Selasa, 23 Mei 2017

The Mysterious Affair at Styles by Agatha Christie – Kisah Poirot dari sudut pandang Hasting

Imajinasi adalah pelayan yang baik, tetapi tuan yang buruk. – Poirot


Judul asli: The Mysterious Affair at Styles
Judul terjemahan: Misteri di Styles
Series: Hercule Poirot
Pengarang: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedelapan - November, 2013
Tebal buku: 272 halaman
Format: Paperback
Genre: Mystery
ISBN: 978-979-22-2909-7

Setelah berhasil menamatkan Murder on the Orient Express (MotOE), aku kembali kecanduan membaca kisah-kisah yang Agatha tulis terutama seri Poirot. Kebetulan pula masih ada beberapa bukunya yang memang belum tuntas kubaca. Ditambah lagi, aku sedang mencoba untuk menuntaskan tbr list Mei yang kucoba buat di awal bulan lalu. Maka segera kuambil The Mysterious Affair at Styles sebagai bahan bacaan selanjutnya.

Ketika mulai membaca halaman pertama, aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan MotOE atau seri yang kubaca sebelumnya. Perbedaan itu dari segi sudut pandang/PoV. Jika di MotOE, Agatha menggunakan PoV orang ketiga. Sementara di buku ini, Agatha menggunakan sudut pandang pertama. Kata “aku” di sana mewakili sahabat Poirot yaitu Kapten Hasting. Aku tidak heran dengan hal ini karena sebelumnya pernah juga membaca seri Poirot melalui kacamata orang pertama yang juga Kapten Hasting (Lord Edgaware Dies). Sejujurnya, aku merasa agak kehilangan selera sedikit. Aku sepertinya lebih suka jika Agatha menggunakan sudut pandang orang ketiga saja. Ditambah ada beberapa hal yang membuatku harus membaca kalimatnya berulang karena sulit paham. Jika menggunakan orang ketiga terasa lebih lancar dan mudah diikuti. Bagaimana menurut kalian?

Oke, The Mysterious Affair at Styles dimulai ketika Kapten Hasting sedang mendapatkan cuti pemulihan. Dia diundang oleh sahabatnya untuk berkunjung ke Styles Court yang merupakan tempat tinggal sahabatnya tersebut di daerah Essex, Inggris. Dulu sewaktu masih kecil Hasting memang sering bermain dengan John Cavendish (sahabatnya tersebut).

John Cavendish merupakan anak tertua penghuni Styles Court. Istrinya bernama Mary dan adik lelakinya bernama Lawrence. Dia memiliki seorang ibu tiri yang murah hati dan telah dianggap sebagai ibu sendiri yang bernama Emily. Senyum John berubah menjadi kecut ketika dia bercerita kepada Hasting jika ibunya itu menikah lagi dengan seorang bernama Alfred. Dia menganggap jika Alfred hanya berpura-pura baik dan menginginkan harta saja. Selain mereka, tinggal pula di Styles, gadis muda bernama Cynthia (anak angkat Emily) dan Bibi Evelyn (masih ada kekerabatan dengan Alfred namun saat membenci Alfred). Oh, ya, ada satu orang lagi yaitu Dr. Bauerstein yang merupakan seorang ahli racun sahabat Mary Cavendish dan beberapa kali mengunjungi rumah tersebut.

Konflik dimulai pada 16 dan 17 Juli. Pada saat subuh Emily berteriak gaduh dari bilik kamarnya. Hasting, John, dan penghuni lainnya mencoba masuk ke dalam kamarnya yang terkunci. Ketika mereka berhasil mendobrak masuk, terlihat Emily mengalami kesusahan dan kemudian meninggal. Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui jika dia telah diracun. Sebuah surat wasiat terbaru yang ditulis Emily kemudian ditemukan terbakar di perapian. Poirot yang kebetulan berkunjung ke daerah tersebut dimintai tolong oleh Hasting dan John serta kepolisian Scotland Yard untuk memecahkan kasus tersebut. Adakah yang bisa menebak siapa pelakunya?

The Mysterious Affair at Styles termasuk lumayan tipis, terdiri dari 272 halaman. Seingatku dari beberapa seri Poirot lainnya yang telah kubaca, di seri ini ada banyak ilustrasi. Kapten Hasting bilang ilustrasi tersebut akan membantu pembaca memahami situasi dan hal penting lainnya terkait dengan Styles, hehe. Dan itu sedikit membuatku merasa berbeda dan merasa ada sesuatu yang baru yang kudapatkan dari hasil membaca seri Poirot yang ini.

Salah satu ilustrasi yang ditampilkan adalah denah kamar di lantai atas di Styles Court. Setiap penghuninya memiliki kamar sendiri di rumah besar tersebut. Iya, setiap orang walaupun mereka suami istri. Kamar suami dan kamar istri berlainan namun masih berdekatan, hanya dipisahkan oleh satu dinding dan ada pintu tembus di antara kamar tersebut. Entah memang pada masa itu begitulah aturan atau tren-nya. Yang pasti agak sedikit berbeda dengan masa sekarang, kurasa. Aku menemui kamar dengan pintu tembus atau pintu penghubung itu di rumah Nenekku. Jadi, ya, mungkinlah pada masa itu seperti itu. Hahaha, #apasih.

Aku tidak tahu apakah ini memang ciri khas setiap kisah di seri Poirot. Selalu ada penjelasan tentang Poirot serta tentang dirinya yang berkepala bulat telur, merapikan kumis, dan mengandalkan sel kelabu otaknya. Haha, ya, pastinya hal tersebut sangat membatu pembaca mengenal ciri fisik Poirot. Apalagi pembaca seperti aku yang mulai membaca serinya secara acak. Lagipula setiap serinya memang bisa berdiri sendiri. Mungkin karena itulah ada pengulangan. Namun rasanya tidak dengan karakternya. Maksudku semakin banyak kita membaca seri Poirot, semakin terkuak karakternya seperti apa. Haha, menurutku, sih, seperti itu.

Poirot adalah laki-laki kecil yang luar biasa. Tingginya tidak lebih dari satu meter enam puluh, tetapi sangat berwibawa. Kepalanya berbentuk seperti bulat telur, dan selalu miring sedikit ke satu sisi. Kumisnya sangat kaku. Pakaiannya rapi sekali. (hal. 29)

Poirot menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dia sekarang merapikan kumisnya dengan hati-hati. (hal. 48)

Poirot menyambar topinya, memelintir kumisnya, dan dengan hati-hati menjentikkan debu yang tak kelihatan dari lengan bajunya. (hal. 142)

Salah satu karakter yang terkuak di buku ini adalah tentang Poirot yang memperhatikan detail. Memang dia sangat awas ketika menyelidiki TKP berikut memilah kesaksian orang yang terlibat dalam suatu kasus. Selain itu Poirot juga sangat mendetail soal penampilan. Bukan penampilan dirinya saja namun juga temannya hingga tata letak furniture di suatu ruangan.

“…. Maaf, mon ami, kau tadi pasti tergesa-gesa. Dasimu miring. Maaf.” Dengan cekatan jarinya mengatur dasiku. (hal. 50)

Kami menunggu dengan perasaan tegang. Poirot sendiri kelihatan santai. Dia membersihkan debu di sudut lemari buku. (hal. 87)

Overall, aku sedikit kurang menikmati kisah ini karena ekspektasiku yang sedikit lebih tinggi dari seri Poirot yang sebelumnya kubaca. Murder on the Orient Express merupakan buku yang keren, menarik. Selain itu, mungkin juga karena buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama serta kasusnya yang diceritakan agak membingungkan (menurutku). Terlepas dari hal tersebut, aku masih menyukai tulisan Agatha, aku masih menyukai Poirot. Ada beberapa hal menarik dari Poirot yang baru kuketahui selain tentang kumisnya dan kekuatan sel kelabu otaknya tersebut. Untuk mendapatkan poin di Read and ReviewChallenge BBI, aku masih harus membaca dan mereview dua buku karangan Agatha Christie. Sudah ada calonnya di tumpukan. Tinggal eksekusinya, ajah. Haha, semoga bisa. Semangat!! :D

Rating: Better (2/3)
Submitted to:
----------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------

Seri Hercule Poirot bisa dikatakan merupakan bagian dari kisah klasik. Biasanya aku menemukan banyak kutipan karena klasik sering memberikan pembelajaran dan nuansa hidup yang lebih sederhana dan bermakna. Tentunya yang kuanggap menarik karena quotes yang kukutip dari buku yang telah kubaca itu kunilai menarik berdasarkan seleraku saja. Namun sayangnya di beberapa seri Poirot yang telah kubaca akhir-akhir ini tidak banyak quote manarik yang kutemukan. Khusus di seri ini (The Mysterious Affair at Styles) aku hanya menemukan tiga yang oke (menurutku). Baiklah, langsung kugandeng dengan postingan reviewnya. Berikut kutipan yang kumaksud. Selamat menikmati. Selamat membaca buku, hehe. :D

“Poirot, aku kan tidak mendiktemu. Kau dan aku sama-sama punya hak untuk berpendapat.” (hal. 72)

“Karena kau terlalu mengekang imajinasimu. Imajinasi adalah pelayan yang baik, tetapi tuan yang buruk. Penjelasan yang paling sederhana merupakan kemungkinan paling besar.” (hal. 103)

“Insting memang sesuatu yang luar biasa,” kata Poirot. “Tidak bisa dijelaskan ataupun diacuhkan.” (hal. 168)

1 komentar: