Jumat, 26 Januari 2018

Spora by Alkadri – Hati-hati dengan rasa ingin tahu

“The oldest and strongest emotion of mankind is fear, and the oldest and strongest kind of fear is fear of the unknown.” – H.P. Lovecraft, Supernatural Horror in Literature


Judul: Spora
Pengarang: Alkadri
Penyunting: Dyah Utami
Penyelaras Akhir: J. Fisca
Perancang Sampul: Olvyanda Ariesta
Ilustrasi Sampul: Fahmi Fauzi
Ilustrasi Naskah: Fahmi Fauzi
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penerbit: Moka Media
Terbit: 2014
Tebal buku: 238 halaman
Format: Paperback
Genre: Horor Scifi; Misteri
ISBN: 979-795-910-4

Sangat mungkin bagi pembaca novel horror ataupun misteri untuk tertarik dengan gambar pada sampul novel Spora ini. Sampul dengan dominasi warna sederhana yaitu hitam dan putih ini memiliki daya tarik tersendiri. Aku yang ternyata lemah terhadap kaver kece, juga terbius dengan ilustrasinya. Saat membelinya pun, aku tidak terlalu peduli dengan blurb atau sinopsis cerita yang tertera di belakang novel ini yang ternyata tidak sama dengan yang tertera di Goodreads. Aku belum tahu mengapa bisa berbeda. Intinya, menurutku kaver bisa menjadi penentu untuk membeli sebuah buku.

Mata pembaca ternyata tidak hanya dimanjakan oleh bagian sampul buku saja. Ketika membuka halamannya, ada lebih banyak ilustrasi yang menjadi pelengkap dalam menikmati novel ini, terutama di bagian awal dan akhir bab. Aku lebih dulu menelusuri setiap ilustrasi di naskah ini sebelum memulai membaca ceritanya. Sekilas kumpulan ilustrasi itu membuatku teringat dengan A Monster Calls karangan Patrick Ness. Jadi penasaran, apakah buku-buku terbitan Moka Media selalu dilengkapi dengan gambar kece seperti ini? Maklum, ini adalah buku pertama penerbit Moka Media yang kupunya dan kubaca. #pembacaamatir

Spora memiliki latar sebuah sekolah SMA di daerah Jakarta. Ada sebuah prolog mengenai rombongan KIR yang baru kembali ke Indonesia. KIR adalah salah satu ekstrakulikuler di sekolah tersebut. Bus yang membawa rombongan tersebut tiba saat lewat tengah malam (kalau tidak salah). Ada yang dijemput oleh orangtua mereka, namun ada empat siswa di rombongan tersebut yang memutuskan menginap di sekre KIR di lantai tiga (kalau tidak salah). Salah satu dari mereka membuka toples berisi sesuatu yang berwarna putih.

Alif adalah salah seorang siswa pindahan dengan masa lalu yang rumit dan bisa dibilang kelam. Dia bersahabat dengan Rina sejak tahun pertama mereka bersekolah di sana. Semua berjalan normal hingga di suatu pagi, Satpam sekolah tersebut ditemukan tewas menggenaskan di lapangan sekolah. Kepalanya hancur dan serpihannya berserakan. Alif merupakan orang pertama yang menemukannya. Seketika sekolah tersebut mulai diawasi oleh kepolisian.

Seiring hari berganti, korban kembali berjatuhan. Kondisi mereka sama, tewas dengan kepala yang pecah. Sebagai anggota OSIS dengan ketua yang begitu sosial, Alif dan Fiona ditugaskan mencari beberapa kotak untuk dipakai meminta sumbangan yang akan diberikan kepada keluarga korban. Keanehan di lantai tiga membawa mereka mengetahui sesuatu. Rina yang ayahnya adalah anggota kepolisian juga turut mencari tahu.

Kisah yang ditawarkan oleh Spora sebenarnya menarik. Sesuatu telah menyebabkan jatuhnya korban. Perlahan (cenderung lambat) pembaca diajak penulis mencari tahu perihal penyebabnya. Kisah tersebut sedikit mengingatkanku tentang suatu film yang dibintangi oleh “Frodo”. Selain itu, bagian kisah tentang si Kurcaci dan Hartanya di dalam gunung mengingatkanku dengan The Hobbit karya J.R.R. Tolkien. Apakah penulis Spora memang terinspirasi dari sana? Entahlah.

Ya, mungkin eksekusi novel ini masih kurang maksimal. Aku agak kelelahan membaca dan menyimak karakter si tokoh utama yaitu Alif. Belum lagi ada banyak pengulangan kata mengenai tingkah lakunya. Kata-kata seperti: menghela napas; mengerling; mengerjap, dst lumayan intens muncul di banyak halaman dalam novel ini. Hal tersebut membuatku kurang nikmat membacanya. Aku merasa pace-nya terlalu lambat untuk novel yang katanya mengusung genre horror sci-fi ini.

Secara keseluruhan, novel ini memang memiliki kemasan yang menarik. Ilustrasi pada sampul maupun di bagian dalam novel dapat menaikkan minat baca. Belum lagi bonus bookmark-nya ternyata timbal balik. Maksudku di bagian belakang bookmark ada quote/kutipan yang bisa menggambarkan ide cerita di buku ini secara keseluruhan. Kutipan tersebut sudah kutaruh di bagian atas review ini, jika ada yang penasaran. Meski demikian, sepertinya kisahnya belum matang. Masih kurang intens atau dengan kata lain alur ceritanya lambat. Ditambah dengan beberapa kata yang muncul berulang (terutama kata menghela napas). Aku belum tahu apakah penulis novel ini juga telah menulis/menerbitkan karyanya yang lain. Jika memang ada, aku akan coba baca karyanya yang lain. Ada yang sudah mencoba Spora? Bagaimana menurut kalian? Selamat membaca buku, kawan.

Rating: Good (1/3)

2 komentar:

  1. Baru beli buku ini minggu lalu, sama penasaran karena kovernya. Baru baca prolog yang sama sekali nggak disebut-sebut nama Alif. Sampai sekarang, belum berani lanjut baca lagi, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha ayo lanjutin baca mba. Iyya di bagian prolog gak ada Alif. Di bagian cerita baru dia muncul.

      Hapus