Jumat, 15 Agustus 2014

Rumah Maya – Ketika Mitos Dibalut oleh Modernitas

“Aku terperangkap menyaksikan kematian sang waktu.”


gambar diambil dari sini

Judul: Rumah Maya
Pengarang: Tan Swat San
Penerbit: Castle Books
Tahun terbit: 2005 (Cetakan I)
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 979-9892-59-7

Ketika membongkar timbunan buku, novel berjudul Rumah Maya karangan Tan Swat San ini muncul kehadapanku. Aku membelinya dulu, sudah lama sekali, ketika masih semester awal perkuliahan (sekitar tahun 2008). Entah kenapa, novel ini malah terlewat untuk dibaca. Memang, sih, saat itu aku membeli beberapa buku sekaligus, mumpung harganya diskon banget, hehe.

Oke, langsung saja! Novel ini dibuka dengan sebuah prolog tentang seorang lelaki bisu yang kebingungan dan nyaris seperti orang gila. Lelaki tanpa sehelai benang yang melekat di tubuhnya itu terlihat kurus dan tak terurus. Namun, lengan kanannya terkepal kuat menggenggam sebuah kertas, yang entah apa isinya. Singkat cerita, lelaki tersebut diselamatkan oleh tetua desa. Namun tak lama, dia ditemukan sudah tak bernyawa. Genggaman tangannya terbuka dan tetua membaca apa yang tertulis di kertas tersebut. Semua akhirnya terungkap.

Saski, Bunda (Kunti Maharani) dan kedua temannya (Suli dan Randi) berlibur ke suatu tempat di daerah Pantai Selatan. Di tepi pantai tersebut ada sebuah mercusuar yang berdiri kokoh, berwarna putih. Tepat di sampingnya ada sebuah rumah yang besar dan indah. Di sana mereka di sambut oleh seorang penunggu rumah bernama Yudhis. Rumah tersebut begitu mewah dan menyediakan apa saja yang mereka mau dan sukai. Semenjak berlibur di rumah itulah, kehidupan mereka berjalan tidak semestinya dan rahasia demi rahasia pun terungkap.

So far, novel ini terkesan ringan namun pada bagian-bagian tertentu tampak memadat dengan pilihan kata yang digunakan. Sementara alur yang digunakan adalah alur maju-mundur. Ini berarti Pembaca harus cermat merangkai ulang cerita agar mendapatkan sebuah titik temu atau benang merah jalinan kisah yang ingin disampaikan si penulis.

Ada beberapa keunikan di dalam novel setebal 288 halaman ini. Diantaranya, penulis sering menambahkan sebuah puisi (umumnya) di akhir bab. Puisi ini bisa kita baca dan dengan intens muncul mulai dari bab ketujuh: Tiga Cangkir Kopi di Teras Depan. Ketika bab ketujuh ini akan berakhir, penulis menyusupkan sebuah puisi singkat. Aku tidak tahu apa yang melatari penulisan puisi di akhir bab seterusnya. Dan aku juga tidak mengerti mengapa di bab-bab awal, tidak ada puisi yang disisipkan. Mungkinkah si Penulis berubah mood? Entahlah. Yang jelas, ini salah satu contoh puisi singkat di bab ketujuh (hal.86) tersebut, hehe.
Tuhan,
Bunda,
Ayah,
Semua,
Siapapun,
Apapun.
Kataan ada apa!!!
Jangan biarkan aku buta.
JANGAN!!!

Keunikan lainnya yang mungkin bisa kita soroti adalah novel ini cukup kental dengan tradisi. Bisa juga dibilang, tradisi atau kebudayaan Jawa menjadi latar penulisan novel ini. Legenda tentang Penguasa Laut Pantai Selatan menjadi topik utama yang berkaitan erat dengan isi novel.

Tradisi atau kebudayaan Jawa juga terlihat dalam penamaan tokoh di dalam novel ini. Ada empat nama tokoh di dalam novel ini yang turut membuatku penasaran. Nama tokoh yang kumaksud adalah Pandu, Kunti Maharani, Saski Putri Drupadi dan Yudhistira Putra Pandu. Di dalam cerita, mereka seharusnya adalah pasangan yang harus segera dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Aku pun mencoba Googling untuk mencari kaitan antara Drupadi, Yudhistira, Kunti dan Pandu.

Pandhu. gambar diambil dari sini

Dewi Kunthi. Gambar diambil dari sini

Haha, ternyata meman benar, nama-nama tersebut memiliki keterkaitan. Si Mbah Google melalui Wikipedia bilang kalau Pandu adalah suami dari Dewi Kunti. Mereka pun melahirkan Pandawa Lima dimana salah seorangnya adalah Yudhistira. Atau dengan kata lain Yudhistira memang putra Pandu. Di lain pihak, Drupadi sendiri adalah pasangan atau istri dari Yudhistira. Ini salah satu poin plus di mana penulis cukup detail dalam pemberian nama yang akhirnya mengikuti pembentukan watak atau lakon tokoh di dalam novel ini. 

Yudhistira. Gambar diambil dari sini

Drupadi. Gambar diambil dari sini

Adapun yang agak mengganggu dari novel ini adalah penggunaaan ‘tanda kurung’ yang memuat celotehan atau perkataan inner para tokoh, khususnya Saski. Aku tidak tahu apa istilahnya di dalam dunia tulis menulis. Namun agar lebih mudah dipahami, berikut kutipan 'tanda kurung' tersebut:
Hari ini suasana rumah terasa begitu dingin. (Gile, booo’, lebih dingin ketimbang kulkas yang aku masuki kemaren saat aku kepanasan!) -- hal.78

Ayah tidak akan lupa rumah ini, dan ayah pasti pulang. (Moga aja deh bunda benar. Soalnya kok absurd banget, gitu!) -- hal.78

Apa bisa ngerti dengan sendirinya, coba? (Langsung ‘Tiiing! Kali, ya?) -- hal.79

Ada banyak sekali 'tanda kurung' yang berisi kalimat-kalimat seperti itu. Hal ini kunilai cukup mengganggu dan mengubah mood pembaca. Jika saja hanya ada beberapa 'tanda kurung' seperti itu, ya gak kenapa juga. Namun ternyata ada banyak dan bertebaran terutama di paruh pertama novel ini ditamnah dengan penempatannya yang menurutku tidak pas.

Selain perihal masalah ‘tanda kurung’ tersebut, satu hal yang agak mengubah mood pembaca (yang seperti aku, hehe) adalah penggunaan beberapa kata dalam bahasa Inggris. Contohnya seperti ini:
Kan aku cerdas, jadi bisa selalu menempatkan diri dengan baik dan benar. So, bisa aman setiap saat dan tempat. – hal.81


Akibatnya, stop! Semua hanya berdesakan, saling gencet, dan satu pun tak ada yang berhasil keluar. – hal. 85

Aku melaksanakan setiap perintah tanpa ada bantahan. Just do it. – hal. 103

Menurutku akan lebih baik jika kata-kata atau celetukan dalam bahasa Inggris tersebut dihilangkan karena terkesan kurang tepat dan hanya sekedarnya saja. Kecuali, jika memang di dalam novel ini ada tokoh yang suka berbicara dalam bahasa Ingrris atau mungkin baru pulang, katakanlah, dari luar negeri. Jadi tidak ada logika pembaca yang terganggu. Di satu sisi ada tradisi Jawa yang kental diangkat, namun di sisi lain celetukan kata berbahasa Inggris itu tiba-tiba muncul.

Ya, memang, novel ini membawa mistis ke dalam nuansa modernitas. Namun menurutku modernitas tersebut sudah cukup tergambar dari kehidupan perkuliahan para tokohnya serta ketertarikan seksual yang menyimpang yang berani dipaparkan dalam jalinan cerita di novel ini. Jadi, sebaiknya tidak perlu ada celetukan-celetukan yang seperti kuceritakan di atas tadi. Itu menurut aku, lho, ya. Agak kurang pas saja rasanya, hehe.

Okelah, secara ringkasnya, isi novel ini tergambar dalam komentar Fahruk HT (seorang kritikus sastra):
“Aura mistisnya kuat, didukung penuturan yang puitis. Tapi mistis di sini bukan dunia antah berantah, melainkan kehidupan remaja kontemporer dan akademis. Potret masyarakat postmodern di mana perilaku lesbian bercampur dengan kekuatan ‘dunia lain’.”

Ya, Rumah Maya memang sebuah novel yang cukup menarik untuk dilahap dalam suasana santai. Konflik yang ada cukup kompleks dan kaya akan budaya. Walaupun ada beberapa hal yang terasa berlebihan dan agak sedikit lari-lari serta mungkin penulisan dan penggunaan tanda baca yang salah. Namun setidaknya kisah di novel ini cukup membuat greget dan tidak norak seperti kebanyakan kisah film-film horror yang tempo hari pernah merajai bioskop tanah air. Interested? Just enjoy it, Folks!

Rating: Good

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar