Sabtu, 27 Februari 2016

A Place Called Here by Cecelia Ahern – Tersasar ke dimensi lain

“Orang yang mencari orang hilang sekarang menghilang?” - Judith

sumber

Judul asli: A Place Called Here
Judul terjemahan: Ada di Sini
Pengarang: Cecelia Ahern
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juli 2012
Tebal buku: 520 halaman
Format: Paperback
Genre: Fantasy; Romance
ISBN: 978-979-22-8684-7

Nama Cecelia Ahern sudah cukup sering kulihat ketika membaca review bukunya di beberapa blog buku. Meski sekarang sudah merasa “kenal”, namun ketika membeli buku ini, aku belumlah familiar dengan namanya. Pada awalnya, aku tertarik membawa buku ini ke kasir karena terbius dengan covernya. Warna ungu tua begitu dominan membawa kesan misterius tersendiri. Aku sudah bisa menduga jika novel ini mengandung misteri. Okelah, tapi ada misteri apa dengan jejeran kaos kaki hitam yang tergantung di bagian atas cover? Aku pun mencari tahu dengan membaca blurb di belakang buku. Voila! Aku mengangguk dan tahu ini buku yang menarik untuk dibaca.

Salah satu novelnya yang menjadi best seller berjudul PS I Love You. Aku tahu dari membaca tulisan di atas cover buku ini. Selain itu, ada pula judul lainnya yaitu Where Rainbows End, Thanks for the Memories. Dan dari hasil membaca reviewnya di beberapa blog buku milik teman-teman BBI lalu ditambah dengan pengalaman membaca novelnya sendiri, aku tahu aku keliru mengira jika Ahern cenderung menulis teenlit. Bahkan para tokohnya sudah melewati masa Young Adult mereka. Tulisan Ahern sepertinya lebih memilih tema romance dewasa yang kadang ditaburi serbuk fantasy. Hmm, aku jadi menyukai buku-buku Ahern. :D

Baiklah, di buku A place Called Here, Ahern menggunakan Negara asalnya Irlandia sebagai setting of place. Ada beberapa bagian yang berisi deskripsi mengenai desa-desa kecil di sana seperti Limerick, Leitrim, dan Glin. Haha, aku agak disoriented saat membaca “Limerick”. Aku sama sekali tidak mengira kalau ada sebuah tempat yang bernama Limerick di Irlandia sana. Limerick yang kutahu adalah sebuah puisi yang memiliki lima baris dengan rhyme atau irama A-A-B-B-A. Entahlah apakah ada kaitan antara jenis puisi tersebut dengan desa ini. Atau jangan-jangan jenis puisi ini berasal dari sana? Haha, entahlah, namun fakta ini terasa menarik. Iya, setidaknya bagiku. :D


Contoh puisi Limerick. Sumber

Kota Limerick. Sumber

Meskipun setting utamanya adalah Irlandia, namun bersamaan dengan bergulirnya alur cerita, kita akan dibawa bolak balik antara Irlandia (dimensi nyata) dan Here (dimensi khayal di mana segala hal yang dinyatakan hilang berkumpul). Here di novel ini diterjemahkan sebagai Sini. Dimensi ini adalah sebuah tempat yang berisi jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini dicari oleh Sandy Shortt (tokoh utama). Here adalah tempat kemana semua hal, baik benda dan manusia menghilang tanpa sebab. Mereka (para manusia yang hilang) hidup di sana dan membuat peradaban.

Sandy Shortt, di kisahkan hidupnya penuh ironi dan satu kecendrungan aneh. Salah satu ironi yang harus dijalaninya ada di nama yang dia sandang. Sandy umumnya adalah nama untuk anak dengan rambut sewarna pasir, namun pada kenyataannya rambutnya tumbuh berwarna hitam. Dan tentu yang berikutnya, dia sama sekali tidak “short” atau pendek. Tubuhnya jangkung, menjulang penuh hingga 185 cm. Dengan bentuk tubuhnya itu, dia sudah pasti mudah ditemukan terutama bila berada di keramaian. Ya, ironi demi ironi melingkupi dirinya termasuk ironi yang kemudian menjadi konflik di novel ini.

Lalu, bicara soal kecendrungannya, semenjak teman sekelasnya yang bernama Jenny-May Butler menghilang sekitar dua puluh tahun lalu, dia cenderung untuk mencari sesuatu yang hilang. Apapun itu. Termasuk sebelah kaos kakinya. Dia percaya kalau dia sudah dan selalu meletakkan barang-barang tersebut di tempat yang benar. Rasa penasaran ini pun menimbulkan ketidakpuasan di hidupnya. Menemukan pun akhirnya menjadi tujuan hidupnya, tidak peduli apa atau siapa yang menghilang. Dia akan terus mencari dan mencari hingga kedua orang tuanya merasa khawatir. Sandy pun bahkan akhirnya memutuskan keluar dari Gardai (satuan kepolisian Irlandia) dan membuat dirinya menjadi agen orang hilang. Dia sangat berkemauan kuat. Ya,  semuanya (ironi dan kecendrungan aneh ini) diceritakan dengan baik sekali oleh Ahern mulai dari halaman pertama. Ini membuatku ingin terus membaca dan membaca ke lembar-lembar selanjutnya.

Aku tidak pernah menginkan sesuatu yang baru; sejak usia sepuluh tahun, aku yakin bahwa kau tidak bisa menggantikan sesuatu yang hilang. Aku bersikeras barang-barang itu harus ditemukan. (hal. 12)

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kedua orang tuanya menaruh rasa prihatin sekaligus khawatir dengan kondisi jiwa putri satu-satunya tersebut. Mereka meminta Sandy menemui seorang penyuluh atau psikolog di sekolahnya untuk berbicara mengenai kecendrungannya ini. Nama penyuluh itu adalah Gregory Burton. Ketampanannya (terlebih mata biru cerahnya) telah memikat Sandy untuk terus menghadiri konseling tersebut. Namun terlepas dari itu, dia sebenarnya merasa ada kecocokan dengan Gregory. Pun begitu dengan Gregory, ada sesuatu yang hinggap di hatinya. Sebuah perasaan khusus untuk Sandy.

Di dalam novel ini, Ahern menghadirkan satu pria lagi. Namanya Jack. Ini berawal dari Jack yang menghubungi Sandy dan meminta bantuannya untuk mencari tahu tentang keberadaan adiknya, Donal, yang telah hilang secara mendadak di suatu malam, dua tahun yang lalu. Sandy setuju untuk membantu dan mereka berencana untuk bertemu. Namun Sandy seolah tidak pernah datang. Entah bagaimana tercetus sebuah ide di benak Jack bahwa jika lebih cepat menemukan Sandy maka dia akan lebih cepat menemukan adiknya. Dia tidak tahu jika Sandy tersesat dan sampai di Here.

Satu hal menarik adalah kemungkinan ide dari kisah ini berasal dari sebuah dongeng. Penulisnya sendiri menyisipkan perihal tersebut di bagian tengah dan terutama menjelang akhir kisah. Dongeng tersebut berjudul Wizard of Oz. Sesuai cerita dongeng tersebut, Dorothy Gale terbawa Tornado dan menghilang ke negeri antah beranda yang ajaib. Di sana ada seorang penyihir yang membantunya pulang. Dongeng ini terlihat sedikit mirip dengan ide cerita di novel ini. Jika Dorothy akhirnya bisa pulang, apakah Sandy akan mengalami nasib yang sama? Mampukah dia keluar dari Here dan kembali bersama orang-orang yang mengenal dan menyayanginya?

“Jack, aku hanya bisa berasumsi bahwa hanya ada satu hal yang lebih membuat frustrasi ketimbang tidak bisa menemukan seseorang, dan itu adalah tidak ditemukan. Aku pasti menginginkan seseorang menemukanku melebihi apapun.” (hal. 118)

Overall, aku menyukai novel ini meski masih ada beberapa hal yang menggantung di akhir kisah. Ada beberapa pertanyaan lain yang hinggap dan aku masih penasaran dengan Helena dan Joseph. Apa mereka mempunyai kekuatan khusus? Ya, bagaimana pun kisah ini sepenuhnya tentang Sandy. Penulis pun memakai sudut pandang pertama dan menjadi narrator ketika kisah beralih ke Jack dan Gregory. Setidaknya Sandy akhirnya menemukan dirinya yang baru dan bisa lepas dari kecendrungan aneh yang dimilikinya tersebut.

Di novel ini, kita juga bisa menemukan unsur psikologi yang cukup kental dan diceritakan dengan baik. Lalu ada pula kutipan-kutipan manis yang bertebaran dimana-mana, sehingga kuputuskan untuk membuat postingan terpisah mengenai quotes itu, haha. Silakan klik di sini. Jika ingin mengeluh, kertas yang digunakan untuk mencetak buku ini adalah kertas buram. Namun syukurlah keluhan ini bisa tertutupi dengan ide dan alur cerita yang manis, runtut. Aku menyukainya, namun sepertinya terlalu dini untuk memasukkan Ahern sebagai penulis favorite. Aku harus membaca novelnya yang lain, apalagi yang best seller-nya itu. Ya, mudah-mudahan suatu kali nanti. :D   

Rating: Better

Submitted to:

2 komentar:

  1. Ahern emang berbakat banget nyampurin romance sama sedikit hal hal yg berbau fantasi, tp tetep aja romancenya lebih juara. Kayaknya aku belum punyayg ini deh..*brb bongkar lemari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyya Mba Na pengen bisa baca karangan Ahern yg lain. Romance-nya ndak menye2 kayaknya. Haha..met bongkar lemari yuaa.. :D

      Hapus