Jumat, 26 Januari 2018

The Happy Prince and other Tales by Oscar Wilde – Tujuh kisah dalam satu buku

"Travel improves the mind wonderfully, and does away with all one's prejudice." - Little Squib


Judul: The Happy Prince and other Tales
Pengarang: Oscar Wilde
Editor: Nina Andiana
Desain sampul: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan pertama, 2017
Tebal buku: 136 halaman
Format: Paperback
Genre: Classic
ISBN: 978-602-03-3563-6

Tahun 2017 lalu, penerbit Gramedia Pustaka Utama mengeluarkan seri English Classics dari beragam penulis. Seri pertama yang keluar ada empat buku. The Happy Prince and other Tales (THPaoT) adalah salah satunya. Selain punya yang ini, aku hanya punya satu lagi yaitu Daddy-Long-Legs karya Jean Webster. Ada keinginan mengoleksi seri klasik lainnya. Sudah ada 12 buku, kalau tidak salah yang Gramedia terbitkan.

Mengapa memilih karya Oscar Wilde? Sederhana. Aku belum pernah membaca karya beliau. The Picture of Dorian Gray adalah salah satu karyanya yang pernah kudengar dan menarik perhatianku tentunya. Namun aku baru menikmatinya melalui film. Jadi, ya, agak penasaran dengan tulisan Wilde lainnya. Apakah akan tragis seperti punya Dickens? Atau penuh drama dan prasangka seperti punya Austen? Aku yakin, mereka masing-masing punya ciri khas.

THPaoT terdiri dari tujuh cerita pendek. The Happy Prince adalah kisah pertama atau pembuka. Lalu The Birthday of the Infanta adalah kisah terakhir sekaligus yang paling panjang diantara kisah lainnya. Jika ditanya apa kisah favoritku, umm untuk saat ini adalah The Selfish Giant. Sepertinya kisah itu berbeda dengan yang lain terutama dari segi endingnya. Jauh lebih nyaman dan bahagia, hehe. Mau tahu tentang kisah-kisah pendek di dalam buku ini? Yuk, mari, aku akan ceritakan secara singkat satu per satu.

The Happy Prince
Kisah ini tentang sebuah patung “Pangeran Bahagia” dan seekor burung laying-layang (swallow). Mereka berdua banyak emmbantu orang-orang yang kurang mampu dan kesusahan menghadapi musim dingin. Bagaimana caranya dan apa saja yang terjadi selanjutnya, silakan baca langsung, ya.

The Nightingale and the Rose
Ini kisah tentang burung Nightingale (bulbul) yang mencoba membantu seorang Student (pelajar) mencari mawar merah untuk diberikan kepada seseorang yang ingin diajaknya berdansa. Dan kisah ini perih alias memilukan. Endingnya kembali bikin gregetan.

The Selfish Giant
Kisah tentang raksasa yang mempunyai halaman yang luas namun pelit. Suatu kali seorang anak kecil datang dan ingin bermain di halamannya. Dan ini kisah favoritku di buku ini. Endingnya mengharukan namun bikin damai.

The Devoted Friend
Salah satu kisah yang tidak kutamatkan. Ini kisah tentang Hans dan Miller yang bersahabat namun mereka memaknai persahabatan dengan cara masing-masing. Dan aku tidak tahan bagaimana Hans yang polos terus “dimintai bantuan” oleh Miller yang “aneh”. Bukan tipikal orang yang ingin kutemui di dunia ini. Huft.

The Remarkable Rocket
Di sini tokoh utamanya adalah sebuah roket atau kembang api. Dia sombong dan terlalu banyak mengoceh. Ada banyak, sih, kutipan yang menggelitik karena punya makna yang dalam mengenai ocehan dan sifat si Roket ini. Silakan baca langsung, ya.

The Sphinx without a Secret
Kali ini tokohnya adalah manusia. Sepasang sahabat berjumpa dan salah satu diantaranya tampak berbeda seperti menanggung beban. Kalau menurutku ini kisah tentang seseorang yang egois dan tidak sensitif. Menilai banyak hal dari prasangka dan logika. Tidak mendengarkan kata hatinya. Duh, intinya ada Lady Alroy yang malang.

The Birthday of the Infanta
Seorang Putri dan Badut kerajaan. Ada kesombongan dan ada yang sulit menerima kenyataan karenaketerkejutan. Rasa-rasanya kisah ini mengingatkan aku dengan satu kisah lain. Entah punya Edgar Allan Poe atau punya siapa, ya? Itu, lho, yang ada badut kerajaan marah dan kecewa sehingga membakar kain-kain penghias ruangan istana yang saat itu sedang dipenuhi tamu-tamu kerajaan yang datang untuk berpesta. Ada yang tahu?

Setelah kupikir-pikir #halah sepertinya kisah yang Oscar Wilde tulis di buku ini kebanyakan berupa fable atau hewan dan tumbuhan yang mampu berbicara seperti manusia. Selain itu ada juga benda mati seperti patung dan roket yang tidak hanya berbicara melainkan juga memiliki sifat-sifat seperti manusia. Apa, ya, istilahnya? Mungkin metafora, pengandaian. Dan melalui tokoh-tokoh seperti itulah Oscar menuturkan kisahnya yang juga mengandung filosofi. Oscar seperti memberikan tokoh-tokohnya perasaan sehingga kita bisa larut dan turut sedih misalnya melihat sang Pangeran (The Happy Prince) dan si burung laying-layang (Swallow).

Jika Dickens menulis banyak tentang kehidupan sosial yang timpang dan keserakahan serta hidup yang tragis, tampaknya Oscar banyak berpusat kepada perasaan dan pengorbanan. Perasaannya tentu tidak hanya cinta. Jika pun cinta, maka yang sifatnya lebih universal dalam artian seperti kasih sayang. Jadi bukan hanya cinta antara lelaki dan perempuan. Kisah yang ditulisnya sendiri tidak kalah tragis dengan Dickens, hehe. Oleh karenanya aku tidak bisa menamatkan The Devoted Friend karena terlalu “gemes” dengan Miller. Dan hanya The Selfish Giant yang sejauh ini kusuka karena endingnya bisa dibilang bahagia.

Oh, ya, seperti yang telah tertera sebelumnya, ini adalah seri English Classic, tidak diterjemahkan. Dan syukurlah tidak sesusah yang aku pikirkan sebelumnya. Aku bisa menikmatinya dan kata-kata yang digunakan tidak sangat menyulitkan untuk dipahami.

Buku ini merupakan perkenalan yang baik dengan karya-karya Oscar Wilde. Semoga kali berikutnya bisa membaca kisah Dorian Gray. Meski bisa menerka bagaimana jalan ceritanya, namun tetap aku ingin merasakan sensasi membaca karya Oscar yang paling terkenal itu. apa kamu suka bacaan klasik juga? Lagi baca buku klasik apa? Share, donk, di kolom komentar, ya. Selamat membaca buku, kawan. :D

Rating: Better (2/3) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar