Rabu, 30 Maret 2016

The Silence of the Lambs by Thomas Harris – Domba, Ngengat, dan Buffalo

“Setahuku tidak ada cara yang ampuh, kecuali tekad untuk mencapai tujuan.” - Starling

sumber

Judul asli: The Silence of the Lambs
Judul terjemahan: Domba-domba Telah Membisu
Seri: Hannibal Lecter #2
Pengarang: Thomas Harris
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni, 2013 (Cetakan ketiga)
Tebal buku: 480 halaman
Format: Paperback
Genre: Mysteri; Thriller
ISBN: 978-979-22-9075-2

Aku tidak langsung melihat seri ini ketika itu. Hanya dua seri terakhirnya (buku ke-3 dan ke-4) yang jatuh ke depan mataku. Terimakasih sebelumnya untuk Ez yang telah menghadiahi buku ini di awal Februari kemarin sebagai hadiah ulang tahun untukku. Dan karena Ez tidak yakin untuk membeli hadiah ini sendirian, dia mengajakku. Haha, cukup heboh waktu itu. Sewaktu melihat dua buku seri terakhir itu, aku meminta Ez untuk googling. Ternyata seri pertama dari Hannibal Lecter itu berjudul Red Dragon, dan barulah The Silence of the Lambs (TSotL) ini sebagai seri keduanya. Aku lalu memintanya untuk membantu mencari Red Dragon. Dan yang ketemu ternyata TSotL ini. 

Tweet pertama ttg TSotL | #BBILagiBaca

Tidak masalah langsung melompat ke buku kedua. Cerita di dalamnya masih bisa berdiri sendiri. Tokoh Hannibal Lecter-lah yang menjadi benang merah di setiap seri. Di seri ini, penulis masih memberikan deskripsi mengenai Hannibal yang lengkap. Pembaca kurasa bisa menangkap jika Dokter satu ini memang super jenius dan super gila. Kebetulan pula, aku sudah pernah menonton salah satu versi filmnya yang berjudul Hannibal Lecter (sepertinya film yang kutonton ini diangkat dari seri keempat yaitu Hannibal Rising). Jadi setidaknya aku punya basic yang cukup tentang si Dokter. Meski demikian aku cukup penasaran dengan Red Dragon. Apalagi ketika membaca paragraf terakhir di halaman 16.

“…. Masih ingat Red Dragon? Lecter menghasut Francis Dolarhyde untuk mengincar Will dan keluarganya. Muka Will sekarang mirip lukisan Picasso, gara-gara Lecter. ….” (hal. 16)

The Silence of the Lambs berkisah tentang Clarice Starling, yang tengah dalam pendidikan untuk menjadi agen FBI. Pengetahuannya di psikologi dan forensik serta nilai-nilainya yang cemerlang membuat Jack Crawford—kepala seksi Ilmu Perilaku memberinya tugas baru dan menantang. Pihak FBI, khususnya seksi Ilmu Perilaku sedang mencoba membuat database dari profil orang-orang yang terlibat dengan kasus pembunuhan berantai. Tidak ada cukup orang untuk dimintai bantuan dan Jack pun meminta Starling untuk melakukannya. Starling diminta untuk menemui Dr. Hannibal Lecter yang tengah dirawat di rumah sakit jiwa di daerah Baltimore (hehe, aku lupa nama RSJ-nya). Lecter mendiami sel dengan tingkat pengawasan maksimum. Dokter sekaligus psikiater yang diketahui telah membunuh sembilan orang ini juga memperoleh perlakuan “khusus”. Gangguan kejiwaan yang Lecter derita membuatnya tidak bisa disiksa secara fisik. Hanya kebosanan yang dapat menyiksanya.

Konflik di TSotL | #BBILagiBaca

Lecter berhasil memancing keingintahuan Starling tentang kasus pembunuhan berantai yang juga kini tengah ditangani Jack. Buffalo Bill adalah julukan untuk pelakunya. Dia membunuh dengan keji yaitu dengan menguliti tubuh korbannya yang semuanya adalah wanita. Lecter rupanya tahu cukup banyak tentangnya. Namun tidak mudah tentunya untuk mengorek informasi dari seorang Lecter. Dia suka “bermain-main” dan malah menyelami kondisi kejiwaan Starling. Apakah Starling berhasil mendapatkan informasi yang diinginkannya? Atau Lecter akan bosan dengannya lalu mencelakai Starling? Hmm… :D

Dari cuplikan di atas, kisah di buku ini termasuk jenis thriller atau suspense. Pace-nya cukup cepat. Mungkin ini trik agar suspense-nya lebih berasa, kali, ya. Ada banyak hal yang menegangkan. Jangankan deskripsi tentang perlakuan Buffalo Bill terhadap para korbannya, baca deskripsi tentang Clarice pertama kali bertemu dengan Lecter saja sudah bikin dag dig dug. Apalagi, Harris memang sudah menakut-nakuti kita dengan mengungkit apa yang dilakukan Lecter kepada Will (agen FBI yang telah ditugaskan lebih dulu dari Clarice untuk bertemu dengan Lecter). Pun dengan adegan-adegan sadis lainnya yang diceritakan dengan apik. Aku seolah melihat adegan itu di depan mata dan menjadi takut. Huwwaa…

“Para dokter berhasil menyelamatkan sebelah mata juru rawat itu. sepanjang kejadian itu, Lecter tetap dimonitor oleh alat-alat pemantau. Dia mematahkan rahang si juru rawat agar dapat menjangkau lidahnya. Denyut nadi Lecter tak lebih dari delapan lima, bahkan ketika dia menelan lidah wanita itu.” (hal. 24)

Riset, riset, dan riset. Bisa kusimpulkan penulisnya melakukan banyak riset yang berkaitan dengan isi buku. Ada banyak fakta semisal tentang psikologi manusia, penanganan kasus di FBI, uji forensik terhadap mayat, hingga penyamakan kulit, dan lain-lain. Semua ditangani dengan manis, sarat logika namun tidak menggurui. Menurutku ini poin plus dan layak menjadi contoh untuk yang ingin menulis novel dan memerlukan fakta pendukung.

Bicara soal penampilan, ada sesuatu yang “manis” dari covernya. Haha, aku teringat dengan iklan salah satu produk susu encer di tivi. Iklan tersebut menggunakan animasi Naga. Sementara gambar di kalengnya Beruang dan tentu saja isinya susu Sapi, haha. Nah, kalau buku ini, di judulnya menggunakan kata Lambs atau Domba-domba. Sementara covernya menggunakan gambar Ngengat dan isinya kebanyakan tentang “Buffalo” Bill. Namun, covernya menarik. Bisa kita lihat di ngengat tersebut ada gambar tengkoraknya. Di buku ini tentu ada penjelasan mengenai jenis ngengat ini. Mungkin kalau kulihat ngengat tersebut di dunia nyata, boleh jadi aku akan langsung teringat dengan buku ini. 

Cover TSotL | #BBILagiBaca

Sebelum menutup review ini, ada satu hal menarik lain yang ingin kuceritakan yaitu mengenai karakter. Ada beberapa karakter utama di buku ini selain Clarice. Mereka antara lain Lecter, Jack, dan Buffalo Bill. Diantara para karakter tersebut, Harris memberikan ide yang menarik mengenai konsep kejahatan dan kegilaan. Setiap karakter memiliki kedua hal itu di dalam dirinya meski kadarnya berbeda-beda. Kita bisa melihat secara kasat mata bahwa Clarice dan Jack bisa digolongkan ke dalam protagonist. Mereka memang terlihat baik-baik saja, namun jauh di dalam benaknya, mereka memiliki kecendrungan memiliki “kegilaan”. Jack berusaha menata mentalnya saat dirinya dihadapi dengan kasus Bill, istrinya yang terbaring koma, serta masa pensiunnya yang datang menjelang. Di lain pihak, Starling memiliki masa kecil yang sulit, dan seperti judul buku ini, Starling mempunyai ingatan menyedihkan mengenai anak-anak domba dan kuda kesayangannya.

Karakter di TSotL | #BBILagiBaca

Di lain pihak, sudah tentu kita bisa menganggap Lecter dan Bill memiliki kadar kegilaan yang tinggi dan cenderung menjadi jahat atau antagonis. Lecter sendiri jika ditelusuri merupakan korban dari tragedy di masa kecilnya. Begitu pula dengan Bill. Kegilaan atau gangguan mentallah yang membuat mereka menjadi pelaku kejahatan. Dan seolah membuat suatu perbandingan yang menarik, penulis menceritakan kepada kita tentang seorang karakter lagi (tidak terlalu dominan) yang cenderung lebih jahat daripada Lecter dan Bill. Ketika membaca tentang karakter ini, aku yakin setiap orang akan merasa geram, kesal, dan tidak suka. Ya, terkadang orang yang memiliki kesehatan mental yang baik, namun dengan sengaja melakukan kejahatan dengan sadar dan itu demi kepuasaan diri sendiri, bisa dikategorikan lebih jahat dan lebih gila daripada mereka yang memang memiliki gangguan kejiwaan.

Paling tidak, dua jurnal ilmiah menjelaskan bahwa masa kecil yang tidak bahagia itulah yang menyebabkan ia membunuh wanita di basement-nya untuk mengambil kulit mereka. Kata-kata gila dan jahat tidak muncul dalam kedua artikel tersebut. (hal. 463)

Meski ada beberapa typo (bahkan sejak halaman pertama, hehe) namun bagiku buku ini menarik. Bikin deg-degan dan penasaran. Aku takut tapi sekaligus ingin tahu kelanjutannya. Ketika sampai di akhir buku, ada twist yang tak terduga. Aku sempat lompat beberapa halaman karena adegannya bikin jantungku berdegub lebih cepat. Aku ingin segera tahu apakah Starling baik-baik saja, hehe. Ya, itulah enaknya baca buku, kita bisa meloncat ke halaman selanjutnya dan membaca bagaimana adegan yang menegangkan itu berlalu. Aku jadi yakin untuk membaca seri selanjutnya. Bagi kalian yang suka thriller, tidak boleh melewatkan buku ini, ya. :D

Tweet terakhir ttg TSotL | #BBILagiBaca

Rating: The Best

Submitted to:

5 komentar:

  1. Wow, sudah 4 tahun saya punya buku ini dan belum berani membacanya. Ok, masuk daftar baca segera.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaa....dulu sampai bela2in ngumpulin serial ini, tapi masih betah di rak to-read.
      Tapi bisa jadi karena udah pernah nonton filmnya juga...

      Hapus
    2. Masdi: Wah kebalikan kita mas. Kemarin aku yg belum baca Unwind. Coba aja baca Mas. :D

      Mba Desty: Sudah terkumpul semua ya Mba? Wah..envy.. XD

      Hapus
  2. buku ini keren bangeeeet.... beneran bisa bikin deg2an parah hehe.. aku malah nonton filmnya dulu (jaman smp kali) dan waktu baca bukunya memang jadi kebayang adegan2 seremnya si anthony hopkins hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setujuu..bikin deg2an Mba..Iyya pelemnya sdh jadoel skrg dan ada beberapa tapi cuma baru satu pelem sih yg baru aku tonton. Makasii sdh mampir Mba Astrid. :D

      Hapus