Jumat, 09 Mei 2014

Kisah-Kisah Tengah Malam – Menikmati Horor dan Teror dari Buku Edgar Allan Poe Pertamaku

“Now this is the point. You fancy me a mad. Madmen know nothing. But you should have seen me. You should have seen how wisely I proceeded...”

gambar diambil dari sini

Judul: Kisah-kisah Tengah Malam
Judul Asli: Tales of Mistery and Terror
Pengarang: Edgar Allan Poe
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli, 2011
Tebal buku: 248 halaman
ISBN: 978-979-22-6537-8

Saat berkunjung ke PesBuk (Pesta Buku) Gramedia di kotaku awal bulan April lalu, aku tertarik untuk membeli buku kumpulan cerpen (kumcer) karya Edgar Allan Poe. Nama pengarangnya ini tidak asing, sudah pernah kudengar. Dari hasil Googling terkuaklah *bahasanyee..* kalau beliau adalah pengarang yang aktif menulis puisi dan juga menulis cerpen bertemakan horor. Kalau di cover belakang buku ini, penerbit menyebut Edgar Allan Poe sebagai master horor gotik.

Awalnya aku tidak terlalu percaya. Dalam asumsiku, masa iya penulis puisi menjadi master horor. Lagipula kata horor gotik itu membuat aku berasumsi ini cerita seputar dunia gaib. Namun saat aku berasumsi seperti itu, sebagian otak atau pikiranku kembali protes, hmm, bukannya orang barat lebih mengedepankan rasionalitas dan logika. Singkatnya, mereka percaya jika sesuatu itu ada jika telah dibuktikan secara ilmiah. Hmm..belum membuka cover-nya aja sudah membuatku berasumsi sejauh ini. Ya, daripada penasaran, lebih baik kita langsung ke TeKaPe..!!

Di buku ini ada 13 cerpen karangan Poe. Aku tidak tahu apa alasan dibalik pemilihan ketigabelas cerpen ini. Yang jelas, tiga buah cerpen Poe yang terkenal; Black Cat, The Fall of The Usher, dan Tell-Tale Heart bisa kita temukan di buku kumcer ini. Aku pun memutuskan untuk membaca semua cerpennya sesuai urutan daftar isinya. So, aku mulai dengan cerpen Tell-Tale Heart atau yang di sini diterjemahkan sebagai Gema Jantung yang Tersiksa.

Cerpen yang satu ini bercerita tentang seorang lelaki yang disebut -aku- yang begitu membenci seorang pria tua yang memiliki mata seperti mata burung bangkai. Anehnya walau dia benci tapi dia merawat pria tua tersebut. Karena tidak tahan dengan mata pria tua itu dan dengan suara detak jantung pria itu yang bisa terdengar jelas bahkan seperti bunyi memekik membuat si -aku- membunuh pria tua tersebut. Lalu untuk menghilangkan jejak, -aku- memutilasi mayatnya. Hmm..akhirnya aku tahu apa maksud horor gotik ala Edgar Allan Poe. Ini tak lain adalah horor yang penuh teror, sadis, dan menciptakan rasa takut yang merayap ketika membaca buku ini

Bagaimana dengan keduabelas kisah lainnya? Baiklah, di sini aku akan menggolongkan kisah atau cerpen-cerpen di buku ini menjadi beberapa kategori yang tentunya kategori itu aku buat sendiri, hehe…

#1 Horor Sadis Tipe Ringan
Maksud dari kategori ini adalah kisah yang disajikan dalam cerpen Poe mengandung unsur horror namun bukan horror yang berkaitan dengan dunia gaib atau hantu. Ini horror yang lebih ke arah sadis dan kadar sadisnya masih ringan, tidak terlalu membuatku mendesis dan bilang auww. Nah, menurutku hanya ada satu kisah yang cocok untuk kategori ini. Kisah atau cerpen tersebut berjudul Gema Jantung yang Tersiksa a.k.a Tell-Tale Heart. Tentang bagaimana alur cerpennya sudah ku bahas di atas. Adegan mutilasi di sini kadarnya masih lumayan dan tidak terlalu mengejutkan. Oleh karena itu cerpen ini masuk ke kategori horror sadis tipe ringan.
“…Sebelah matanya mengingatkanku akan mata burung bangkai - warnanya biru pucat, dilapisi selaput tipis yang menjijikan. Setiap kali mata itu menatapku, darahku mengalir dingin, hingga akhirnya tumbuh hasrat di dadaku untuk membunuh beliau…” (hal.12)

#2 Horor Sadis Tipe Berat
Oke, kategori ini masih sama seperti kategori sebelumnya. Cerpen yang masuk ke kategori ini tergolong horror sadis dengan kadar yang tinggi. Niat banget sepertinya Poe membuat takut para pembacanya. Terror yang disajikan perlahan merayap dan membuat jantung pembaca ya katakanlah seperti aku, terkejut-kejut. Haha. Mungkin terdengar hiperbola, tapi coba saja baca. Menurutku cerpen yang masuk ke kategori ini ada dua yaitu Kucing Hitam dan satu lagi berjudul Jurang dan Pendulum.

Ringkasnya di kisah Kucing Hitam, si –aku- (lagi-lagi Poe memakai tokoh tanpa nama yang disebutnya sebagai –aku-) mengalami kutukan karena telah menganiaya seekor kucing hitam. Awalnya –aku- adalah seorang yang baik dan pecinta binatang, namun seiring waktu dia menjadi seorang pemabuk dan hilang akal. Dengan sadis dia menyiksa dan membunuh kucingnya. Selain itu, istrinya pun dia bunuh juga.

Beda halnya dengan kisah si –aku- di cerpen Jurang dan Pendulum. Di sini –aku- adalah seorang tahanan yang sedang mengalami penyiksaan. Dia ditempatkan di penjara yang gelap dan para penyiksanya berharap dia mati karena gila atau mati karena tidak tahan dengan penyiksaan tersebut. Penyiksaan pertama adalah dengan adanya jurang di sel tahannya. Jurang tersebut maksudnya lubang yang tidak terlalu dalam yang terletak di tengah ruangan. Yang jadi masalah, jurang tersebut dihuni oleh tikus-tikus lapar. Kebayang kan apa yang terjadi kalau ada tahanan yang masuk ke dalam jurang tersebut. Bakal mati sendiri digerogoti para tikus lapar. Hiii..

Namun si –aku- selamat dari terror jurang. Ini membuat penyiksanya menaikan level penyiksaannya terhadap si –aku- tersebut. Dia lalu diikat terlentang diatas tempat tidur dan dipastikan tidak ada anggota badan yang bisa digerakkan selain siku tangan kiri. Tepat di atasnya ditaruh pendulum berbetuk sabit yang tajam. Pendulum tersebut perlahan turun dan jika saja si –aku- tidak cerdik, jantungnya akan terpotong oleh pendulum tersebut. Ini karena pendulum itu memang dipasang pas di atas jantung si –aku-. Weww..

Berikut kutipan yang menunjukkan kesadisan di cerpen ini: 150 156 175
“Dari saku jaket kuambil sebilah pisau kecil, lalu kugenggam leher kucing itu sebelum kucungkil salah satu matanya!” (Kucing Hitam, hal. 150)
“Getaran pendulum kini berada di sebelah kanan tubuhku. Kulihat bilah sabitnya didesain khusus untuk menyayat bagian dada (jantung)-ku.” (Jurang dan Pendulum, hal. 175)

#3 Deskripsi yang Panjang dan (agak) Bertele-tele
Oke, umm aku tidak terlalu menikmati cerpen yang masuk ke kategori ini. Aku mencoba, tapi memang tidak mudah. Cerpen di kategori ini seperti uji kesabaran, dan aku berhasil sih membaca lembar demi lembarnya. Asli, aku melihat Poe sebagai penulis yang begitu detail. Kadang deskripsi yang Poe sajikan terkesan berbelit-belit, namun mungkin itulah gaya Poe bercerita. Ada tiga cerpen yang aku golongkan ke dalam kategori ini.

Pertama adalah cerpennya yang berjudul Pesan dalam Botol. Asumsi pertama, aku membayangkan ada seorang yang tersesat di lautan atau terdampar di pulau antah berantah, lalu orang terebut mengirimkan pesan kepada orang lain melalui botol yang kebetulan ada di dekatnya. Ternyata, Poe menyajikannya dengan sangat kompleks bahkan membingungkan. Bahkan aku tidak merasa tokoh utama di situ menghanyutkan botol yang berisi pesan. Haha. Ada satu yang menarik di sini, ada kata –Batavia-. Aha, apa kalian teringat sesuatu ketika mendengar kata –Batavia-? Aku tidak menyangka Poe memasukkan Jakarta Tempoe Doeloe di dalam cerpennya. :)
“Usahaku sebelumnya untuk bersembunyi dari mereka sungguh konyol, karena mereka takkan pernah melihatku.” (hal. 32)

Well, cerpennya yang lain yang tak kalah err bertele-tele berjudul Mengarungi Badai Maelstrom. Cerpen ini menghabiskan sekitar 28 lembar dan itu full deskripsi terutama di bagian-bagian awal. Hmm, cukup melelahkan membacanya. Aku terus berpikir, kapan ini habisnya. Sepertinya Poe meneror pembacanya alih alih bercerita tentang terror yang dialami si pelaku di dalam cerpennya ini.
“Memandangi sekelilingku, ke arah dinding hitam yang terbentuk oleh pusaran air laut, aku melihat bahwa kapal kami bukan satu-satunya korban badai,…” (hal:83)

Yang terakhir dalam kategori ini berjudul William Wilson. Bercerita tentang perjalanan hidup seorang anak dari kecil hingga dia dewasa. Satu hal yang aneh di cerita ini adalah dia selalu bertemu dengan seorang anak lainnya yang terlihat begitu sama persis dengan dirinya sejak kecil dulu. Anak tersebut selalu mengikutinya dan menyainginya dalam berbagai macam hal. Entahlah, namun membaca cerpen yang cukup panjang ini mengingatkan aku dengan sebuah film berjudul Black Swan.
“Dalam beberapa detik, aku memojokkannya, lalu membuatnya jatuh berlutut; maka kuambil kesempatan itu untuk menusukkan pedangku sekuat tenaga, berkali-kali, ke dadanya.” (hal.216)

#4 Kisah yang Miris
Lanjut ke kategori selanjutnya. Ada tiga cerpen yang masuk ke kategori ini yaitu Hop-Frog; Kotak Persegi Panjang; dan Obrolan dengan Mummy. Ketiga judul ini memiliki kesamaan yaitu mempunyai alur kisah yang miris. Tentang ketidakadilan, dan tentang umm apa ya, terasa ada sesuatu yang menggumpal sehabis membaca cerpen-cerpen ini. Ada yang berakhir dengan nice ending ada juga yang miris. Walaupun kiah ini miris sedikit melankolis, efek nuansa seram ala Poe tetap tidak hilang.

Di dalam kisah Hop-Frog, Poe bercerita tentang seorang pelawak kerajaan. Dia adalah pelawak kesayangan Raja, karena dia selalu bisa membuat Raja dan Para Menterinya tertawa dan menertawainya. Akhirnya Hop-Frog, si Pelawak tersebut membalas perlakuan semena-mena sang Raja dan menteri kepadanya. Nah mengapa dia dinamakan Hop-Frog dan bagaimana dia membalas dendam? Langsung baca sendiri ya teman, hehe.
“Karena mantel berbulu itu juga dilapisi -tar- yang mudah tersulut, belum lagi Hop-Frog selesai berbicara kedelapan korbannya telah hangus ditelan kobaran api.” (hal. 53)

Berikutnya ada cerpen yang berjudul Kotak Persegi Panjang. Ceritanya sedikit romantis melankolis. Tentang si –aku- yang mempunyai teman bernama Cornelius. Dia dan temannya berlayar di sebuah kapal yang bertolak dari South Carolina menuju New York. Yang jadi misteri adalah, Cornelius ini membawa serta sebuah Kotak Persegi Panjang yang besarnya hampir memenuhi kabin kamarnya di kapal tersebut. Kotak itu begitu menjadi misteri bagi si –aku- dan dia pun berusaha mengungkap rahasia kotak itu yang ternyata..isi kotak tersebut membuat cerita ini jadi mengharukan.
“Saat berikutnya, Cornelius dan kotak persegi panjang itu sudah berada di dalam perairan laut – mendadak hilang untuk selamanya.” (hal. 105)

Lain lagi dengan kisah di cerpen yang berjudul Obrolan dengan Mummy. Secara garis besar, kisah ini menunjukkan tentang kesombongan manusia yang sering menganggap orang lain yang bukan kelompoknya lebih rendah. Yang menarik di sini adalah perdebatan antara si Mummy dan para ilmuwan masa kini yang dikemas dengan baik sekali oleh Poe. Rasa-rasanya aku jadi ingin ikut berbincang dengan Mummy yang pintar, berwawasan serta pastinya tidak meneyramkan atau jahat. Justru hal jahat atau horror di dalam cerpen ini adalah sikap atau ego para manusia. Aku jadi penasaran, apakah Poe melakukan riset dulu sebelum menulis kisah ini atau tidak? Dan kenapa kata –Mummy- di cerpen ini tidak ditulis –mumi- sebagaimana bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia?
“Setelah itu, jenazah tersebut bersin; lalu, ia menggerakkan sebelah tangan yang terkepal erat di depan wajah Dokter Ponnonner dalam posisi hendak meninju; diikuti oleh pembicaraan dalam bahsa Mesir kuno…” (hal. 117)

#5 Ending Menggantung yang Terasa Sedih
Ada dua cerpen di dalam kategori ini. Pertama berjudul Potret Seorang Gadis. Bercerita tentang misteri lukisan seorang gadis di sebuah istana di Pegunungan Apennines. Lukisan itu sangat hidup dan begitu indah. Adalah si –aku- yang penasaran dengan lukisan yang tergantung di sebuah kamar di istana tersebut. Kebetulan ada sebuah buku di atas kasur di kamar tersebut yang bercerita hal ihwal lukisan tersebut. Ending cerpen ini sedikit menggantung dan terasa sedih.
“Mengingat kemiripan gadis belia di dalam lukisan itu yang menyerupai manusia nyata, aku menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk duduk berpikir tanpa melepaskan pandanganku dari dinding.” (hal.57)

Cerpen lainnya berjudul Pertanda Buruk. New York, kota dimana si –aku- tinggal tengah diserang wabah kolera yang mematikan. Nah si –aku- merasa ketakutan akan wabah ini sehingga saking takutnya dia mampu melihat pertanda buruk berupa monster yang menuruni bukit. Ending kisah ini menggantung membuat pembaca bertanya-tanya apakah yang sebenarnya terjadi. Benarkah pertanda buruk atau hanya kegilaan seorang –aku-. Hmm ayo, silakan teman-teman telusuri. :)
“Ketika pada akhirnya aku mengakui pada diri sendiri keberadaan makhluk aneh nan seram itu dihadapanku, …., mataku mendadak terfokus pada rahang makhluk tersebut yang terlihat semakin melebar, mulutnya terbuka, serta-merta mengeluarkan auman keras yang menghentak sarafku. Dan begitu monster tersebut menghilang di kaki bukit, aku pun jatuh pingsan, tergolek di lantai.” (hal.187)

#6 Tentang Hantu dan Dunia Gaib
Nah, ternyata hanya ada dua cerpen yang bisa aku golongkan sebagai horror misteri semacam hantu atau dunia gaib yang tidak masuk akal. Kedua cerita ini berjudul Setan Merah dan Misteri Rumah Keluarga Usher. Di dalam setan merah, ada sesuatu yang tidak nyata yang menyerang dan membunuh Pangeran Prospero dan seribu tamunya di dalam gereja yang seperti istana seiring dengan dentang jam pukul 12 malam. Terror ini bersal dari salah satu kamar di –katakanlah- istana tersebut. Kamar yang interiornya berwana hitam, gelap dengan jendela berwarna merah darah.
“Mereka juga melihat sosok misterius berjubah hitam panjang yang berdiri tegak di dalam bayang-bayang jam dinding, sebelum napas mereka tercekat di leher saat memperhatikan bahwa kain hitam dan topeng pucat itu tidak diisi oleh makhluk nyata.” (hal.146)

Sedangkan di dalam cerpen lainnya yang berjudul Misteri Rumah Keluarga Usher a.k.a The Fall of The Usher, Poe tidak langsung menampilkan sosok hantu di awal cerita. Si hantu baru dating di akhir cerita dengan tiba-tiba sehingga mengaggetkan sekali. Di cerita ini aku seperti terseret masuk dan begitu terkejut dengan penampakan yang tiba-tiba hadir di ending cerita. Cerita ini berakhir misris namun penuh misteri dan gaib yang begitu kental. Hmm..cerpen Poe memang berwarna gelap dan horror pake banget deh.
“Tapi, setelah kedua pintu itu terjatuh ke lantai, kulihat sosok Lady Madeline berdiri di sana. Jubahnya yang putih ternoda tetesan darah, …” (hal.244)

Begitulah, menurutku buku ini terasa padat sekali walaupun physically berjumlah 200an halaman saja. Adakalanya membaca sebuah cerpen seperti membaca empat bab novel atau sekitar 50-80 halaman. Ini mungkin dikarenakan deskripsi yang hadir dalam setiap goresan Poe begitu kental. belum lagi unsur horror dan terror yang juga bisa membuat kepala pembaca menjadi lelah. Ditambah pula Poe lebih banyak menggunakan –aku- sebagai tokoh utama. Poe jarang sekali menggunakan nama atau memberi nama untuk tokoh-tokoh di dalam cerpennya di dalam buku ini. Jadi seolah-olah, pembaca berperan langsung menjadi tokoh utama dan mau tidak mau ikut merasakan terror yang dialami si tokoh tersebut. Phew, Poe memang menarik dan cerdas sekali. Tertarik? Ayo, baca dan rasakan sendiri sensasinya. Salam Teror, hehe. :D

Rating: The Best

Tidak ada komentar:

Posting Komentar