah menghantui kehidupan mereka selamanya.

Secara kasat mata, sepertinya memang ini salah satu novel tak bermoral dan tidak senonoh. Namun pada kenyataannya, saat kita mulai membaca lembar demi lembar adegan senonoh itu tidak terlalu diekspos dan dijadikan asset agar novel ini laris dibeli publik. Beberapa adegan intim yang ditampilkan sama rasanya dengan melihat, katakanlah, suku tertentu di Papua yang memakai koteka. Bisa juga sama rasanya dengan seorang dokter bedah yang mengotopsi dan membedah mayat dalam pekerjaannya. Singkatnya tidak menimbulkan hasrat negatif yang tidak benar. Lebih jauh, seperti yang dikatakan Zola, novel ini adalah sebuah studi ilmiah yang mempelajari watak seseorang serta perubahan besar yang dapat dialami oleh seseorang itu akibat tekanan lingkungan dan keadaan.

Watak yang dipakai sebagai karakter tokoh-tokoh yang berada di dalam novel ini adalah macam watak yang dicetuskan oleh Claudius Galen. Dia membagi watak manusia menjadi empat macam yaitu Sanguins, Melancholis, Phlegmatis, dan Choleris. Watak Sanguins yang umumnya optimis dan periang digambarkan melalui tokoh Laurent. Watak melankolis yang pencemas, pesimis dan penakut digambarkan melalui tokoh Therese. Sedangkan sisa watak lainnya digambarkan melalui tokoh Camille yang phlegmatis (tidak terburu-bura dan santai) dan Mme Raquin yang Choleric (penuh semangat dan berdaya juang).

Selain itu, studi-studi kejiwaan lainnya, seperti yang disebut dengan histeria pembunuhan, turut disertakan di dalam novel ini. Mungkin poin-poin mengenai studi ilmiah yang dikemas dalam bentuk novel telah membuat novel ini menjadi unik dan tidak biasa-biasa saja. Adapun studi lainnya yang dilakukan oleh Zola dalam menuliskan novel ini bisa terlihat saat dia menggambarkan mayat-mayat di sebuah Kamar Mayat dan kehidupan sosial di seputaran Kamar Mayat tersebut (hal.125-130). Aku terpukau dengan penjelasannya yang begitu mendetail. Ya, sepertinya Zola memang melakukan rangkaian pengamatan yang mendalam mengenai hal itu.
Namun, semua mayat-mayat yang tenggelam itu gemuk-gemuk; ia melihat perut-perut menggembung, paha-paha bengkak, lengan-lengan bulat dan kekar. (hal.126)
Kamar mayat itu adalah tempat pameran yang bisa dikunjungi siapa pun, baik kaya maupun miskin tanpa perlu membayar apa-apa. (hal.128)

Ada satu hal lainnya yang aku soroti dari novel ini. Hal tersebut bernama Politik. Eitt, jangan mengaitkan politik di sini dengan pemerintahan atau pejabat birokrasi dan lain sebagainya. Aku merujuk kepada politik dalam pengertian sesungguhnya, yaitu suatu cara yang dilakukan seseorang untuk memenuhi keinginannya. Definisi tersebut ku dapat dari seorang guruku di SMA. Beliau mengajarkan PKN dan entah kenapa definisi dasar dari politik tersebut sangat mengena dan tersimpan di otakku hingga sekarang. Yang jelas sepertinya definisi tersebut dapat kita lihat dari alur cerita novel ini. Dan politik yang pelaku novel ini lakukan membuatku geram. Dan menurutku politik memang lawan dari ketulusan. Huft, politik memang kejam, haha. :)

Oke lanjut. Hampir seluruh tokoh di dalam novel ini menggunakan politik demi kebaikan dirinya sendiri. Suatu sifat egoisme yang kental. Zola memaparkan dengan gamblang apa saja motif dari para pelaku cerita. Contoh pertama yang bias aku berikan ada pada tokoh Laurent. Dia bersedia melenyapkan Camille demi mendapatkan Therese. Namun jauh dari itu dia berpikir bahwa dia ingin sekali menggantikan posisi Camille. Dia ingin memiliki masa depan yang cemerlang dan berkecukupan tanpa perlu bekerja terlalu keras. Ya, Laurent adalah seorang pemalas. Dengan menyingkirkan Camille dan menggantikan posisinya, dia akan mendapatkan kasih sayang seorang Ibu, memiliki istri untuk menuntaskan hasratnya dan makanan yang cukup serta waktu untuk bermalas-malasan di studio lukisnya.

Adapun contoh lainnya adalah perilaku Michaud Senior dan Grivet. Mereka adalah teman Mme Raquin dan mantan bos dimana Camille bekerja. Mereka sangat menikmati acara kamis malam di rumah Mme Raquin. Acara kamis malam itu seperti acara ngumpul-ngumpul, mengobrol dan bermain domino. Setelah kematian Camille dan Mme Raquin begitu berduka, acara tersebut nyaris ingin dihilangkan. Hal tersebut karena Mme Raquin selalu terkenang dan meratapi kursi kosong yang dulu biasa Camille duduki. Agar acara ini dapat berlangsung terus menerus, Michaud Senior dan Grivet berupaya keras menghidupkan acara itu lagi tanpa memikirkan perasaan Mme Raquin. Bahkan mereka sendiri tidak lagi mengingat dan mengenang Camille. Mme Raquin akhirnya mengalah. Dia akhirnya menyadari bahwa tidak akan ada seorang pun yang bisa mengingat Camille dan mengalami kehilangan yang dalam seperti dirinya.

Well, jika ingin berbicara tentang pesan moral, ternyata ada kok pesan atau amanat di novel ini. Dari beberapa pesan yang ada, aku akan mengambil satu pesan moralnya. Pesan tersebut berkaitan dengan pembalasan, bahwa segala sesuatu ada balasannya. Seperti proverb berikut: what goes around, comes around. Terlihat akibat dari perbuatan keji yang dilakukan oleh Therese dan Laurent. Keduanya pada akhirnya tidak mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan hidup. Mereka akhirnya menjadi gila karena terkungkung oleh rasa bersalah di hati kecil mereka. Rasa bersalah yang hari demi hari begitu kuat hingga hampir memutuskan jalinan saraf-saraf di otak mereka. Bahkan kekejian yang mereka lakukan telah mengubah kemanusiaan di dalam diri mereka sehingga mereka menjadi –seperti yang Zola sebutkan- manusia binatang. Rasa bersalah yang jauh tersimpan dalam hati kecil mereka dan sifat binatang yang merasuki mereka itu lah yang akhirnya menggiring mereka kepada kehancuran.

Well overall ini adalah sebuah novel yang menarik. Kualitas penerjemahannya bagus, walaupun harus aku akui ada kalanya aku merasa novel ini err novel yang berat sehingga aku kadang lelah membacanya. Namun aku menyukai ide cerita dan alur yang tidak tertebak. Poin-poin menarik yang telah ku kemukakan di atas juga menambah poin plus di dalam novel ini. Memang masih ada kutemui typo, tepatnya di halaman 216. Tetapi typo-nya hanya sedikit, hanya di satu kata, hehe. Well, singkatnya aku cukup menyukai novel ini. Apalagi setting-nya memakai kota Paris gitu plus ilustrasi cover yang menarik. Mungkin suatu kali nanti, aku ingin membaca karya Zola yang lainnya. Aku ingin lebih menikmati Paris. Yaiyy. :)

Rating: Better

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar