[Review] Therese Raquin by Emile Zola - Romantisme dalam kemasan ilmiah
“They dared not peer down into their own
natures, down into the feverish confusion that filled their minds with a kind
of dense, acrid mist.”
![]() |
gambar diambil dari sini |
Judul: Therese Raquin
Judul Asli: Therese
Raquin
Pengarang: Emile Zola
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus,
2011
Tebal buku: 336
halaman
ISBN: 978-979-22-7436-3
Therese Raquin termasuk ke dalam
jajaran novel klasik yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Novel yang bisa
dikatakan bergenre drama romantis dan juga miris ini ditulis oleh Emile Zola. Ia seorang penulis
dari Prancis yang sangat berpengaruh dan tokoh penting aliran naturalisme dalam
sastra Prancis (wikipedia.org). Di awal penerbitannya, novel ini banyak sekali
menerima cibiran miring dari para kritikus pada masa itu. Cibiran tersebut akhirnya
membuat Zola terpaksa membuat Pendahuluan untuk edisi kedua dari novelnya ini. Aku
tidak bisa mengingat dengan jelas, novel mana saja yang dilengkapi dengan
Pendahuluan atau Kata Pengantar dari penulisnya. Namun Zola
merasa perlu memberikan Pendahuluan yang juga dinilainya sebagai hal konyol. Hal ini untuk meluruskan maksud dan tujuan dari kisah di dalam novelnya ini.
Para kritikus tersebut menilai novel ini tidak senonoh dan menyalahi moral karena
ternyata novel ini berisi tentang perselingkuhan. Yup, secara garis besar novel
ini bercerita tentang seorang wanita muda bernama Therese Raquin. Sejak kecil
Therese diasuh oleh bibinya yang bernama Mme Raquin bersama dengan anak lelaki
bibinya tersebut yang bernama Camille. Sepupunya atau Camille digambarkan
sebagai pemuda yang sedari kecil sakit-sakitan. Sementara Mme Raquin yang
begitu menyayangi Camille berusaha untuk selalu melindungi anak lelaki
satu-satunya ini dari bahaya maut. Camille selalu dicekoki obat-obatan dan dia
tidak mau minum obat jika Therese tidak ikut menelan obat yang sama,
meskipun Therese tidak sedang sakit. Alhasil, Mme Raquin pun ikut memaksa
Therese meminum obat-obatan tersebut.
Ketika beranjak
dewasa, Therese pun dinikahkan oleh Mme Raquin dengan Camille. Therese tidak mampu menolak. Walaupun watak asli Therese adalah seorang yang
meletup-letup, watak tersebut telah tenggelam dan berubah menjadi penurut dan
pencemas. Pernikahan yang tanpa cinta itu terjadi dan berlangsung selama
beberapa tahun sebelum akhirnya Camille mengenalkan Laurent, teman masa
kecilnya kepada Therese. Perselingkuhan pun akhirnya terjadi antara Therese dan
Laurent yang akhirnya menjerumuskan mereka ke suatu masalah yang begitu dalam. Membuat
mereka berani melakukan sebuah perbuatan keji yang akhirnya malah menghantui
kehidupan mereka selamanya.
Secara kasat
mata, sepertinya memang ini salah satu novel tak bermoral dan tidak senonoh. Namun
pada kenyataannya, saat kita mulai membaca lembar demi lembar, adegan yang tidak pantas itu justru tidak terlalu diekspos dan dijadikan semacam aset agar novel ini laris dibeli publik.
Beberapa adegan intim yang ditampilkan sama rasanya dengan melihat, katakanlah,
suku tertentu di Papua yang memakai koteka. Bisa juga sama rasanya dengan
seorang dokter bedah yang mengotopsi dan membedah mayat dalam pekerjaannya. Singkatnya
tidak menimbulkan hasrat negatif yang tidak benar. Lebih jauh, seperti yang
dikatakan Zola, novel ini adalah sebuah studi ilmiah yang mempelajari watak
seseorang serta perubahan besar yang dapat dialami oleh seseorang itu akibat
tekanan lingkungan dan keadaan.
Watak yang
dipakai sebagai karakter tokoh-tokoh yang berada di dalam novel ini adalah
macam watak yang dicetuskan oleh Claudius Galen. Dia membagi watak manusia
menjadi empat macam yaitu Sanguins, Melancholis, Phlegmatis, dan Choleris. Watak
Sanguins yang umumnya optimis dan periang digambarkan melalui tokoh Laurent. Watak
melankolis yang pencemas, pesimis dan penakut digambarkan melalui tokoh
Therese. Sedangkan sisa watak lainnya digambarkan melalui tokoh Camille yang phlegmatis
(tidak terburu-bura dan santai) dan Mme Raquin yang Choleric (penuh semangat
dan berdaya juang).
Selain itu,
studi-studi kejiwaan lainnya, seperti yang disebut dengan histeria pembunuhan,
turut disertakan di dalam novel ini. Mungkin poin-poin mengenai studi ilmiah
yang dikemas dalam bentuk novel telah membuat novel ini menjadi unik dan tidak
biasa-biasa saja. Adapun studi lainnya yang dilakukan oleh Zola dalam
menuliskan novel ini bisa terlihat saat dia menggambarkan mayat-mayat di sebuah
Kamar Mayat dan kehidupan sosial di seputaran Kamar Mayat tersebut (hal.125-130).
Aku terpukau dengan penjelasannya yang begitu mendetail. Ya, sepertinya Zola
memang melakukan rangkaian pengamatan yang mendalam mengenai hal itu.
Namun,
semua mayat-mayat yang tenggelam itu gemuk-gemuk; ia melihat perut-perut
menggembung, paha-paha bengkak, lengan-lengan bulat dan kekar. (hal.126)
Kamar
mayat itu adalah tempat pameran yang bisa dikunjungi siapa pun, baik kaya
maupun miskin tanpa perlu membayar apa-apa. (hal.128)
Ada satu hal
lainnya yang aku soroti dari novel ini. Hal tersebut bernama Politik. Politik di sini dengan pemerintahan atau pejabat birokrasi
dan lain sebagainya. Aku merujuk kepada politik dalam pengertian sesungguhnya,
yaitu suatu cara yang dilakukan seseorang untuk memenuhi keinginannya. Definisi
tersebut kudapat dari seorang guruku di SMA. Beliau mengajarkan PKN dan entah
kenapa definisi dasar dari politik tersebut sangat mengena dan tersimpan di otakku
hingga sekarang. Yang jelas sepertinya definisi tersebut dapat kita lihat dari
alur cerita novel ini. Dan politik yang pelaku novel ini lakukan membuatku
geram. Dan menurutku politik memang lawan dari ketulusan. Huft, politik memang
kejam, haha. :D
Hampir seluruh tokoh di dalam novel ini menggunakan politik demi kebaikan
dirinya sendiri. Suatu egoisme yang kental. Zola memaparkan dengan gamblang
apa saja motif dari para pelaku cerita. Misalnya pada tokoh Laurent. Dia bersedia melenyapkan Camille demi mendapatkan
Therese. Namun jauh dari itu dia berpikir bahwa dia ingin sekali menggantikan
posisi Camille. Dia ingin memiliki masa depan yang cemerlang dan berkecukupan
tanpa perlu bekerja terlalu keras. Ya, Laurent adalah seorang pemalas. Dengan menyingkirkan
Camille dan menggantikan posisinya, dia akan mendapatkan kasih sayang seorang
Ibu, memiliki istri untuk menuntaskan hasratnya dan makanan yang cukup serta
waktu untuk bermalas-malasan di studio lukisnya.
Contoh
lainnya mengenai politik ada pada perilaku Michaud Senior dan Grivet. Mereka adalah teman Mme
Raquin dan mantan bos dimana Camille bekerja sebelumnya. Mereka sangat menikmati acara
kamis malam di rumah Mme Raquin. Acara kamis malam itu seperti acara
ngumpul-ngumpul, mengobrol dan bermain domino. Setelah kematian Camille dan Mme
Raquin begitu berduka, acara tersebut nyaris ingin dihilangkan. Hal tersebut
karena Mme Raquin selalu terkenang dan meratapi kursi kosong yang dulu biasa
Camille duduki. Agar acara ini dapat berlangsung terus menerus, Michaud Senior
dan Grivet berupaya keras menghidupkan acara itu lagi tanpa memikirkan perasaan
Mme Raquin. Bahkan mereka sendiri tidak lagi mengingat dan mengenang Camille. Mme
Raquin akhirnya mengalah. Dia akhirnya menyadari bahwa tidak akan ada seorang
pun yang bisa mengingat Camille dan mengalami kehilangan yang dalam seperti
dirinya.
Novel ini tetap memiliki pesan moral atau amanat. Salah satunya berkaitan dengan pembalasan, bahwa segala sesuatu ada
balasannya. Seperti pribahasa berikut: what goes around, comes around. Terlihat akibat
dari perbuatan keji yang dilakukan oleh Therese dan Laurent. Keduanya pada
akhirnya tidak mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan hidup. Mereka akhirnya
menjadi gila karena terkungkung oleh rasa bersalah di hati kecil mereka. Rasa bersalah
yang hari demi hari begitu kuat hingga hampir memutuskan jalinan saraf-saraf di
otak mereka. Bahkan kekejian yang mereka lakukan telah mengubah kemanusiaan di
dalam diri mereka sehingga mereka menjadi –seperti yang Zola sebutkan- manusia
binatang. Rasa bersalah yang jauh tersimpan dalam hati kecil mereka dan sifat
binatang yang merasuki mereka itu lah yang akhirnya menggiring mereka kepada
kehancuran.
Secara keseluruhan Therese Raquin adalah sebuah novel yang menarik. Kualitas penerjemahannya bagus. Harus aku akui ada kalanya aku merasa novel ini berat sehingga
aku kadang lelah membacanya. Namun aku menyukai ide cerita dan alur yang tidak
tertebak. Poin-poin menarik yang telah kuceritakan di atas juga menambah poin
positif untuk novel ini. Memang masih ditemui typo, tepatnya di halaman
216. Tetapi hanya sedikit, hanya di satu kata itu, hehe. Singkatnya
aku cukup menyukai novel ini. Apalagi latar tempatnya memakai kota Paris. Begitu pula ilustrasi sampul yang menarik. Mungkin suatu kali nanti, aku ingin membaca karya
Zola yang lainnya.
Rating: (3/5) liked it
Comments
Post a Comment