Selasa, 29 Desember 2015

Nothing to Fear by Matthew D'ancona – Ada dongeng di dalamnya

“Tenang dulu dan pikir dua kali sebelum melakukan apapun – melakukan sesuatu yang akan kausesali.”- Peter
Gambar diambil dari sini

Judul asli: Nothing to Fear
Judul terjemahan: Tak Perlu Takut
Pengarang: Matthew D’Ancona
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November, 2012
Tebal buku: 360 halaman
ISBN: 978-979-22-9048-6

Buku ini seperti muncul di hadapanku secara tiba-tiba. Padahal aku sudah hampir tiga kali membongkar buku di tumpukan yang sama. Ya, mungkin karena ukuran buku ini yang hanya sekitar 18cm. Ditambah pula dengan desain sampulnya yang berupa garis warna cokelat berbingkai kuning, cenderung tidak menarik perhatian dan bisa dengan mudah terlewatkan.

Namun jika bicara tentang desain covernya, aku sama sekali tidak protes. Ya, mungkin butuh sedikit waktu bagi buku ini untuk terlihat ke permukaan, dan jika kamu telah melewati waktu tersebut dan menemukannya, maka kamu akan tertarik secara perlahan-lahan. Setidaknya itu yang terjadi kepadaku. Aku meletakkan buku itu di atas meja di samping tempat tidurku. Awal mulanya aku mengagumi komposisi warna dan garis yang dibentuk di atas cover tersebut. Dan ketika aku semakin memperhatikan covernya, baru kusadari jika garis-garis tersebut bukanlah garis abstrak. Melainkan gambar sebuah pintu yang terbuka dan didalamnya memancarkan cahaya kuning keemasan, seperti nyala lilin. Aku semakin mengagumi covernya dan jadi penasaran dengan cerita apa yang ada di dalamnya.

Novel ini dibuka dengan adegan Genie, si tokoh utama, yang tengah mencari rumah baru. Dia dibantu oleh sahabatnya Peter. Ada beberapa rumah yang ditawarkan si agen penjual yang bernama Luke. Dan ada satu rumah yang telah begitu lengkap, layak huni, dan tidak memerlukan banyak renovasi. Namun Genie menolak rumah tersebut dan malah memilih sebuh rumah yang membutuhkan tenaga dan waktu ekstra untuk merapikannya.

Rumah itu dinilai Genie bagaikan seorang kakek cerewet yang menyambut keponakannya yang baru pulang dari negeri yang jauh. Rumah yang tidak ramah namun di sana lah dia menemukan kecocokan. Genie ingin memulai hidup baru setelah perceraiannya dengan Harry. Dia pun sepakat mengambil rumah itu walaupun sahabatnya, Peter, sempat meragukan keputusannya. Dan ya, dari rumah baru itulah cerita ini berlanjut.

Genie memiliki tetangga yang menarik. Tetangga pertama adalah sepasang kakek nenek yang hanya tinggal berdua. Dan tetangga yang satunya lebih menarik lagi. Seorang pemuda berusia sekitar 26 tahun bernama Sean. Kulitnya pucat dan sikapnya aneh dan agak canggung. Kali pertama Genie bertemu dengannya, dia menangkap kesan seorang yang pendiam dan misterius. Namun siapa sangka jika mereka akan menjadi dekat satu sama lainnya. #ahem
Konflik dan kecurigaan Genie dimulai saat dia mengintip ke dalam kamar rahasia Sean, kekasihnya tersebut. Peter pun mulai memanasi Genie untuk mencurigai Sean ditambah pula dengan kematian Winston (kucing tua milik Genie) yang mengenaskan. Ada rahasia apakah dari diri seorang Sean? Apa yang membuat Genie begitu ketakutan dan melarikan diri setelah mengintip kamar rahasia kekasihnya? Asli, cerita ini mempunyai beberapa lapisan. Ada rahasia dibalik rahasia, ah, maksudku ada twist yang menarik di akhir kisah. :D

Hayo, siapa yang suka dongeng di sini? Aku ikut tunjuk jari, tunjuk tangan, dan juga tunjuk kaki. Dongeng memang mewarnai masa kecilku. Ada banyak dongeng yang pernah kubaca ataupun kutonton baik dalam bentuk kartunnya atau langsung para artis yang memerankannya. Ya, sih, umumnya dongeng-dongeng tersebut berbau western semacam Cinderella, si Tudung Merah, Beauty and the Beast, dll. Namun ada pula dongeng khas Indonesia semacam Timun Mas, Bawang Putih dan Bawang Merah, dsb yang dulu sempat kubaca terutama dari buku pelajaran Bahasa Indonesia sewaktu kusekolah dulu.

Dan Nothing to Fear ini menjadi unik karena di dalamnya terdapat unsur dongeng. Aku sempat menduga jika sebagian ide dari kisah ini terinspirasi dari dongeng si Janggut Biru. Adegan dimana Genie mengintip, disandingkan oleh penulis bersama cuplikan adegan dari dongeng si Janggut Biru tersebut. Haha, aku menduga bukan karena aku memang tahu kisah si Janggut Biru. Aku tahu dari tulisan si Penulis sendiri yang mengutip beberapa adegan dari dongeng tersebut. Ah, ini benar-benar terasa “fair”. Maksudnya aku suka si penulis novel ini memaparkan dengan manis dan lugas apa yang mungkin menjadi inspirasi dari kisah fiksi yang ditulisnya ini.

“Nona-nona kalian tidak boleh mengintip. Kalian pasti akan menyesal!” Itu moral yang ditanamkan Charles Perrault dalam kisah Janggut Biru yang legendaris. “Aku bisa melakukan apapun.” Demikian peringatan Janggut Biru kepada istrinya yang masih muda tentang amarah yang akan mereka bangkitkan dari dalam diri bila dia menggunakan kunci kecil untuk membuka ruangan terlarang. (hal. 242-243)

Akan terkesan biasa jika kisah ini terinspirasi dari sebuah dongeng. Maksudku, biasa jika hanya sampai disitu saja keterlibatan dari sebuah dongeng. Ada hal yang lebih dari itu. sepertinya Matthew alias si penulis memang memiliki minat dan bahkan mempelajari lebih dalam akan makna di balik sebuah dongeng. Dia membuat Genie si tokoh utama sebagai seorang sarjana yang aktif menulis karya ilmiah yang membahas tentang dongeng. Dia mempunyai hepotesa sendiri bahwa dongeng bisa jadi sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh seorang anak ke anak kecil lainnya. Ya, dongeng adalah peringatan dari anak-anak untuk anak-anak yang lain. Dan hepotesa tersebut terdengar olehku sebagai hepotesa yang dibuat oleh Matthew sendiri. Dia seolah mencoba menyatakannya melalui buku ini. Dan ya, aku pun menilai poin ini cukup menarik. Membaca sebuah buku yang sekaligus mengajak kita untuk berdiskusi tentang dongeng. (hal. 79, 98, 99, 106)

“Jadi –kalau kau benar—semua ini bukan hanya pesan dari orang dewasa untuk anak-anak. Dongeng adalah peringatan dari anak-anak untuk anak-anak yang lain.” (hal. 98)

“Alarm dari anak-anak pada zaman dahulu. Tanda peringatan dari tempat tidur.” (hal. 99)

Selain itu, aku juga suka cara Matthew menyampaika deskripsinya. Kisah ini ditulis dengan baik, deretan kalimat per kalimat (wlaupun terjemahan) terasa mengalir dengan lancar. Beberapa analogi yang dia tuliskan terasa ringan. Ya, mudah dipahami namun tidak pula dangkal atau membosankan. Haha, entahlah bagaimana mengekspresikannya. Buku ini mampu membuatku larut di dalamnya terutama di bagian awal hingga pertengahan meski tokoh-tokoh di dalamnya mempunyai pekerjaan yang -sepertinya- terkesan membosankan (baca: penulis karya ilmiah, jurnalis, programmer, dst).

Lebih lanjut, aku selalu menganggap bahwa karakter atau tokoh memegang peranan penting dalam sebuah karya fiksi. Ketika si penulis mampu membuat karakter tokoh yang kuat dalam artian tidak tumpang tindih atau berubah-ubah, maka kemungkinan karya/cerita yang dihasilkannya akan menarik untuk disimak. Tokoh di dalam kisah ini masing-masing memiliki kedalaman karakter. Pun dilengkapi dengan penjelasan psikologis karakter tersebut. Entahlah, rasanya menarik bagiku untuk menyimak sisi psikologis dan kedalaman karakter para tokoh di buku ini (hal. 84, 95, 168, 104, 105, dsb).

Ya, aku merasa perlu untuk melihat profil Matthew, si penulis. Apa yang membuatnya menuliskan tentang dongeng dan mampu merinci karakter para tokohnya. Hehe, setelah membaca beberapa situs, diketahui jika Matthew adalah seorang jurnalis dan sudah tentu penulis. Ya, tidak mengherankan jika dia bisa menulis dengan gaya seperti ini. Haha, ini opiniku sih.

Hmm..apalagi ya yang bisa kuceritakan dari buku ini? Ah, okay, memang ada beberapa deskripsi tempat yang sulit untuk kupahami. Mungkin aku memang sering kesulitan dalam me-reka image (terutama mengenai tempat) yang penulis buku ini tampilkan. Lebih tepatnya deskripsi tempat di pinggir pantai itu.  Namun ada satu hal juga yang membuatku greget…saat menjelang penutup kisah ini. Aku merasa agak lambat dan aku sedikit ingin berteriak, “oh, ayolah, selesaikan sekarang!”

Haha, entahlah, meski begitu tetap saja ini buku yang asyik dan mencoba menebak-nebak bagaimana endingnya pun cukup mengasyikan. Nah, mengenai typo, aku menemukan dua buah typo. Pertama di halaman 182 dan satu lagi di halaman 352. Sementara itu, aku lupa di halaman berapa, ada kata yang membingungkanku. Entah itu typo atau bukan. Kata tersebut adalah: Geragapan. Jika ada yang tahu apakah “geragapan” memang bentuk baku dari “gelagapan”, silakan komen, ya. :D

Yup, itulah buku terakhir yang kubaca di bulan ini. Bagaimana denganmu? :):)

Rating: The Best

1 komentar: