Senin, 22 Februari 2016

The Silmarillion by J.R.R Tolkien – Sebuah riwayat yang panjang

“dan pertolongan sering kali datang justru dari yang lemah, saat yang Bijak telah menyerah.” - Gandalf


Judul: The Silmarillion
Pengarang: J.R.R Tolkien (diedit oleh Christopher Tolkien)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedua, Januari 2016
Tebal buku: 624 halaman
Format: Paperback
Genre: High Fantasy
ISBN: 978-602-03-2269-8

Sebelumnya, terimakasih untuk Ez yang sudah memberikan buku ini sebagai hadiah ulang tahunku di minggu awal Februari kemarin. Alhamdulillah, tuntas sudah hajat untuk membaca buku ini sehingga bisa kucoret satu judul dari daftar buku inceranku, hehe. Seperti yang sering kubilang jika aku sudah lama mengidamkan buku ini dan di akhir 2015 kemarin Gramedia menterjemahkannya dan menerbitkannya. Sedikit cerita, awal mula tahu buku ini karena aku melihat gambar sketsa di Pinterest. Gambar tersebut adalah gambar Maedhros putra Feanor, Pangeran Elves dari kaum Noldor yang namanya disebut dalam kisah di buku ini. Ahh, cakep sekali Maedhros ini di sketsa tersebut, haha. Dan selain itu aku penyuka kisah fantasi dan begitu pula dengan rekaan Tolkien. Di buku ini memang Tolkien lebih banyak berkisah tentang Elves. Klop, deh, aku jadi makin ingin membaca buku ini. Ditambah pula sebelumnya aku sudah terbius dengan The Hobbit.

Butuh waktu sekitar lima hari untuk menamatkan buku setebal 624 halaman ini. Meskipun jumlah halamannya segitu, namun yang benar-benar mengandung kisah hanyalah 500 halaman saja. Selebihnya adalah beberapa lembar pembuka dan daftar isi, lalu disusul kata sambutan (katakanlah begitu) dari Christopher Tolkien (anaknya sekaligus yang mengedit kisah ini), lalu ada pula kutipan surat Tolkien yang begitu panjang (menghabiskan 27 halaman). Surat ini ditujukan untuk sahabatnya Wilton Waldman yang dikirimkan pada tahun 1951. Di dalam suratnya Tolkien bercerita mengenai ringkasan, inti sari dan pandangannya sendiri mengenai kisah-kisah dunia rekaannya termasuk Middle Earth dan termasuk pula ke dalamnya kisah The Hobbit dan trilogy Lord of the Rings. Aku membaca surat ini setelah selesai menamatkan seluruh cerita. Boleh juga dibaca di awal karena memang letaknya di bagian awal. Setidaknya surat ini membantu kita untuk memahami kisah-kisah di dalam buku The Silmarillion ini.

Lanjut lagi, sebagian sisa halaman tersebut juga dihabiskan untuk menulis indeks nama-nama, pohon silsilah, penjelasan mengenai bahasa Elves yang Tolkien ciptakan, lalu beberapa lembar peta. Untuk indeks nama-nama sendiri kunilai super duper perlu karena kisah di dalam buku ini sangat kaya akan nama-nama. Katakanlah mulai dari nama tokoh-tokohnya serta keturunan mereka, nama-nama tempat yang begitu mendetail hingga ke nama menara, begitu pula dengan nama benda-benda betuah, pohon-pohon, dan lain sebagaiannya. Tidak heran indeks ini menghabiskan sekitar 40an halaman sendiri. Aku sempat bolak balik mengecek ke indeks ini untuk membiasakan diri dan memahami ini tokoh mana sih yang sedang dibicarakan. Imajinasi Tolkien memang “wow”. Dia bukan lagi me-reka suatu Negara, melainkan sebuah dunia dengan segala kehidupan dan kisah di dalamnya.

Dan aku masih terpesona dengan desain sampulnya yang begitu simple namun elegan, hehe. Sampul The Silmarillion yang kupunya ini berwarna hitam legam dengan corak lingkaran biru di tengah buku, sepertinya sebagai ilustrasi permata silmaril. Mengenai font di dalamnya, cukup kecil namun tidak terlalu kecil dan spasinya bukan single. Masih enaklah buat dibaca namun memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghabiskan satu halaman. Ini dikarenakan kisahnya yang begitu “kaya” (seperti yang kubilang di atas, terutama kisah di bagian Quenta Silmarillion) plus lebar buku ini yang sekitar 20cm. Namun aku menikmatinya. Salut juga untuk penterjemahnya, mbak Tanti Lesmana. Bravo!

Ya, kisah di dalam buku ini tidak berdiri sendiri atau hanya satu kisah. Buku ini terbagi ke dalam 5 bagian dan semuanya memang sebuah riwayat atau sejarah yang begitu panjang mengenai dunia yang direka oleh Tolkien. Dia memulainya dengan cerita mengenai penciptaan. Ada (katakanlah) Tuhan, lalu diciptakanlah (katakanlah) malaikat/dewa-dewa. Kemudian disusul pula dengan pengkhianatan (katakanlah setan) dan berikut penciptaan Elves, kurcaci, dan manusia. Ez sempat melihat sekilas isi buku ini dan berkomentar, “kok, buku ini nggak ada dialognya?” Haha, ya memang, sebagian besar kisah Quenta Silmarillion minim dialog. Lebih kepada bertutur, bernarasi. Dialognya menyelip sedikit. Oleh karenanya kubisa mengatakan jika ini buku besar sejarah serta riwayat dunia rekaannya Tolkien. Buku ini jugalah yang mendahului kisah-kisah di The Hobbit dan The Lord of the Rings.

Baiklah, aku akan menceritakan secara ringkas kisah di setiap bagian di dalam buku ini yang memakan hingga 500 halaman itu.

#1 Ainulindale
Kisah ini dimulai dengan Eru/Illuvatar (katakanlah Tuhan yang Esa) memainkan musik atau memulai penciptaan terhadap bumi/arda. Namun sebelum menciptakan bumi, Illuvatar menciptakan para Ainu (katakanlah malaikat). Diantara para Ainu adalah yang bernama Melkor atau yang kemudian dikenal sebagai Morgoth. Mereka semua diminta Illuvatar untuk memainkan musik penciptaan dunia baru yang kemudian dikenal sebagai bumi atau arda berikut nanti para penghuninya yaitu Elves dan Manusia. Semua Ainu diciptakan patuh dan memahami bagian musiknya sendiri, namun tidak dengan Melkor. Bak Setan yang jahat, begitulah Melkor menentang Illuvatar dan menyisipkan nada-nada sumbang pada musik yang dimainkan. Nada-nada ini menimbulkan kejahatan dan menyusupi Bumi yang masih muda itu dengan hal-hal yang tidak baik.

#2 Valaquenta
Kisah di bagian ini bercerita tentang Valar dan Maiar. Beberapa Ainu diperintahkan untuk mengurus Bumi dan mengawasi serta menyayangi anak-anak Illuvatar yang akan datang kemudian (yaitu Elves dan manusia). Ainu yang turun ke bumi ada 7 pasang dan mereka dinamakan Valar. Diantara para Vala ini, Manwe (penguasa udara) dan ratunya Varda ditunjuk sebagai pimpinan. Selain Manwe, valar lain yang “kekuatannya” hampir menyaingi Manwe adalah Ulmo (penguasa perairan) dan Mandos (penguasa kematian). Namun para Vala dan pasangannya valie memiliki kemampuan tersendiri yang berbeda satu sama lain. Bersama mereka, Melkor pun turut mendatangi Arda dan berusaha untuk menguasainya. Ketika para Valar mencoba membangun dan memperindah Arda, maka Melkor mengganggu mereka dan menghancurkannya. Sungguh jahat Melkor ini.

Tersebut pula lah di bagian ini tentang para Maia. Mereka adalah pelayan para Vala karena meski mereka berasal dari ras yang sama dengan Valar, tingkatan mereka lebih rendah. Aku tidak terlalu ingat siapa saja nama-nama mereka. Namun yang paling berperan di dalam kisah di buku ini dan sering disebut ada tiga yaitu: Eonwe (pelayan Manwe); Osse (pelayan Ulmo); Melian (pelayan Vana dan Este); serta Sauron (pelayan Melkor).

#3 Quenta Silmarillion
Nah, inilah bagian riwayat yang panjang, bercerita tentang kehidupan kaum Elves yang sangat dicintai oleh Tolkien. Di sini juga akan diceritakan mengenai kelahiran para Kurcaci dan manusia. Ada beberapa tragedi yang terjadi pada kaum Elves. Mereka dimunculkan pertama kali di Middle Earth (jika aku tak salah ingat). Lalu ketika para Vala mengetahuinya, maka mereka ingin membawa mereka ke Valinor (Negeri para Vala atau bisa juga dinamakan Surga namun masih di dalam kawasan Bumi). Mereka sangat mengasihi kaum Elves yang juga diberi karunia keabadian dan awet muda oleh Illuvatar. Oleh karenanya mereka diajari oleh para Vala berbagai macam keterampilan.

Ketika Orome (utusan Valar) mendatangi mereka dan mengajak mereka ke Valinor, tidak semua kaum setuju. Ini disebabkan oleh bisikan-bisikan Melkor yang memang duluan mengetahui kelahiran para Elves. Dia menyusupkan rasa takut. Akhirnya Elves yang menolak untuk berangkat ini di sebut Elves Kegelapan karena mereka tidak pernah melihat cahaya di kedua pohon bertuah di negeri Valinor. Adapun Elves yang ikut adalah kaum Elves Vanyar (berambut keemasan dan yang pertama berangkat dan dipimpin oleh Ingwe); kaum Elves Noldor (yang berangkat di barisan kedua dan dipimpin oleh Finwe); terakhir kaum Elves Teleri (yang berangkat ketiga dan dipimpin oleh Elwe dan saudaranya Olwe). Meski kaum Teleri berniat untuk berangkat ke Valinor, namun mereka tidak pernah sampai. Ada tragedi tersendiri yang akan sangat panjang jika dikisahkan di sini. Ah, ya, para Elves tersebut diajak untuk melihat cahaya karena memang saat itu keadaan bumi masih gelap, belum ada bulan dan matahari.

Lalu bagian mana tentang permata silmaril? Kaum Noldor, terutama Feanor (anaknya Finwe) sangat pandai membuat permata. Dialah yang membuat ketiga permata Silmaril yang di dalamnya mengandung cahaya dari kedua pohon. Permata tersebut dikuduskan atau bertuah. Petaka dimulai ketika Melkor bersama laba-laba raksasa purba bernama Ungoliant, menghancurkan pohon cahaya di Valinor. Kegelapan pun menyelimuti bumi dan pohon tersebut hanya bisa dipulihkan dengan bantuan permata Silmaril. Namun Feanor menjadi posesif terhadap permata tersebut dan menolak perintah Valar. Akan tetapi Melkor ternyata lebih duluan mencurinya dan membawa lari permata tersebut ke Middle Earth yang gelap. Feanor dan keturunannya termasuk Maedhros (putra sulungnya) memutuskan untuk keluar dari Valinor. Mereka mengucapkan sumpah yang menghantui diri mereka sendiri di kemudian hari. Dan salah satu vala pun mengutuk mereka dengan kesialan. Mereka, kaum Elves Noldor pun menjadi kaum elves Yang Terusir.

Intinya kisah ini sangat panjang. Ada pertempuran besar, kisah tentang munculnya manusia, lalu tentang pernikahan antara Elves dan Manusia, serta banyak kisah lainnya sebelum bumi memasuki zaman ketiga. Langsung saja baca sendiri, ya, mengenai kesudahan akhir permata silmaril tersebut yang begitu tragis dan memakan banyak korban. Hiks! #RIPMaedhros

#4 Akallabeth
Bagian ini bercerita mengenai kejatuhan Numenor atau Atlantis. Diceritakan sebelumnya di bagian ketiga (Quenta Silmarillion) bahwa Manusia pun turut serta berjuang melawan kejahatan yang ditimbulkan oleh Melkor. Tidak sedikit tragedi yang disebabkan oleh Melkor atau Morgoth tersebut terhadap kaum manusia.

Salah satu kaum manusia yang dihargai oleh Valar dipimpin oleh Elros. Mereka diberikan tempat tinggal baru yang letaknya tidak di Middle Earth dan tidak pula di Valinor. Namun negeri tersebut terletak lebih dekat dengan Valinor atau Negeri Kekal Abadi-tempat tinggal para Valar dan Elves yang melihat cahaya. Negeri manusia tersebut bernama Numenor atau Atlante.

Manusia di negeri ini diberi karunia berumur panjang dan terampil dalam belayar. Namun, lambat laun, mereka menjadi tidak tahu diri dan ingin meminta karunia seperti kaum Elves yaitu hidup abadi. Ini juga karena hasutan dari Morgoth dan pelayannya yang setia, Sauron. Namun bukanlah tempat manusia untuk hidup abadi, justru ketidakabadian adalah karunia Illuvatar yang sebaliknya membuat kaum Elves iri. Setelah beratus-ratus tahun kemudian, Kaum mansusia di Numenor ini menyatakan perang dan mendapatkan murka dari Illuvatar.

#5 Tentang Cincin-cincin Kekuasaan dan Zaman Ketiga
Nah, ini adalah bagian terakhir dari buku ini. Kisah ini juga merupakan cikal bakal atau riwayat mengenai cincin kekuasaan yang dibuat oleh Sauron yang nantinya dirinci dalam kisah The Hobbit dan The Lord of the Rings. Bagian ini bercerita mengenai nasib kaum manusia yang selamat dari murka Illuvatar di Numenor. Mereka kemudian kembali ke Middle Earth dan membangun kerajaan mereka di sana. Ini juga kisah tentang ke-20 cincin yang Sauron buat untuk kaum Elves (3 cincin); kaum kurcaci (7 cincin); kaum Manusia (9 cincin); dan satu cincin utama (yang mengendalikan semua cincin) yang dipegang oleh Sauron sendiri. Cincin utama inilah yang nantinya diambil oleh Isildur namun tenggelam di Sungai Anduin. Kemudian ditemukan oleh Gollum lalu dicuri oleh Bilbo dan kemudian dipercayakan kepada Frodo untuk dihancurkan di gunung api di kerajaan milik Sauron yaitu Mordor.

Oh ya, buku ini juga dilengkapi dengan peta Middle Earth yang dicetak terpisah. Selain bonus peta, ada pula pembatas bukunya yang berwarna hitam juga seperti cover. Overall, aku menyukai buku ini dan kagum dengan kedalaman pikiran seorang Tolkien. Dia berusaha menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Meski agak melelahkan ketika membaca bagian Quenta Silmarillion, namun buku ini sedikit menarik dengan disisipi kisah awal mula adanya Bulan dan Matahari. Kelahiran Elves pun menjadi momen yang menarik dan aku menyukai penuturan mengenai hal tersebut.

“…. Lagi pula, sudah ditetapkan bahwa bangsa Yang Pertama Lahir itu akan terbangun dalam kegelapan, dan bintang-bintanglah yang pertama-tama akan mereka lihat. Cahaya terang itu akan membangunkan mereka.” (hal. 58)

Ya, tidak banyak yang bisa kubahas mengenai buku ini. Terkadang memang susah membuat review buku-buku yang melibatkan perasaan dan kekaguman seperti buku ini, haha. Memang bukan buku yang bisa dibilang sempurna namun aku menyukainya. Silakan langsung kalian coba baca sendiri, ya. Apalagi jika kalian memang penggemar kisah dunia yang di-reka oleh Tolkien.

Rating: The Best

Submited to:
------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------

Tidak banyak Quote yang bisa kutemukan di buku ini. Hanya ada beberapa so, akan langsung kukutuliskan bersamaan dengan review-nya ini. Enjoy! :D

Akan tetapi kesenangan dan kebanggaan Aule hanyalah dalam hal membuat serta barang buatannya, tanpa disertai hasrat untuk memiliki ataupun keangkuhan akan keahliannya; karenanya dia hanya memberi, tidak menimbun, dan dia senantiasa bersenang hati, sebab selalu ada saja yang dikerjakannya. (hal. 10)

Sebagaimana kita laki-laki dan perempuan bisa terlihat dari pakaian yang dikenakan, namun bukan pakaian itu sendiri yang menentukan sifat kita. (hal. 14)

Sebab mereka yang hendak melindungi kekuasaan dari pemberontakan, hendaknya tidak melakukan pemberontakan pula. (hal. 89)

Di dalamnya ada kedamaian yang waspada. (hal. 144)

“Akan tetapi janganlah terlalu mencintai hasil karya kedua tanganmu itu, serta rancangan-rancangan di hatimu.” (hal. 193)

“Sebab hatiku memperingatkan bahwa apabila saat ini kau mengejar mereka yang tidak lagi mencintaimu, maka kau tidak akan pernah pulang lagi.” (hal. 212)

Sebab dia yang tidak mengenal belas kasihantidak akan pernah bisa memahami tindakan-tindakan yang didasarkan pada rasa iba. (hal. 410-411)

“dan pertolongan sering kali datang justru dari yang lemah, saat yang Bijak telah menyerah.” (hal. 494)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar