Minggu, 10 Desember 2017

The Physick Book of Deliverance Dane by Katherine Howe – Fiksi sejarah tentang pengadilan penyihir di kota Salem

 “Kau bisa memiliki seluruh kehidupan ini, dengan semua pendapatmu, cintamu, ketakutanmu. Namun, akhirnya bagian dirimu yang itu lenyap. Kemudian orang-orang yang masih mengenang bagian tersebut dari dirimu pun juga akan menghilang. Dan, yang tertinggal darimu hanyalah sebuah nama di dalam buku catatan.” – Samuel Hartley


Judul asli: The Physick Book of Deliverance Dane
Judul terjemahan: Buku Ramuan Deliverance Dane
Pengarang: Katherine Howe
Penerjemah: Dina Begum
Penerbit: Violet Books
Terbit: Cetakan pertama, 2011
Tebal buku: 416 halaman
Format: Paperback
Genre: Historical Fiction
ISBN: 978-979-081-631-2

Setahun yang lalu aku mulai membaca The Physick Book of Deliverance Dane (TPBoDD) atau yang diterjemahkan menjadi Buku Ramuan Deliverance Dane. Saat itu mungkin menjelang akhir tahun juga. Aku tidak bisa menamatkan buku ini, entah karena tergiur membaca buku lain atau karena ada kesibukan yang tidak dapat ditunda. Cerita di buku ini juga semakin terasa berat dan membingungkanku saat itu. Namun ketika membaca ulang, malah jadi lebih mudah dicerna.

Sejarah kota Salem (Desa Salem, sebutan pada masa itu) terutama yang terkait dengan pengadilan penyihirnya menjadi inti dari kisah di buku ini. Ya, TPBoDD mengusung genre historical fiction/fiksi sejarah. Ada dua plot yang dituliskan bergantian. Satu di masa lalu dan satunya di masa depan. Hal ini membuatku teringat dengan The Rosetti Letter. Selain mengusung genre yang sama, model penceritaannya juga begitu. Apakah rata-rata hisfic menggunakan model seperti itu? Pengalaman membaca hisfic-ku masih minim.

Aroma sihir (meski terkait dengan sejarah) sudah bisa dirasakan sejak halaman awal buku. Pada sampul bagian dalam, ada ilustrasi tumbuhan yang bernama mandrake. Lebih lanjut dijelaskan mandrake ini merupakan umbian beracun yang tidak boleh sembarangan mencabutnya. Umbi ini membuatku teringat dengan mandrake di dalam Harry Potter yang mampu berteriak begitu nyaring saat dicabut, hehe. Meski terdengar masih dalam lingkup ilmiah, ada bagian yang memang benar-benar beraroma “sihir/aliran tenaga dalam/keajaiban” termuat di dalam buku ini.

“Begitu beracunnya, bahkan, sampai-sampai legenda menyebutkan bahwa siapa pun yang mencoba menggalinya, ia akan mati di tempat. Oleh karena itu, kalau ada yang menginginkan tanaman ini, haruslah digali oleh seekor anjing.” (hal. 60)

“Selain itu,” tambahnya, “beberapa buku holtikultura modern menyebutkan bahwa ketika mandrake dicabut, tumbuhan itu akan menjerit.” (hal. 60)

Connie Goodwin memerlukan waktu di musim panas untuk melakukan penelitian desertasinya. Namun ada ibunya yang meminta Connie “menangani” rumah neneknya di sekitar Salem. Rumah tersebut direncanakan untuk dijual, jadi perlu ada beberapa perbaikan. Connie datang ke sana bersama sahabatnya, Liz. Rumah itu ternyata cukup tua, dibangun sejak masa abad pertengahan. Ada banyak herba liar yang tumbuh saling tumpang tindih karena sudah tidak terurus. Semakin masuk ke dalam, ada prabotan berupa deretan botol-botol kaca dengan beragam bentuk. Connie menemukan kunci tua di dalam Alkitab abad ketujuh belas. Di dalam kunci tersebut, ada sepotong perkamen dengan sebuah nama tertulis di dalamnya: Deliverance Dane.

Connie pun mendapat ide untuk bahan desertasinya. Penemuan di rumah neneknya tersebut mengarahkan Connie untuk mencari tahu, siapakah Deliverance Dane berikut mencari artefak langka yang memiliki kekuatan misterius. Yap, sesuai judul novel ini: buku ramuan. Di sisi lain, ada Professor Chilton yang merupakan pembimbing desertasinya. Chilton juga turut mendesak penemuan buku langka tersebut. Sangat mendesak dan memaksa malah. 

Seperti yang kukatakan sebelumnya, kisah tentang Connie berselang-seling dengan kisah Deliverance dengan setting masa lalu yang berkaitan dengan pengobatan, pengadilan penyihir, penjara, teluh, dsb. Aku menyukai deskripsi yang Katherine (penulis novel ini) tampilkan tentang suasana abad pertengahan tersebut di Salem. Pun dengan gambaran mengenai orang-orang di masa itu. Katherine mencoba detail dan membaca banyak sumber terkait hal tersebut. Salah satu pengetahuan baru bagiku adalah cara mereka memanggil atau address seseorang. Misalnya kalau sekarang, banyak digunakan kata Mr. (kependekan dari Mister), Miss, Mrs., dll. Nah, pada masa itu mereka menggunakan kata Goodman dan Goody. Ya, menurutku itu salah satu detail yang diperhatikan oleh Katherine.

“Goodman James sedang mengendalikan keledainya ke rah dermaga. Goody James bangun, mencondongkan badannya ke belakang…” (hal. 120)

Membaca historical fiction memang terkadang menguras pikiran. Ada saat kita harus beradaptasi tidak hanya dengan pergantian plot dan latar waktunya, namun juga dengan konten sejarah itu sendiri. Meskipun demikian, aku membaca novel bermuatan sejarah lebih menyenangkan daripada langsung membaca buku teks yang kelewat formal. Adanya dialog dan deskripsi mengenai perasaan karakter di dalamnya yang digulirkan oleh pengarang sejarah fiksi membuat kita membaca konten tersebut dengan lebih santai. Singkatnya, The Physick Book of Deliverance Dane menawarkan sajian sejarah yang menarik terkait dengan pengadilan penyihir di masa lalu. Khususnya mengenai cara pengobatan atau penyembuhan terkait suatu penyakit dengan sistem ramuan/herbal. Pembaca diajak untuk melihat sisi lain dari segala yang berbau penyihir di masa itu. Suatu sajian yang menyenangkan untuk dinikmati.

Rating: Better (2/3)
Submitted to:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar